Wednesday, May 30, 2007

The True Power of Water

Judul : The True Power of Water
Pengarang : Masaru Emoto
Penerbit : MQ Publishing
Tebal halaman : 192
Tahun : 2006


Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto terhadap air membawa suatu pengetahuan yang dapat merasionalkan anggapan-anggapan yang tadinya hanya dapat dikenal melalui sisi spiritual. Masaru Emoto dan timnya melakukan penelitian bentuk unsur-unsur terkecil air jika dilihat secara detail dengan mikroskop. Hasilnya menunjukkan bahwa air memiliki aneka ragam bentuk. Ada yang acak, ada yang tampak biasa, dan ada yang berbentuk kristal. Kristal yang terbentuk pun bermacam-macam pula.

Percobaan dilanjutkan dengan memberikan perilaku-perilaku yang berbeda terhadap air yang sama. Air yang ditempatkan di gelas dan diberi label "Cinta" akan memberikan bentuk yang berbeda dengan air yang ditempatkan di gelas berlabel "Bodoh". Air yang berlabel "Cinta" akan membentuk kristal yang indah. Sementara air yang lain tidak akan membentuk kristal. Bahkan tidak memiliki bentuk sama sekali alias berantakan. Percobaan tidak hanya dengan kata-kata itu. Kata-kata lain pun dicoba dan memberikan hasil yang serupa. Kata-kata yang baik akan mempengaruhi pola air dalam membentuk kristal. Sementara kata-kata yang tidak baik akan merusak bentuk air.

Selain kata, obyek yang diuji cobakan adalah lagu. Air yang diletakkan dalam ruangan yang diiringi musik classic akan jauh berbeda bentuknya dengan air yang diletakkan dalam ruangan yang dipenuhi nuansa metal dengan lirik-lirik yang keras. Dari percobaan-percobaan ini dapat disimpulkan bahwa air ternyata dapat 'berinteraksi' dengan lingkungan sekitarnya.

Dulu, sewaktu kecil, saya pernah dinasihati oleh orang-orang tua, bahwa sebelum makan, hendaknya kita berdoa dulu supaya makanan kita tidak diambil oleh setan. Pada saat itu, saya tentu saja tidak dapat membantah karena takut makanan saya diambil setan. Seiring perkembangan akal, akhirnya saya mengetahui bahwa dari sisi spiritual hal tersebut memang dianjurkan. Senantiasa berdoa sebelum melakukan sesuatu supaya mendapat kemudahan dari-Nya.

Majunya teknologi akhirnya dapat menjelaskan secara logis mengapa hal-hal tersebut dianjurkan. Kita, manusia, terdiri dari sebagian besar air. Sesuai percobaan-percobaan di atas, kondisi sekitar kita tentu akan mempengaruhi air-air yang menyusun tubuh kita. Respon air pun akan merepresentasikan ke dalam perasaan kita.

Mungkinkah ketika kita mengumpat akan merasakan kedamaian? Umpatan-umpatan yang kita lontarkan akan mempengaruhi air di tubuh kita. Air akan memberikan respon negatif dan meneruskan ke dalam jiwa kita. Aura negatif tersebut lah yang akan kita rasakan. Sebaliknya, jika kita sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran yang penuh dengan kalimat-kalimat indah, mungkin kah kita merasakan kegelisahan? Mungkin saja, jika apa yang kita pikirkan lebih kuat dari yang kita lantunkan. Maka perasaan pun akan terpengaruh dengan apa yang kita pikirkan, bukan kita lantunkan.

Penelitian-penelitian itu tidak hanya membuktikan bahwa air dapat menyentuh perasaan saja. Unsur air dalam tubuh kita ternyata juga dapat memberikan respon yang bagus untuk kesehatan. Dengan menggunakan prinsip air yang 'berakal', muncullah sebuah alternatif pengobatan dalam dunia kesehatan.

Wallahualam.

New Phase

Belakangan ini, aku seperti mendapat sebuah fase baru dimana aku tidak melulu ke Depok dan bermain bola setiap Sabtu :D

Tanpa sebuah rencana yang berbelit-belit, ajakan jalan-jalan ke Bandung awal Mei kemarin seolah membawa sebuah fase baru di mana aku jadi suka sekali menjelajah, menapaki tanah-tanah baru. Dua minggu setelah ke Bandung, seorang teman mengajak untuk menyebrang lautan dan sejenak bersantai di pantai Untung Jawa. Dua minggu berikutnya, muncul ajakan untuk menelusuri jalur pantura menuju Tegal (ini sih bukan tempat baru ya, tapi lebih tepatnya era baru untuk sebuah ritual mudik :D). Dua atau tiga minggu berikutnya lagi, seorang teman yang lain lagi mengajakku untuk menikmati sunrise di Anyer.

===
Mengapa raga ingin berlayar
ketika jiwa ingin berlabuh
Biarlah raga arungi lautan
tapi biarkan jiwa terdekam di dalamnya

Tuesday, May 29, 2007

Mudik Euy...

Jumat ini libur. Dan kebetulan, jumat ini juga merupakan awal bulan yang menjadi 'jadwal rutin' untuk pulang ke kampung halaman.

Awalnya, gue berencana pulang naik bis seperti biasanya. Tiba-tiba Abiep nanyain tentang rencana mudik gue karena berminat untuk menjajaki tanah Tegal. Akhirnya jadilah kami janjian di Kampung Rambutan Jumat pagi. Tapi, belum lama deal dengan keputusan itu, dia sudah menyuguhkan alternatif lain. Dengan mengajak Heheng, dia menawarkan sebuah pilihan yang sulit gue tolak. Ke Tegal naek motor (argh.... pengen...). Akhirnya, jadilah pilihan itu sebagai "Plan A"-nya.

Lihat saja nanti.

Monday, May 21, 2007

Tour de Javanese Luck Island

Maksa banget ya judulnya, hehehe. Maksudnya sih "Menjelajah ke Pulau Untung Jawa" di Kepulauan Seribu.

