Tuesday, November 28, 2006

Mudik Kilat (lagi)

Senin, 20 Nov:
Berencana untuk mudik hari Jumat (24 Nov) malam.


Rabu, 22 Nov:
Mendapat informasi bahwa hari Sabtu dapat "jadwal piket" untuk acara Soft Go Live di kantor. (Hiks...) Akhirnya acara mudik diundur menjadi Sabtu (25 Nov) malam menggunakan kereta yang berangkat pukul 19.20


Sabtu, 25 Nov:
Pukul 07:30
Stand by di Sunter untuk acara Soft Go Live. Pekerjaannya hanya menunggu ada aplikasi error karena kurang data dan gw selaku Dataprep Officer bertugas mensupply data dari user ke aplikasi.

Pukul 18:00
Masih belum ada kepastian untuk pulang.

Pukul 18.15
Ada aplikasi yang menyebabkan locking data pada database sehingga kegiatan sempat terhenti. Setelah melalui diskusi yang panjang (gw sih cuma terim hasil :D), akhirnya diputuskan untuk menghentikan kegiatan dan pulang (hore...).

Pukul 18.40
Ngeprik pulang

Pukul 18.45
Sampai kos. Tinggal 35 menit menjelang keberangkatan kereta. Packing alias persiapan pulang dan perjalanan menuju stasiun Senen membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit. Tergantung kondisi jalan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan bis jam 9 malam. Sambil menunggu, untuk pertama kalinya di kos gw mencoba dvd dengan volume mencapai 20 tanpa turbo(biasanya maksimal 8 dengan turbo, takut mengganggu ibu kos). Maaf Bu (Kos) kalo terganggu. Lagi melepas lelah nih, hehehe... Ternyata lumayan juga suaranya.

Pukul 20.00
Berangkat ke pulo gadung menggunakan ojek

Pukul 20.30
Naik bis Dewi Sri. Biasanya sih berangkat jam 21.00. Tapi berhubung sepi, akhirnya awak bis terus mencari penumpang dan akhirnya baru berangkat pukul 22.00.


Minggu, 26 Nov:
Pukul 05.25
Sampai di rumah. Solat, istirahat, nonton TV.

Pukul 06.30
Pergi ke rumah kakak yang baru ditempati beberapa hari di Pacul. Sebenernya sudah jadi sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi baru mulai layak huni beberapa hari ini saja.

Pukul 07.30
Balik lagi ke rumah bareng bala kurawa yang berantem mulu. Mandi(sendirian), makan (bareng bala kurawa), dan main ke rumah teman (sendirian).

Pukul 09.00
Ke pacul bareng bala kurawa lagi.

Pukul 10.00
Ke mall untuk melihat-lihat TV untuk ditempatkan di Pacul.

Pukul 12.00
Sodara dari Jakarta yang sedang bersilaturahmi ke jawa sampai di rumah. Dan gw pun segera pulang dari mall (TV-nya belum kebeli).

Pukul 13.00
Rombongan dari Jakarta melanjutkan perjalanan menuju Jakarta kembali.

Pukul 13.30
Ke toko-toko elektronik melanjutkan pencarian TV.

Pukul 15.00
Sampai di Pacul, menunggu kedatangan TV. Setelah datang, TV pun segera di rakit dengan kabel-kabelnya.

Pukul 16.00
Kembali kerumah.

Pukul 16.30
Main ke temen lagi dan jalan-jalan nyobain kupat blengong yang katanya enak banget. Ternyata memang enak. Apalagi suasananya. Makan dengan pemandangan sawah di sore hari. Nikmat... indah...

Pukul 18.00
Sampai rumah lagi

Pukul 18.30
Nongkrong rame-rame di rumah teman

Pukul 20.00
Balik ke rumah, siap-siap alias packing

Pukul 22.00
Ke stasiun bareng bokap naik becak

Pukul 22.23
Seharusnya kereta sudah sampai di stasiun. Tapi ternyata masih di jalan

Pukul 22.43
Kereta baru datang

Pukul 22.48
Kereta berangkat. Sekitar 10 menit kemudian, gw tertidur karena kecape'an akibat aktifitas seharian.

Senin, 27 Nov:
Pukul 02.15
Kereta seharusnya sudah sampai Ps Senen, tapi ternyata masih di jalan. Gw juga masih tidur, hehehe... bangun-bangun tau-tau sudah di daerah bekasi-cipinang. Tidur lagi, bangun lagi sudah sampai Jatinegara. Trus tidur lagi.

Pukul 03.30
Akhirnya kereta sampai di Ps Senen. Ada tiga pilihan buat ke kos. Taxi, ojek, angkot. Gw pikir belum ada angkot, jadi pilihan tinggal dua, taxi dan ojek. Begitu cek duit, ternyata pecahannya tinggal 15 rb, akhirnya naik ojek dan ternyata ongkosnya memang 15 rb. Pas bener...

Pukul 03.45
Sampai di kos. Istirahat, solat subuh dan tidur.

Pukul 07.13
Ngeliat jam di hp. GUBRAX!!! Kerja euy... Langsung ngacir ke kamar mandi dan bersiap-siap.

Pukul 07.30
Baru keluar dari kos

Pukul 07.41
Ngeprik. Baru seumur-umur datang terlambat.


Weekend ini, cape deh...

Monday, November 27, 2006

Hari ini...

Entah kenapa hari ini terasa begitu indah.
Bangun kesiangan, ngeprik juga telat.
Kerjaan? Cuma jadi "Customer Service". Sibuk kalo ada request, hehehe
Ngeliat keluar... kendaraan di tol lancar bener, agak mendung, dan diiringi rintik-rintik hujan.

Indahnya hari ini...
Kayanya rencana nonton james bond (setelah tertunda seminggu lebih) bisa terlaksana hari ini nih...
Pengen nulis blog yang banyak tapi nggak enak sama orang sekitar euy.

Wednesday, November 01, 2006

Siaga!!!

Semalam, Jakarta dan sekitarnya mulai diguyur hujan. Menyambut datangnya hujan ini, ada dua hal yang patut diwaspadai. Pertama, kata orang Jakarta memiliki siklus banjir besar 5 tahunan. Dan yang kedua, fakta bahwa Jakarta dilanda banjir besar awal tahun 2001. Dari dua informasi di atas, berarti ada kemungkinan awal tahun depan Banjir Akbar akan bersilaturahmi ke Jakarta.

Benar atau tidak informasi di atas, tetap harus waspada. Waspadalah!!!

