Hari minggu kemarin, gw punya acara Tour de Depok. Acara ini adalah acara berkeliling Depok dan sekitarnya.
Acara dimulai pukul 8 dari kosan. Tujuan pertama ada gang Material, tempat gw ngekos selama sekitar 3 tahun lebih. Di sana gue hanya bertemu dengan dua orang penghuni Material 21, Obing dan Anggi. Di kos Anggi gue sudah melihat undangan yang mau dia sebar. Tidak lama lagi dia memang akan menikah. Acaranya di Malang dan di Tegal. Setelah mengunjungi Material 21, gue berniat untuk mengunjungi sepupu gue yang di Jatijajar, Depok. Tapi berhubung sepupu lagi nggak balik (dia kerja di Kalimantan), yang ada hanya istrinya. Gue hanya menelpon saja. Niat untuk bersilaturahim pun gue tunda. Mungkin natal atau tahun baru, dia ada di rumah. Tapi masalahnya, natal gue di Tegal (rencananya) dan taun baru gue di kantor (hiks...).
Selain gagal berkunjung ke Jatijajar, tempat yang kecil kemungkinan didatangi adalah kosan Lay. tapi di alagi di Lampung dan Abiep juga lagi di rumah. Paling-paling ada Nura dan Manto. Itupun kalo Nura nggak keluar dan Manto di situ. Kalo nggak? Praktis kosan tersebut sepi total. Akhirnya rumah berikutnya yang menjadi target Tour de Depok adalah rumah teman di Pd Labu. Tapi tidak ada balasan sms yang gue kirim sebagai 'ajuan' terlebih dahulu. Akhirnya, gue pun memutuskan rencana sore hari diajukan menjadi siang hari. Sepulang dari Material, gue langsung cabut ke Blok M buat nonton Eragon dan De Javu.
Ada kejadian yang cukup mengagetkan waktu solat asar di Blok M Mall. Sepatu gue tau-tau raib dari depan mushola. Gue langsung panik. Panik karena kehilangan dan panik karena gue nggak tau harus pake apa buat kembali ke bioskop dan pulangnya nanti. Akhirnya gue tanya dulu ke penjaga di situ. Ternyata penjaga itu telah 'mengamankan' sepatu gue. Hmm... selamet... ternyata... Lain kali bilang-bilang ya bang kalo mau mengamankan barang orang. Gue kan jadi panik.
Dua film sudah gue tonton. Jam 12.45 dan 16.00. Sebenernya gue masih pengen lanjut buat meneruskan Tour de Depok (kalo dah gitu sih namanya dah ganti jadi Tour de Twenty One ya :p). Tapi berhubung nggak ada film lagi yang pengen gue tonton, akhirnya gue mengakhir tour setelah solat maghrib dulu. Tour pun diakhiri dengan rintik hujan di tengah perjalanan pulang. Untunglah rintiknya masih bisa ditolerir. Jadi pakaiannya nggak basah-basah amat begitu sampe kosan.
Monday, December 18, 2006
Friday, December 15, 2006
MRP
Gara-gara harus nyediain data buat MRP, aktifitas gue jadi sibuk bukan main. Tapi hari ini, giliran gue yang bersante ria, hahaha...
Hari ini adalah hari H dimana tombol untuk MRP ditekan. Dan ini pertama kalinya gue terlibat dalam proses MRP dari awal sampe akhir. Yah... sebenernya sih sekaligus persiapan go live aplikasi baru. Pekerjaan gue sekarang tinggal menunggu dan menunggu. Tapi... bete juga sih kalo sabtu tetep masuk. Cuma nungguin data yang kurang :(
Tapi nggak apa-apa lah. Mulai minggu depan, mudah-mudahan aktifitasnya nggak seribet persiapan MRP ini. Karena (katanya) tinggal migrasi semua data. Ternyata ada untungnya juga gue ikutan proyek ini karena jadi tau proses dari awal sampe akhir proses penyediaan part sampe jadi motor. Paling nggak, sekarang gue sudah mengenal dunia manufaktur. Udah satu tahun kerja lho, tapi baru tau sekarang :D
Selepas proyek ini, (sepertinya) gue bakalan dilempar ke HR. Lumayan lagi, nambah ilmu. Berarti tinggal (?) area finance dan sales & distribution yang belum. Kalo udah semua, berarti siap-siap dilempar donk dari IT, hahaha... Becanda ding. Tapi kalo emang dilempar sekarang juga nggak apa-apa. Pengen ngerasain "murtad".
Hari ini adalah hari H dimana tombol untuk MRP ditekan. Dan ini pertama kalinya gue terlibat dalam proses MRP dari awal sampe akhir. Yah... sebenernya sih sekaligus persiapan go live aplikasi baru. Pekerjaan gue sekarang tinggal menunggu dan menunggu. Tapi... bete juga sih kalo sabtu tetep masuk. Cuma nungguin data yang kurang :(
Tapi nggak apa-apa lah. Mulai minggu depan, mudah-mudahan aktifitasnya nggak seribet persiapan MRP ini. Karena (katanya) tinggal migrasi semua data. Ternyata ada untungnya juga gue ikutan proyek ini karena jadi tau proses dari awal sampe akhir proses penyediaan part sampe jadi motor. Paling nggak, sekarang gue sudah mengenal dunia manufaktur. Udah satu tahun kerja lho, tapi baru tau sekarang :D
Selepas proyek ini, (sepertinya) gue bakalan dilempar ke HR. Lumayan lagi, nambah ilmu. Berarti tinggal (?) area finance dan sales & distribution yang belum. Kalo udah semua, berarti siap-siap dilempar donk dari IT, hahaha... Becanda ding. Tapi kalo emang dilempar sekarang juga nggak apa-apa. Pengen ngerasain "murtad".
Sunday, December 10, 2006
Jenuh
Setiap orang pasti pernah merasa jenuh. Dan setiap orang pasti memiliki cara yang berbeda untuk mengusir rasa itu. Begitu juga dengan saya.
Akhir-akhir ini, dengan semakin padatnya jadwal pekerjaan, rasa jenuh juga semakin mudah muncul. Ada banyak cara yang saya lakukan untuk mengusir rasa jenuh itu. Tapi saya bukanlah seorang yang harus memiliki tempat khusus untuk melepas kejenuhan. Di manapun, alhamdulilah saya bisa mengusir rasa jenuh. Kalo sudah bosan dengan pekerjaan di kantor, saya bisa bermain pes4 (bola). Kalo sudah bosan juga atau masih banyak orang, biasanya saya menghabiskan waktu dengan browsing atau menulis blog. Seperti sekarang ini.
Bila waktu kerja telah usai, semakin banyak pilihan untuk menyegarkan diri sebelum menginjakkan kaki di rumah. Bioskop, mall, food court, bisa menjadi salah satu alternatif. Toko buku? Sepertinya ini tidak akan mengembalikan kesegaran, tapi justru menguras energi kehidupan.
Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk ke bioskop. Pertama, ada teman yang mau diajak atau mengajak, apalagi mentraktir, hehehe. Kalau begini, biasanya saya tidak mempedulikan film yang mau saya tonton. Pokoknya nonton bareng. Yang kedua adalah ada film yang memang ingin saya tonton. Kalau yang ini, saya tidak mempedulikan ada teman atau tidak yang mau diajak atau mengajak. Pokoknya saya bisa menonton film tersebut.
Cara lain untuk menghapus kepenatan adalah dengan jalan-jalan ke mall. Tapi saya tidak pernah ke mall tanpa tujuan. Kalau ke mall, saya pasti sudah punya tujuan. Entah mau bertemu dengan teman, ataupun membeli sesuatu. Paling tidak, saya bisa ke food courtnya. Satu hal yang merepotkan adalah jika alasan saya membeli sesuatu ataupun keperluan sehari-hari. Jika otak sudah butek dan akut, akal sehat bisa mengabur. Pertimbangan tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tapi merambah ke keinginan. Ini yang gawat. Kalau keinginan sudah muai mendominasi, begitu lihat 'barang bagus', daftar belanja pun bisa membengkak otomatis dan akibatnya over budget. Dulu pernah, hari minggu masuk untuk cek transfer data. Sepulang dari kantor, saya mampir ke carefour karena memang ada kebutuhan kipas angin baru. Kipas angin di kamar (build in bareng kos) sudah layak ganti. Ketika melihat-lihat kipas, saya juga melihat rak buku dan rak TV 'bagus'. Akibatnya keinginan yang masih terpendam, muncul begitu saja. Dan budget pun membengkak. Untunglah, meskipun keinginan mendominasi, tapi masih ada pertimbangan fungsionalitas sehingga tidak sia-sia.
Lain lagi kalo sudah sampai di rumah. Untuk sekedar mengusir kebetean, saya bisa melakukan banyak cara. Tergantung mood juga sih. Kalau mood-nya lagi bener (sayangnya ini jarang terjadi :D), biasanya saya membaca buku-buku spiritual ataupun melanjutkan tafsir Fi Zilalil Quran (beli Desember tahun kemarin tapi setengah pun belum habis sampai sekarang :D). Tapi kalau lagi kacau (ini yang sering terjadi), saya akan mendengarkan radio, mendengarkan lagu dari CD, ataupun nonton DVD. Tentu saja dengan suara di atas batas maksimum etika bertetangga, hehehe... Ya, sepertinya kalo sudah jenuh dan berada di rumah, saya suka sekali sejenak melepas topeng-topeng kerisihan, ketegaan, dan mengenakan topeng-topeng kecuekan dan keegoisan yang sebenarnya tabu bagi saya sejak dulu. Tapi tidak untuk sekarang. Kebetulan empat kamar di kos, dua masih kosong dan yang satu jarang di kos. Sementara keluarga Ibu Kos yang berada di bawah juga cukup jauh untuk merasakan kegaduhan kamar saya. Untunglah, sampai sekarang belum ada komplain dari orang lain, hehehe... Atau... mungkin saya yang tidak tahu diri, hahaha... Ah, biarkan saja.
Tapi... selama masih ada di Jakarta, apalagi masih dekat dengan kantor, nuansa kejenuhan itu sepertinya tidak bisa hilang sama sekali. Berbeda bila saya keluar kota. Selama ini, kota yang telah menjadi pelarian adalah kota halaman, alias kampung halaman, Tegal. Mudik sehari pun saya jalanin. Demi mendapatkan kesegaran. Bertemu orang tua, keluarga, teman-teman. Apalagi ketika bareng teman-teman makan kupat blengong dengan pemandangan alam yang menyejukkan. Di sekitar sawah, di sore hari, sambil mengantarkan kepulangan sang mentari. Hangatnya mentari sorepun seakan merontokkan beban-beban yang ada. Yah... meskipun keesokan harinya harus berjibaku lagi dengan job-job yang sudah menunggu.
