Thursday, March 29, 2007

Berita Duka

Kemaren sore, pulang dari kerja, seperti biasa gue langsung menyalakan TV. Nonton sisa-sisa komedi situasi Office Boy, dan kemudian muter DVD, V for Vendeta (dah lama banget ya filmnya :D).

Tapi apa yang terjadi sekitar 15 menit setelah TV menyala? Tiba tiba gambar di TV meredup. Gue pikir itu emang settingan filmnya yang lagi malam hari. Ah, biarin aja! pikir gue. Tapi kok, lama banget ilangnya, bahkan textnya juga ikutan meredup. Gue jadi curiga, akhirnya gue langsung pindah ke stasiun TV, gue coba ke stasiun TV yang paling jelas. Ternyata juga sama. Innalillahi wa innailihi rojiun. TV gue sekarat. Gue tunggu sampe 15 menitan. Ternyata masih sama.

Gue pun segera mencari surat wasiat, eh, kartu garansi maksudnya. Gue cari nomor telpon service center. Gue telpon service centernya supaya teknisi dateng ke kosan gue. Hmm... gue nggak nyangka ternyata prosesnya cepet juga. Begitu telpon, gue langsung ditanya batas garansi, alamat rumah, jenis produk, type dan no serinya. Semuanya ada di kartu garansi. Lancar! Besok atau lusa teknisinya datang, kata customer servicenya. Gue bener-bener nggak nyangka kalo penanganan klaim garansinya secepat itu. Gue puas dengan pelayanan produk ini (tapi gue lebih puas kalo nggak ada masalah dengan produk yang gue beli, iya kan?). Tapi... itu baru tahap pendaftarannya aja. Gimana dengan proses reparasinya? Selancar itukah? Liat saja nanti.

Ternyata belum saatnya bagi gue buat merasakan service gratis, hehehe... Sekitar jam 9 malam, setelah TV yang sekarat ini gue doakan supaya bereinkarnasi menjadi TV plasma, ternyata sehat kembali begitu gue hidupkan kembali. Sedih? Atau senang? Ah... yang penting gue nggak perlu ngerepotin ibu kos buat nungguin tukang service-nya kalo dia datang.

Wednesday, March 28, 2007

Isyarat

Pagi ini, aku satu berita di detik yang cukup membangkitkan sisi kemakhlukanku. Ini bukan berita baru. Berita-berita sejenis sudah sering muncul entah itu di media elektronik, media cetak, maupun media cyber seperti detik yang biasa aku baca. Beritanya tentang pohon yang batang / rantingnya membentuk kalimat Allah di bagian puncaknya (jelasnya liat di link berita). Bukan berita baru bukan? Sebelumnya sudah banyak sekali berita-berita seperti itu. Kambing yang ada tulisan Allah & Muhammad di sisi-sisi perutnya. Buah yang didalamnya terdapat kalimat Allah. Atau juga kebakaran pertamina yang apinya membentuk kuda laut (yang merupakan logo dari pertamina) dan kalimat Allah. Dan masih banyak kisah-kisah yang lainnya.

Sebagian orang mungkin langsung tersadar dengan isyarat-isyarat tersebut. Itulah bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Sudah terlalu banyak orang yang menuhankan selain Dia. Celakanya, mungkin ada juga orang yang menganggap dirinya Tuhan. Luar Biasa!!!

Sebagian lagi, yang sudah 'terdaftar' sebagai pemilik keajaiban-keajaiban itu, begitu mengagungkan, begitu terpanggil untuk memeliharanya. Orang yang memiliki 'kambing ajaib' itu, pasti bangga dengan peliharaannya. Apalagi banyak orang yang ingin membuktikan langsung keajaiban Ilahi tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Si kambing akan mendapat perhatian khusus dalam perawatannya.

Berbeda lagi dengan Pak Amri, selaku penemu 'pohon Allah' tersebut. Dari awal dia memang sudah mendapatkan beberapa firasat. Mulai bermimpi bertemu dengan anak kecil tiga hari berturut-turut, sampai kemalasan yang tiba-tiba muncul sesaat sebelum membantai pohon Allah. Dan sejak penemuan pohon tersebut, Pak Amri terus begadang untuk menjaga pohon tersebut. Takut terjadi apa-apa katanya.

Sepertinya bangsa kita memang masih banyak yang suka maen fisik (umm...wajar saja kalo pemenang kontes kecantikan adalah orang-orang yang bening, apalagi kalo menyandang gelar 'indo'). Padahal, bisa jadi, itulah isyarat dari-Nya supaya kita senantiasa melihat-Nya (kalaupun tidak bisa, yakinlah bahwa Dia pasti melihat kita). Dia tidak meminta kita hanya melihat kambing itu. Atau mengunjungi pohon yang membawa nama-Nya. Tapi lebih dari itu, dia ingin kita kembali. Kembali pada aturan-Nya. Dia ingin kita mengunjungi rumah-Nya. Baik rumah yang ada di tanah suci (Soale banyak juga orang yang begitu mudah bolak-balik berlibur ke belahan bumi yang lain. Tapi rasanya susah sekali untuk berlabuh sejenak ke tanah suci sekali dalam hidupnya), maupun rumah yang ada di hati suci (Aneh juga. Banyak orang bertualang ke seantero dunia untuk mencari jalan menuju Tuhan. Padahal, Dia punya rumah di dalam dirinya. Tinggal ketok pintu aja kan? Nyampe dah)
"Tiap malam saya jaga pohon ini. Sebab, dalam mimpi saya itu, anak kecil meminta untuk perlindungan. Ya mungkin saja anak kecil dalam mimpi saya itu pohon tersebut," katanya sembari tersenyum.

Lantas sampai kapan dia akan menjaga pohon itu? "Saya belum bisa pastikan sampai kapan berhenti menjaganya. Kalau malam, kalimat Allah di atas pucuk pohon itu semakin indah. Tak percaya, datanglah nanti malam," kata dia. (Dikutip dari detik. Link ada di atas)
Tanpa bermaksud menampik keindahan pohon itu, mungkin akan terdengar lebih indah kalau kalimat terakhir dari apa yang diucapkan Pak Amri diganti menjadi
"Kalau malam, kalimat Allah di lidah dan hati itu semakin indah. Tak percaya, cobalah nanti malam,"


===
Argh... jadi malu nulis ginian. Suwer deh...
Tapi bahan buat nulis blog siang ini cuma ini yang terpikir. Mo gimana lagi? hehehe...