Awal long weekend lalu, tidak ada satupun rencana yang berhasil direalisasikan. Bali, Anyer, Dufan, Ancol, semua tinggal rencana yang tak pernah disentuh. Namun dibalik batalnya semua rencana itu, ternyata ada satu tempat yang tidak begitu dikenal yang sudah tercantum dalam "Master Plan". Jumat siang, salah satu teman kantor yang dulu pernah menjemput rombongan Tour de Parahyangan, Rais, menawarkan untuk melakukan sebuah perjalanan ke sebuah pulau di seberang Tanjung Pasir, Tangerang. Bak mendapat durian runtuh, aku pun langsung menerima tawaran itu. Total sudah empat orang yang bersedia melakukan tour tersebut. Aku, Rais beserta istri, dan Donny. Tiga kamar yang diusahakan Rais di pulau itu, menyisakan empat orang lagi. Satu kamar untuk Rais dan istri, sementara dua kamar lagi untuk enam orang. Aku langsung menghubungi seorang biker dari Fatmawati, Abiep, dan dua bersaudara dari Taxpro, Edi dan Maman. Tinggal satu personel lagi. Dari ketujuh orang yang sudah bergabung, tak ada satupun yang memiliki "kamera beneran" untuk mengabadikan perjalanan ini. Akhirnya pilihan orang terakhir jatuh pada Mamat atau Uyo. Berhubung Uyo sudah pernah bergabung dalam Tour de Parahyangan, akhirnya pilihan jatuh ke Mamat yang belum sekalipun bergabung dalam perjalanan-perjalanan ini. Sebenarnya aku ingin mengajak semua teman-temanku tapi berhubung tour yang diselenggarakan oleh Rais ini merupakan limited edition, jadi niat itupun aku urungkan. Mungkin setelah mengetahui tempat itu, aku bisa beramai-ramai mengajak teman-teman menapaki tanah-tanah baru di seberang sana.

Tujuh orang berkumpul di halte UI tanpa Donny Sabtu paginya. Ketujuh orang itu kemudian meluncur ke Pancoran untuk bertemu dengan Donny. Setelah bertemu, perjalanan pun dimulai. Melewati Gatsu, Slipi, dan Citraland, rombongan kemudian memutar kemudi menelusuri Daan Mogot. Di Daan Mogot, rombongan 'agak' berputar-putar karena sang pemandu lupa dengan jalan menuju pelabuhan. Melewati Cengkareng, rombongan menuju arah utara. Selama kurang lebih satu jam, akhirnya rombongan sampai di daerah pantai. Miat, teman Rais yang bertindak selaku tuan rumah, sudah berada di Tanjung Pasir untuk menjemput kami.

Setelah memarkir motor kami di sebuah tempat penitipan motor, kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan menggunakan perahu motor. Setiap kepala dikenai tujuh ribu sekali melaut. Inilah pertama kalinya aku naik perahu motor menuju ke suatu tempat tujuan. Tapi kalau naik perahu motor, ini adalah kali kedua. Dulu aku pernah sekali naik perahu motor hanya sekedar berputar-putar di sekitar pantai wisata di Tegal :D Waktu itu hanya tiga ribu per kepala.

Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sampai di dermaga Pulau Untung Jawa. Cukup sepi. Kesan pertamanya pun kurang begitu menarik karena pantainya cukup kotor. Banyak sampah yang berserakan di sekitar pantai. Sebenarnya itu bukan sampah penduduk setempat, tapi sampah kiriman dari ibukota. Hmm... jadi begini ya? Kita di Jakarta yang membuang sampah, tapi orang-orang di pulau seberang yang terkena dampaknya.

Sesampai di penginapan, kami mengisi perut yang dari pagi belum terisi bahkan oleh sesuap nasi. Teriknya matahari membuat kepalaku pusing. Kepalaku memang sensitif terhadap teriknya sang surya. Mungkinkah ini efek dari sensitifnya mata terhadap siar yang berlebih? Aku juga tidak tahu. Selesai makan, aku mengusir pusing dengan tidur sejenak. Apalagi dalam kondisi panas seperti itu, aku tidak mungkin melakukan aktifitas di sekitar pantai. Sekitar satu setengah jam aku tertidur. Sore harinya, kami hanya bermain-main di sekitar penginapan itu saja.

Malam harinya, aku menemani Miat, Rais, dan Novi memancing cumi. Pancingannya khusus. Tidak menggunakan umpan hidup, tapi menggunakan kayu yang dibentuk seperti udang dengan bagian ujung dipasang kait yang bentuk seperti jangkar berjari empat dan bertingkat dua. Jika ada cumi-cumi yang tersangkut, ketika pancingan itu ditarik tampak seperti motor bobrok. Dari ujungnya seperti knalpot yang mengeluarkan asap hitam. Itulah tinta yang disemprotkan oleh si cumi. Ketika sampai di darat, cumi itu juga masih berusaha menyemprot 'penyerangnya'. Semrotannya lucu, kaya orang lagi bersin, tapi yang keluar tinta hitam. Padahal badannya putih. Subhanallah... aneh, tapi nyata, tentu saja atas kehendakNya.

Esok paginya, pukul enam aku, Mamat, dan Abiep berjalan di air mengitari pulau. Butuh waktu sekita dua jam untuk mengelilingi pulau. Tapi itu juga termasuk foto-foto, melihat-lihat aneka penghuni laut, dan menikmati keindahan pantai yang jernih airnya. Setelah selesai berputar-putar, ditambah Donny yang bergabung kemudian, kami berendam di pantai. Kami menyewa empat ban untuk mengapung di pantai. Sementara kami berempat berendam, Maman hanya bermain-main di tepi pantai karena tidak membawa baju ganti.

Akhirnya waktu jualah yang memisahkan kami dari pulau itu. Sekitar jam dua belas, kami pamit ke keluarga Miat dan kembali ke Tanjung Pasir. Dari Tanjung Pasir, kami melewati jalur yang sama dengan jalur keberangkatan. Kami mulai berpisah setelah mendekati Cengkareng. Kami langsung ke tujuan kami masing-masing tanpa berkonvoi seperti waktu berangkat.

Thanks to Miat yang sudah menjadi tuan rumah untuk kami.
Terima kasih ya Allah yang sekali lagi telah membiarkan makhluk ini menikmati keindahan pantai dan lautMu. Sekali lagi, di tengah luasnya samudra, aku merasakan betapa kecilnya aku.