Monday, October 30, 2006

Mohon maaf lahir bathin

Selamat hari idul fitri 1427H
Taqobbalallahuminna wa minkum
Shiyaamana wa shiyaamukum
Minal aidzin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan bathin

~me, my self, n arif

Tuesday, October 17, 2006

Rekap Puasa

Setelah sekian minggu disibukkan dengan aktifitas baru di kantor, akhirnya sekarang ada waktu senggang juga buat nulis blog pada jam kerja :D, dari pada bengong. Yup, akhir-akhir ini gw emang mulai "susah nafas". Bulan kemarin aja gw memecahkan rekor masuk 5 sabtu berturut-turut mulai dari tgl 9 Sept. Ditambah bonus masuk di hari minggu tanggal 8 Okt. Tapi sekarang, gw bingung mo ngapain. Telp user nggak ada. "Bola panas" masih ada di user. So, bengong deh :D

Tarawih pertama gw lakukan di rumah soalnya pas jam tarawih gw lagi di kereta buat "mudik sughro". Meskipun ada acara mogok dan ganti lokomotif di daerah bekasi untungnya sampai tegal nggak telat banget. Paling nggak masih banyak waktu buat isya, tarawih, dan sahur. Itulah sahur pertama puasa kali ini, di rumah sendiri, asiknya. Buka pertama gw jalan bareng temen-temen ke alun-alun. Berbuka dengan salah satu menu favorit, Kupat Glabed. Sebenernya pengen soto ayam sih, tapi ngantrinya itu lho, parah banget. Setelah tarawih, jam 9 malam gw balik lagi ke jakarta. Berarti gw berada di rumah hanya sekitar 18 jam. Waktu tersingkat untuk acara mudik.

Sahur paling telat yang pernah gw alami tahun ini adalah hari selasa pertama. Gw bangun jam empat kurang dikit. Karena ga tau imsak jam berapa, akhirnya cuma makan biskuit semut. Biskuit semut? Ya, soalnya sebagian biskuitnya sudah dilahap semut. Jadi gw harus selekti untuk melihat biskuit yang masih utuh. Tapi ambil hikmahnya lah. Makan sahur sambil berbagi (dengan semut, hehehe).

Layaknya anak kos, untuk sahur gw lebih sering beli di warung. Entah kenapa sodara gw banyak yang masih tanya, "Kalo sahur masak sendiri atau beli?" Masak sendiri? Cape deh... Pagi-pagi bangun tidur pake acara masak, males kali!!! (Sebenernya masalah utamanya bukan pagi-pagi bangun tidur, tapi masaknya itu :p). Sedangkan untuk tarawih, gw lebih sering untuk solat di istiqlal. Alasannya, tidak terlalu jauh dari kantor dan nuansanya lebih nyaman dan teduh dibanding dengan masjid yang di komplek rumah karena berisik banget dengan suara anak-anak. Selain itu, jika berbuka di istiqlal, bisa lebih disiplin karena hanya membeli makanan yang akan dimakan sehingga tidak overload. Berbeda dengan berbuka di rumah yang cenderung membeli dan menimbun untuk melampiaskan hasrat. Padahal begitu berbuka, baru minum teh manis aja udah kenyang.

Setiap weekend, selalu ada acara buka bersama. Minggu pertama, buka sama teman-teman di alun-alun Tegal. Minggu berikutnya dengan anak-anak asongan "Timaher" di Gokana Teppan Atrium Senen. Berbuka bersama anak-anak DOA + weekend warrior dengan anak telkomsel sebagai "tuan rumah" menjadi acara di minggu ketiga. Acara DOA tersebut dilangsungkan di Solaria Plaza Semanggi. Sisa satu minggu terakhir di Jakarta akhirnya gw habiskan bersama sepupu-sepupu di Pizza Hut Bintaro Plaza.

Yup, ini adalah minggu terakhir di Jakarta. Pekerjaan mulai senggang, oh asiknya. Akhir minggu mudik, oh senangnya. Tapi tanggal 30 Okt sudah diminta lembur, padahal seharusnya masuk tanggal 2 Nov. Untunglah dulu pesen tiketnya tanggal 29 Okt (Kok untung? kalo beli tiketnya tgl 1 Nov pasti nggak disuruh masuk tuh. Masih berpikir untung? Ah, biarin lah...)

Udahan dulu ah, user dah nelp, udah ada kerjaan yang nyamperin. Tapi paling 10 menit kelar. Harus nunggu lama lagi. Kapan lagi bisa bersante-sante kaya gini :D

Monday, October 16, 2006

Susahnya Jadi Anak

Setelah baca artikel ini, saya jadi ingat dengan salah satu saudara saya di rumah. Yang membuat saya teringat kembali tentu saja pengalaman dia mendaftarkan anaknya ke salah satu SD favorit.

Setelah anaknya lulus dari TK, dia mendaftarkan anaknya ke salah satu SD favorit di dekat tempat tinggalnya. Tapi apa yang terjadi? Mentang-mentang membawa gelar favorit yang diberikan warga, sekolah itu mengadakan serentetan tes untuk memfilter alumnus-alumnus TK yang berebutan kursi bak orang-orang yang bekerja di sebuah gedung favorit di sebuah negara favorit para koruptor (lho kok jadi ke sini, apa maksudnya?). Singkat cerita, akhirnya si anak pun mengikuti tes-tes tersebut yang terdiri dari tes membaca, menulis, berdoa, dan sebagainya. Tes-tes yang membutuhkan kecerdasan intelektual berhasil dia lewati. Membaca, menulis, hafalan berdoa, seolah bukan masalah untuk dia. Tapi begitu menghadapi tes menyanyi, dia gagal. Bukan berarti dia tidak dapat menyanyi, tapi entah karena malu atau apa, dia tidak mau menyanyi. Akhirnya dia gagal menyandang gelar sebagai siswa SD favorit. Beruntunglah sang ibu bukan seorang "pemakan merk". Dia tidak kecewa meskipun tidak mendapatkan SD favorit.

Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa di atas. Mungkin apa yang saya lihat dan saya simpulkan ini salah. Sepertinya pendidikan sekarang ini lebih cenderung pada kecerdasan intelektual. Lihat saja proses pendaftarannya. Kalo menurut si ibu, anak masuk SD itu supaya pintar, bukannya karena pintar. Terus bagaimana nasib para kaum yang kurang beruntung karena tidak dapat menyandang gelar pintar. Saya juga setuju. Anak masuk sekolah itu biar bisa menulis dan membaca. Tapi justru menulis dan membaca yang menjadi syarat untuk masuk. Membingungkan.