Kembali ke Laptop

Kemarin ada berita bagus (entah menurut siapa?). Berita itu datang dari gedung yang terhormat. Rencana pemberian laptop senilai 21 juta kepada para anggota dewan yang terhormat resmi dibatalkan. Hmm... akhirnya ada juga berita menggembirakan untuk semua dari senayan. Biasanya yang muncul dari gedung tersebut adalah berita gembira untuk para penghuninya. Tapi kali ini berbeda. Acungan jempol pun patut diberikan pada mereka (mereka pasti lagi senyum-senyum biarpun ada yang sedih juga karena nggak jadi dapet laptop gratis).

Katanya (gue belum baca berita resminya), rencana pemberian laptop gretong itu sudah dianggarkan. Lalu, kemana ya larinya anggaran Laptop itu? Mungkin nggak ya, anggaran yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktifitas anggota dewan tersebut, dialihkan untuk meningkatkan pendidikan rakyat jelata atau mengurangi kemiskinan di tanah air ini? Ah... mungkin berita seperti itu hanya akan muncul di acara "Mimpi Kali Ye...".

Sekarang gue jadi punya ide lho. Dewan yang terhormat itu kan sering mendapat cibiran dengan kebijakan-kebijakannya itu. Nah, untuk menaikkan citra anggota yang terhormat tersebut, gimana kalo Gedung Terhormat itu mengeluarkan kebijakan yang bakal jadi kontroversi, tapi akhirnya tidak jadi dilakukan. Kaya kasus Laptop ini, setelah jadi kontroversi akhirnya kebijakan tersebut dibatalkan. Acungan jempol pun mengalir ke senayan. Kalo dewan bisa membuat kebijakan semacam itu kan jadi sering dapet acungan jempol, hehehe.... (Pikiran yang aneh. Anggota dewan yang terhormat, jangan dengerin usulan saya. Kalo mau ditampung, silakan. Tapi jangan direalisasikan. Lagian rakyat sudah semakin pandai, kalo dewan yang terhormat sering melakukan hal-hal yang saya usulkan, pasti rakyat akan bosan dengan tingkah polah dewan yang mencla-mencle itu. Melempar isu terus menariknya lagi. Jadi jangan lakukan usulan itu ya. Bukankah mendengar dan membuang usulan itu bukan hal susah buat Anda-anda semua?)

Mending sekarang Bapak-Ibu mikirin gimana mindahin anggaran laptop itu. Jangan kasih ke Tukul atau Unyil. Mereka sudah punya Laptop sendiri. Mendingan buat biaya belajar anak-anak yang di jalanan itu. Nggak perlu Laptop, cukup sekolah lengkap dengan guru dan perpusnya, hehehe...


===
Pagi gini, mikirin tingkah polah mereka, jadi pengen belajar yang rajin. Khususnya belajar matematika
50 + 50 = cepe deh...

Pagi...

Entah kesurupan apa gue pagi ini. Jam 6.12 sudah ada di parkiran. Dan gue ngeprik jam 6.16. Rekor terpagi sepanjang sejarah.

Tuesday, March 27, 2007

Saturday Futball Fever

Sudah beberapa minggu ini, Saturday Futball Fever (SFF) kembali aktif. Bahkan, khusus untuk Sabtu ini, muncul satu ide untuk mendobrak kebiasaan berkubang di terik matahari. Saturday Futsal Fever! Itulah acara gaya baru yang belum terealisasi oleh para futball warrior. Mungkinkah? Liat saja nanti. Gue juga belum 100% yakin. Biasalah... pasti ribut-ribut dulu dan akhirnya... mudah-mudahan sih kali ini berhasil. Sukses ya bro!!!

Tapi, sebenernya bukan cuma maen bolanya yang membuat gue jadi betah ke Depok tiap sabtu pagi atau jumat malam (apalagi gue juga bukan pemain bola beneran, just for fun lah). Tapi silaturahimnya, ngumpul-ngumpulnya, cela-celaannya. Itu yang bikin gue betah ke Depok (lagian ngapain gue nongkrong sendirian di kosan). Setidaknya bisa sekedar berbincang-bincang dengan rencana masing-masing. Ternyata begitu bervariasi. Itulah kehidupan. Kalau sama semua, apa serunya kita hidup. Mending ke kuburan aja (mo ngapain?!@#$)

Ada yang masih sibuk dengan perjalanan (mungkin kata pencarian lebih tepat) cintanya, ada yang sibuk nyari pekerjaan baru yang lebih nempel di hati, ada yang nyiapin "hari H". Macam-macam deh. Yah... di usia seperti ini emang sedang seru-serunya.

Mungkin saat-saat seperti ini akan menjadi saat yang dirindukan di masa depan. Terbukti! Peserta SFF sekarang sudah mulai berkurang. Keluarga dan aktifitas masing-masing merupakan penghalang yang lazim. Wajarlah kalo yang sudah berkeluarga jadi susah untuk mengunjungi Depok lagi. Lagian udah punya 'teman' di rumah, ngapain ngumpul-ngumpul sama jomblo-jomblo yang kalo ngobrol nggak jelas juntrungannya, hahaha...

Makanya pren... selagi masih banyak yang bisa ngumpul, sabtu ini futsal yuk, apalagi tanggal merah, masa lembur sih? Ntar kalo dah pada punya anak-istri susah lho...



===
Gue belum bisa ngebayangin kalo maman sama ndut menikah. Mungkin nggak kalo mereka masih mau maen ke depok? Ya jelas nggak mungkin lah. Kalo mereka menikah ntar M-boy bisa bubar dong, hahaha...
Asli, sekarang gue lagi bingung mo nulis apaan? Biasanya jam segini gue lagi ngegame. Tapi karena posisi tempat duduk sekarang yang kurang mengijinkan, jadinya gue cuma bisa nulis blog. Masalahnya, gue nggak tau mo nulis apaan. Hingga tiba-tiba gue inget maman ma ndut. Biar nggak keliatan mo bahas mereka, jadinya gue kasih intro soal SFF, wakakaka...
~no offence
~just kidding
~just writing :D

Kebangkitan, Trend, Pasar, dan Budaya

Beberapa hari yang lalu, gue nonton salah satu film horor Indonesia, Lewat Tengah Malam (LTM - Joanna Alexandra, maap kalo tulisannya salah). Seandainya gue belum nonton film luar yang berjudul The Others (TO - Nicole Kidman), pasti gue memberikan acungan jempol (four thumbs up) buat film LTM ini. Ceritanya bagus (menurut gue). Tapi di akhir film ini, gue jadi langsung inget sama TO karena adanya kemiripan cerita. Gue pun cuma berkomentar, "Ah, ternyata cuma 'contekan'"