Ah... sepertinya sore ini bisa ke Djakarta Theater. Jangan tanya film apa yang mau saya tonton. Tapi tanyalah jam berapa saya mau nonton. Itu pasti bisa saya jawab setelah keluar dari ruangan tempat menulis ini.
Akhir-akhir ini, dengan semakin padatnya jadwal pekerjaan, rasa jenuh juga semakin mudah muncul. Ada banyak cara yang saya lakukan untuk mengusir rasa jenuh itu. Tapi saya bukanlah seorang yang harus memiliki tempat khusus untuk melepas kejenuhan. Di manapun, alhamdulilah saya bisa mengusir rasa jenuh. Kalo sudah bosan dengan pekerjaan di kantor, saya bisa bermain pes4 (bola). Kalo sudah bosan juga atau masih banyak orang, biasanya saya menghabiskan waktu dengan browsing atau menulis blog. Seperti sekarang ini.
Bila waktu kerja telah usai, semakin banyak pilihan untuk menyegarkan diri sebelum menginjakkan kaki di rumah. Bioskop, mall, food court, bisa menjadi salah satu alternatif. Toko buku? Sepertinya ini tidak akan mengembalikan kesegaran, tapi justru menguras energi kehidupan.
Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk ke bioskop. Pertama, ada teman yang mau diajak atau mengajak, apalagi mentraktir, hehehe. Kalau begini, biasanya saya tidak mempedulikan film yang mau saya tonton. Pokoknya nonton bareng. Yang kedua adalah ada film yang memang ingin saya tonton. Kalau yang ini, saya tidak mempedulikan ada teman atau tidak yang mau diajak atau mengajak. Pokoknya saya bisa menonton film tersebut.
Cara lain untuk menghapus kepenatan adalah dengan jalan-jalan ke mall. Tapi saya tidak pernah ke mall tanpa tujuan. Kalau ke mall, saya pasti sudah punya tujuan. Entah mau bertemu dengan teman, ataupun membeli sesuatu. Paling tidak, saya bisa ke food courtnya. Satu hal yang merepotkan adalah jika alasan saya membeli sesuatu ataupun keperluan sehari-hari. Jika otak sudah butek dan akut, akal sehat bisa mengabur. Pertimbangan tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tapi merambah ke keinginan. Ini yang gawat. Kalau keinginan sudah muai mendominasi, begitu lihat 'barang bagus', daftar belanja pun bisa membengkak otomatis dan akibatnya over budget. Dulu pernah, hari minggu masuk untuk cek transfer data. Sepulang dari kantor, saya mampir ke carefour karena memang ada kebutuhan kipas angin baru. Kipas angin di kamar (build in bareng kos) sudah layak ganti. Ketika melihat-lihat kipas, saya juga melihat rak buku dan rak TV 'bagus'. Akibatnya keinginan yang masih terpendam, muncul begitu saja. Dan budget pun membengkak. Untunglah, meskipun keinginan mendominasi, tapi masih ada pertimbangan fungsionalitas sehingga tidak sia-sia.
Lain lagi kalo sudah sampai di rumah. Untuk sekedar mengusir kebetean, saya bisa melakukan banyak cara. Tergantung mood juga sih. Kalau mood-nya lagi bener (sayangnya ini jarang terjadi :D), biasanya saya membaca buku-buku spiritual ataupun melanjutkan tafsir Fi Zilalil Quran (beli Desember tahun kemarin tapi setengah pun belum habis sampai sekarang :D). Tapi kalau lagi kacau (ini yang sering terjadi), saya akan mendengarkan radio, mendengarkan lagu dari CD, ataupun nonton DVD. Tentu saja dengan suara di atas batas maksimum etika bertetangga, hehehe... Ya, sepertinya kalo sudah jenuh dan berada di rumah, saya suka sekali sejenak melepas topeng-topeng kerisihan, ketegaan, dan mengenakan topeng-topeng kecuekan dan keegoisan yang sebenarnya tabu bagi saya sejak dulu. Tapi tidak untuk sekarang. Kebetulan empat kamar di kos, dua masih kosong dan yang satu jarang di kos. Sementara keluarga Ibu Kos yang berada di bawah juga cukup jauh untuk merasakan kegaduhan kamar saya. Untunglah, sampai sekarang belum ada komplain dari orang lain, hehehe... Atau... mungkin saya yang tidak tahu diri, hahaha... Ah, biarkan saja.
Tapi... selama masih ada di Jakarta, apalagi masih dekat dengan kantor, nuansa kejenuhan itu sepertinya tidak bisa hilang sama sekali. Berbeda bila saya keluar kota. Selama ini, kota yang telah menjadi pelarian adalah kota halaman, alias kampung halaman, Tegal. Mudik sehari pun saya jalanin. Demi mendapatkan kesegaran. Bertemu orang tua, keluarga, teman-teman. Apalagi ketika bareng teman-teman makan kupat blengong dengan pemandangan alam yang menyejukkan. Di sekitar sawah, di sore hari, sambil mengantarkan kepulangan sang mentari. Hangatnya mentari sorepun seakan merontokkan beban-beban yang ada. Yah... meskipun keesokan harinya harus berjibaku lagi dengan job-job yang sudah menunggu.
Ah... sepertinya sore ini bisa ke Djakarta Theater. Jangan tanya film apa yang mau saya tonton. Tapi tanyalah jam berapa saya mau nonton. Itu pasti bisa saya jawab setelah keluar dari ruangan tempat menulis ini.
Thursday, December 07, 2006
Dunia Tanpa Koma
Dunia terasa semakin cepat
Mendekati Go Live, aktifitas di kantor jadi semakin padat. Beberapa bulan, sabtu tidak pernah berhenti memanggil. Dan dalam waktu dekat ini, minggu serasa tak mau mengalah. Seolah tak ada waktu untuk melambat, apalagi berhenti.
Di akhir weekend, saat orang-orang melepas lelah, di sini masih harus berjibaku dengan deadline yang semakin ketat. Cuti-cuti akhir tahun pun dirampok oleh perusahaan. Saat-saat yang seharusnya menjadi moment indah untuk bertualang, menjadi saat-saat menegangkan karena harus menunggu mesin yang terus berjalan tak kenal lelah.
Hmm... Dunia berjalan begitu cepatnya, tanpa koma, apalagi titik untuk berhenti...
Mendekati Go Live, aktifitas di kantor jadi semakin padat. Beberapa bulan, sabtu tidak pernah berhenti memanggil. Dan dalam waktu dekat ini, minggu serasa tak mau mengalah. Seolah tak ada waktu untuk melambat, apalagi berhenti.
Di akhir weekend, saat orang-orang melepas lelah, di sini masih harus berjibaku dengan deadline yang semakin ketat. Cuti-cuti akhir tahun pun dirampok oleh perusahaan. Saat-saat yang seharusnya menjadi moment indah untuk bertualang, menjadi saat-saat menegangkan karena harus menunggu mesin yang terus berjalan tak kenal lelah.
Hmm... Dunia berjalan begitu cepatnya, tanpa koma, apalagi titik untuk berhenti...
Kehormatan
Alkisah di sebuah negeri antah berantah ada seorang anggota dewan kehormatan yang lagi panik bin bingung. Sebut saja dia AB. Skandalnya dengan seorang artis terungkap di media massa. Kebetulan, waktu itu, seorang temannya, sebut saja CD yang berasal dari Swiss sedang mengunjungi negerinya. Ketika mau kembali ke Swiss, CD mengajak AB untuk mengunjungi Swiss. Untuk menghindari serbuan media massa yang membabi buta, akhirnya AB menerima tawaran CD untuk berlibur ke Swiss.
Di Swiss, AB diajak CD berjalan-jalan melihat perkembangan Swiss. Hingga sampailah kedua orang itu di sebuah pantai. Di pantai tersebut terjadi percakapan di antara mereka.
CD : "Kamu tau nggak? Di sini akan dibangun sebuah pangkalan militer angkatan laut terbesar di Eropa. Pokoknya besar dan canggih deh."
AB : "Hah? Tapi saya bingung, bukannya negara kamu nggak punya angkatan bersenjata. Terus buat apa kamu membangun pangkalan militer?"
CD : "Lho, memangnya kalo mau membangun pangkalan militer harus punya angkatan bersenjata ya? Buktinya, di negara kamu, ada dewan kehormatan. Tapi memangnya kamu punya kehormatan?"
~sumber:IRadio
Di Swiss, AB diajak CD berjalan-jalan melihat perkembangan Swiss. Hingga sampailah kedua orang itu di sebuah pantai. Di pantai tersebut terjadi percakapan di antara mereka.
CD : "Kamu tau nggak? Di sini akan dibangun sebuah pangkalan militer angkatan laut terbesar di Eropa. Pokoknya besar dan canggih deh."
AB : "Hah? Tapi saya bingung, bukannya negara kamu nggak punya angkatan bersenjata. Terus buat apa kamu membangun pangkalan militer?"
CD : "Lho, memangnya kalo mau membangun pangkalan militer harus punya angkatan bersenjata ya? Buktinya, di negara kamu, ada dewan kehormatan. Tapi memangnya kamu punya kehormatan?"
~sumber:IRadio
Tuesday, December 05, 2006
Memalukan
Sekarang sama sekali nggak ada hubungannya dengan Jiffest.
Semalam gue nungguin user yang lagi upload data. Gue balik bareng dia jam 8 lewat (hampir setengah jam lewatnya). Gue berpisah jalan setelah melalui pabrik (biasanya pake lift langsung ke bawah). Gue langsung menuju parkiran. Gue nyalain si BR (Black Red) dan si BR pun menderu-deru di tempat parkir. Tapi ada yang aneh. Suara si BR lain dari biasanya. Sepertinya agak letoy, nggak bersemangat. Setelah cukup panas, gue langsung turun dan kelaur parkiran. Di pintu keluar, ada truk yang lagi mau parkir di depan gue. Jadi gue berhenti. Waktu berhenti, suara si BR seperti sedang sakit, melemah, dan akhirnya mati. Gw coba nyalain lagi, tapi suaranya semakin lemah. Tidak ada tenaga untuk hidup. Oh my God! Bukankah kalo indikator bahan bakar sudah berkedip itu artinya masih ada cadangan sekitar 1 liter lagi. Tapi kenapa si BR jadi nggak bertenaga.