Friday, May 18, 2007

Jakarta Lengang

Jakarta lengang! Kalo gue nggak liat matahari yang bersinar, mungkin gue berpikir kalo hari ini adalah sabtu atau minggu di pagi hari. Jalanan begitu sepi. Para penghuni Jakarta yang biasanya berebutan jalan raya, sekarang lagi berhempitan juga, tapi bukan di Jakarta, melainkan di Bandung, pantura, terminal-terminal, stasiun-statiun, tempat-tempat wisata, dan berbagai tempat yang lain.

Hari cuti bersama kemarin (catet ya! hari cuti bersama, bukan hari libur! :p), akhirnya cuma gue habiskan bersama rekan-rekan senasib untuk bermaen bola di tempat biasa setelah semua rencana yang dibuat jauh-jauh hari nggak ada yang kesampaian. Tapi hari ini ada ajakan (lagi?) untuk touring ke salah satu dari bagian kepulauan seribu. Ah... jangan diceritain detailnya dulu. Lihat saja besok! Tapi kayanya sih hampir pasti berhasil. Soalnya temen gue sudah pesen 3 kamar di sebuah penginapan di pulau sono. OK, I'll be right there!!! (Amin...)

Tuesday, May 15, 2007

Berubah

Lagi pengen ganti suasana nih. Isi-isinya belum dimasukin lagi. Shout box, jam, link, masih belum keupdate. Kapan-kapan aja lah.

Harpitnas

"Tanggal 18 masuk nggak sih?"

"Masuk lah. Lha wong di production planning ada kok buat tanggal 18. Berarti ya kita masuk juga."

"Ih, kenapa sih kita masuk? Kan pemerintah libur! Kok nggak ngikutin pemerintah sih?"

"Lha kita kan lagi ngejar target pesenan, jadi produksi tetep jalan. Akibatnya kita juga ikutan masuk. Coba pemerintah ngejar target buat bayar utang negara, pasti pemerintah nggak libur."

Friday, May 11, 2007

Meeting, Meeting, dan Meeting

Huh... meeting terus kerjaannya. Hari ini adalah bener-bener hari meeting. Pagi ini ada dua meeting, yang satu jam 7.30 - 11.30, yang lainnya jam 9.00 - 11.00. Siangnya ada dua meeting lagi, yang satu 14.00 - 16.00 dan satunya lagi 14.00 - 16.30. After office, ternyata masih ada meeting lagi dari jam 16.30 - 19.00. Nggak tau deh, buat meeting-meeting yang bentrok mau ikut yang mana.

Kalau seharian meeting terus, kapan ngerjain hasil meetingnya? Bingung gue!@~#$!^&? Akibatnya, besok malah di suruh masuk. Disgh!!!

Thursday, May 10, 2007

Long Weekend

Baru kali ini gue sebingung ini menghadapi long weekend. Gara-garanya rencana yang masuk masih tentative semua. Masih pada belum pasti. Pertama, sodara gue ada yang ngajakin nginep di Ancol sambil maen-maen di Dufan. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Terus, tiba-tiba di milis DOA ada yang ngajakin ke Dufan. Sama aja dengan yang sebelumnya, yang ini juga nggak jelas juntrungannya. Masih pada belum pasti. Eh, tau-tau si Abiep ngajakin ke Bali. Busyet, jauh bener. Jadinya malah gue tawarin aja ke anyer, yang deketan, kan sama-sama pantai :D Ternyata dia tertarik. Jadilah gue makin bingung sekarang.

Gue pengennya ikut yang jelas aja ah. Ayo, sapa yang bisa meyakinkan gue buat ikut, gue ikut. Tapi tetep... gue lebih prefer ke dufan sih :D

Tuesday, May 08, 2007

Tour de Parahyangan

Jumat, 4 Mei
Pukul 9 malam gue meluncur ke arah depok untuk ngumpul di kosan Lay. Sesampai di sana, Abiep sudah dateng duluan dan lagi nonton tv ama lay.

Sabtu, 5 Mei
Gue dan Abiep bersiap-siap untuk memulai perjalanan jauh. Setelah nungguin Uyo di pertigaan Jalan Juanda, sekitar pukul 7 lewat kami bertiga berangkat menuju Bandung. Abiep sendirian dengan Megapro-nya, sedangkan gue ama Uyo dengan Supra125-nya. Kami mengambil jalan raya Bogor sebagai permulaan perjalanan setelah menembus jalan Juanda.

Selepas jalan Raya Bogor, memasuki kota Bogor, petualangan di mulai. Di pertigaan pertama, tidak ada papan penunjuk sementara ada dua jalur di depan, kiri dan lurus. Akhirnya kami mengambil jalur kiri. Setelah beberapa (puluh?) kilo meter, Uyo seperti merasakan nuansa dejavu. Uyo seperti agak familiar dengan jalan yang kami lewati. Ditambah lagi dengan adanya bis-bis besar dengan jurusan Priuk - Cibinong, UKI Cibinong. Setelah berdikusi bertiga, akhirnya kami pun putar balik dan mengambil jalur lurus yang tadi kami cuekin. Sampai menuju puncakpun kami tidak menemui hambatan yang berarti. Semua papan penunjuk yang mengarahkan ke puncak dapat kami interpretasikan dengan benar hingga akhirnya kami berhenti di Puncak Pas. Satu-satunya masalah adalah jalan menanjak yang membuat motor kami ngos-ngosan. Apalagi sempat mati meskipun dapat di atasi dengan baik. Ketika sedang menikmati bandrek dan mie rebus, gue menghubungi Rais selaku penyambut rombongan yang akan menjemput kami di cimahi. Dia pula yang mencarikan penginapan buat kami bertiga.