Nggak lama kemudian, secara 'nggak sengaja' gue nonton sinetron (ketauan deh hobinya, hehehe) di RCTI, judulnya Olivia. Sekitar lima belas menit setelah nonton, gue langsung inget sama film She Is The Man (SITM). Olivia mengisahkan tentang seorang cewe yang nggak boleh bergabung dengan tim sepakbola sekolah karena alasan gender (makanya maen di lap BNI aja kalo sabtu siang jam 2an, pasti boleh deh). Berbekal balas dendam dan rasa ingin unjuk gigi, dia bertekad untuk dapat bermain di tim sepakbola pria. Setelah melakukan penyamaran (jadi cowo bo), akhirnya dia berhasil bergabung dengan tim sepakbola sekolah lain (sebelum sinetron ini kelar, gue sudah keburu cabut ke Depok). Kisah-kisah nya juga mirip banget. Tinggal satu kamar dengan cowo, menyukai cowo (inget lho, dia sekarang lagi jadi cowo), disukai cewe (inget lho, dia aslinya cewe), dan sederet masalah-masalah lain yang membumbui alur cerita tampak tidak ada bedanya dengan film SITM. "Ah, lagi-lagi contekan" pikir gue

Selain dua film dan sinetron di atas, tentu banyak sekali film-film atau sinetron-sinetron di Indonesia yang memimiliki kemiripan dengan banyak alasan. Lihatlah bagaimana ketika Dunia Lain sukses muncul di salah satu stasiun TV, tidak lama kemudian sederet judul-judul dengan tema serupa menghiasi stasiun TV yang lain. Atau ketika Rahasia Ilahi mulai menuai rating, stasiun TV lain pun mulai memasang ancang-ancang supaya sinetron itu tidak melenggang sendirian. Sinetron-sinetron lainpun bermunculan yang merupakan buah dari strategi. Mau contoh lagi? Dulu bioskop kita hanya menyajikan film-film Hollywod. Mau tidak mau, itulah pilihan yang bisa kita santap. Hingga tiba masanya film Indonesia beranjak tampil menghiasi papan-papan Twenty One. Daun Di Atas Bantal, Ada Apa Dengan Cinta, merupakan contoh-contoh film yang mulai membangunkan film Indonesia dari tidur panjangnya. Setelah film Indonesia mulai meramaikan jagad perfilman Indonesia, trend-trend dengan sendirinya muncul ke permukaan. Ketika film-film romantis laris di pasaran, Production House berlomba-lomba membuat film-film romantis (tapi kalo tema romantis alias cinta sih kayaknya emang nggak pernah abis). Ketika film-film hantu disukai dan mendapat respon positif dari masyarakat perfilman, para hantu pun bergentayangan di baliho-baliho, poster-poster, maupun papan-papan iklan. Bahkan area bioskop pun tidak cukup untuk menampung hantu-hantu yang siap menghibur dan menakut-nakuti penontonnya. Jalan raya pun turut menjadi korban pelampiasan para hantu dalam memperkenalkan diri mereka.

Sialnya, tidak semua trend, kemiripan, atau apapun itu namanya, dapat diterima oleh masyarakat perfilman. Dunia perfilman kita sempat heboh dengan munculnya film kontroversial yang menjadi pemenang dalam ajang paling bergengsi di Indonesia, Festival Film Indonesia. Masyarakat yang peduli dengan perfilman Indonesia pun melakukan aksi demo dengan cara mengembalikan piala-piala yang pernah mereka terima melalui ajang bergengsi tersebut. Apa jadinya jika film yang dianggap tidak memiliki orisinalitas itu maju ke pentas festival tingkat dunia? Ah, peduli setan, gue mah yang penting bisa nonton film-film dari hasil 'kemiripan' CD/DVD (dengan yang ori) yang sekarang sepertinya sudah menjadi trend karena pasar juga tidak menolaknya, hehehe... Weitz... tunggu dulu, gue cuma melakukan itu sama film2 luar. Kalo film indo, pasti gue nonton dari CD ori atau langsung di bioskop. Biar karya anak negeri terus berkembang, ceile...

Kemunculan film-film Indonesia di saat-saat yang sepi dulu, bolehlah kalo kita sebut sebagai kebangkitan perfilman nasional (Tapi sampai sekarang gue belum menemukan momen-momen apa yang menjadi kebangkitan persinetronan nasional. Apakah sinetron-sinetron kita sudah berdiri dari dulu, atau... jangan-jangan... sampai sekarang emang belum pernah berdiri tapi hanya berhalusinasi bahwa mereka sudah berdiri? Mikirin gituan, jadi pengen makan tape sama cabe. Tape deh... cabe deh...). Tapi setelah itu, mungkin yang muncul hanya trend dan permintaan pasar. Atau bahkan... sudah menjadi budaya. Ngekor, njiplak, or whatever lah, pokoke yang kaya gitu. Trend, pasar, dan budaya, sepertinya sudah tipis sekali perbedaannya. Tidak heran kalau sekarang kita disodorkan dengan film-film yang biasanya mirip-mirip, apalagi sinetron. Parah. Kalau sinetron aslinya dari luar (biasanya sih dari korea dan sekitarnya) habis dalam 60 episode, versi Indonya bisa nyampe 2 kalinya. Ternyata kita jago ya dalam mencari masalah, maksudnya masalah buat manjang-manjangin durasi sinetron. Apakah ini karena trend, permintaan pasar, atau sekedar ngekor-ngekoran? Tau ah, emang gue pikirin? Gue nggak pernah nonton sinetron gituan.

Komentar terakhir, tulisan-tulisan di atas bukan harapan-harapan optimis maupun pesimis untuk dunia entertainment Indonesia (Buat gue yang penting kalo lagi nganggur ada film yang bisa ditonton). Bukan juga merupakan kritikan (Gue bukan pemerhati dunia perfilman dan persinetronan, apalagi praktisi. Gue cuma penikmat film dan sinetron yang menurut gue bagus, itu aja). Tapi, tulisan di atas hanya cuap-cuap alias celotehan anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia entertaintment. Dan yang pasti, gue menulis karena gue punya waktu buat blogging sebelum jam 7.30. Setelah jam 7.30, gue sudah mulai kerja (Boong ding, pasti browsing dulu, nggak mungkin langsung kerja. Buka gmail, detik, kompas, republika, blog orang...dst).

Friday, March 23, 2007

From Heaven To Hell

Yup, itulah pepatah yang pas buat menggambarkan kondisi gue saat ini.

Hari ini adalah hari terakhir gue bekerja di sini (Ruang Abaper - Sunter). Tempat yang merupakan surga bagi para staff IT yang 'kurang ajar' dan 'bandel-bandel'. Browsing, ngegame, kayanya jadi aktifitas yang biasa di tempat ini, hehehe... asal nggak ada boz aza. Kalo pas makan siang nggak ada boz juga bisa jadi nambah extra time, berangkat duluan 1/2 jam, pulang telat 1/2 jam, hehehe lagi.