Padahal seperti orang bilang, masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi sudah semestinya anak-anak yang masuk TK itu tidak ditekankan untuk belajar membaca dan menulis, tapi untuk bermain dan mengembangkan kecerdasan emosi si anak. Bermain, bergaul, berkreasi dengan fantasinya. Bukannya justru mengingat-ingat pelajaran. Kebebasan sang anak sepertinya telah terampas oleh institusi pendidikan yang seharusnya menjadi teman bermainnya. Apa boleh buat, para pengelola Tk berkilah untuk mempersiapkan anak didiknya memasuki institusi berkelas sehingga harus mengorbankan anak-anak yang tidak tahu menahu mengenai hal seperti itu. Wajar bila hal tersebut menimbulkan "pemberontakan" dalam diri sang anak. Susahnya jadi anak...

Hmm... Kok sekarang saya berkomentar seolah saya orang yang ahli dalam dunia psikologi anak ya? Beruntung dulu saya masuk tinggal masuk. Keluar tinggal keluar. Tidak ada tuntutan ataupun serentetan seleksi yang harus saya lalui. Jaman dulu memang enak ya. Siapa dulu donk eyangnya? (Sssttt... mulai nggak nyambung)

Tuesday, October 03, 2006

Imam Masjid Al Aqsha dikeroyok massa

Weitz... tunggu dulu, ini bukan aksi lanjutan kaum yahudi dalam penyerangan ke Palestina. Lihat aja ceritanya :p

Kemaren, senin sore, gw masih pulang seperti biasa jam lima-an. dan seperti biasa pula gw langsung cabut ke Istiqlal buat serentetan acara malam ramadhan, buka, maghrib, isya dan tarawih. Setelah makan di lingkungan Istiqlal, gw langsung menuju ruang utama dan duduk di shaf yang agak di depan. Tumben, persis di belakang imam, ada papan nama buat ngetek tempat. Hmm... ada tamu spesial nih, pikir gw. Dan menjelang adzan Isya, pengelola masjid mengumumkan bahwa kita kedatangan tamu yang akan mengisi ceramah tarawih, yaitu Imam Masjid Al Aqsha dengan didampingi penerjemah dari pengelola masjid Istiqlal.

Sewaktu gw nulis tulisan ini, temen gw yang kebetulan ngeliat gw nulis langsung penasaran dan komentar, "Eh, dia dikeroyok dimana? Cerita ya waktu ceramah?" Kalo elo pada berpikiran gitu, buang jauh-jauh deh itu pikiran. Proses pengeroyokan itu berlangsung di masjid Istiqlal. Setelah solat tarawih + witir selesai, biasanya jamaah bersalaman dengan imam, muazin, dll yang duduk di barisan depan. Nggak seperti biasanya, kali ini jamaah yang ingin ikutan bersalaman dengan Imam Masjid tersebut bak rakyat yang rebutan sembako. Beliaupun seperti kewalahan menghadapi jamaah yang membabi buta tersebut. Untunglah ada petugas keamanan yang akhirnya berhasil mengamankan beliau.

Jadi gitu ceritanya pren... sampai jumpa lagi di episode berikutnya...

Tuesday, September 19, 2006

Bentar lagi puasa

Teman-temanku semua, bentar lagi puasa. Aku mau minta maaf ya. Selama ini pasti aku sudah sering mengeluarkan kata-kata maupun perbuatan yang sengaja maupun tidak sengaja, yang langsung maupun tidak langsung dan sebagainya. Mudah-mudahan kita bisa melalui bulan puasa nanti dengan luar biasa (bosen dengan kata-kata baik melulu, jadi sekarang diganti dengan luar biasa).

Teman-teman pasti sudah mempersiapkan dong buat puasa nanti. Aku juga. Sekarang aku lagi siap-siapin sajadah, baju koko, dan peralatan tempur lainnya yang mungkin sudah karatan karena 11 bulan tidak dipakai. Aduh, jadi malu ngomongnya. Terus aku juga mau belanja nih nanti. Belanja roti atau mie buat sahur darurat, belanja kurma dan sirup buat dan perbekalan lainnya. Hah... banyak juga ya persiapannya. Apalagi kalo soal perut dan penampilan, hahaha...

Meskipun puasa belum datang, tapi aroma lebaran sudah tercium dari sekarang. Pakaian baru, uang baru untuk adik-adik di kampung, tiket mudik, dan segala pelengkap lebaran sudah terbayang-bayang. Dengan dalih menghindari kemacetan bertransaksi mendekati lebaran, maka jadwal pembelian baju barupun harus segera diajukan bahkan kalo bisa sebelum puasa supaya tidak mengganggu puasa. Kalau soal tiket, itu memang sudah terjadwal dengan ketat. Tidak boleh sampai terlewat karena itu bisa berakibat sangat fatal. Hmm... dengan status sebagai pekerja (di tahun kedua) dan pekerja tetap (untuk pertama kalinya), tentu saja angpao menjadi sesuatu yang diharapkan dari adik-adikku. Meskipun aku anak bungsu, tapi aku masih punya banyak adik-adik (tidak memakai tanda petik) yang tak pernah habis (emang makanan?).

Oh damn! What the hell am I doing!

Ya Tuhan, maafkan hambamu yang satu ini. Nikmat yang Kau berikan justru membuatku terlena. Bila Kau pertemukan aku dengan bulan suci Mu, bersihkanlah, terangilah diri ini dari sunyinya kegelapan. Aku takut gelap, aku takut sepi. Karena dalam gelap dan sepi aku tak bisa melihat Mu...

~jelang ramadhan, maapin semua kesalahan ane ye

Wednesday, September 13, 2006

Another Weekend

Sabtu lalu, ada beberapa agenda yang sudah gw bikin untuk dua hari ke depan (sabtu-minggu). Berawal dengan mengembalikan lima dvd yang gw pinjem dari mas Anggi, gw berniat meneruskan untuk servis motor di sekitar margonda. Rencana berikutnya adalah bertemu dengan agung di balairung ataupun MUI dan kemudian ke tempat edi. Siang atau sorenya, gw berharap bisa maen bola bareng anak-anak cs2k di stadion rektorat untuk sekedar berkumpul dan melepas keringat. Acara malam, apalagi kalo bukan maen ps, dota ataupun hanya sekedar nonton tv (ada dian sastro lho...) di kos edi. Dan acara penutup weekend adalah ke rumah sodara di pondok pucung untuk silaturahmi dan sekaligus menyampaikan pesanannya keesokan harinya.