Setelah gue inget-inget lagi, ternyata si BR sudah mulai berkedip sejak hari minggu waktu gue lagi di perjalanan dari depok ke kos. Udah gitu lewatnya muter melalui Fatmawati - Sudirman - Thamrin. Hmm... pantes deh. Tadi pagi gue pikir tenaga si BR masih cukup kuat untuk pulang dan mampir ke POM Bensin yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari kantor. Ternyata, dia sudah terlalu lemah. Dan akibatnya sekarang gue yang kerepotan.
Gue nggak tau harus ngapain lagi. Akhirnya gw iseng coba buka penuh choke-nya. Gue nggak tau apakah itu berpengaruh atau tidak. Ternyata hasilnya memuaskan. Setelah gw nyalain, si BR mulai menderu-deru lagi. Tapi ketika gue masuk ke gigi satu, si BR langsung mati. Akhirnya gw coba langsung masuk gigi satu dan baru gue nyalain si BR. Maksudnya biar begitu nyala langsung bisa ngacir. Tapi ternyata sama saja, si BR tetap tidak mau ngacir.
Akhirnya gue tuntun si BR ke parkiran depan, biar gue bisa beli bensin dulu. Sewaktu menuntun si BR, seorang satpam bertanya
"Kenapa mas, motornya?"
"Abis bensin Pak."
"Abis bensin, masa orang AHM keabisan bensin sih?" katanya sambil bercanda. Dan gue pun ikut tertawa.
Memalukan. Orang yang bekerja di perusahaan yang membuat motor keabisan bensin. Untung nggak di tengah jalan, hehehe... Tapi namanya lupa kan bisa kena ke siapa saja. Termasuk lupa ngisi bensin :D
Gue nitip motor di parkiran depan dan langsung ke POM Bensin naik ojek. Pengennya jalan, tapi... cape dyeh... Ternyata di tengah perjalanan ada yang jualan bensin yang sudah di taro di botol AQUA. Akhirnya gue beli itu aja karena kalo beli di POM Bensin juga nggak tau pake apaan nampung bensinnya. tapi sebenernya itu beresiko juga. Nggak ada jaminan kalo bensin itu murni. Tapi nggak apa-apa lah, darurat.
Sampai parkiran kantor, gue isi si BR. Begitu gue nyalain, dia sudah kembali sehat dan siap untuk ngacir... Alhamdulillah... ternyata masalahnya memang karena bensin. Soalnya kalo masalah mesin, gue masih buta banget.
Hua... nggak lagi-lagi deh nyuekin kedipan si BR, bisa repot ntar...
Memalukan. Tapi nggak sememalukan kasus AB dan CD kan?
Semalam gue nungguin user yang lagi upload data. Gue balik bareng dia jam 8 lewat (hampir setengah jam lewatnya). Gue berpisah jalan setelah melalui pabrik (biasanya pake lift langsung ke bawah). Gue langsung menuju parkiran. Gue nyalain si BR (Black Red) dan si BR pun menderu-deru di tempat parkir. Tapi ada yang aneh. Suara si BR lain dari biasanya. Sepertinya agak letoy, nggak bersemangat. Setelah cukup panas, gue langsung turun dan kelaur parkiran. Di pintu keluar, ada truk yang lagi mau parkir di depan gue. Jadi gue berhenti. Waktu berhenti, suara si BR seperti sedang sakit, melemah, dan akhirnya mati. Gw coba nyalain lagi, tapi suaranya semakin lemah. Tidak ada tenaga untuk hidup. Oh my God! Bukankah kalo indikator bahan bakar sudah berkedip itu artinya masih ada cadangan sekitar 1 liter lagi. Tapi kenapa si BR jadi nggak bertenaga.
Setelah gue inget-inget lagi, ternyata si BR sudah mulai berkedip sejak hari minggu waktu gue lagi di perjalanan dari depok ke kos. Udah gitu lewatnya muter melalui Fatmawati - Sudirman - Thamrin. Hmm... pantes deh. Tadi pagi gue pikir tenaga si BR masih cukup kuat untuk pulang dan mampir ke POM Bensin yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari kantor. Ternyata, dia sudah terlalu lemah. Dan akibatnya sekarang gue yang kerepotan.
Gue nggak tau harus ngapain lagi. Akhirnya gw iseng coba buka penuh choke-nya. Gue nggak tau apakah itu berpengaruh atau tidak. Ternyata hasilnya memuaskan. Setelah gw nyalain, si BR mulai menderu-deru lagi. Tapi ketika gue masuk ke gigi satu, si BR langsung mati. Akhirnya gw coba langsung masuk gigi satu dan baru gue nyalain si BR. Maksudnya biar begitu nyala langsung bisa ngacir. Tapi ternyata sama saja, si BR tetap tidak mau ngacir.
Akhirnya gue tuntun si BR ke parkiran depan, biar gue bisa beli bensin dulu. Sewaktu menuntun si BR, seorang satpam bertanya
"Kenapa mas, motornya?"
"Abis bensin Pak."
"Abis bensin, masa orang AHM keabisan bensin sih?" katanya sambil bercanda. Dan gue pun ikut tertawa.
Memalukan. Orang yang bekerja di perusahaan yang membuat motor keabisan bensin. Untung nggak di tengah jalan, hehehe... Tapi namanya lupa kan bisa kena ke siapa saja. Termasuk lupa ngisi bensin :D
Gue nitip motor di parkiran depan dan langsung ke POM Bensin naik ojek. Pengennya jalan, tapi... cape dyeh... Ternyata di tengah perjalanan ada yang jualan bensin yang sudah di taro di botol AQUA. Akhirnya gue beli itu aja karena kalo beli di POM Bensin juga nggak tau pake apaan nampung bensinnya. tapi sebenernya itu beresiko juga. Nggak ada jaminan kalo bensin itu murni. Tapi nggak apa-apa lah, darurat.
Sampai parkiran kantor, gue isi si BR. Begitu gue nyalain, dia sudah kembali sehat dan siap untuk ngacir... Alhamdulillah... ternyata masalahnya memang karena bensin. Soalnya kalo masalah mesin, gue masih buta banget.
Hua... nggak lagi-lagi deh nyuekin kedipan si BR, bisa repot ntar...
Memalukan. Tapi nggak sememalukan kasus AB dan CD kan?
Monday, December 04, 2006
Tiketnya...
Sore ini rencananya mau ke Djakarta Theater buat beli tiket Jiffest. Tapi ternyata sampai detik ini saya masih menulis blog ini. Padahal 12 menit lagi tempat pendaftaran akan tutup (pukul 20.00). Sedangkan buat perjalanan ke sana saja bisa memakan waktu 30 sampai 60 menit. Belum lagi untuk turun ke bawah, absen pulang alias ngeprik, dan ke tempat parkir bisa mencapai 15 menitan. Yeah... sepertinya saya harus melupakan tiket Jiffest. Kalau mau melihat filmnya, sepertinya lebih baik datang langsung dan membeli tiket harian saja. Jadi tidak perlu bertarung dengan jadwal kantor. Teman kantor saya yang satu project juga mengatakan hal sama. "Kalau mau nonton Jiffest, nggak perlu pesen tiket. Lebih aman." katanya.
OK Bro... ntar kita nonton bareng ya...
Kalaupun bisanya nonton yang 21.30, hayo aja...
Tarik mang...
OK Bro... ntar kita nonton bareng ya...
Kalaupun bisanya nonton yang 21.30, hayo aja...
Tarik mang...
Masih tentang Jiffest
Akhirnya hari Minggu kemarin saya sempat juga ke Djakarta Theater. Setelah melalang buana di sekitar Depok dari pagi hingga sore, sekitar pukul 4 sore saya pulang ke kos melalui Fatmawati - Sudirman - Thamrin biar bisa sekalian mampir ke Djakarta Theater. Di sana, saya kebingungan untuk mencari tempat yang menyediakan booklet Jiffest. Dalam kebingungan itu, seorang lelaki mendatangi saya dan menawarkan buku.
"Sudah dapat buku ini Mas?" tawarnya sambil menyodorkan sebuah booklet Jiffet
"Oh, kebetulan sekali Mas. Saya sedang mencari booklet ini. Mau dong Mas." Jawabku. Dan diapun memberikan satu booklet Jiffest kepada saya.
"Emm... mas, bisa minta lebih dari satu nggak? Buat teman saya." Pinta saya lagi. Ya, teman saya di kantor ada yang tertarik juga dengan film-film Jiffest. Jadi sekalian saja saya minta lebih.
"Oh, bisa Mas, mau berapa?"
"Dua atau tiga kalau ada"
"Mau lima juga ada kok. Mau Mas?"
"Boleh deh." Dan kemudian lelaki itu memberikan lima booklet kepada saya.
"Terima kasih Mas." Setelah mendapatkan buku-buku itu, saya memasukkannya ke dalam tas dan langsung pulang.
Sampai kos, saya bingung, buku-buku ini buat siapa saja ya? Teman di kantor yang tertarik dengan Jiffest cuma dua, berarti masih ada sisa dua lagi. Hmm... ya sudahlah, siapa tahu ada yang tertarik lagi. Biar rame sekalian.
Malam harinya, saya melihat-lihat film apa saja yang mungkin saya lihat. Ternyata kebanyakan film-film yang diputar pada pukul 18.30. Kalau melihat jam kerja sih masih mungkin untuk melihatnya. Tapi kalau melihat realitasnya pulang jam berapa, saya jadi ragu. Rencana membeli tiket 10 sekaligus alias Gold Card pun batal. Yang tersisa hanya lima film saja (Silver Card). Untuk yang lain, kalau sempat saja langsung ke sana.
Dari tujuh tempat pemutaran, yang paling memungkinkan hanya dua yaitu TIM dan Djakarta Theater. Tapi berhubung sekarang TIM dan Djakarta Theater studio 3 hanya memutar film-film gratis, jadi tidak termasuk dalam daftar buruan tiket. Yang masuk hanya Djakarta Theater studio 1 dan 2. Dari dua theater ini, ternyata daftar film yang saya pesan ada di Studio 1 semua. Jadi gampang deh, hehehe...
Hmm... sekarang tinggal pesan tiketnya. Kalau nanti sore bisa pulang cepat, atau paling lama jam 6, saya bisa kembali ke Djakarta Theater untuk pesan tiket. Tapi... sebenarnya saya ragu bisa pesan sekarang. Karena waktu sepertinya tidak akan membiarkan saya keluar dari Ruang Prime sebelum pukul tujuh atau delapan. Yah... kapan lagi ya? Nggak tau lah.