Tapi, di pegangsaan nanti, di tempat baru (eh, tempat asli ding) semuanya jadi susah. Apalagi posisi gue. Tinggal berdiri dan nengok kiri ato belakang, para petinggi sudah kliatan. Hmm... jadi 'kliatan' rajin kerja deh. So... kalo hari jumat gue ngga bisa bebas cuap-cuap lagi di konferens, harap maklum ya...

Ya udahlah, emang tempat gue di situ kok.

Wednesday, March 21, 2007

Masih Tentang Telpon

Setelah dua kisah tentang telpon (callback dan sok tau), masih ada lagi beberapa cerita tentang 'permusuhan' gue sama telpon di kantor.

Salah Angkat
Telpon : Tut...tut...
Gue : "Halo..."
Telpon : Tut... tut...
Orang-orang di ruangan : "Huahaha..." (Tau kan kenapa pada ketawa, yang bunyi telpon satu yang gue angkat telpon dua)
Gue : "Sialan, kenapa telponnya di gue semua sih"

Salah Taro
Gue sama teman sebelah, Cheryl, sedang sama-sama menelpon orang. Gue pake telpon satu, Cheryl pake telpon dua. Setelah beberapa lama...

Gue : "OK pak, makasih" (kemudian dengan santainya gue naro gagang telpon ke telpon terdekat dan kembali ke laptop, eh, ke komputer ding)
Cheryl : "Ayip!!! Gue lagi telpon, kenapa lo tutup telpon gue?
Orang-orang di ruangan : "Huahaha..."
Cheryl : "Liat tuh" (Ternyata orang-orang lebih ngeh dari pada gue sehingga mereka sudah ketawa duluan sebelum gue sadar dengan apa yang barusan gue lakukan)
Gue : "Ho... kebalik ya? Ya udah gue balikin lagi. Nih. Beres kan?"

Dan kemudian gue balik lagi ke kompi (dengan maksud kabur dari tanggung jawab, hehehe)

Tuesday, March 20, 2007

Kerja Lagi

Long Weekend sudah habis. Meski tidak ada yang spesial dari weekend kemarin, tapi nuansanya masih terasa. Males masuk kerja. Apalagi bangun tidur badan terasa nggak fit, pilek, sesekali masih batuk. Tapi hari ini ada meeting 3 x. Kaya minum obat aja, hehehe. Pertama transfer knowledge untuk area tax (Padahal tax bukan bagian gue). Kedua meeting DRP (tau deh mau bahas apaan, padahal gue kayanya nggak ikutan deh). Dan terakhir sosialisasi change request (kalo yang ini emang relevant dengan posisi gue sebagai analist).

Aduh... males deh...


apdetan sore hari:
Ternyata gue nggak perlu ikut transfer knowledge untuk Tax karena itu memang bukan bagian gue :)
Ternyata gue merupakan salah satu "kontributor" dalam DRP meski bukan pelaku utama
Ternyata gue telah mengerjakan banyak pekerjaan dalam pembuatan CR yang sebenernya bukan porsi gue sebagai IT Analyst :(

Thursday, March 15, 2007

Donor Tiga Jarum

Pagi ini jam 9 ada donor darah yang diadakan perusahaan di Ruang Karisma Sunter. Terakhir kali saya mendonorkan darah adalah sekitar setahun yang lalu, yaitu 27 Maret 2006 di Pegangsaan. Momen ini tentu saja menjadi kesempatan yang bagus untuk melakukan donor darah kembali. Dan sepuluh menit menjelang jam 9 pun saya bergerak menuju Ruang Karisma.

Saya : "Bu, daftarnya dimana ya?"
Petugas pendaftaran : "Isi formulir yang ada di meja itu terus taro di sini ya."
Saya : "Makasih Bu."

Sayapun mengambil formulir yang berserakan di meja yang ditunjuk tadi dan mengisinya. Setelah mengisi, saya menyerahkan ke petugas pendaftaran dan menunggu untuk dipanggil.

Petugas cek darah : "Bapak Arif!!!"
Saya : "Arif Irawan Pak?"
Petugas cek darah : "Iya betul, silakan duduk Pak. Saya cek dulu ya"
Cek...cek...cek...
Petugas cek darah : "OK, silakan langsung ke situ Pak." (sambil menunjuk tempat pengambilan darah)
Saya : "Terima kasih pak."

Dan sayapun bergegas ke tempat pengambilan darah.

Pengambil darah (bukan drakula lho) : "Silakan tiduran dulu pak."
Pengambil darah : "Mau diambil dari sebelah mana pak?"
Saya : "Dari leher kiri bisa Mba? Tapi jarumnya yang bercabang dua. Biar bekasnya kaya abis digigit drakula."
Pengambil darah : "Ih, bisa aja Bapak. Kalo yang bercabang dua nggak ada Pak. Adanya yang bercabang tiga. Mau?"
Saya : "Tiga?"
Pengambil darah : "Iya, biar kaya Sasuke yang abis digigit Orochimaru. Sapa tau nanti pas bulan purnama bisa keluar seal-nya terus Bapak bisa berubah."
Saya : "Hah??? Serius Mba?"
Pengambil darah : "Iya, ini jarumnya."
Saya : "Oh... ya udah deh Mba, kalo gitu ambil darah dari tangan kiri aja biar gampang."


ps:
Scene terakhir asli bo'ongannya. Kecuali bagian menyuruh tiduran dulu sama bagian permintaan ambil darah dari tangan kiri. Itu pun sebenernya cuma request dalam hati.

Monday, March 05, 2007

4883

Telpon (4843) : "Tuut... tuut..."
Saya : "Halo, pagi."
Dino : "Eh Yip, ada apa?"
Saya : "BMA gimana? Ada yang bisa gw kerjain lagi nggak? Sekalian generate tabelnya ya."
Dino : "Oh, ok. Tapi ntar ya, kompi gw lagi restart. Ntar gw telp lagi."
Saya : "OK"

Beberapa saat kemudian.
Telpon (4883) : "Tuut... tuut..."
Saya : "Halo Din."
Someone di telp : "Halo, bisa bicara dengan Nidya?"
Saya (dalam hati) : "Lha, Dino ngapain nyari Nidya. Ups, ternyata 4883, bukan 4843. Malu gue. Tadi dia sadar nggak ya tadi gue panggil Din, hehehe."
Saya : "Mm... Nidyanya belum datang Pak."
Someone di telpon : "O... makasih."

Behind the scene.
Saya : "Argh.... kenapa sih telpon di sini bermasalah terus."
Telpon : "Lha, wong situ yang nggak konsen kok malah eke yang disalahin."