Tapi apa yang terjadi? Dari balikin dvd sampai servis motor berjalan lancar. Tapi kemudian masalah mulai muncul ketika tidak ada satu kabar pun dari weekend warrior. Hanya ali yang dapat gw hubungi. Akhirnya gw janjian sama ali untuk ketemuan di MUI untuk jalan-jalan di balairung yang kebetulan lagi ada career expo. Kalo orang-orang yang datang mencari pekerjaan, kami datang untuk mencari mantan mahasiswi yang mencari pekerjaan (hahaha... ada ali gitu lho :p). Kalo orang-orang mencari stand-stand favorit yang berisi pekerjaan-pekerjaan menjanjikan untuk menyerahkan cv dan lamaran, kami mencari stand-stand yang penjaga-penjaganya menjanjikan untuk menyerahkan cv, surat lamaran dan slip gaji pada penjaga stand (ali banget... :p). Tapi... begitu melihat HTM yang seharga 20.000, kami jadi urung untuk masuk ke balairung (hahaha... gimana mau dapet li), sayang, itu uang bensin seminggu, pikir kami. Akhirnya kami hanya melihat stand-stand yang ada di luar. Tidak disangka, di luar kami bertemu bayu dan akhirnya kamipun ngobrol ngalor ngidul, tapi... tau kan temanya? Yah... apalagi kalo bukan kaum hawa :D

Sekitar pukul 2 kami kembali ke MUI untuk bertemu dengan agung. Di luar dugaan lagi, selain bertemu agung, gw juga bertemu dengan prio dan hendra. Kalo prio sih udah biasa ya, hehehe... lha wong satu kosan. Gw dan ali masih berharap ada weekend warrior yang menghubungi kami untuk bertarung. Panggilan sebenarnya sudah datang, tapi apa mau dikata, pasukan ternyata belum cukup untuk memulai sebuah pertarungan. Karena tidak ada satupun penghuni di kosan edi, akhirnya kami pun pulang ke alam masing-masing. Dalam perjalanan pulang, aresto menghubungi gw dan mengabarkan bahwa di sana telah siap satu batalyon pasukan yang bersiap menuju medan perang. Tapi... ternyata perlatan tempur masih tersimpan di gudang dan tidak ada satupun pasukan yang stand by di gudang persenjataan. Akhirnya peperangan pun dibatalkan dan gw melanjutkan perjalanan pulang.

Sampai di kos, kegiatan gw hanya nonton dvd naruto yang sampai saat ini sudah ada 12 dvd dari seri 1 sampai 198. Malamnya ada aming dan dian sastro yang pengen gw tonton. tapi sayang cuma aming yang sempat gw tonton. Waktu nonton aming gw ketiduran dan pas bangun sudah jam 22.30 an. Yah... dian sastronya abis. Ya udah, akhirnya gw cuma melanjutkan nonton naruto sampai jam 2 pagi. Puas!!! (biarpun sebenernya sudah pernah nonton :D)

Minggu paginya, karena agenda sebelumnya sudah dipastikan gagal, gw membuat agenda baru. Beres-beres kamar, nonton sinchan, dan survey kos. Dari jam enam-an sampai jam delapan-an gw beres-beres kamar dan kemudian mandi. Abis mandi nonton sinchan, dan jam 9 lewat dikit gw pun cabut buat survey kosan.

Gw mengawali survey dari jalan salemba tengah, masuk ke percetakan negara, dan berakhir di rawasari. Sampai by pass, gw balik lagi ke percetakan negara dan berbelok ke paseban. Di antara jalan-jalan yang gw lalui, sepertinya tempat yang cukup menarik adalah percetakan negara. Akhirnya gw pun kembali lagi ke percetakan negara dan memasuki jalan-jalan kecilnya. Di antara rumah-rumah yang bejibun itu, tidak satu rumahpun yang ada tulisan "Ada kamar kosong" atau "Terima kos". Mungkin lain kali gw harus bawa sendiri tulisan-tulisan itu. Kalo gw tertarik ama suatu rumah, gw tempelin rumah itu ama tulisan itu, terus gw tanya deh yang punya rumah, hehehe...

Sampai jam sebelas-an, gw belum dapet juga informasi kosan. Mungkin si pemilik kosan memang tidak menempel tulisan-tulisan itu yang berarti gw harus gerilya meinggu depan. Gw pun pulang tanpa hasil. Tapi setidaknya minggu depan sudah ada rencana dan target. Percetakan negara, gerilya door to door. Wait for me...

Tuesday, September 05, 2006

Internet aneh

Beberapa hari ini nggak bisa ngakses bloger. Anehnya yang error cuma bagian loginnya doank. Biarpun di refresh berkali-kali tetep aja kaya gitu. Baru kemarin aja mulai bisa kliatan.

Selain blogger, beberapa situs favorit juga nggak bisa diakses. Situs telkomsel sebagai referensi untuk mencari NSP beberapa hari nggak bisa diakses. Untungnya sekarang dah bisa lagi. Yang paling parah, situs referensi film-film baru yaitu 21cineplex nggak bisa diakses kira-kira satu-dua bulan yang lalu. Dan sampai sekarangpun masih nggak bisa diakses. Hiks... :( Jadi nggak punya referensi lagi. Ada yang tau referensi film-film baru di Indonesia?

Monday, August 28, 2006

Sibuk... Sibuk... Sibuk...

Yang lagi sibuk sebenernya bukan gw, tapi bagian IT. Tapi karena gw ada di bagian IT, jadi gw kecipretan sibuk juga.

Gara-garanya sih sepele, perusahaan mau pindah ke aplikasi baru (sepele pale lu atu!). Jadi harus nyiapin data-data dulu. Data-data di aplikasi lama yang diperlukan harus dipindah entah itu dengan cara migrasi (sintak sql) ataupun lewat excell. Proses inilah yang cukup menyibukkan, kerjaan-kerjaan reguler yang tidak termasuk project ini harus 'disingkirkan' terlebih dahulu. So... kayanya harus siap-siap kalo-kalo tiba-tiba (kebanyakan kata ulangnya euy :p) sabtu di suruh masuk. Klimaksnya, libur akhir taun yang (biasanya) kurang lebih dua minggu, bisa jadi tinggal mimpi. Hiks, padahal pengen libur panjang euy, biar bisa jalan-jalan ke rumah-rumah sodara yang jauh-jauh. Silaturahmi, sekalian refreshing.

Yah... liat aja nanti deh... Asal masih bisa ngeblog, OK lah, hehehe...

Lowongan

Seorang karyawan (perusahaan manufaktur) yang sedang berkembang membutuhkan tempat kos untuk ditempati kira-kira setelah lebaran tahun ini. Kos tersebut harus memiliki spesifikasi:

General:
- Fresh graduates are welcome
- Biaya negotiable

Mandatory:
- Menyediakan tempat tidur dan lemari pakaian
- Air lancar untuk sekedar mandi dua kali sehari + keperluan solat
- Listrik OK untuk penggunaan 600-1000 watt (tidak mudah turun)
- Relatif luas (cukup untuk ditempati tempat tidur, lemari pakaian, meja, rak / lemari buku, dispenser, stand fan, lemari es, dan menyisakan ruang sekedar untuk selonjor)
- Berada di dekat cempaka putih, gambir, dan senen
- Berada di depan jalan yang bisa dilewati mobil

Optional:
- Menyediakan tempat + sarana olah raga
- Menyediakan 'dapur umum'
- Berada di dekat masjid

Bagi peminat diharapkan menghubungi secepatnya.