"Sudah dapat buku ini Mas?" tawarnya sambil menyodorkan sebuah booklet Jiffet
"Oh, kebetulan sekali Mas. Saya sedang mencari booklet ini. Mau dong Mas." Jawabku. Dan diapun memberikan satu booklet Jiffest kepada saya.
"Emm... mas, bisa minta lebih dari satu nggak? Buat teman saya." Pinta saya lagi. Ya, teman saya di kantor ada yang tertarik juga dengan film-film Jiffest. Jadi sekalian saja saya minta lebih.
"Oh, bisa Mas, mau berapa?"
"Dua atau tiga kalau ada"
"Mau lima juga ada kok. Mau Mas?"
"Boleh deh." Dan kemudian lelaki itu memberikan lima booklet kepada saya.
"Terima kasih Mas." Setelah mendapatkan buku-buku itu, saya memasukkannya ke dalam tas dan langsung pulang.
Sampai kos, saya bingung, buku-buku ini buat siapa saja ya? Teman di kantor yang tertarik dengan Jiffest cuma dua, berarti masih ada sisa dua lagi. Hmm... ya sudahlah, siapa tahu ada yang tertarik lagi. Biar rame sekalian.
Malam harinya, saya melihat-lihat film apa saja yang mungkin saya lihat. Ternyata kebanyakan film-film yang diputar pada pukul 18.30. Kalau melihat jam kerja sih masih mungkin untuk melihatnya. Tapi kalau melihat realitasnya pulang jam berapa, saya jadi ragu. Rencana membeli tiket 10 sekaligus alias Gold Card pun batal. Yang tersisa hanya lima film saja (Silver Card). Untuk yang lain, kalau sempat saja langsung ke sana.
Dari tujuh tempat pemutaran, yang paling memungkinkan hanya dua yaitu TIM dan Djakarta Theater. Tapi berhubung sekarang TIM dan Djakarta Theater studio 3 hanya memutar film-film gratis, jadi tidak termasuk dalam daftar buruan tiket. Yang masuk hanya Djakarta Theater studio 1 dan 2. Dari dua theater ini, ternyata daftar film yang saya pesan ada di Studio 1 semua. Jadi gampang deh, hehehe...
Hmm... sekarang tinggal pesan tiketnya. Kalau nanti sore bisa pulang cepat, atau paling lama jam 6, saya bisa kembali ke Djakarta Theater untuk pesan tiket. Tapi... sebenarnya saya ragu bisa pesan sekarang. Karena waktu sepertinya tidak akan membiarkan saya keluar dari Ruang Prime sebelum pukul tujuh atau delapan. Yah... kapan lagi ya? Nggak tau lah.
Saturday, December 02, 2006
Jiffest oh Jiffest...
Sudah beberapa hari ini rencana untuk mencari booklet Jiffest gagal. Penyebabnya, apalagi kalo bukan pulang malam, jam 7an. Ada lagi sih, kelupaan, hehehe... Padahal beberapa hari ini juga sempat pulang jam 5an. Tapi lupa buat ke Djakarta Theater.
Sebenernya tidak ada yang spesial dengan Jiffest. Filmnya biasa saja (menurut gw). Tapi mungkin eventnya saja yang berbeda. Ini bukan nomat yang muncul seminggu sekali. Ini juga bukan seperti acara nonton DVD di rumah (eh, kosan). Tapi yang jelas, ini bisa menjadi sarana menghabiskan waktu di akhir minggu setelah kerja keras (?) dari Senin sampai Sabtu (Sabtu? ya, karena sudah beberapa bulan ini saya tidak pernah tidak menginjakkan kaki di kantor pada hari Sabtu, kecuali libur lebaran). Lumayan, apalagi bisa berkumpul kembali dengan teman-teman di acara Jiffest. Tahun kemarin, sewaktu menonton film-film jiffest, saya bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah cukup lama tidak bersua, yaitu teman ampus dan teman kerja waktu di kampus.
Mungkin itulah salah satu (atau dua?) yang membuat saya begitu menantikan Jiffest. Menghabiskan akhir pekan dan nonton bersama teman-teman. O iya, satu lagi. Sepertinya saya merasa bosan kalau harus dituntut untuk selalu menonton film-film amrik sono. Sudah saatnya mendapat selingan film-film festifal. Apalagi film-film Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menghargai dan bangga terhadap film-film lokal. Ciee...
Eh, pokoke hari ini atau besok harus sudah dapat bookletnya nih. Biar bisa melihat jadwal film dan memesan tiketnya. Tapi, nanti balik jam berapa ya? Mudah-mudahan usernya balik cepat. Biar saya juga bisa pulang cepat.
Sebenernya tidak ada yang spesial dengan Jiffest. Filmnya biasa saja (menurut gw). Tapi mungkin eventnya saja yang berbeda. Ini bukan nomat yang muncul seminggu sekali. Ini juga bukan seperti acara nonton DVD di rumah (eh, kosan). Tapi yang jelas, ini bisa menjadi sarana menghabiskan waktu di akhir minggu setelah kerja keras (?) dari Senin sampai Sabtu (Sabtu? ya, karena sudah beberapa bulan ini saya tidak pernah tidak menginjakkan kaki di kantor pada hari Sabtu, kecuali libur lebaran). Lumayan, apalagi bisa berkumpul kembali dengan teman-teman di acara Jiffest. Tahun kemarin, sewaktu menonton film-film jiffest, saya bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah cukup lama tidak bersua, yaitu teman ampus dan teman kerja waktu di kampus.
Mungkin itulah salah satu (atau dua?) yang membuat saya begitu menantikan Jiffest. Menghabiskan akhir pekan dan nonton bersama teman-teman. O iya, satu lagi. Sepertinya saya merasa bosan kalau harus dituntut untuk selalu menonton film-film amrik sono. Sudah saatnya mendapat selingan film-film festifal. Apalagi film-film Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menghargai dan bangga terhadap film-film lokal. Ciee...
Eh, pokoke hari ini atau besok harus sudah dapat bookletnya nih. Biar bisa melihat jadwal film dan memesan tiketnya. Tapi, nanti balik jam berapa ya? Mudah-mudahan usernya balik cepat. Biar saya juga bisa pulang cepat.
Entah
Hari yang terlalu cerah
Untuk memulai hari yang menyebalkan
Entah sudah berapa lama
Berada di kantor di hari Sabtu
Entah sudah berapa banyak
Jumlah cuti yang terkumpul
Entah sudah berapa lama
Tidak bermain bola bersama
Entah sudah berapa banyak
Acara-acara yang tertinggal
Entahlah...
Untuk memulai hari yang menyebalkan
Entah sudah berapa lama
Berada di kantor di hari Sabtu
Entah sudah berapa banyak
Jumlah cuti yang terkumpul
Entah sudah berapa lama
Tidak bermain bola bersama
Entah sudah berapa banyak
Acara-acara yang tertinggal
Entahlah...
Tuesday, November 28, 2006
Mudik Kilat (lagi)
Senin, 20 Nov:
Berencana untuk mudik hari Jumat (24 Nov) malam.
Rabu, 22 Nov:
Mendapat informasi bahwa hari Sabtu dapat "jadwal piket" untuk acara Soft Go Live di kantor. (Hiks...) Akhirnya acara mudik diundur menjadi Sabtu (25 Nov) malam menggunakan kereta yang berangkat pukul 19.20
Sabtu, 25 Nov:
Pukul 07:30
Stand by di Sunter untuk acara Soft Go Live. Pekerjaannya hanya menunggu ada aplikasi error karena kurang data dan gw selaku Dataprep Officer bertugas mensupply data dari user ke aplikasi.
Pukul 18:00
Masih belum ada kepastian untuk pulang.
Pukul 18.15
Ada aplikasi yang menyebabkan locking data pada database sehingga kegiatan sempat terhenti. Setelah melalui diskusi yang panjang (gw sih cuma terim hasil :D), akhirnya diputuskan untuk menghentikan kegiatan dan pulang (hore...).
Pukul 18.40
Ngeprik pulang
Pukul 18.45
Sampai kos. Tinggal 35 menit menjelang keberangkatan kereta. Packing alias persiapan pulang dan perjalanan menuju stasiun Senen membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit. Tergantung kondisi jalan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan bis jam 9 malam. Sambil menunggu, untuk pertama kalinya di kos gw mencoba dvd dengan volume mencapai 20 tanpa turbo(biasanya maksimal 8 dengan turbo, takut mengganggu ibu kos). Maaf Bu (Kos) kalo terganggu. Lagi melepas lelah nih, hehehe... Ternyata lumayan juga suaranya.
Pukul 20.00
Berangkat ke pulo gadung menggunakan ojek
Pukul 20.30
Naik bis Dewi Sri. Biasanya sih berangkat jam 21.00. Tapi berhubung sepi, akhirnya awak bis terus mencari penumpang dan akhirnya baru berangkat pukul 22.00.
Minggu, 26 Nov:
Pukul 05.25
Sampai di rumah. Solat, istirahat, nonton TV.
Pukul 06.30
Pergi ke rumah kakak yang baru ditempati beberapa hari di Pacul. Sebenernya sudah jadi sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi baru mulai layak huni beberapa hari ini saja.
Pukul 07.30
Balik lagi ke rumah bareng bala kurawa yang berantem mulu. Mandi(sendirian), makan (bareng bala kurawa), dan main ke rumah teman (sendirian).
Pukul 09.00
Ke pacul bareng bala kurawa lagi.
Pukul 10.00
Ke mall untuk melihat-lihat TV untuk ditempatkan di Pacul.
Pukul 12.00
Sodara dari Jakarta yang sedang bersilaturahmi ke jawa sampai di rumah. Dan gw pun segera pulang dari mall (TV-nya belum kebeli).
Pukul 13.00
Rombongan dari Jakarta melanjutkan perjalanan menuju Jakarta kembali.
Pukul 13.30
Ke toko-toko elektronik melanjutkan pencarian TV.
Pukul 15.00
Sampai di Pacul, menunggu kedatangan TV. Setelah datang, TV pun segera di rakit dengan kabel-kabelnya.
Pukul 16.00
Kembali kerumah.
Pukul 16.30
Main ke temen lagi dan jalan-jalan nyobain kupat blengong yang katanya enak banget. Ternyata memang enak. Apalagi suasananya. Makan dengan pemandangan sawah di sore hari. Nikmat... indah...