Bank

Di suatu hari, tiga orang sahabat melakukan perbincangan yang seru. Sebut saja mereka si Putih, si Abu-abu, dan si Hitam. Mereka bertukar pikiran mengenai suatu lembaga yang sudah menjadi 'barang wajib' di jaman sekarang.

H : "Bu, pinjem duit dong, ce..."
A : "Sory dory mory... ane lagi bokek coy."
H : "Halah... Eh Tih, ada nggak? Cepe ceng. Ntar ane balikin lewat bank deh. Ntar ane transfer ke rekening ente."
P : "Tam, kalo pinjem duit sih ok-ok aja. Tapi cara balikinnya yang kaga ok, cash aje ye. Ane kaga punya rekening di bank."
A : "Busyet... Hare gene kaga punya rekening? Emang ente tinggal di mana coy?"
A + H : "Di Hutan? Hahaha...."
P : "Kaga mungkin lah, sekarang di taneh kite nih, hutannya udeh jadi danau cing. Danau musiman alias danau lima taonan."
A + P + H : "Hahaha..."
A : "Bener juga ape kate ente. Tapi bai de wei temennya bas wei nih, emang beneran ente kaga punye rekening. Kenape? Riba?".
P : "Iye nih. Ane takut ame ribanye. Riba itu haram. Dan barang yang membawa riba bisa membawa kita ke nerake. Kate Pa Ustad sih gitu."
A : "Aduh... kemane aje nih orang? Ente pan tau. Sekarang jamannye serba canggih. Dan kecanggihan itu juga sudah merambah ke dunia perekonomian."
H : "Lagak lo tuh. Kaye pakar ekonomi aje. Duit aja kaga gablek."
A : "Hehehe..."
H : "Nyengir aje bisa lo."
A : "Eh, bentar nih, ane belum kelar ngomongnya tadi. Jadi sekarang udah jamannya transaksi-transaksi itu serba otomatis cing. Jadi mau nggak mau pasti melibatkan bank. Emang sih, ane tau, bank itu erat kaitannya ama riba. Tapi sekarang kan udah bejibun tuh bank-bank yang nyediain paket-paket syariah yang berbasis sistem syariah. So, sapa takut berhubungan sama bank?"
H : "Udah deh, ngapain pusing-pusing. Pokoke sekarang kita tuh nggak bisa hidup tanpa bank. Gajian pake bank. Transfer pake bank. Nabung pake bank. Bayar pake bank. Jadi ya udahlah. Terima aja. Jangan bikin susah sendiri."
P : "Nggak ah. Memang sih sekarang dah banyak bank-bank syariah, tapi kan tetep aja tuh bank pasti berhubungan dengan bank-bank konvensional. Abis gimana lagi, orang kita berada di satu sistem besar, ya pasti nggak bisa lepas dari yang konvensional meskipun yang kita pegang sudah menganut syariah."
A : "Busyet dah. Kalo dah ngomongin satu kesatuan sistem kaya gitu ya susah coy. Lha emang sekarang kita hidup di jaman yang kaya gitu. Yang penting kan niat kita coy, trus kaga ikut-ikutan yang lain. Yang penting niat kita emang cuma buat nyimpen duit dan memanfaatkan fasilitas bank selama tidak melibatkan riba. Udah gitu, pan bank yang kita pake bank syariah. Jadi ya... mudah-mudahan sih aman dunia akhirat."
H : "Sekarang gue jadi penasaran. Emang lo nyimpen duit lo dimana? Di celengan ayam? Hehehe..."
P : "Selama ini sih gue nyimpen duit di rumah, bentuknya bisa duit atau emas. Ya... perhiasan gitu deh. Kalo pas ada banyak duit ya gue beliin tanah aja. Pokoknya gue kelola sendiri deh. Lebih adem hati aye."
A + H : "Hah..."
A : "Segitunya banget lo coy. Argh... susah deh ngomong ama nih orang."
H : "Hidup udah susah, malah makin dibikin susah. Orang yang aneh. Eh Tih, gimana jadi minjemin duit nggak? Ntar aye balikin pake tanah deh."
A + P + H : "Hahaha..."

Thursday, March 01, 2007

Callback

Callback adalah salah satu fasilitas telepon kantor yang berguna untuk memberitahu bahwa orang yang akan kita hubungi dan sedang online, telah selesai bicara atau sudah offline. Buat pembaca yang masih ndeso, berikut ini saya ceritakan proses callback:

  1. Hubungi nomor yang dimaksud, jika terdengar nada sibuk, tekan tombol callback dan tutup telepon.
  2. Setelah terdengar nada callback, berarti orang yang tadi kita hubungi sudah offline dan dapat kita hubungi kembali.
  3. Angkat telepon dan telepon yang kita tuju akan berdering.
  4. Selanjutnya seperti proses menelpon biasa.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari, terkadang ketika pikiran kita sedang katro dapat terjadi hal-hal yang cukup menggelikan. Berikut ini dua 'percakapan yang tidak biasa' yang pernah saya alami.

***


Telpon : "tet tot tet tot" (saya menekan nomor ekstensi)
Telpon : "tut..." (nada sibuk, kemudian saya menekan callback)
Selang beberapa menit...
Telpon : "Tuuut....."
Saya : "Halo, Selamat pagi. Bisa bicara dengan Pak Feri?"
Bu Susi : "Hei Rif. Ini saya, Bu Susi. Lha orang saya yang nelpon kamu kok malah kamu yang cari orang? Pasti abis callback ya?"
Saya : "Eh, maaf bu. Saya nggak ngeh. Saya pikir tadi callback. Ada apa Bu?"
Dan percakapan pun berlanjut. Setelah saya ceritakan kejadian barusan ke teman sebelah, dia tertawa terbahak-bahak.

***


Telpon : "Tut tut tut tut"
Saya : "Halo."
Someone di telpon : "Halo."
Saya : "Selamat siang."
Someone di telpon : "Selamat siang."
Saya : "Halo."
Someone di telpon : "Halo."
Saya (berteriak pada orang-orang di ruangan) : "Hei, tadi ada yang callback ya?"
Someone di ruangan : "Iya, tadi gue callback."
Saya (sambil menutup telpon) : "Sialan, pantesan."
Setelah saya ceritakan ke teman-teman, merekapun tertawa terbahak-bahak.

***


ps:
Bunyi nada dering : Tuuut.....Tuuut.....Tuuut.....
Bunyi nada sibuk : Tuuut.....
Bunyi nada callback :TutTutTutTut.....TutTutTutTut.....