Ketika turun dari puncak dan melalui jalan Raya Cianjur, kami juga dengan lancar mengendarai motor kami masing-masing hingga akhirnya kami berhenti di jalan Raya Padalarang. Sesuai instruksi Rais, kami harus berhenti di dekat sebuah Dealer Honda. Kami berhenti tepat di depan Delar Honda, tapi gue ngerasa namanya sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan yang disebutkan Rais. Akhirnya gue menghubungi Rais dan Rais melanjutkan perjalanan dan meminta supaya gue berhenti di dekat masjid yang dekat dengan alun-alun Cimahi. Setelah melanjutkan perjalanan yang cukup jauh, alun-alun yang kami cari tidak kunjung kami lihat. Kami takut kalo kami salah jalan. Akhirnya kami berhenti di sebuah pertigaan. Gue mencoba menghubungi Rais kembali tapi tidak ada respon. Gue pun menanyakan pada orang di sekitar situ dan kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat dengan alun-alun, katanya sih dekat. Namun setelah beberapa puluh meter, masjid itu tidak pernah terlihat, dan Uyo tiba-tiba bilang, "Yip, tadi di sebelah alun-alun persis itu kayanya ada masjid deh." Dan akhirnya kamipun berhenti dan gue menghubungi Rais kembali. Gue menginformasikan posisi kami bertiga dan Rais bilang dalam waktu kurang lebih 20 menit dia akan ke tempat gue.

Kami memarkirkan motor di pinggir jalan dan kamipun berteduh di emperan toko. Ketika kami sedang menunggu Rais, tiba-tiba ada ibu-ibu yang berpakaian lusuh (dan maaf, kayanya 'agak-agak' gitu deh) nyerocos ke Uyo dengan bahasa Sunda. Nggak tau apa yang dirasakan Uyo, tapi gue ma Abiep saling melempar pandang sambil tersenyum.
"Nggak tau plat B apa?" gumam Abiep. Hahaha... namanya juga orang 'agak-agak' Bip.

Setelah sekitar 1 jam, Rais tidak menampakkan batang hidungnya. Gue curiga kalo bangunan tadi tuh bukan alun alun. Gue coba untuk hubungi Rais, ternyata tadi kami salah pengertian dan dia sekarang ada beberapa ratus meter di depan rombongan. Kami pun melanjutkan perjalanan dan akhirnya bertemu dengan Rais. Rais menuntun kami ke arah penginapan. Kami sampai di penginapan sekitar jam 2.30 dan akhirnya kami pun dapat beristirahat.

Jam tigaan, kami keluar dari penginapan untuk mengisi perut yang dari siang belum diisi. Kami melewati beberapa penjual makanan di belakang gedung Sate, tapi kami memutuskan untuk makan di depan gedung Sate (Gazebo) karena yang di belakang gedung Sate tidak menarik. Kami berjalan melalui pintu belakang gedung Sate. Ternyata di gedung Sate sedang ada 'acara pejabat', kampanye nasional "Cuci Tangan Pakai Sabun". Boro-boro pakai sabun, cuci tangan aja nggak :p Sesampai di pintu gerbang depan, kami menemui kesulitan, pintu-pintu tertutup sehingga kami tidak dapat keluar menuju Gazebo yang sudah terlihat di depan mata. Akhirnya kami berjalan lewat belakang kembali dan Abiep menghubungi Komala untuk dijadikan sebagai guide.

Sekitar lima menit kemudian, Komala datang dengan motornya. Dialah yang akhirnya menunjukkan tempat makan siang kami yang kesorean. Usai makan siang, kami melanjutkan acara jalan-jalan ke BABE di jalan Martadinata. Sekitar jam 5 lewat, kami pulang ke penginapan.

Hp menunjukkan pukul 7 lewat. Gue nyalain TV dan nonton MU vs MC sambil nungguin berangkat untuk makan malam dan jalan-jalan. Score sudah 1-0 untuk kemenangan MU. Setelah kami siap, kami meluncur ke BIP untuk makan malam. Interpretasi yang kurang tepat dari instruksi yang diberikan Komala selaku guide menyebabkan kami sedikit nyasar. Namun banyaknya papan penunjuk di setiap perempatan jalan cukup membantu kami untuk kembali ke jalan yang benar. Di BIP, Komala sudah menunggu dengan temannya di food court.

Setelah makan malam, kami berpindah tempat ke Dago. Di sana kami hanya berdiri di depan Plasa Dago sambil memperhatikan keramaian yang jarang gue dapatkan setiap malam minggu (secara malam minggu biasanya cuma nonton TV di kos Lay :D). Entah apa yang gue dapetin. Kata Abiep sih suasana baru. Emang beda sih. Kalo di Jakarta namanya keramaian Jakarta, tapi kalo di Bandung namanya keramaian Bandung, hehehe... Bosan dengan keramaian Dago, kami mencoba suasana baru lagi dengan mencicipi soerabi di jalan Setiabudi. Setelah satu jam lebih, beberapa menit menjelang pergantian hari, kami beranjak dari warung soerabi itu dan pulang ke penginapan.

Minggu, 6 Mei
Keesokan paginya, setelah nonton Sport7, sekitar jam setengah tujuh pagi kami keluar untuk sarapan dan menikmati keramaian Gazebo. Kami berkeliling menyusuri celah-celah Gazebo yang dipenuhi oleh penjual dan pembeli. Di sini, hampir terjadi aksi pencopetan yang melibatkan gue sebagai calon korban. Selama jalan di Gazebo, gue jalan di depan sementara Uyo dan Abiep ada di belakang gue. Uyo seperti merasakan ada seseorang yang sedang 'mengintai' dan membuntuti kami. Dia pun langsung memindahkan barang-barang berharga ke depan, ke tempat yang lebih aman. Ketika posisi kami berubah, gue di belakang sementara Abiep dan Uyo di depan gue, tiba-tiba ada seorang pengemis (?) menarik-narik celana gue dari belakang dengan posisi jongkok sambil menengadahkan tangannya untuk meminta sesuatu. Otomatis perhatian gue langsung tertuju ke belakang, ke pengemis itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba tangan kanan gue juga reflek mendarat di saku kanan celana gue yang berisi HP gue. Ketika tangan gue sudah mendarat di saku kanan dan merasakan HP, sesaat kemudian ada tangan lain yang mendarat di atas tangan gue. Sepertinya prosesor gue lagi lambat (atau emang lambat ya :D), gue tidak langsung menyadari apa yang terjadi. "Tangan siapa ya?" pikir gue. Setelah itu gue baru sadar bahwa itu mungkin salah satu modus pencopetan. Ketika gue mengalihkan muka ke sebelah kanan, tangan itu tentu saja sudah melepaskan diri dan gue lihat ada beberapa orang yang ada di sebelah kanan. Masa mau gue tanyain satu-satu sih? (lagian cowo semua, buat apa :p kalo ada yang minta lagi gimana? ih.... serem...). Setali tiga uang, Uyo ternyata juga tidak langsung menyadari apa yang sebenarnya terjadi. "Kok ada orang yang pegangin saku celana Ayip ya?" mungkin itu pikir Uyo. Setelah ngeh, baru dia bertanya, "Yip, dompet lo aman?" gue juga nggak ngeh dengan dompet gue. Tapi untungnya pas gue cek kantong belakang celana gue masih utuh. "Aman Yo. Tadi ada yang ngincer HP gue nih. Tangan gue sampai dipegang-pegang. Hi..."