***

Wakzz! Aneh ngga? Gw belum pernah liat ada blog yang memuat lowongan. Jadi nggak ada salahnya kalo gw mencoba :p. Sebenernya sih minat untuk pindah kos sudah muncul beberapa bulan yang lalu. Salah satu penyebabnya adalah karena 'daya jelajah' yang mulai melebar karena adanya 'si merah hitam'. Apalagi kalo dibandingkan dengan yang lain, angka 5000 km mungkin dicapai dalam waktu 2-3 bulan saja. Tapi, buat gw 5000 km dicapai dalam waktu 6-7 bulan. Lihatlah betapa lemah daya jelajah si merah hitam. Karena itulah gw mulai merubah standar 'dekat' untuk jarak kos-kantor, hehehe... dan akhirnya, gw jadi memutuskan untuk pindah kos. Apalagi satu dari dua temen kos gw sudah menikah dan pindah rumah sementara yang satunya juga (kabarnya) akan menikah juga dan (seharusnya) juga pindah kos. So, nggak ada salahnya kalo gw 'break the rule'. Maksudnya, kalo temen-temen pada pindah karena menikah, maka gw harus mengubah kebiasaan itu (halah, ngeles aja, hehehe...)

Thursday, August 24, 2006

Akhirnya...

Dua bulan sudah gw mengikuti training Functional SAP (module FICO). Yang pasti ada banyak cerita selama dua bulan itu. Gw jadi makin repot, karena harus meng-handle beberapa aktifitas kegiatan sekaligus. Training, kerjaan rutin (HRIS), dan kerjaan tambahan (tes AHMPS dan pembuatan SAP Functioanl Spec).

Berat! Pasti donk, tapi selama dua bulan itu selain makin banyak aktifitas, gw juga makin banyak nge-game :D. Lumayan, mumpung lagi di ruang training yang bebas hambatan :D. Tapi selama dua bulan itu ada satu aktifitas yang berkurang, yaitu ngeblog. Dan sekarang, peluncuran artikel ini sekaligus menandai bahwa gw sudah siap lagi untuk ngeblog.

Go... Go... Go... Blog!!!

Monday, July 17, 2006

Mengenal Lebih Dalam

Buat para pengunjung blog, mungkin masih ada yang mengenal gue baru dari sisi luarnya aja. Dan sekarang, saatnya elo-elo semua mengenal gue lebih dalam.

Kebetulan tadi pagi gue abis Medical Checkup (MC), acara rutin tahunan di kantor. Dan berikut ini cuplikan hasil MC yang sempat gue liat supaya elo-elo pada mengenal gue lebih dalam lagi. Benar-benar 'dalam' lho... :))

Nama : Arif Irawan (dari lahir sampai sekarang, belum ada niatan ganti ato nambah nama beken)
Jenis Kelamin : Laki-laki (100% bo!)
Tinggi / Berat : 174 cm / 70 kg (Untuk pertama kalinya menembus kepala tujuh)
Tekanan darah : 120/70 (normal kan?)
Denyut nadi : 80 (detak / permenit, bisa lebih tinggi kalo yang ngukur penagih utang, supervisor yang nungguin kerjaan gue, atau... ehem... *OOT, ga perlu dibahas*)
Ukuran kacamata (L/R) : 3,75/3,50 (pas, nggak bisa kurang)
Golongan darah : O (nggak ada di form MC, mulai ngelantur. Tapi beneran goldarnya O)
Donor Darah : Sekali (makin ngelantur)
Status : Terdaftar (udah ah! makin nggak jelas)


Kejadian unik
Waktu lagi nungguin tes dokter, gue liat ada operator yang nggak keluar darahnya waktu mau diambil sample darahnya buat tes darah. Jarumnya dah masuk kok. Nggak tau karena darahnya takut keluar atau emang tuh orang merupakan operator berdarah dingin, hihihi...

Selain operator berdarah dingin, ada juga kejadian lain yang jarang terjadi. Seorang operator (entah kenapa?) terlihat lemas / mau pingsan ketika akan diambil darahnya. Masa sih operator takut jarum suntik sampai mau pingsan? Sampai selesai proses MC, gue nggak tau penyebab lemasnya operator tersebut.

Meskipun kedua kejadian unik di atas merupakan kejadian yang jarang terjadi, tidak berarti sesuatu yang sering terjadi tidak dapat menjadi kejadian yang unik. Secara kebetulan, gue dapat jadwal MC bareng Dino, Senin pagi (17 Juli 2006). Karena gue datang bareng Dino, jadi nomor pendaftaran kami pun cuma beda satu. Setelah menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan, gue mendaftar untuk tes tekanan darah. Kebetulan Dino juga mendaftar sebelum gue. Eh, waktu gue lagi nungguin giliran, tau-tau ada bapa perawat yang manggil gue, "Silakan Pa Dino, periksa tekanan darah." Karena ini bukan kejadian pertama, gue pun nggak heran lagi dan langsung memanggil Dino yang berada nggak jauh dari gue.

Makanya pa perawat, lain kali ati-ati kalo manggil orang :))
Masa gue harus bawa poster yang tulisannya "Saya Arif", kayak pendukung AFI atau Indonesia Idol aja.

Wednesday, July 12, 2006

Pro Kontra

Pro Kontra dalam kehidupan ini memang sudah biasa. Seperti layaknya hitam dan putih, pertemuan dan perpisahan, pro dan kontra juga merupakan sepasang makhluk yang turut mewarnai kehidupan ini.

Salah satu kasus yang sedang hangat saat ini misalnya kasus 'Banteng Gundul'. Bahkan pers di Perancis sendiri ada yang membela Zidane namun ada pula yang 'memaki-maki' dewa bola tersebut. Kasus seperti ini sebenernya hal yang biasa juga di lapangan hijau. Masalahnya sekarang apa penyebab insiden serudukan tersebut. Dugaan kuat sementara adalah soal makian yang bernuansa rasis. Dan FIFA sebagai badan tertinggi sepakbola sekarang sedang mengusut kasus yang minimbulkan pro kontra ini.