Wednesday, February 21, 2007

Ketakutan

Ketakutan merupakan salah satu bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam setiap masa-masa kehidupan, ketakutan itu akan muncul dalam format yang berbeda-beda. Anak-anak, remaja, orang tua, tentunya memiliki ketakutannya masing-masing. Namun sisi manusiawi kita seringkali membuat kita takut terhadap suatu hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Lihatlah bagaimana anak-anak ketakutan dengan imajinasi yang mereka buat sendiri. Cerita-cerita yang dia dengar, film-film yang dia lihat, membuat anak-anak menjadi kreatif dalam berimajinasi. Namun tidak jarang pula kreatifitas itu justru menakuti mereka sendiri. Tap itulah dunia anak. Tanpa imajinasi, tentu hidup mereka akan hambar.

Tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan segala aktifitas dan kehidupannya, ketakutan-ketakutan akan muncul kembali dengan bentuk yang berbeda. Ketatnya persaingan mendapatkan tiket ke perguruan tinggi negeri yang bagus, dapat menjadi salah satu obor ketakutan tersendiri. Meskipun kegagalan belum menjadi harga mati, namun auranya sudah menebarkan ketakutan. Berbagai usaha pun dilakukan untuk memupuskan ketakutan itu. Mengikuti beberapa bimbel sekaligus pun tidak masalah. Waktu yang tersita mungkin akan sebanding dengan hasil yang diperolehnya nanti. Bahkan jika kita dapat sedikit membuang nurani, kita dapat saja 'menyingkirkan' peluang orang lain dengan melewati 'jalan belakang'. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa kita masih bisa merasakan hari dimana masa kuliah dimulai? Siapa yang akan menjamin bahwa pengorbanan kita tidak akan sia-sia

Kasus lain yang menjadi menu wajib bagi kaum muda, tentu saja urusan berumah tangga. Terlebih jika di usia yang yang memasuki area krisis (twenty-x syndrome?). Desakan orang tua, candaan teman-teman, akan menambah kepanikan jomblowan-jomblowati. Pencarian cinta akan dilakukan entah melalui media teman, keluarga, maupun internet. Tidak hanya media yang konvensional, bahkan segala media pun dapat menjadi pilihan. Biro jodoh, paranormal, dukun dan sebagainya merupakan alternatif lain. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa kita masih bisa merasakan hari dimana kita bersanding dengan pasangan kita? Bahkan untuk yang sudah berpasangan pun, tidak ada yang menjamin bahwa itu akan berakhir di pelaminan. Perlukah kita setakut itu? Mengapa kita begitu takut dengan apa yang belum tentu kita alami?

Orang tua mana yang tidak peduli dengan masa depan anak-anaknya? Di kehidupan yang keras ini, orang tua pasti akan menyiapkan segala sesuatu untuk anak-anaknya. Termasuk masa depannya. Dan orang-orang pun akan membungkus ketakutan akan masa dapan anak-anaknya dengan kata-kata indah seperti rencana masa depan, tabungan pendidikan, maupun asuransi. Kata-kata tersebut memang sudah lazim dalam kehidupan sekarang. Sehingga ketakutan-ketakutan tersebut akan menjadi kabur. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa anak-anak kita masih bisa merasakan hari dimana mereka mengenyam indahnya masa sekolah? Siapa yang dapat menjamin bahwa sang masa tidak akan merampas semua cita-citanya? Perlukah kita setakut itu? Mengapa kita begitu takut dengan apa yang belum tentu kita alami?

Sebaliknya, ada sebuah moment yang sudah pasti akan kita alami. Tidak ada satupun makhluk yang bernyawa yang dapat menghindari moment ini, apalagi menolak. Moment itu bisa datang kapan saja dia mau. Namun sedikit sekali orang yang mempersiapkan, sedikit sekali orang yang mau menyambut masa-masa itu. Moment itu hanya dianggap angin lalu. Pengorbanan yang hakiki hanya akan dianggap sebagai pengorbanan sia-sia saja. Nanti sajalah! Mungkin begitu orang pikir. Tidak sedikitpun ketakutan yang menghantui. Kalaupun ada, mungkin mereka akan berkata "Ah, masih lama." Padahal moment itu bisa menghampiri tiba-tiba. Mengapa kita begitu ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi, hingga bersemangat melakukan apa saja. Tapi... mengapa kita begitu acuh tak acuh terhadap kematian, sesuatu yang pasti terjadi. Kemana semangat itu? Mungkinkah karena kita belum pernah mati? Kalau begitu, mungkin ada baiknya kalau kita belajar mati sebelum mati.

Seorang atlit akan dapat memenangkan pertandingan jika dia sering berlatih.
Seorang penyanyi akan dapat menyanyi dengan suara indah jika dia sering berlatih.
Dan seseorang akan dapat 'memenangkan' pertarungannya dengan ajal jika dia sering berlatih.
-someone-

Friday, February 09, 2007

Balada Seorang Pengungsi

Hari Jumat Jakarta diterjang banjir. Perjalanan ke kantor yang biasanya cuma 10 menit, pada hari jumat dibutuhkan lebih dari satu jam untuk sampai ke kantor. Bukan masalah macet, tapi karena muter-muter mencari akses ke kantor. Naik bajai hanya sampai sebelah kantor. Lewat samping tidak mungkin karena kedalaman air mencapai kira-kira perut orang dewasa (lagi berdiri, bukan tiduran). Lewat Cempaka Mas juga tidak bisa, menurut informasi orang AHM yang kebetulan naik motor dan sudah mencoba berbagai alternatif akses ke kantor. Akhirnya jalan menuju kantorpun ditemukan, lewat belakang (toyota). Di kantor hanya setengah hari karena sekitar pukul setengah dua ada instruksi dari atasan untuk pulang karena khawatir banjir semakin menggila dan karyawan tidak dapat pulang.

Sabtu pagi sekitar pukul setengah enam listik di kos mati. Sementara air sudah menggenangi jalan di depan kos, hampir menyentuh pagar depan. Akhirnya diputuskan untuk mengungsi karena tidak mungkin tetap tinggal di kos dalam keadaan tanpa listrik. Tempat pertama yang dituju adalah kos Lay di Depok. Di sana listrik masih normal dan airpun berlimpah. Selama di tempat pengungsian, kegiatan yang saya lakukan adalah main we di kompi nura, nonton D'Bijis di Detos bareng Edi, dan nonton berita-berita di televisi. Tidak ada yang spesial.