Kami melanjutkan perjalanan untuk mencari sarapan sambil membahas insiden itu. Ketika melewati sebuah 'pos' sebuah yayasan untuk mencari sumbangan, seorang bapak dari yayasan tersebut berteriak memperingatkan seisi pengunjung yang melewatinya. "Bapak-bapak, Ibu-ibu. Hati-hati dengan barang bawaan anda selama ada di tengah-tengah Gazebo. Banyak pencopet yang beraksi untuk mendapatkan dompet. Apalagi HP. Lindungi barang bawaan anda selama di tengah Gazebo. Berhati-hatilah" Yah... telat Pak, gumam gue. Tadi hampir jadi korban nih.

Setelah sarapan di sebelah gedung Sate, kami kembali ke penginapan. Tapi di tengah perjalanan, kami melihat acara kampanye di gedung sate mau dimulai. Abiep begitu antusias utuk melihatnya. Akhirnya kami memasuki gedung sate melalui salah satu pintu gerbang. Untuk menuju ke tempat berlangsungnya acara, kami harus melewati salah satu pos satpam. Kami 'diusir' karena ini acara tertutup. Kami tidak menyerah. Keluar dari pintu yang sama sewaktu kami masuk, kami 'tawaf', mengitari gedung sate. Namun jalan itu tak kunjung ditemukan. Akhirnya kami menyerah dan kembali ke penginapan.

Sekitar pukul sebelas, kami check out dari penginapan. Tujuan terakhir kami di Bandung adalah Kartika Sari di Dago dan Level FO karena di situlah bis penjaja brownies berada. Setelah belanja oleh-oleh, kami makan siang di sekitar gedung sate lagi dan kembali ke Jakarta.

Hujan menghiasi perjalanan kami ketika kami sudah setengah jalan menuruni puncak. Laju kendaraan mulai melambat. Namun kami masih beruntung karena menggunakan motor. Kami masih bisa mencari celah di antara antrean mobil yang memenuhi jalan raya puncak. Ketika hujan turun, gue sama Uyo mulai terpisah dengan Abiep. Gue sama Uyo berhenti dan mengenakan jas hujan, sementara Abiep menerabas derasnya hujan. Sejak saat itu, kami mulai terpisah jauh.

Memasuki kota bogor, gue dan Uyo mulai 'bergerilya' lagi. Setelah melewati sebuah jalan yang memberlakukan satu jalur, kami mulai merasakan sensasi yang aneh. Sepertinya ini jalan menuju ke ketersesatan. Ternyata benar, kami berputar-putar di kota bogor sekitar satu jam. Ketika kami menemukan perempatan yang ada papan penunjuk yang menginformasikan kalan ke Depok dan Jakarta, maka selamatlah kami. Ya, mengikuti petunjuk itu, akhirnya kami bisa kembali ke Depok.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena telah memberikan kami kesempatan untuk menikmati indahnya puncak. Megahnya puncak membuat kami merasakan betapa kecilnya kami. Apalagi bila dibandingkan dengan kemegahan diriMu, kami bukanlah apa-apa. Terima kasih juga telah memberikan kami keselamatan sehingga kami dapat kembali ke rumah masing-masing dalam keadaaan tak kurang sesuatu apapun.


===
Nextime => Ciater? Anyer? ???

Monday, May 07, 2007

Colorful Weekend

Fantastis! Itulah kesan weekend kemarin. Mulai dari salah jalan dan hampir ke rumah galuh atau hampir nganterin Uyo ke kantor (lembur dong Yo :p). Untung 'ditolong' oleh rute angkot dan bis. Motor yang ngeden sepanjang tanjakan di puncak. 'Diocehin' pake bahasa sunda sama orang yang kayanya 'agak-agak' (emang nggak liat plat B-nya apa ya? ya... namanya juga orang 'agak-agak', maklum lah). Sedikit nyasar di rimba raya Bandung (wajarlah, secara orang baru gitu loh :p). Insting dan reflek luar biasa yang menyelamatkan dari percobaan pencopetan di Gazebo (tulisannya bener nggak sih). Informasi yang telat tentang pencopetan. Ambisi nonton acara pejabat dengan 'tawaf' mengitari gedung sate sampe 'diusir' bapak-bapak satpam (ada yang baik tapi ada yang jutek juga). Motor mogok yang 'dicium' mobil. 'Kepedean' yang berakibat salah jalan di fly over, tapi ternyata malah justru nemu 'jalan sendiri'. Hujan di daerah puncak yang menyebabkan jarak pandang berkurang dan otomatis kecepatan juga menurun. Dan terakhir, muter-muter (lagi?) di daerah Bogor.

Hahaha... its so wonderful. OK guys, nextime : Anyer? Ciater? Tangkuban Perahu? Atau Sekedar Dufan?

===
Thx to:
Rais yang udah njemput di Cimahi dan mencarikan tempat penginapan yang lumayan murah.
Komala yang udah jadi guide selama ngiterin Bandung.

Friday, May 04, 2007

Touring (2)

Ini bukan kisah tentang touring yang kedua. Tapi ini kisah kedua tentang rencana touring pertama.

Setelah melewati masa-masa krisis untuk mencetak hattrick, akhirnya sekarang saatnya melaju ke masa-masa kemerdekaan (halah bahasanya...). Yup, sampe detik ini gue menulis kisah ini, belum ada hambatan yang dapat menggagalkan rencana touring. Berarti gue ada kesempatan untuk tidak mencetak hattrick, hehehe...