Namun ada satu kasus yang cukup menarik yang baru saya baca di detiknet, yaitu kasus yang melibatkan salah satu perusahaan jasa telekomunikasi. Kasus ini kabarnya berawal dari insiden 'salah cetak'. Tarif yang tertera pada brosur yang beredar ternyata tidak sama dengan tarif yang berlaku sebenarnya. Akibatnya, seorang pelanggan yang merasa dirugikan dengan 'penipuan' tarif tersebut menggugat perusahaan tersebut. Karena 'penipuan' itu pelanggan telah dirugikan sebesar Rp 9.851 secara materil dan immateril sebesar Rp 500 juta.
Perusahaan itu pun tidak tinggal diam. Mereka menggugat balik supaya putusan dibatalkan.

Yang membuat saya tertarik sebenernya bukan jalannya kasus ini, tapi komentar-komentar yang pro dan kontra. Apa iya, kerugian immateriil 'begitu saja' sampai 500 juta? Kalo memang begitu, rasanya enak sekali saya hidup di Indonesia. Sebagai konsumen, saya tinggal mencari kesalahan perusahaan penyedia jasa dan kemudian menuntut sebesar-besarnya. Tapi, sebagai pemimpin sebuah perusahaan penyedia layanan publik, saya juga akan menuntut untuk membatalkan segala 'kekhilafan' saya dan meminta maaf. Lha wong nggak sengaja kok, hehehe...

Jadi sebenernya saya pro sama yang mana mengenai kasus di atas? Sebagai pemilik hak asasi berpendapat, boleh kan kalo saya mengatakan, "Kabeh pada wae gemblunge. Perusahaan ora becus, pelanggan ora nduwe isin, hehehe... Pokoke aku paling bener lah. Coz im the truth in my blog hahaha..."

Monday, July 10, 2006

Piala Dunia

Tahukah anda, bahwa di piala yang semalam diberikan ke Cannavaro cs, peta Indonesia memiliki 'tempat khusus'. Gambar Indonesia terletak tepat di atas kepala salah satu pemain.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Sylvio (maaf kalo ejaannya salah), sang arsitek piala tersebut, menempatkan Indonesia di tempat yang istimewa. Mengapa bukan negara-negara eropa yang merupakan negara-negara kuat untuk urusan sepakbola? Atau mungkin negara-negara Amerika Latin? Setidaknya ada dua pendapat mengenai hal ini.

Pertama, itu merupakan kebetulan saja. Entah apa yang dipikirkan oleh sang arsitek sehingga Indonesia 'beruntung' menempati posisi strategis itu. Dan kedua, sang arsitek melihat bahwa Indonesia merupakan negara yang besar. Dari segi wilayah, Indonesia tergolong negara yang besar dengan puluhan ribu pulau-pulaunya. Selain itu, Indoneisa juga memiliki kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang banyak. Tak heran bila sang arsitek berpendapat bahwa dengan kondisi seperti itu suatu saat (entah kapan?) Indonesia dapat merajai dunia sepakbola, di atas negara-negara eropa maupun amerika latin.

Luar biasa! Bahkan orang asing pun telah menaruh harapan pada bangsa Indonesia untuk membawa piala yang telah dirancangnya dan diperebutkan mulai tahun 1974. Tapi, sungguh ironis. Menjadi juara ASEAN saja Indonesia masih terseok-seok. Entah kapan, mudah-mudahan Indonesia dapat segera mengabulkan cita-cita Sylvio, sang arsitek.

Maafkan kami Mister, bila kami membuat anda menunggu lebih lama lagi...

Sumber : metro TV, Minggu, 9 Juli 2006 (lupa pada acara apa :p)

Selamat Jalan Tuhan

Sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 9 Juni, dunia terjangkiti sebuah 'agama' baru, bolamania. Dan pagi tadi, 'agama' tersebut mulai meninggalkan umat manusia dan akan hadir lagi 4 tahun mendatang di Afrika Selatan. Ya, fenomena sebulan ini laksana sebuah agama yang memiliki penganut di seantora jagad ini. Dan 'Tuhan' bagi pengikut ajaran ini adalah sebuah Piala yang di dalamnya terlukiskan dua orang manusia yang sedang merayakan kemenangan dengan bola dunia di atasnya sebagai simbol bagi penguasa dunia, dunia bola tentunya.

Hadirnya agama tersebut membuat pola hidup para pemujanya berubah. Sebulan ini, aktifitas malam menjadi hal biasa. Padahal biasanya malam adalah waktu yang paling asik untuk melepas lelah. Tapi demi 'perintah agama', mereka rela bangun malam meskipun esok paginya ngantuk di kantor. "Tak apalah, demi 'Tuhan'", pikir mereka. Toh tidak setiap hari, hanya sekali-kali.

Lain lagi bagi yang sudah berkeluarga. Sewaktu membeli TV di salah satu supermarket, saya sempat berbincang dengan seorang ibu yang juga kebetulan sedang mencari TV. Ibu itu berkata bahwa dia mencari TV karena selama agama baru tersebut menjangkiti keluarganya, rumahnya menjadi tak nyaman lagi. Setiap kali ada 'ritula-ritual' akan menimbulkan konflik yaitu berebut remote control antara anak dan bapak. Akhirnya si Ibu pun membeli TV baru sebagai sesajen di rumahnya sekedar untuk memohon ketenangan dan keharmonisan keluarga. Segitu parahnya kah? Mungkin karena saya belum berkeluarga jadi tidak dapat merasakan apa yang dialami keluarga tersebut.

Selain menimbulkan kekacauan di rumah tangga, agama tersebut juga menjadi faktor utama naiknya kasus-kasus kriminalitas. Cukup banyak berita tentang pertengkaran antar umat yang merasa bahwa pujaannya adalah yang terbaik. Bahkan ada juga yang sampai merenggut nyawa. Perjudian juga merajalela di mana-mana. Luar biasa! Agama tersebut memiliki pesona yang dahsyat hingga bisa merasuki pikiran pemujanya dan seoalh memerintahkan apa saja demi Tuhan.

Tapi mulai hari ini, ritual-ritual tersebut akan mulai berkurang dan mungkin menghilang, karena sang Tuhan telah meninggalkan umatnya dan terbang ke Itali.

Selamat jalan Tuhan. Sampai bertemu kembali di Afsel...