Pukul 18.00
Sampai rumah lagi
Pukul 18.30
Nongkrong rame-rame di rumah teman
Pukul 20.00
Balik ke rumah, siap-siap alias packing
Pukul 22.00
Ke stasiun bareng bokap naik becak
Pukul 22.23
Seharusnya kereta sudah sampai di stasiun. Tapi ternyata masih di jalan
Pukul 22.43
Kereta baru datang
Pukul 22.48
Kereta berangkat. Sekitar 10 menit kemudian, gw tertidur karena kecape'an akibat aktifitas seharian.
Senin, 27 Nov:
Pukul 02.15
Kereta seharusnya sudah sampai Ps Senen, tapi ternyata masih di jalan. Gw juga masih tidur, hehehe... bangun-bangun tau-tau sudah di daerah bekasi-cipinang. Tidur lagi, bangun lagi sudah sampai Jatinegara. Trus tidur lagi.
Pukul 03.30
Akhirnya kereta sampai di Ps Senen. Ada tiga pilihan buat ke kos. Taxi, ojek, angkot. Gw pikir belum ada angkot, jadi pilihan tinggal dua, taxi dan ojek. Begitu cek duit, ternyata pecahannya tinggal 15 rb, akhirnya naik ojek dan ternyata ongkosnya memang 15 rb. Pas bener...
Pukul 03.45
Sampai di kos. Istirahat, solat subuh dan tidur.
Pukul 07.13
Ngeliat jam di hp. GUBRAX!!! Kerja euy... Langsung ngacir ke kamar mandi dan bersiap-siap.
Pukul 07.30
Baru keluar dari kos
Pukul 07.41
Ngeprik. Baru seumur-umur datang terlambat.
Weekend ini, cape deh...
Berencana untuk mudik hari Jumat (24 Nov) malam.
Rabu, 22 Nov:
Mendapat informasi bahwa hari Sabtu dapat "jadwal piket" untuk acara Soft Go Live di kantor. (Hiks...) Akhirnya acara mudik diundur menjadi Sabtu (25 Nov) malam menggunakan kereta yang berangkat pukul 19.20
Sabtu, 25 Nov:
Pukul 07:30
Stand by di Sunter untuk acara Soft Go Live. Pekerjaannya hanya menunggu ada aplikasi error karena kurang data dan gw selaku Dataprep Officer bertugas mensupply data dari user ke aplikasi.
Pukul 18:00
Masih belum ada kepastian untuk pulang.
Pukul 18.15
Ada aplikasi yang menyebabkan locking data pada database sehingga kegiatan sempat terhenti. Setelah melalui diskusi yang panjang (gw sih cuma terim hasil :D), akhirnya diputuskan untuk menghentikan kegiatan dan pulang (hore...).
Pukul 18.40
Ngeprik pulang
Pukul 18.45
Sampai kos. Tinggal 35 menit menjelang keberangkatan kereta. Packing alias persiapan pulang dan perjalanan menuju stasiun Senen membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit. Tergantung kondisi jalan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan bis jam 9 malam. Sambil menunggu, untuk pertama kalinya di kos gw mencoba dvd dengan volume mencapai 20 tanpa turbo(biasanya maksimal 8 dengan turbo, takut mengganggu ibu kos). Maaf Bu (Kos) kalo terganggu. Lagi melepas lelah nih, hehehe... Ternyata lumayan juga suaranya.
Pukul 20.00
Berangkat ke pulo gadung menggunakan ojek
Pukul 20.30
Naik bis Dewi Sri. Biasanya sih berangkat jam 21.00. Tapi berhubung sepi, akhirnya awak bis terus mencari penumpang dan akhirnya baru berangkat pukul 22.00.
Minggu, 26 Nov:
Pukul 05.25
Sampai di rumah. Solat, istirahat, nonton TV.
Pukul 06.30
Pergi ke rumah kakak yang baru ditempati beberapa hari di Pacul. Sebenernya sudah jadi sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi baru mulai layak huni beberapa hari ini saja.
Pukul 07.30
Balik lagi ke rumah bareng bala kurawa yang berantem mulu. Mandi(sendirian), makan (bareng bala kurawa), dan main ke rumah teman (sendirian).
Pukul 09.00
Ke pacul bareng bala kurawa lagi.
Pukul 10.00
Ke mall untuk melihat-lihat TV untuk ditempatkan di Pacul.
Pukul 12.00
Sodara dari Jakarta yang sedang bersilaturahmi ke jawa sampai di rumah. Dan gw pun segera pulang dari mall (TV-nya belum kebeli).
Pukul 13.00
Rombongan dari Jakarta melanjutkan perjalanan menuju Jakarta kembali.
Pukul 13.30
Ke toko-toko elektronik melanjutkan pencarian TV.
Pukul 15.00
Sampai di Pacul, menunggu kedatangan TV. Setelah datang, TV pun segera di rakit dengan kabel-kabelnya.
Pukul 16.00
Kembali kerumah.
Pukul 16.30
Main ke temen lagi dan jalan-jalan nyobain kupat blengong yang katanya enak banget. Ternyata memang enak. Apalagi suasananya. Makan dengan pemandangan sawah di sore hari. Nikmat... indah...
Pukul 18.00
Sampai rumah lagi
Pukul 18.30
Nongkrong rame-rame di rumah teman
Pukul 20.00
Balik ke rumah, siap-siap alias packing
Pukul 22.00
Ke stasiun bareng bokap naik becak
Pukul 22.23
Seharusnya kereta sudah sampai di stasiun. Tapi ternyata masih di jalan
Pukul 22.43
Kereta baru datang
Pukul 22.48
Kereta berangkat. Sekitar 10 menit kemudian, gw tertidur karena kecape'an akibat aktifitas seharian.
Senin, 27 Nov:
Pukul 02.15
Kereta seharusnya sudah sampai Ps Senen, tapi ternyata masih di jalan. Gw juga masih tidur, hehehe... bangun-bangun tau-tau sudah di daerah bekasi-cipinang. Tidur lagi, bangun lagi sudah sampai Jatinegara. Trus tidur lagi.
Pukul 03.30
Akhirnya kereta sampai di Ps Senen. Ada tiga pilihan buat ke kos. Taxi, ojek, angkot. Gw pikir belum ada angkot, jadi pilihan tinggal dua, taxi dan ojek. Begitu cek duit, ternyata pecahannya tinggal 15 rb, akhirnya naik ojek dan ternyata ongkosnya memang 15 rb. Pas bener...
Pukul 03.45
Sampai di kos. Istirahat, solat subuh dan tidur.
Pukul 07.13
Ngeliat jam di hp. GUBRAX!!! Kerja euy... Langsung ngacir ke kamar mandi dan bersiap-siap.
Pukul 07.30
Baru keluar dari kos
Pukul 07.41
Ngeprik. Baru seumur-umur datang terlambat.
Weekend ini, cape deh...
Monday, November 27, 2006
Hari ini...
Entah kenapa hari ini terasa begitu indah.
Bangun kesiangan, ngeprik juga telat.
Kerjaan? Cuma jadi "Customer Service". Sibuk kalo ada request, hehehe
Ngeliat keluar... kendaraan di tol lancar bener, agak mendung, dan diiringi rintik-rintik hujan.
Indahnya hari ini...
Kayanya rencana nonton james bond (setelah tertunda seminggu lebih) bisa terlaksana hari ini nih...
Pengen nulis blog yang banyak tapi nggak enak sama orang sekitar euy.
Bangun kesiangan, ngeprik juga telat.
Kerjaan? Cuma jadi "Customer Service". Sibuk kalo ada request, hehehe
Ngeliat keluar... kendaraan di tol lancar bener, agak mendung, dan diiringi rintik-rintik hujan.
Indahnya hari ini...
Kayanya rencana nonton james bond (setelah tertunda seminggu lebih) bisa terlaksana hari ini nih...
Pengen nulis blog yang banyak tapi nggak enak sama orang sekitar euy.
Wednesday, November 01, 2006
Siaga!!!
Semalam, Jakarta dan sekitarnya mulai diguyur hujan. Menyambut datangnya hujan ini, ada dua hal yang patut diwaspadai. Pertama, kata orang Jakarta memiliki siklus banjir besar 5 tahunan. Dan yang kedua, fakta bahwa Jakarta dilanda banjir besar awal tahun 2001. Dari dua informasi di atas, berarti ada kemungkinan awal tahun depan Banjir Akbar akan bersilaturahmi ke Jakarta.
Benar atau tidak informasi di atas, tetap harus waspada. Waspadalah!!!
Benar atau tidak informasi di atas, tetap harus waspada. Waspadalah!!!
Monday, October 30, 2006
Mohon maaf lahir bathin
Selamat hari idul fitri 1427H
Taqobbalallahuminna wa minkum
Shiyaamana wa shiyaamukum
Minal aidzin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan bathin
~me, my self, n arif
Taqobbalallahuminna wa minkum
Shiyaamana wa shiyaamukum
Minal aidzin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan bathin
~me, my self, n arif
Tuesday, October 17, 2006
Rekap Puasa
Setelah sekian minggu disibukkan dengan aktifitas baru di kantor, akhirnya sekarang ada waktu senggang juga buat nulis blog pada jam kerja :D, dari pada bengong. Yup, akhir-akhir ini gw emang mulai "susah nafas". Bulan kemarin aja gw memecahkan rekor masuk 5 sabtu berturut-turut mulai dari tgl 9 Sept. Ditambah bonus masuk di hari minggu tanggal 8 Okt. Tapi sekarang, gw bingung mo ngapain. Telp user nggak ada. "Bola panas" masih ada di user. So, bengong deh :D
Tarawih pertama gw lakukan di rumah soalnya pas jam tarawih gw lagi di kereta buat "mudik sughro". Meskipun ada acara mogok dan ganti lokomotif di daerah bekasi untungnya sampai tegal nggak telat banget. Paling nggak masih banyak waktu buat isya, tarawih, dan sahur. Itulah sahur pertama puasa kali ini, di rumah sendiri, asiknya. Buka pertama gw jalan bareng temen-temen ke alun-alun. Berbuka dengan salah satu menu favorit, Kupat Glabed. Sebenernya pengen soto ayam sih, tapi ngantrinya itu lho, parah banget. Setelah tarawih, jam 9 malam gw balik lagi ke jakarta. Berarti gw berada di rumah hanya sekitar 18 jam. Waktu tersingkat untuk acara mudik.