Sampai saat ini, baru tiga orang yang dinyatakan positif (kaya kena penyakit aja hehehe...). Doakan kami selamat dan nggak kebanyakan nyasar ya, hehehe... (kebanyakan hehehe nih, hehehe...)

Thursday, May 03, 2007

Spiderman 3

Baru kali ini gue nonton rame-rame sebanyak ini. Kemaren gue abis nonton Spiderman 3 di Gading XXI bareng temen-temen kantor sebanyak 21 orang. Yang ndaftar sih 22 orang, tapi yang satu berhalangan. Tapi entah kenapa tiba-tiba, di dalam bioskop gue merasa pusing banget. Nontonnya jadi nggak nikmat. Untung masih bisa ngikutin filmnya. Gue pikir itu cuma pusing sesaat. Paling bentaran juga ilang. Ternyata sampe kosan pun masih pusing. Gue pikir, ditinggal tidur juga paling ilang. Biasanya emang gitu. Tapi ternyata, sewaktu gue bangun buat nonton setan merah vs setan merah (forza milan!!!) pusingnya belum ilang juga. Gue pikir (kebanyakan mikir tapi nggak ada eksyennya nih :p) ntar pagi juga ilang kalo dah ditinggal tidur. Tapi ternyata (lagi...), setelah bangun pagi juga masih pusing. Gawat kalo terus-terusan gini. Akhirnya gue coba makan apel dan minum obat. Abisnya nggak ada stok makanan, yang ada cuma buah, ya udahlah, mules ya mules, yang penting pusingnya ilang , hehehe...

Eh, kok gue jadi banyakan cerita pusing daripada spiderman yang jadi judul. Ah... biarin lah, namanya juga baru sembuh dari pusing, jadi wajar kalo tulisannya kurang nyambung dari judulnya, hehehe...

Mudah-mudahan ntar ada nobar lagi buat POC3 :D

Wednesday, May 02, 2007

Busway

Jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat 10. Dari Salemba, dengan tunggangan merah hitam, gue menyusuri jalan raya salemba menuju arah Senen. Menjelang perempatan Atrium, di sebelah fly over, gue mengambil jalur busway. Hari sudah malam dan biasanya memang di sekitar situ juga nggak ada polisi. Tapi setelah setengah jalan di jalur busway, gue seperti melihat bayang-bayang seseorang yang sedang berdiri di kegelapan lampu merah. Bayang-bayang tersebut seperti memegang sesuatu seperti tongkat. Perasaan nggak enak pun mulai muncul.

Bayang-bayang itu terlihat semakin jelas. Bayang-bayang itu mulai maju dan menunjukkan tongkatnya ke sebuah titik.
"Selamat malam." Suara bayang-bayang tersebut menyambut merah hitam gue. Ternyata bayang-bayang itu berseragam formal seperti yang ada di pos-pos.
"Bisa lihat surat-suratnya Pak?" Gubrax! Pasti gara-gara masuk busway nih.
"Ini pak." Jawab gue seraya menyerahkan sepucuk surat berwarna kuning itu.
"Bapak tau kan kalo motor nggak boleh lewat jalur busway. Silakan menuju ke tempat itu." Kata dia sambil menunjuk ke suatu tempat.
Sesampai di sana, gue melihat orang-orang yang senasib dengan gue. Tapi gue nggak tau apa 'kekhilafan' mereka. Di dalam pos pun 'dialog' yang sebenarnya dimulai. Petugas itu, gue dan seseorang yang senasib dengan gue, 'berbincang' di dalam sebuah pos yang cukup 'terpencil'. Setelah beberapa menit, gue dan orang yang senasib seperjuangan itu keluar dari pos dan melanjutkan perjalanan masing-masing.

Tidak ada surat merah atau biru yang keluar. Sebenarnya pengen ngerasain mendapatkan 'kertas merah / biru' itu, tapi males ngurusnya, repot. Jadi, pake jalur cepat aja deh :D

Tuesday, May 01, 2007

Hattrick

Setelah berandai-andai untuk melakukan touring, tiba-tiba kemarin ada seorang brother (halah, bahasanya rek...) ngajakin jalan-jalan ke bandung naek motor. Rencana kali ini sengaja nggak gue masukin ke milis 2k untuk mencegah terjadinya hattrick. Sudah dua kali gue melempar 'isu' tapi tidak ada yang berhasil satupun. Takutnya kalo mencetak hattrick, ntar giliran ngirim 'undangan beneran' jadi dicuekin deh, hehehe...

Yah... kita lihat saja nanti laporan touringnya (kalo jadi).

Friday, April 27, 2007

Touring

Tiap hari, jelajah motor gue hanya berkisar 20 km per hari kerja dan 100 km per weekend. Jarak tempuh terjauh sekali touring adalah Sunter - Depok - Bintaro - Cikokol - Sunter. Itupun di tempuh pada hari sabtu dan minggu, hehehe...

Melihat semakin banyaknya motor yang parkir ketika maen bola sabtuan, muncul keinginan untuk melakukan touring bersama. Tapi kayanya kok susah ya ngajak dan bikin rencana. Kapan ya orang-orang itu bisa touring bareng? Jadi makin pengen touring aja nih. Ayo dong... touring yuk.

Kapan Kawin

"Ringgo, kapan kawin?"
"Mmm... may. May be yes, may be no."

Itulah sepenggal dialog dalam sebuah iklan. Pasti kita sering melihatnya di stasiun-stasiun TV. Memang terdengar konyol, tapi menurut gue bener juga sih. Sapa yang menjamin bahwa kita bisa mencapai tahap perkawinan sebelum maut menjemput kita?

[konyol mode = on]

Orang bilang kawin itu enak soalnya membuat aliran keuangan menjadi lebih cermat.
Kalo gitu, sewa aja finance consultant, beres kan.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang masakin.
Banyak kok tukang masak yang bisa disewa, makanannya pasti enak-enak.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang nemenin kalo kita lagi sendirian ato mo jalan-jalan.
Telpon aja temen. Malah bisa ganti-ganti, nggak bosen kan?

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang ngurusin kalo lagi sakit.
Gitu aja kok repot, panggil aja dokter dan perawat pribadi.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang bisa diajak berbagi suka dan duka.
Masa nggak punya temen sih? Kasian deh lo...