Thursday, July 06, 2006

I Love This Blog

Di luar, aku hanya seorang pendiam
Tapi di sini, aku bisa menjadi seorang pujangga

Di luar, aku hanya seorang pendiam
Tapi di sini, aku bisa melawan apa yang ingin kulawan

Di luar, aku hanya seorang pendiam
Tapi di sini, aku bisa menjadi apa yang aku inginkan
Aku bebas menjadi siapapun di duniaku
Aku bisa menciptakan kehidupanku sendri

Yeah... I love this blog

Kunci dan Tilang

Alkisah semalam ada seorang karyawan yang panik. Setelah training, pekerja pabrik itu datang ke sebuah meeting untuk sharing development project yang sedang dipegangnya. Ketika saat melepas lelah tiba, dia kembali ke ruang training untuk mengambil barang-barangnya. Tas, jaket, dan buku untuk ujian esok paginya. Tapi ternyata, ruang training sudah gelap gulita. Tak ada lagi cahaya yang menerangi ruangan itu. Pintupun sudah terkunci. Pekerja itupun langsung ke satpam berniat untuk mengambil kunci ruang training. Ketika sampai di markas satpam, ternyata kunci ruang training belum dikembalikan. "Oh my God. Mampuslah aku." Gumam si pekerja. Bagaimana tidak mampus, buku yang tertinggal adalah bahan buat ujian besok.

Tapi pekerja itu beruntung. Di tengah kepanikannya, tiba-tiba datanglah seorang bidadari utusan penguasa kayangan yang memberikan kunci ruang training padanya. Diapun begitu bersuka cita. Setelah acara sharing selesai, pekerja itu pun mengambil barang-barangnya dan pulang.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir, dia mencari-cari kartu parkirnya. "Oh my God. Pastilah terjatuh kala aku mengambil buku saku." pikir si pekerja. Tadi sore dia memang terburu-buru mengeluarkan buku sakunya karena mengejar jadwal meeting. Mungkin saat itulah kartu parkir yang dia simpan di saku baju terjatuh. Akhirnya dia melapor ke satpam dan "ditilang". Dia harus mengisi "formulir pengakuan dosa" dan "pahala" untuk bulan ini harus dipotong untuk menebus dosanya itu. Setelah itu, barulah dia bisa pulang. Demikianlah kisah kunci dan tilang menjelang partai Prancis vs Portugal yang akhirnya dimenangkan Prancis 1-0 lewat titik putih.

Sekian.

Thursday, June 29, 2006

A Rifi Code (tm)

Siang ini terasa begitu panas. Apalagi daerah tempat tinggalku memang termasuk daerah yang panas. Minggu siang seperti ini biasanya aku tidak ada di kos. Aku lebih memilih pergi. Entah sekedar main dan bermalam di rumah teman atau bersilaturahmi ke rumah salah satu saudara yang tinggal di Jakarta. Tapi minggu ini berbeda. Sabtu kemarin aku diminta masuk kantor. Aku pikir, mungkin ini saat yang tepat untuk tune-up kamarku. Sudah beberapa bulan kamarku tidak mendapatkan "perawatan rutin" sehingga mulai tampak kurang nyaman. Apalagi sekarang di kamarku bertambah dua perabot listrik yang cukup memakan tempat, Dispenser dan TV 21".

Setelah pagi ini membersihkan kamar, aku baru bisa beristirahat menjelang naiknya mentari tepat di atas ubun-ubun. Aku hanya tiduran ditemani angin-angin yang berlarian seakan berlomba untuk keluar dari putaran kipas angin di pojok kamar. TV yang kunyalakan menyajikan berita-berita selebritis yang membosankan. Tapi entah kenapa aku tidak berniat untuk mengganti channel-nya. Daripada mati kebosanan, aku akhirnya memutuskan untuk keluar setelah duhur. Aku ingat, kemarin ketika ngebrowse di kantor, aku sempat melihat film-film yang diputar di bioskop. Salah satu film yang cukup menarik adalah Da Vinci Code yang diputar di Sunter 21. Dan akupun akhirnya memutuskan untuk menonton film tersebut yang diputar jam 2.00.

***

Tempat pertama yang aku tuju di mall Sunter adalah ATM center karena uang dalam dompet sudah menipis. Tempat berikut yang aku tuju adalah bioskop untuk membeli tiket terlebih dahulu. Aku membeli tiket terlebih dahulu meskipun film baru dimulai satu setengah jam lagi. Aku takut kehabisan tiket karena film ini termasuk dalam jajaran film box office yang tiketnya seringkali sold out sebelum film dimulai.

Setelah mendapatkan tiket, aku bergegas ke supermarket Hero yang terletak di depan pintu masuk lantai 1. Di tempat minuman dingin, aku melihat-lihat sambil mempertimbangkan minuman apa yang akan aku ambil. Ketika aku mengulurkan tangan untuk mengambil satu botol (benar-benar tinggal satu) teh hijau, seorang perempuan sebaya yang kebetulan juga sedang berniat membeli minuman dingin juga melakukan hal yang sama. Kami pun saling menoleh dan terdiam. Dalam kebisuan itu, aku menarik tanganku

"Silakan"

"Yah... tinggal satu. Jadi nggak enak nih. Udah buat mas aja. Mas kan duluan." Tawar perempuan itu.

"Nggak papa kok. Aku yang ini aja." Kataku sambil mengambil minuman yang lain." Padahal dalam hati ingin sekali menikmati minuman itu. Tapi biarlah mengalah demi seorang perempuan. Akupun kemudian mencari snack untuk teman menonton nanti.

Jam masih menunjukkan pukul 1.15 yang berarti aku masih harus menunggu kurang lebih tiga perempat jam lagi untuk menyaksikan film tersebut. Daripada hanya duduk menunggu di lobi bioskop, aku pikir lebih baik ke gramedia dulu yang terletak di lantai 2. Di sana, iseng-iseng aku menuju ke tempat buku-buku sastra untuk membaca buku-buku Gibran. Ketika sampai di tempat yang kumaksud, aku melihat sesosok perempuan yang sepertinya pernah aku lihat sedang membaca salah satu buku Gibran juga. Tidak salah lagi, ternyata dia adalah peprempuan yang tanpa sengaja tadi kutemui di supermarket. Aku mengambil posisi berdiri di sebelahnya. Aku mengambil salah satu buku Gibran dan membacanya. Dan kami pun sama-sama menyelami tulisan-tulisan gibran ditemani tembang "Kenangan Terindah" yang terdengar di seluruh ruang baca itu.

Saat dia meletakkan kembali buku yang telah dia baca, bukunya menyenggol setumpukan buku yang tampak berdiri dengan rapuhnya. Beberapa bukupun terjatuh. Melihat itu, secara reflek aku langsung membantu mengambil buku-buku yang berjatuhan di dekat kakiku.

"Maaf ya mas. Jadi ngerepotin... lagi" katanya sambil tersenyum dengan penekanan pada kata lagi yang berbeda seolah-olah memang menekankan bahwa dalam waktu yang cukup singkat dia telah melakukan hal yang sama dua kali, minta maaf.

"Nggak papa kok, cuma ngangkat buku segini aja. Kalo bukunya satu dus sih... mikir-mikir juga" candaku.