Sahur paling telat yang pernah gw alami tahun ini adalah hari selasa pertama. Gw bangun jam empat kurang dikit. Karena ga tau imsak jam berapa, akhirnya cuma makan biskuit semut. Biskuit semut? Ya, soalnya sebagian biskuitnya sudah dilahap semut. Jadi gw harus selekti untuk melihat biskuit yang masih utuh. Tapi ambil hikmahnya lah. Makan sahur sambil berbagi (dengan semut, hehehe).
Layaknya anak kos, untuk sahur gw lebih sering beli di warung. Entah kenapa sodara gw banyak yang masih tanya, "Kalo sahur masak sendiri atau beli?" Masak sendiri? Cape deh... Pagi-pagi bangun tidur pake acara masak, males kali!!! (Sebenernya masalah utamanya bukan pagi-pagi bangun tidur, tapi masaknya itu :p). Sedangkan untuk tarawih, gw lebih sering untuk solat di istiqlal. Alasannya, tidak terlalu jauh dari kantor dan nuansanya lebih nyaman dan teduh dibanding dengan masjid yang di komplek rumah karena berisik banget dengan suara anak-anak. Selain itu, jika berbuka di istiqlal, bisa lebih disiplin karena hanya membeli makanan yang akan dimakan sehingga tidak overload. Berbeda dengan berbuka di rumah yang cenderung membeli dan menimbun untuk melampiaskan hasrat. Padahal begitu berbuka, baru minum teh manis aja udah kenyang.
Setiap weekend, selalu ada acara buka bersama. Minggu pertama, buka sama teman-teman di alun-alun Tegal. Minggu berikutnya dengan anak-anak asongan "Timaher" di Gokana Teppan Atrium Senen. Berbuka bersama anak-anak DOA + weekend warrior dengan anak telkomsel sebagai "tuan rumah" menjadi acara di minggu ketiga. Acara DOA tersebut dilangsungkan di Solaria Plaza Semanggi. Sisa satu minggu terakhir di Jakarta akhirnya gw habiskan bersama sepupu-sepupu di Pizza Hut Bintaro Plaza.
Yup, ini adalah minggu terakhir di Jakarta. Pekerjaan mulai senggang, oh asiknya. Akhir minggu mudik, oh senangnya. Tapi tanggal 30 Okt sudah diminta lembur, padahal seharusnya masuk tanggal 2 Nov. Untunglah dulu pesen tiketnya tanggal 29 Okt (Kok untung? kalo beli tiketnya tgl 1 Nov pasti nggak disuruh masuk tuh. Masih berpikir untung? Ah, biarin lah...)
Udahan dulu ah, user dah nelp, udah ada kerjaan yang nyamperin. Tapi paling 10 menit kelar. Harus nunggu lama lagi. Kapan lagi bisa bersante-sante kaya gini :D
Tarawih pertama gw lakukan di rumah soalnya pas jam tarawih gw lagi di kereta buat "mudik sughro". Meskipun ada acara mogok dan ganti lokomotif di daerah bekasi untungnya sampai tegal nggak telat banget. Paling nggak masih banyak waktu buat isya, tarawih, dan sahur. Itulah sahur pertama puasa kali ini, di rumah sendiri, asiknya. Buka pertama gw jalan bareng temen-temen ke alun-alun. Berbuka dengan salah satu menu favorit, Kupat Glabed. Sebenernya pengen soto ayam sih, tapi ngantrinya itu lho, parah banget. Setelah tarawih, jam 9 malam gw balik lagi ke jakarta. Berarti gw berada di rumah hanya sekitar 18 jam. Waktu tersingkat untuk acara mudik.
Sahur paling telat yang pernah gw alami tahun ini adalah hari selasa pertama. Gw bangun jam empat kurang dikit. Karena ga tau imsak jam berapa, akhirnya cuma makan biskuit semut. Biskuit semut? Ya, soalnya sebagian biskuitnya sudah dilahap semut. Jadi gw harus selekti untuk melihat biskuit yang masih utuh. Tapi ambil hikmahnya lah. Makan sahur sambil berbagi (dengan semut, hehehe).
Layaknya anak kos, untuk sahur gw lebih sering beli di warung. Entah kenapa sodara gw banyak yang masih tanya, "Kalo sahur masak sendiri atau beli?" Masak sendiri? Cape deh... Pagi-pagi bangun tidur pake acara masak, males kali!!! (Sebenernya masalah utamanya bukan pagi-pagi bangun tidur, tapi masaknya itu :p). Sedangkan untuk tarawih, gw lebih sering untuk solat di istiqlal. Alasannya, tidak terlalu jauh dari kantor dan nuansanya lebih nyaman dan teduh dibanding dengan masjid yang di komplek rumah karena berisik banget dengan suara anak-anak. Selain itu, jika berbuka di istiqlal, bisa lebih disiplin karena hanya membeli makanan yang akan dimakan sehingga tidak overload. Berbeda dengan berbuka di rumah yang cenderung membeli dan menimbun untuk melampiaskan hasrat. Padahal begitu berbuka, baru minum teh manis aja udah kenyang.
Setiap weekend, selalu ada acara buka bersama. Minggu pertama, buka sama teman-teman di alun-alun Tegal. Minggu berikutnya dengan anak-anak asongan "Timaher" di Gokana Teppan Atrium Senen. Berbuka bersama anak-anak DOA + weekend warrior dengan anak telkomsel sebagai "tuan rumah" menjadi acara di minggu ketiga. Acara DOA tersebut dilangsungkan di Solaria Plaza Semanggi. Sisa satu minggu terakhir di Jakarta akhirnya gw habiskan bersama sepupu-sepupu di Pizza Hut Bintaro Plaza.
Yup, ini adalah minggu terakhir di Jakarta. Pekerjaan mulai senggang, oh asiknya. Akhir minggu mudik, oh senangnya. Tapi tanggal 30 Okt sudah diminta lembur, padahal seharusnya masuk tanggal 2 Nov. Untunglah dulu pesen tiketnya tanggal 29 Okt (Kok untung? kalo beli tiketnya tgl 1 Nov pasti nggak disuruh masuk tuh. Masih berpikir untung? Ah, biarin lah...)
Udahan dulu ah, user dah nelp, udah ada kerjaan yang nyamperin. Tapi paling 10 menit kelar. Harus nunggu lama lagi. Kapan lagi bisa bersante-sante kaya gini :D
Monday, October 16, 2006
Susahnya Jadi Anak
Setelah baca artikel ini, saya jadi ingat dengan salah satu saudara saya di rumah. Yang membuat saya teringat kembali tentu saja pengalaman dia mendaftarkan anaknya ke salah satu SD favorit.
Setelah anaknya lulus dari TK, dia mendaftarkan anaknya ke salah satu SD favorit di dekat tempat tinggalnya. Tapi apa yang terjadi? Mentang-mentang membawa gelar favorit yang diberikan warga, sekolah itu mengadakan serentetan tes untuk memfilter alumnus-alumnus TK yang berebutan kursi bak orang-orang yang bekerja di sebuah gedung favorit di sebuah negara favorit para koruptor (lho kok jadi ke sini, apa maksudnya?). Singkat cerita, akhirnya si anak pun mengikuti tes-tes tersebut yang terdiri dari tes membaca, menulis, berdoa, dan sebagainya. Tes-tes yang membutuhkan kecerdasan intelektual berhasil dia lewati. Membaca, menulis, hafalan berdoa, seolah bukan masalah untuk dia. Tapi begitu menghadapi tes menyanyi, dia gagal. Bukan berarti dia tidak dapat menyanyi, tapi entah karena malu atau apa, dia tidak mau menyanyi. Akhirnya dia gagal menyandang gelar sebagai siswa SD favorit. Beruntunglah sang ibu bukan seorang "pemakan merk". Dia tidak kecewa meskipun tidak mendapatkan SD favorit.
Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa di atas. Mungkin apa yang saya lihat dan saya simpulkan ini salah. Sepertinya pendidikan sekarang ini lebih cenderung pada kecerdasan intelektual. Lihat saja proses pendaftarannya. Kalo menurut si ibu, anak masuk SD itu supaya pintar, bukannya karena pintar. Terus bagaimana nasib para kaum yang kurang beruntung karena tidak dapat menyandang gelar pintar. Saya juga setuju. Anak masuk sekolah itu biar bisa menulis dan membaca. Tapi justru menulis dan membaca yang menjadi syarat untuk masuk. Membingungkan.
Padahal seperti orang bilang, masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi sudah semestinya anak-anak yang masuk TK itu tidak ditekankan untuk belajar membaca dan menulis, tapi untuk bermain dan mengembangkan kecerdasan emosi si anak. Bermain, bergaul, berkreasi dengan fantasinya. Bukannya justru mengingat-ingat pelajaran. Kebebasan sang anak sepertinya telah terampas oleh institusi pendidikan yang seharusnya menjadi teman bermainnya. Apa boleh buat, para pengelola Tk berkilah untuk mempersiapkan anak didiknya memasuki institusi berkelas sehingga harus mengorbankan anak-anak yang tidak tahu menahu mengenai hal seperti itu. Wajar bila hal tersebut menimbulkan "pemberontakan" dalam diri sang anak. Susahnya jadi anak...
Hmm... Kok sekarang saya berkomentar seolah saya orang yang ahli dalam dunia psikologi anak ya? Beruntung dulu saya masuk tinggal masuk. Keluar tinggal keluar. Tidak ada tuntutan ataupun serentetan seleksi yang harus saya lalui. Jaman dulu memang enak ya. Siapa dulu donk eyangnya? (Sssttt... mulai nggak nyambung)
Setelah anaknya lulus dari TK, dia mendaftarkan anaknya ke salah satu SD favorit di dekat tempat tinggalnya. Tapi apa yang terjadi? Mentang-mentang membawa gelar favorit yang diberikan warga, sekolah itu mengadakan serentetan tes untuk memfilter alumnus-alumnus TK yang berebutan kursi bak orang-orang yang bekerja di sebuah gedung favorit di sebuah negara favorit para koruptor (lho kok jadi ke sini, apa maksudnya?). Singkat cerita, akhirnya si anak pun mengikuti tes-tes tersebut yang terdiri dari tes membaca, menulis, berdoa, dan sebagainya. Tes-tes yang membutuhkan kecerdasan intelektual berhasil dia lewati. Membaca, menulis, hafalan berdoa, seolah bukan masalah untuk dia. Tapi begitu menghadapi tes menyanyi, dia gagal. Bukan berarti dia tidak dapat menyanyi, tapi entah karena malu atau apa, dia tidak mau menyanyi. Akhirnya dia gagal menyandang gelar sebagai siswa SD favorit. Beruntunglah sang ibu bukan seorang "pemakan merk". Dia tidak kecewa meskipun tidak mendapatkan SD favorit.
Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa di atas. Mungkin apa yang saya lihat dan saya simpulkan ini salah. Sepertinya pendidikan sekarang ini lebih cenderung pada kecerdasan intelektual. Lihat saja proses pendaftarannya. Kalo menurut si ibu, anak masuk SD itu supaya pintar, bukannya karena pintar. Terus bagaimana nasib para kaum yang kurang beruntung karena tidak dapat menyandang gelar pintar. Saya juga setuju. Anak masuk sekolah itu biar bisa menulis dan membaca. Tapi justru menulis dan membaca yang menjadi syarat untuk masuk. Membingungkan.
Padahal seperti orang bilang, masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi sudah semestinya anak-anak yang masuk TK itu tidak ditekankan untuk belajar membaca dan menulis, tapi untuk bermain dan mengembangkan kecerdasan emosi si anak. Bermain, bergaul, berkreasi dengan fantasinya. Bukannya justru mengingat-ingat pelajaran. Kebebasan sang anak sepertinya telah terampas oleh institusi pendidikan yang seharusnya menjadi teman bermainnya. Apa boleh buat, para pengelola Tk berkilah untuk mempersiapkan anak didiknya memasuki institusi berkelas sehingga harus mengorbankan anak-anak yang tidak tahu menahu mengenai hal seperti itu. Wajar bila hal tersebut menimbulkan "pemberontakan" dalam diri sang anak. Susahnya jadi anak...
Hmm... Kok sekarang saya berkomentar seolah saya orang yang ahli dalam dunia psikologi anak ya? Beruntung dulu saya masuk tinggal masuk. Keluar tinggal keluar. Tidak ada tuntutan ataupun serentetan seleksi yang harus saya lalui. Jaman dulu memang enak ya. Siapa dulu donk eyangnya? (Sssttt... mulai nggak nyambung)
Tuesday, October 03, 2006
Imam Masjid Al Aqsha dikeroyok massa
Weitz... tunggu dulu, ini bukan aksi lanjutan kaum yahudi dalam penyerangan ke Palestina. Lihat aja ceritanya :p
Kemaren, senin sore, gw masih pulang seperti biasa jam lima-an. dan seperti biasa pula gw langsung cabut ke Istiqlal buat serentetan acara malam ramadhan, buka, maghrib, isya dan tarawih. Setelah makan di lingkungan Istiqlal, gw langsung menuju ruang utama dan duduk di shaf yang agak di depan. Tumben, persis di belakang imam, ada papan nama buat ngetek tempat. Hmm... ada tamu spesial nih, pikir gw. Dan menjelang adzan Isya, pengelola masjid mengumumkan bahwa kita kedatangan tamu yang akan mengisi ceramah tarawih, yaitu Imam Masjid Al Aqsha dengan didampingi penerjemah dari pengelola masjid Istiqlal.
Sewaktu gw nulis tulisan ini, temen gw yang kebetulan ngeliat gw nulis langsung penasaran dan komentar, "Eh, dia dikeroyok dimana? Cerita ya waktu ceramah?" Kalo elo pada berpikiran gitu, buang jauh-jauh deh itu pikiran. Proses pengeroyokan itu berlangsung di masjid Istiqlal. Setelah solat tarawih + witir selesai, biasanya jamaah bersalaman dengan imam, muazin, dll yang duduk di barisan depan. Nggak seperti biasanya, kali ini jamaah yang ingin ikutan bersalaman dengan Imam Masjid tersebut bak rakyat yang rebutan sembako. Beliaupun seperti kewalahan menghadapi jamaah yang membabi buta tersebut. Untunglah ada petugas keamanan yang akhirnya berhasil mengamankan beliau.
Jadi gitu ceritanya pren... sampai jumpa lagi di episode berikutnya...
Kemaren, senin sore, gw masih pulang seperti biasa jam lima-an. dan seperti biasa pula gw langsung cabut ke Istiqlal buat serentetan acara malam ramadhan, buka, maghrib, isya dan tarawih. Setelah makan di lingkungan Istiqlal, gw langsung menuju ruang utama dan duduk di shaf yang agak di depan. Tumben, persis di belakang imam, ada papan nama buat ngetek tempat. Hmm... ada tamu spesial nih, pikir gw. Dan menjelang adzan Isya, pengelola masjid mengumumkan bahwa kita kedatangan tamu yang akan mengisi ceramah tarawih, yaitu Imam Masjid Al Aqsha dengan didampingi penerjemah dari pengelola masjid Istiqlal.
Sewaktu gw nulis tulisan ini, temen gw yang kebetulan ngeliat gw nulis langsung penasaran dan komentar, "Eh, dia dikeroyok dimana? Cerita ya waktu ceramah?" Kalo elo pada berpikiran gitu, buang jauh-jauh deh itu pikiran. Proses pengeroyokan itu berlangsung di masjid Istiqlal. Setelah solat tarawih + witir selesai, biasanya jamaah bersalaman dengan imam, muazin, dll yang duduk di barisan depan. Nggak seperti biasanya, kali ini jamaah yang ingin ikutan bersalaman dengan Imam Masjid tersebut bak rakyat yang rebutan sembako. Beliaupun seperti kewalahan menghadapi jamaah yang membabi buta tersebut. Untunglah ada petugas keamanan yang akhirnya berhasil mengamankan beliau.
Jadi gitu ceritanya pren... sampai jumpa lagi di episode berikutnya...
Tuesday, September 19, 2006
Bentar lagi puasa
Teman-temanku semua, bentar lagi puasa. Aku mau minta maaf ya. Selama ini pasti aku sudah sering mengeluarkan kata-kata maupun perbuatan yang sengaja maupun tidak sengaja, yang langsung maupun tidak langsung dan sebagainya. Mudah-mudahan kita bisa melalui bulan puasa nanti dengan luar biasa (bosen dengan kata-kata baik melulu, jadi sekarang diganti dengan luar biasa).
Teman-teman pasti sudah mempersiapkan dong buat puasa nanti. Aku juga. Sekarang aku lagi siap-siapin sajadah, baju koko, dan peralatan tempur lainnya yang mungkin sudah karatan karena 11 bulan tidak dipakai. Aduh, jadi malu ngomongnya. Terus aku juga mau belanja nih nanti. Belanja roti atau mie buat sahur darurat, belanja kurma dan sirup buat dan perbekalan lainnya. Hah... banyak juga ya persiapannya. Apalagi kalo soal perut dan penampilan, hahaha...
Meskipun puasa belum datang, tapi aroma lebaran sudah tercium dari sekarang. Pakaian baru, uang baru untuk adik-adik di kampung, tiket mudik, dan segala pelengkap lebaran sudah terbayang-bayang. Dengan dalih menghindari kemacetan bertransaksi mendekati lebaran, maka jadwal pembelian baju barupun harus segera diajukan bahkan kalo bisa sebelum puasa supaya tidak mengganggu puasa. Kalau soal tiket, itu memang sudah terjadwal dengan ketat. Tidak boleh sampai terlewat karena itu bisa berakibat sangat fatal. Hmm... dengan status sebagai pekerja (di tahun kedua) dan pekerja tetap (untuk pertama kalinya), tentu saja angpao menjadi sesuatu yang diharapkan dari adik-adikku. Meskipun aku anak bungsu, tapi aku masih punya banyak adik-adik (tidak memakai tanda petik) yang tak pernah habis (emang makanan?).
Oh damn! What the hell am I doing!
Ya Tuhan, maafkan hambamu yang satu ini. Nikmat yang Kau berikan justru membuatku terlena. Bila Kau pertemukan aku dengan bulan suci Mu, bersihkanlah, terangilah diri ini dari sunyinya kegelapan. Aku takut gelap, aku takut sepi. Karena dalam gelap dan sepi aku tak bisa melihat Mu...
~jelang ramadhan, maapin semua kesalahan ane ye
Teman-teman pasti sudah mempersiapkan dong buat puasa nanti. Aku juga. Sekarang aku lagi siap-siapin sajadah, baju koko, dan peralatan tempur lainnya yang mungkin sudah karatan karena 11 bulan tidak dipakai. Aduh, jadi malu ngomongnya. Terus aku juga mau belanja nih nanti. Belanja roti atau mie buat sahur darurat, belanja kurma dan sirup buat dan perbekalan lainnya. Hah... banyak juga ya persiapannya. Apalagi kalo soal perut dan penampilan, hahaha...
Meskipun puasa belum datang, tapi aroma lebaran sudah tercium dari sekarang. Pakaian baru, uang baru untuk adik-adik di kampung, tiket mudik, dan segala pelengkap lebaran sudah terbayang-bayang. Dengan dalih menghindari kemacetan bertransaksi mendekati lebaran, maka jadwal pembelian baju barupun harus segera diajukan bahkan kalo bisa sebelum puasa supaya tidak mengganggu puasa. Kalau soal tiket, itu memang sudah terjadwal dengan ketat. Tidak boleh sampai terlewat karena itu bisa berakibat sangat fatal. Hmm... dengan status sebagai pekerja (di tahun kedua) dan pekerja tetap (untuk pertama kalinya), tentu saja angpao menjadi sesuatu yang diharapkan dari adik-adikku. Meskipun aku anak bungsu, tapi aku masih punya banyak adik-adik (tidak memakai tanda petik) yang tak pernah habis (emang makanan?).
Oh damn! What the hell am I doing!
Ya Tuhan, maafkan hambamu yang satu ini. Nikmat yang Kau berikan justru membuatku terlena. Bila Kau pertemukan aku dengan bulan suci Mu, bersihkanlah, terangilah diri ini dari sunyinya kegelapan. Aku takut gelap, aku takut sepi. Karena dalam gelap dan sepi aku tak bisa melihat Mu...
~jelang ramadhan, maapin semua kesalahan ane ye
Wednesday, September 13, 2006
Another Weekend
Sabtu lalu, ada beberapa agenda yang sudah gw bikin untuk dua hari ke depan (sabtu-minggu). Berawal dengan mengembalikan lima dvd yang gw pinjem dari mas Anggi, gw berniat meneruskan untuk servis motor di sekitar margonda. Rencana berikutnya adalah bertemu dengan agung di balairung ataupun MUI dan kemudian ke tempat edi. Siang atau sorenya, gw berharap bisa maen bola bareng anak-anak cs2k di stadion rektorat untuk sekedar berkumpul dan melepas keringat. Acara malam, apalagi kalo bukan maen ps, dota ataupun hanya sekedar nonton tv (ada dian sastro lho...) di kos edi. Dan acara penutup weekend adalah ke rumah sodara di pondok pucung untuk silaturahmi dan sekaligus menyampaikan pesanannya keesokan harinya.