Saya baru pulang ke kos minggu siangnya dengan harapan listrik sudah menyala kembali. Tapi sesampai di kos, ternyata listrik masih padam. Akhirnya saya menyiapkan pakaian kembali, packing, dan berangkat ke Depok lagi. Kali ini tujuannya adalah rumah saudara. Meskipun air pam mati, setidaknya listriknya tidak mati. Untuk suplai air, di rumah saudara memang hanya mengandalkan air pam. Beruntung ada tetangga yang menggunakan jetpump dan baik hati. Tetangga-tetangganya yang kekurangan air, dipersilakan mengambil air dengan menggunakan selang panjang sehingga bisa digunakan untuk rumah yang jaraknya cukup jauh.

Hari Senin saya meliburkan diri. Bosan berdiam diri di rumah saudara, tempat yang menjadi pelampiasannya adalah Gramedia dan plasa Depok. Pakaian di kos masih pada belum kering. Kalaupun kering pasti belum disetrika karena setrika tidak dapat digunakan. Sepertinya selain menyediakan lilin untuk penerangan, harus ada juga setrika tradisional yang menggunakan arang, hehehe... Jadi kunjungan ke plasa sekaligus untuk menambah stock pakaian selama mengungsi.

Saya kembali ke kos membawa harapan kembalinya pasokan listrik di daerah kos. Tapi ternyata harapan tinggal harapan. Listrik masih padam. Datangnya pesan SMS dari atasan bahwa Selasa masih libur, membuat saya untuk kesekian kalinya mengepak pakaian dan kembali ke Depok, kos Lay. Tapi sore hari kos masih sepi. Penghuninya masih di kantor. Jadi sekalian menunggu penghuninya pulang, saya mampir dulu ke Blok M 21 untuk nonton Primeval. Setelah nomat, saya meneruskan perjalanan ke Depok.

Hari Selasanya saya habiskan di kos Lay dan di Detos. Sekali lagi, untuk membeli pakaian selama mengungsi. Selain membeli pakaian, saya juga mampir ke Detos 21 untuk sekedar menghabiskan siang. Malamnya saya diajak ke Detos sama Edi ke Detos 21 lagi untuk sekedar menghabiskan malam, hehehe...

Keesokan paginya, saya kembali ke kos untuk siap-siap ke kantor. Kali ini jalan sudah dapat dilalui motor sehingga saya ke kantor naik motor dengan Firman. Lumayan, jalan sudah mulai bebas banjir. Air di dalam pabrik juga sudah mulai surut. Hanya saja akses ke AHM Sunter baru dapat dilalui dengan bebas lewat samping karena kalau lewat depan masih banjir di daerah Kelapa Gading dan perempatan Cempaka Mas atau yang sering disebut perempatan Coca Cola.

Daerah Sunter masih bebas listrik, AC dan lampu di kantor tidak menyala. Panas! di kos juga masih belum menyala. Entahalah apakah setelah pulang akan mengungsi lagi atau tidak. Tapi setelah sampai kos sore harinya, ternyata listrik sudah kembali normal sehingga saya tidak perlu mengungsi lagi.

Friday, February 02, 2007

Februari MOP

Kemarin, saat sedang bermilad-ria, saya dikerjain teman-teman saya. Dua kali. Dua-duanya teman waktu freelance di P3M.

Rabu siang, saya chat dengan Puput. Seperti biasa, yang diminta dari yang mau berulang tahun pasti traktiran. Karena hari Kamis saya ada rencana sendiri, jadi saya tawarkan Rabu malam aja di Cempaka Mas. Maksudnya biar terlalu jauh dari tempatnya bekerja, jadi kemungkinan besar pasti BATAL, hehehe. Di tengah-tengah chat, tiba-tiba dia ada urusan dan menghentikan chat.

Sore harinya, sepulang kerja, karena saya pikir acara traktirannya tidak jadi, saya memutuskan untuk pergi ke Atrium karena memang ada keperluan. Ketika saya sedang di supermarket, tiba-tiba Puput mengirim SMS katanya dia sedang di Cempaka Mas sendirian. Gubrak!!! Saya pikir tidak jadi. Saya merasa bersalah kalau dia harus menunggu lama karena tawaran yang sudah saya buat. Akhirnya saya kembalikan sebagian barang-barang yang sudah saya pilih supaya lebih gampang bawanya dan cepat bayar di kasirnya. Sambil menuju tempat parkir, saya telepon dia tapi tidak diangkat. Tiba-tiba datang SMS dari dia dengan isi "31 Jan mop!! Huahahahaa...!!" Sialan! Batin saya. Saya cuma tersenyum dengan ulah iseng teman yang satu itu. Kalo bukan 31 Jan sudah saya sobek-sobek mulutnya. Ndeso!!! Katro!!! Puas??? Puas???

Keesokan harinya, tanggal 1 Februari, banyak SMS dan telepon ucapan selamat Ulang tahun. Salah satunya adalah Miss X dengan nomor 0818 sekian sekian. Karena nomornya tidak tersimpan di phone book, saya tidak tahu siapa dia. Suaranya juga tidak begitu saya kenal (dengan orang yang sudah saya kenal pun juga belum tentu dapat saya kenali dari suara di telepon :D). Dia mengaku sebagai teman saya dan dia meminta saya menebak siapa dia (emangnya kuis siapa dia? hehehe). Setelah berSMSria dengan Miss X, akhirnya dia mengajak untuk ketemu di Gading. Tapi ternyata dia juga tidak tahu seperti apa saya ini. Nah lho.. katanya temen? Jadi curiga deh, jangan-jangan dia cuma melihat saya di Friendster atau blog. Jadi saya tolak ajakannya. Karena saya memang ada rencana ke Carrefour, jadi saya iseng-iseng mengajak bertemu di Cempaka Mas. Ternyata dia mau saja dan malah menunjuk satu tempat. Wah, jangan-jangan orang ini tinggal atau kerja di sekitar Sunter. Soalnya tahu banget sekitar Gading-Cempaka Putih.

Sepulang kerja, saya langsung menuju ke Carrefour. Di depan pintu masuk Carrefour, Miss X menelpon kembali untuk memastikan apakah jadi atau tidak. Saya jawab terserah dia karena sekarang saya sudah sampai di Carrefour. Berikutnya dia bilang akan menuju ke tempat yang dia tunjuk dalam waktu sekitar 15 menit. Nah lho... kok cepat banget ya? Dari kantor saya ke Cempaka Mas memang sekitar 15 menit jalan kaki. Kalau memang dia teman kantor yang mau ngerjain saya, tapi sapa? Apa teman-teman lagi pada ngerjain saya. Tapi dia bilang juga sendirian. Ah, sudahlah.