"Iya nih, dua kali ketemu aku selalu bikin repot aja ya. Tapi tenang aja, keluar dari gramed ini, aku nggak bakalan 'nggangu' kamu lagi deh." Katanya meyakinkan aku.

"Emang mau kemana abis ini?" tanyaku penasaran.

"Mau nonton Da Vinci Code." Jawabannya membuatku tersenyum.

"Oya, by the way yakin nih nggak bakal ganggu aku lagi?" godaku lagi

"Ya iyalah... Tapi tunggu... jangan-jangan... kamu mau nonton film itu juga ya?" selidiknya untuk memastikan dugaannya. Dan aku pun hanya mengangguk. "Hahaha... bioskop begitu luas, masa sih..." lanjutnya, dan kami pun tertawa kecil...

***

Hp menunjukkan pukul 13.55. Kami berdua sedang berada di depan pintu masuk bioskop untuk antri masuk. Setelah memberikan dua tiket, kami mencari tempat duduk seperti yang tertera dalam tiket, F1 dan F2, tepat di pinggir.

"Aku bener-bener nggak ngerti deh." Katanya sambil berjalan menuju ke kursi tujuan. "Pertama, kita menyukai minuman yang sama. Kemudian kita menyukai buku yang sama juga, buku-buku sastra karangan Gibran. Kita sama-sama penasaran dengan movie dari buku yang pernah kita baca, Da Vinci Code. Dan terakhir, kita juga sama-sama menyukai tempat duduk yang paling pojok untuk nonton di bioskop. Tapi kali ini aku kurang beruntung. Ketika memesan tiket, semua tempat duduk yang terletak di pojok semuanya habis. Akhirnya aku hanya dapat tiket di 'sebelah pojok'. And now, untuk ketiga kalinya, dalam pertemuan pertama kita, aku harus ngerepotin kamu karena 'mengkudeta kursi pojokmu'."

"Hahaha... thats life." Jawabku sambil tertawa. Dunia begitu sempit untuk orang-orang yang memiliki kesamaan meskipun berada di tengah-tengah lautan perbedaan.

***

"OK, sampai ketemu lagi. Thanks for everything. See you next time." Katanya sambil melambaikan tanggannya.

"OK, nice to know you. See you... when I see you." jawabku.

Dan kakinya pun mulai melangkah, menjauh, dan menghilang dari pandangan mata. Inilah akhir dari pertemuan kami. Cukup lama kami berseda gurau. Membicarakan hobi, film, buku dan banyak lagi. Tapi, sampai perpisahan itu, aku belum tahu namanya. Aku hanya tahu dia tinggal di daerah Salemba. Yang aku tahu dan aku ingat tentang dia, hanya wajahnya, dan tentu saja, senyum dan canda tawanya.

***

Pagi ini, seperti pagi biasanya, sebelum jam kantor, aku melalang buana menyelami dunia maya. Blogging! Itulah salah satu aktifitas favoritku di pagi hari di tempat kerja. Aku membaca blog teman-teman dan iseng aku buka juga link-link yang ada di blog tersebut. Sebagian besar memang aku tidak mengenal si empunya blog. Aku hanya sekedar membaca-baca. Hingga ketika aku membuka salah satu blog, aku seperti melihat foto yang tampak tidak asing lagi buatku. "Princess Sophie" gumamku. Setelah pertemuan di sunter itu, aku menyebut perempuan itu "Princess Sophie", seperti tokoh dalam Da Vinci Code. Tertera jelas yahoo id dia tuliskan di profilenya. Entah kenapa, aku ragu untuk menambahkan yahoo id-nya di dalam list yahoo meessanger-ku. Aku tak tahu apa yang membuatku ragu. Padahal ini hanya sekedar menambah list ym, hanya menambah teman. Tapi yang aku tahu pasti. Jika aku melakukannya, cerita yang terhenti setelah Da Vinci Code, akan terbangun kembali. Inikah kode-kode alam yang harus kupecahkan? Oh my God, help me.

Dalam keraguan itu, akhirnya aku menambahkan ym id-nya.
I believe, the story will go on...

*The End*

Serendipity! Mungkin kata itu cukup mewakili kisah di atas. Kata tersebut adalah salah satu judul film yang pernah saya tonton. Ceritanya tentang orang yang percaya dengan takdir. Ceritanya mirip kisah di atas. Pertemuan tanpa nama, tanpa petunjuk. Satu-satunya petunjuk yang ada dalam kisah Serendipity tersebut adalah nomor telp si cewe yang dituliskan dalam buku. Buku tersebut kemudian di jual. Jika kedua orang tersebut memang berjodoh, si cowo pasti akan menemukan buku itu dan kemudian, the story goes on... Cukup mirip kan dengan kisah di atas? Bedanya, cerita itu tidak ditimbulkan oleh nomor telp, tapi oleh ym id.

Percaya atau tidak, kisah-kisah serendipity memang ada. Umumnya itu berawal dari obrolan. Seorang teman juga pernah curhat dengan saya, sebut saja May. Kisahnya berawal ketika May ngobrol dengan seorang penumpang di bis yang duduk bersebelahan, sebut saja Febri. Mereka ngobrol begitu asiknya. Mereka sempat berkenalan. Tapi setelah keluar dari bis, mereka tidak pernah lagi berhubungan. May merasa aneh, dia seperti ingin bertemu dengan Febri. Tapi dia tidak memiliki petunjuk apapun untuk menemukannya.

Suatu hari, May membuka buku wisuda milik temannya. Ketika dia membuka salah satu halaman, dia melihat salah satu foto yang tidak asing buatnya, Febri. Diapun menanyakan tentang orang tersebut pada temannya. Dan menurut temannya, ternyata Febri teman kuliah dan teman SMUnya. Wow! Dunia begitu sempit. Akhirnya May memiliki petunjuk yang sangat jelas tentang Febri. Telp, email, atau petunjuk-petunjuk lainnya pasti dapat membawanya ke cowo yang dicarinya itu. Tapi, seperti kisah di atas, May juga ragu untuk menghubunginya. Di satu sisi dia menginginkan pertemuan itu kembali, tapi di sisi lain dia ragu untuk melakukannya.

Entah apa sebabnya? Kejadian-kejadian yang kita alami seringkali memunculkan kode-kode yang membuat kita ragu untuk memutuskan. Kalau boleh saya sebut dan saya lisensikan, ini adalah A Rifi Code. Kode-kode yang pertama kali saya paparkan dalam blog ini. Contoh lain dari A Rifi Code ini adalah 14 Agustus seperti dalam kisah "14 Agustus".

Believe it or not, its up to you...