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang merindukan dan menanti.
Ngutang aja yang banyak, pasti bakalan banyak yang merindukan dan menanti.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang dirindukan dan dinanti.
Makanya ngutangin orang lain yang banyak, biar ada yang kita rindukan dan kita tunggu.

Jadi... masih mikirin kawin?

[konyol mode = off]

Jadi... kapan kawin?
Ya tunggu nikah lah, hahaha... (berarti tulisan di atas banyak yang salah tulis tuh :p)

Wednesday, April 25, 2007

Bapak Logika

Beberapa hari yang lalu, gue terlibat dalam sebuah percakapan dengan teman (cewe) di telp. Awalnya, gue hanya berbicara dengan dia saja. Sampai pada satu moment, gue menjawab sebuah pertanyaannya (gue lupa pertanyaannya) dengan jawaban "Perasaan adalah bagian dari logika. Tidak ada perasaan yang mutlak. Semua dapat berubah dan dapat dijelaskan dengan logika".

Seketika itu juga, dia memberi tahu ke temen-temen kosnya (cewe semua) yang kebetulan sedang berada satu ruangan di kosnya, tepatnya di ruang tamu. Hasilnya, gue langsung dikeroyok oleh segerombolan makhluk yang cenderung mengandalkan perasaan itu (padahal gue nggak kenal sama mereka :( ). Debatpun dimulai. Gue dianggap sebagai manusia tidak berperasaan. Hanya mikir untung rugi doang. Manusia seperti gue lah yang menyebabkan perasaan orang lain sakit karena tidak menggunakan perasaan. Saat itu, gue benar-benar diserang habis-habisan. Baru kali itu, gue hampir babak belur dihajar kaum hawa.

Untunglah, gue masih bisa bermain-main dengan berbagai logika sehingga gue dapat mempertahankan diri dari serangan bertubi-tubi itu. Gue terus mengelak dan bermanufer. Manufer-manufer itu akhirnya berhasil membawa gue ke atas angin. Mereka kebingungan dengan penjelasan-penjelasan gue. Di situlah akhirnya gue bisa mengendalikan 'permainan' dan akhirnya mengakhirinya sebelum semakin menjadi panjang (sebenernya sih karena takut dikeroyok terus, hehehe...). Sejak saat itu, karena berhasil membingungkan mereka dengan logika-logika, gue dikabarkan oleh temen gue bahwa gue mendapat gelar kehormatan dari kosan temen gue itu sebagai "Bapak Logika" (nggak penting banget ya, hehehe...).

Untungnya gue nggak sempet salah kata ataupun salah logika. Salah-salah, gue bisa-bisa malah menyingung perasaan mereka. Tapi karena gue tetap bermain di area logika, akhirnya mereka pun hanya bingung, bukan sakit perasaannya, hahaha...

Hmm... ini bisa jadi pelajaran buat gue, supaya berhati-hati bermain di area perasaan dengan kaum hawa. Kalo gitu, emang benerlah apa kata Ari Lasso, "Sentuhlah dia tepat di hatinya. Dia akan menjadi milikmu selamanya". Tapi apa jadinya kalo menyentuh dia tepat di otaknya? Mungkin dia akan menjadi bingung selamanya, hahaha... nggak segitunya kali... (peace girls...)

Separah itukah logika gue melihat halusnya perasaan? Terserah lah apa kata sampeyan... Gue hanya mengikuti logika bahwa seorang laki-laki lebih dominan logikanya dibanding perasaannya.

Tuesday, April 24, 2007

Dunia Psikologi

Belakangan ini gue baru menyadari kalo dunia psikologi itu ternyata menarik juga. Sepertinya ketertarikan itu mulai terpancing ketika gue mulai berkenalan dengan orang-orang yang kuliah di psikologi. Layaknya mahasiswa psikologi, topik-topik yang mereka bahas tentunya nggak jauh-jauh dari dunia perjiwaan. Selain itu, koleksi buku-bukunya juga dihiasi dengan novel-novel kejiwaan macam sybil, billy, cassandra de-el-el. Salah satu buku yang sudah gue pinjam (dan sudah gue baca lho... bangga banget ya bisa baca buku :D) adalah Sybil. Dan nantinya akan menyusul : Cassandra, kisah seseorang yang tidak mau bicara karena trauma (tar resensinya gue tulis juga deh kaya Sybil).

Selain buku-bukunya, salah satu hal yang bisa gue dapatkan dari para calon psikolog itu adalah konsultasi gratis (gretong bo... hari gini? hahaha...). Jadinya gue sekarang bisa 'melihat' diri sendiri maupun 'orang lain' dalam diri gue (bahasanya mulai berat nih :p). Memang! Beberapa temen seperti melihat 'orang lain' dalam diri gue. "Ini beneran arif ya?" Itulah kata-kata yang sering terlontar dalam canda temen-temen. Dalam satu kondisi (bukan karena moody lho), gue bisa berbeda dengan gue yang biasanya. Topeng? Double personality? Whatever you say lah. Pokoke itulah gue. Mau yang ribut, yang ancur, yang gokil, yang diem, itu semua sama kok. Gue nggak separah Sybill. Dan gue yakin setiap orang juga punya sisi-sisi lain dalam dirinya. Tinggal apakah mereka mau dan mampu menampilkannya?

Meskipun cuma buat fun aja, ternyata dunia psikologi mengasikkan juga ya. Apalagi kalo bisa ngerjain orang dengan berpura-pura menjadi orang lain, hahaha...

Friday, April 20, 2007

Training (lagi...)

Sudah lebih dari seminggu gue nggak update blog ini. Semenjak ikut training lagi, gue emang jadi nggak sempet ngisiblog. Soalnya hampir seminggu ini gue berangkat siang mulu, jadi nggak sempet ngeblog langsung training. Sementara setelah training, gue masih harus mengerjakan kerjaan rutin gue.