Keluar dari Carrefour, saya iseng-iseng liat-liat DVD sambil menunggu SMS dari Miss X kalau dia sudah sampai. Begitu SMS dari dia sampai, saya langsung menuju tempat dia berada. Di sana, saya dipanggil oleh seorang cewe dan saya pun menghampiri dia. Dia memang Miss X (dari ciri-ciri pakaian yang dia ceritakan), tapi saya merasa tidak mengealnya. Anehnya, dia malah minta maaf duluan dan dia bilang sebenernya punya misi. Sesaat dia ambil sepucuk kertas dan memberikan ke saya. Gubrak!!! (lagi). Untuk kedua kalinya saya dikerjain oleh teman saya. Ternyata Miss X yang bernama Niken itu adalah agen rahasianya April yang bertugas untuk ngerjain saya. Seumur-umur, baru kali ini saya dikerjain di hari ulang tahun. Apalagi sampai dua kali!!!

Btw, terima kasih buat teman-teman yang sudah mengirim ucapan Selamat Tahun baik melalui SMS, telepon, YM, secara langsung maupun cuma dalam hati :D

-Puput (SMS): Ayiiip..!! Sori gw dah dg TEGAnya ngebokisin bin ngerjain lo td. Sorrii buanget... (dst)
-Rahma (Telp)
-Aprill (SMS): I wish 4 U. Love like a new comfortable house... (dst)
-Catur (SMS): Slamat Ulang tahun. Semoga kamu selalu dalam lindunganNya... (dst)
-Someone 08180843xxxx (SMS): Yip, met ulang tahun.. makin sukses di tiap langkah... (dst)
-Mba Rini (SMS): Happy b'day.. Semoga yang dicita-citakan dapat dicapai... (dst)
-Anita (SMS): Happy birthday. Kapan traktirannya? :p
-Christian (YM)
-Penghuni ABAPER (langsung)
-Nico (Friendster)
-Wuri (Telp)
-Niah (Shoutbox@blog)
-Miss X aka Niken (Telp)
-Mba Siti (SMS): Rif slamat ultah, moga sehat selalu tambah sukses... (dst)
-Apotik Century (Telp)
-Dan semua yang mengucapkan dalam hati saja. Saya bisa merasakan itu kok :p

Banjir... Banjir... Banjir...

Hari ini pertama kalinya gue ke kantor naek bajai. Abisnya, naek motor takut pulangnya banjir. Hujan sudah mengguyur Jakarta dari tadi malam. Ditambah hujan sepagian ini dan sesiang nanti (kalo masih), Jakarta pasti banjir dan motor gue pasti mblebek kalo gue paksain jalan. Akhirnya gue putusin naik angkot aja. Ternyata pagi ini angkot juga jarang banget. Jadinya naik bajai deh.

Bajainya nggak nyampe depan kantor. Cuma sampe sebelah aja. Tapi masalahnya gimana caranya sampe ke kantor. Akses jalan ke kantor banjir semua. Sempet ketemu orang-orang AHM yang senasib juga. Dan gara-gara ada yang ngusulin lewat toyota, akhirnya sampe juga ke kantor. Coba kalo nggak ada yang ngusulin, lengkap sudah alasan untuk kembali ke rumah. Hiks... gapapa deh, setidaknya bisa ngebrowse di kantor, hehehe...

Di kantor sepi. Gue dateng jam 8 cuma ada Yoko. Padahal biasanya ada sekitar 10 orangan. Budi sama kaya gue, dah sampe samping tapi nggak bisa masuk, akhirnya balik. Dino telp dari rumah nggak masuk kantor. Kumoro diajak bokapnya naik mobil nggak mau. Dia milih naik motor dan akibatnya sampe sekarang belum nyampe. Puter balik kali.

Thursday, February 01, 2007

Tahun Perak

Hari ini, seperempat abad yang lalu, adalah waktu ketika saya diturunkan ke bumi ini.

Masa yang lewat...
Banyak sudah masalah yang saya buat. Semoga membuat saya semakin berpikir.
Banyak sudah kesalahan yang saya ciptakan. Semoga tidak terulang untuk kesekian kalinya.
Banyak sudah musibah yang saya alami. Semoga membuat saya semakin kuat.

Terlalu sedikit prestasi yang saya raih. Semoga masih ada kekuatan untuk mencapai bintang.
Terlalu sedikit amal yang saya lakukan. Semoga masih ada umur untuk menjadi ladang yang subur.
Terlalu sedikit cita-cita yang saya idamkan. Semoga masih ada mimpi yang bisa saya bangun.

Ya Robbi...
Sematkanlah kesabaran dalam setiap musibah yang Kau berikan.
Tanamkanlah kearifan dalam setiap ujian yang Kau turunkan.
Siramkanlah kesejukan dalam panasnya hidup.
Taburkanlah kelembutan dalam kerasnya hati.

Amin...

ps.
Sebenernya pengen nulis banyak tapi males nulisnya :D
Lagi pula saya harus kerja kan?

Tuesday, January 30, 2007

Ketinggalan dompet

Kemarin ngantor nggak bawa dompet. Emang sih, kalo ngantor nggak butuh duit, cuma buat jaga-jaga kalo ketilang, hehehe... Tapi yang penting ya itulah. Surat-surat mulai dari KTP, SIM, STNK, sampe kartu-kartu lainnya kaya ATM de-el-el. Akhirnya rencana buat ke cempaka mas batal deh. Soalnya kalo keluar parkiran kan biasanya nunjukin STNK. Dan untungnya, kemarin ngantornya di sunter, nggak jauh dari kos.

Friday, January 19, 2007

Kacau

Siang-siang makan cincau,
Kacauuu...

Beberapa minggu yang lalu, gw sudah ada rencana buat naek gunung tanggal 20 nanti, mumpung tanggal merah jadi temen-temen di Tegal pada libur. Bukan hiking, tapi naek motor ke Guci, daerah pemandian air panas di Tegal. Tapi, gara-gara persiapan MRP yang nggak kelar-kelar, tekan tombol MRP akhirnya diundur dan hari Sabtu gw harus masuk untuk finalisasi data-data buat MRP. Damn!

Sebenernya ada acara pengganti buat acara naek gunung itu. Temen-temen kampus pada ngajakain ke Bandung hari Sabtu. Tapi... kalo hari Sabtu gw pulangnya sore (apalagi malam) maka acara nyusul ke Bandung pun mungkin akan jadi berantakan. Damn!

Terlalu banyak moment-moment yang sudah gw lewatkan selama gw ditugaskan jadi dataprep officer. Beruntunglah mulai Senin depan gw sudah ngungsi ke ruang ABAPER, bukan di ruang PRIME lagi. Gw sudah diaktifkan kembali buat proyek yang pernah berhenti karena orang-orangnya pada ditugaskan buat support golive-nya SAP. Yes!

Berarti hari-hari gw mulai normal lagi nih (mudah-mudahan :D). Senen-Jumat tenggo, Sabtu minggu libur. Amin!!!