Tapi apa yang terjadi? Dari balikin dvd sampai servis motor berjalan lancar. Tapi kemudian masalah mulai muncul ketika tidak ada satu kabar pun dari weekend warrior. Hanya ali yang dapat gw hubungi. Akhirnya gw janjian sama ali untuk ketemuan di MUI untuk jalan-jalan di balairung yang kebetulan lagi ada career expo. Kalo orang-orang yang datang mencari pekerjaan, kami datang untuk mencari mantan mahasiswi yang mencari pekerjaan (hahaha... ada ali gitu lho :p). Kalo orang-orang mencari stand-stand favorit yang berisi pekerjaan-pekerjaan menjanjikan untuk menyerahkan cv dan lamaran, kami mencari stand-stand yang penjaga-penjaganya menjanjikan untuk menyerahkan cv, surat lamaran dan slip gaji pada penjaga stand (ali banget... :p). Tapi... begitu melihat HTM yang seharga 20.000, kami jadi urung untuk masuk ke balairung (hahaha... gimana mau dapet li), sayang, itu uang bensin seminggu, pikir kami. Akhirnya kami hanya melihat stand-stand yang ada di luar. Tidak disangka, di luar kami bertemu bayu dan akhirnya kamipun ngobrol ngalor ngidul, tapi... tau kan temanya? Yah... apalagi kalo bukan kaum hawa :D
Sekitar pukul 2 kami kembali ke MUI untuk bertemu dengan agung. Di luar dugaan lagi, selain bertemu agung, gw juga bertemu dengan prio dan hendra. Kalo prio sih udah biasa ya, hehehe... lha wong satu kosan. Gw dan ali masih berharap ada weekend warrior yang menghubungi kami untuk bertarung. Panggilan sebenarnya sudah datang, tapi apa mau dikata, pasukan ternyata belum cukup untuk memulai sebuah pertarungan. Karena tidak ada satupun penghuni di kosan edi, akhirnya kami pun pulang ke alam masing-masing. Dalam perjalanan pulang, aresto menghubungi gw dan mengabarkan bahwa di sana telah siap satu batalyon pasukan yang bersiap menuju medan perang. Tapi... ternyata perlatan tempur masih tersimpan di gudang dan tidak ada satupun pasukan yang stand by di gudang persenjataan. Akhirnya peperangan pun dibatalkan dan gw melanjutkan perjalanan pulang.
Sampai di kos, kegiatan gw hanya nonton dvd naruto yang sampai saat ini sudah ada 12 dvd dari seri 1 sampai 198. Malamnya ada aming dan dian sastro yang pengen gw tonton. tapi sayang cuma aming yang sempat gw tonton. Waktu nonton aming gw ketiduran dan pas bangun sudah jam 22.30 an. Yah... dian sastronya abis. Ya udah, akhirnya gw cuma melanjutkan nonton naruto sampai jam 2 pagi. Puas!!! (biarpun sebenernya sudah pernah nonton :D)
Minggu paginya, karena agenda sebelumnya sudah dipastikan gagal, gw membuat agenda baru. Beres-beres kamar, nonton sinchan, dan survey kos. Dari jam enam-an sampai jam delapan-an gw beres-beres kamar dan kemudian mandi. Abis mandi nonton sinchan, dan jam 9 lewat dikit gw pun cabut buat survey kosan.
Gw mengawali survey dari jalan salemba tengah, masuk ke percetakan negara, dan berakhir di rawasari. Sampai by pass, gw balik lagi ke percetakan negara dan berbelok ke paseban. Di antara jalan-jalan yang gw lalui, sepertinya tempat yang cukup menarik adalah percetakan negara. Akhirnya gw pun kembali lagi ke percetakan negara dan memasuki jalan-jalan kecilnya. Di antara rumah-rumah yang bejibun itu, tidak satu rumahpun yang ada tulisan "Ada kamar kosong" atau "Terima kos". Mungkin lain kali gw harus bawa sendiri tulisan-tulisan itu. Kalo gw tertarik ama suatu rumah, gw tempelin rumah itu ama tulisan itu, terus gw tanya deh yang punya rumah, hehehe...
Sampai jam sebelas-an, gw belum dapet juga informasi kosan. Mungkin si pemilik kosan memang tidak menempel tulisan-tulisan itu yang berarti gw harus gerilya meinggu depan. Gw pun pulang tanpa hasil. Tapi setidaknya minggu depan sudah ada rencana dan target. Percetakan negara, gerilya door to door. Wait for me...
Tapi apa yang terjadi? Dari balikin dvd sampai servis motor berjalan lancar. Tapi kemudian masalah mulai muncul ketika tidak ada satu kabar pun dari weekend warrior. Hanya ali yang dapat gw hubungi. Akhirnya gw janjian sama ali untuk ketemuan di MUI untuk jalan-jalan di balairung yang kebetulan lagi ada career expo. Kalo orang-orang yang datang mencari pekerjaan, kami datang untuk mencari mantan mahasiswi yang mencari pekerjaan (hahaha... ada ali gitu lho :p). Kalo orang-orang mencari stand-stand favorit yang berisi pekerjaan-pekerjaan menjanjikan untuk menyerahkan cv dan lamaran, kami mencari stand-stand yang penjaga-penjaganya menjanjikan untuk menyerahkan cv, surat lamaran dan slip gaji pada penjaga stand (ali banget... :p). Tapi... begitu melihat HTM yang seharga 20.000, kami jadi urung untuk masuk ke balairung (hahaha... gimana mau dapet li), sayang, itu uang bensin seminggu, pikir kami. Akhirnya kami hanya melihat stand-stand yang ada di luar. Tidak disangka, di luar kami bertemu bayu dan akhirnya kamipun ngobrol ngalor ngidul, tapi... tau kan temanya? Yah... apalagi kalo bukan kaum hawa :D
Sekitar pukul 2 kami kembali ke MUI untuk bertemu dengan agung. Di luar dugaan lagi, selain bertemu agung, gw juga bertemu dengan prio dan hendra. Kalo prio sih udah biasa ya, hehehe... lha wong satu kosan. Gw dan ali masih berharap ada weekend warrior yang menghubungi kami untuk bertarung. Panggilan sebenarnya sudah datang, tapi apa mau dikata, pasukan ternyata belum cukup untuk memulai sebuah pertarungan. Karena tidak ada satupun penghuni di kosan edi, akhirnya kami pun pulang ke alam masing-masing. Dalam perjalanan pulang, aresto menghubungi gw dan mengabarkan bahwa di sana telah siap satu batalyon pasukan yang bersiap menuju medan perang. Tapi... ternyata perlatan tempur masih tersimpan di gudang dan tidak ada satupun pasukan yang stand by di gudang persenjataan. Akhirnya peperangan pun dibatalkan dan gw melanjutkan perjalanan pulang.
Sampai di kos, kegiatan gw hanya nonton dvd naruto yang sampai saat ini sudah ada 12 dvd dari seri 1 sampai 198. Malamnya ada aming dan dian sastro yang pengen gw tonton. tapi sayang cuma aming yang sempat gw tonton. Waktu nonton aming gw ketiduran dan pas bangun sudah jam 22.30 an. Yah... dian sastronya abis. Ya udah, akhirnya gw cuma melanjutkan nonton naruto sampai jam 2 pagi. Puas!!! (biarpun sebenernya sudah pernah nonton :D)
Minggu paginya, karena agenda sebelumnya sudah dipastikan gagal, gw membuat agenda baru. Beres-beres kamar, nonton sinchan, dan survey kos. Dari jam enam-an sampai jam delapan-an gw beres-beres kamar dan kemudian mandi. Abis mandi nonton sinchan, dan jam 9 lewat dikit gw pun cabut buat survey kosan.
Gw mengawali survey dari jalan salemba tengah, masuk ke percetakan negara, dan berakhir di rawasari. Sampai by pass, gw balik lagi ke percetakan negara dan berbelok ke paseban. Di antara jalan-jalan yang gw lalui, sepertinya tempat yang cukup menarik adalah percetakan negara. Akhirnya gw pun kembali lagi ke percetakan negara dan memasuki jalan-jalan kecilnya. Di antara rumah-rumah yang bejibun itu, tidak satu rumahpun yang ada tulisan "Ada kamar kosong" atau "Terima kos". Mungkin lain kali gw harus bawa sendiri tulisan-tulisan itu. Kalo gw tertarik ama suatu rumah, gw tempelin rumah itu ama tulisan itu, terus gw tanya deh yang punya rumah, hehehe...
Sampai jam sebelas-an, gw belum dapet juga informasi kosan. Mungkin si pemilik kosan memang tidak menempel tulisan-tulisan itu yang berarti gw harus gerilya meinggu depan. Gw pun pulang tanpa hasil. Tapi setidaknya minggu depan sudah ada rencana dan target. Percetakan negara, gerilya door to door. Wait for me...
Tuesday, September 05, 2006
Internet aneh
Beberapa hari ini nggak bisa ngakses bloger. Anehnya yang error cuma bagian loginnya doank. Biarpun di refresh berkali-kali tetep aja kaya gitu. Baru kemarin aja mulai bisa kliatan.
Selain blogger, beberapa situs favorit juga nggak bisa diakses. Situs telkomsel sebagai referensi untuk mencari NSP beberapa hari nggak bisa diakses. Untungnya sekarang dah bisa lagi. Yang paling parah, situs referensi film-film baru yaitu 21cineplex nggak bisa diakses kira-kira satu-dua bulan yang lalu. Dan sampai sekarangpun masih nggak bisa diakses. Hiks... :( Jadi nggak punya referensi lagi. Ada yang tau referensi film-film baru di Indonesia?
Selain blogger, beberapa situs favorit juga nggak bisa diakses. Situs telkomsel sebagai referensi untuk mencari NSP beberapa hari nggak bisa diakses. Untungnya sekarang dah bisa lagi. Yang paling parah, situs referensi film-film baru yaitu 21cineplex nggak bisa diakses kira-kira satu-dua bulan yang lalu. Dan sampai sekarangpun masih nggak bisa diakses. Hiks... :( Jadi nggak punya referensi lagi. Ada yang tau referensi film-film baru di Indonesia?
Subscribe to:
Posts (Atom)