Oh iya, gue belum cerita tentang trainingnya ya. Gue tuh sekarang lagi training SAP BW. LUmayan lah dapat bekal sebelum berperang :D Soalnya dalam salah satu action plan di kantor, gue dilibatkan dalam Data Warehouse Project. Kalo gue ga tau apa-apa kan repot juga, harus belajar sana belajar sini. Enakan kalo ada yang ngajarin. Ya nggak? (hehehe... dasar males)

Thursday, April 12, 2007

Setan

Dua minggu lagi para penggemar bola akan disuguhi pertandingan yang makin seru. Yaitu semi final antara calon-calon jawara Champion dari eropa. Tiga dari Inggris dan satu lagi dari Itali.

Salah satu pertandingannya adalah antara 'Setan Merah' dengan 'Setan Merah'. Siapa pemenangnya? Gue yakin yang menang pasti setan. Gimana nggak? Kalo buat ibadah, solat, ato semacamnya, susah banget buat bangun tengah malam (lebih tepatnya dini hari). Tapi kalo buat nonton Setan-setan Merah, kok kayanya lebih gampang ya. Mungkin ini ada pengaruhnya dengan para setan yang menggoda supaya mau menonton mereka. Sementara kalo buat yang baik-baik, para setan itu terus menyanyikan godaan yang meninabobokan (kasian banget jadi setan, selalu disalahkan oleh para hambanya sendiri).

===
Aneh... pembuka sama penutupnya kok nggak ada hubungannya. Eh, ada ding, coba liat judulnya. Pembuka dan penutupnya sama-sama berhubungan sama judulnya. Jadi kesimpulannya pembuka dan penutup itu masih berhubungan (lewat judul, hehehe...)

Workshop User Requirement

Sore ini gue dapet 'tugas luar' ngikutin sebuah workshop, "Workshop User Requirement". Workshopnya di Sukabumi, katanya sih di Citarik (asik... long weekend, refreshing di alam bebas :D) Acaranya berlangsung hari Kamis sampai Minggu ini. Empat hari! Bawaannya pasti merepotkan. Berikut bawaan yang harus disiapkan berdasarkan instruksi dari bagian training:
  • Perlalatan Mandi (tiap minggu juga dah biasa bawa)
  • Baju ganti minimal 5 set (ini yang bikin bawaan repot)
  • Baju tidur (biasa lah)
  • Sepatu olah raga (ke kantor juga pake ginian, berarti dah built-up :D)
  • Sweater (gue ga punya, adanya jaket yang biasa gue pake)
  • Obat-obatan & perlengkapan pribadi (paling cuma obat pusing + obat luka ringan)
  • Sun block (ga punya, kalo punya mungkin bisa sekalian buat saturday futbal :D)
  • Lampu Senter (sekarang lupa bawa)
  • Sandal jepit (ada di kantor, tinggal bungkus aja)
  • Topi (ga punya, biarin dah, panas ya panas)
Hmm... benar-benar bawaan yang merepotkan, tapi mudah-mudahan acaranya menyenangkan :D


Sybil

Judul : Sybil (Kisah nyata seorang gadis dengan 16 kepribadian)
Pengarang : Flora Rheta Schreiber
Penerjemah : Sarlito W. Sarwono
Penerbit : Pustaka Sinar harapan
Tebal halaman : 496
Tahun : 1973

Buku ini mengisahkan seorang wanita bernama Sybil yang tinggal di Willow Corner dengan 16 kepribadiannya. Sybil dibesarkan oleh seorang Ibu yang mengasuh dengan penuh kekerasan. Sementara itu, Bapaknya seolah 'tidak tahu apa-apa' dengan pola asuh istrinya terhadap anaknya itu. Kondisi ini membuat kepribadian Sybil terpecah. Perpecahan ini terjadi karena 'dia sendiri' tidak sanggup menghadapi segala kondisi yang dia alami. Dalam kondisi seperti ini, dia bisa menjadi seseorang yang lain. Sementara dalam kondisi yang berbeda lagi dia bisa menjadi seseorang yang berbeda lagi. Namun, pribadi-pribadi yang hidup dalam diri satu orang tersebut bahkan tidak dapat saling berkomunikasi.

Selama bertahun-tahun Sybil hidup dalam kepribadian majemuk tanpa tahu yang sebenarnya. Banyak sekali konflik-konflik yang muncul karena kepribadian majemuk tersebut. Pertemuannya dengan Dokter Wilbur memberikan warna baru dalam hidupnya. Bertahun-tahun dia berkonsultasi dengan Dokter itu. Perjalannya pun tidak mudah. Namun, semangat Sybil untuk bisa 'sembuh', dukungan Dokter Wilbur, dan 'persetujuan' individu-individu yang lain dalam dirinya, berhasil membuat Sybil bertahan dalam proses penyembuhan tersebut hingga akhirnya Sybil dapat hidup tenang.

Buat yang suka bacaan psikologi, buku ini bisa menjadi salah satu buku yang wajib baca. Buku ini dipenuhi konfilk-konfilk kepribadian dalam diri seseorang. Apalagi buat yang ingin mencoba untuk 'menciptakan' pribadi-pribadi baru, buku ini bisa menjadi salah satu referensi. Tapi buat kamu-kamu yang mau pinjam buku ini, maaf ya, saya juga pinjam sama orang lain, hehehe...

Wednesday, April 11, 2007

Gara-gara MU...

gue jadi kepagian ngantor. Jam 6.12, gue sudah ngeprik. Rekor terbaru lagi nih, hehehe...

Nggak rugi pagi tadi bangun jam 4 lewat, soale tadi disuguhi bermacam-macam gol (8 gol bo!!!). Luar biasa!!!

Monday, April 09, 2007

Keledai di Puncak Gunung Es

Ini bukanlah sebuah dongeng pengantar tidur. Tapi ini hanyalah rangkaian kata seorang blogger yang muak setelah mendengar dan melihat berita tentang para jagoan di kampus maut.

Keledai! Mungkin itulah simbol yang cukup pas untuk sebuah institusi pendidikan yang sekarang sedang ramai dibahas, IPDN. Bahkan mungkin lebih parah dari keledai. Mungkin keledai pun malu kalau harus dibandingkan dengannya.

Hanya keledai yang jatuh dua kali ke lobang sama. Pepatah semacam itu tentu pernah kita dengar. Namun apa yang terjadi di IPDN? Menurut pengakuan seorang dosennya, sudah terlalu sering praja yang meninggal akibat kekerasan. Dan kasus yang cukup menghentakkan sisi kemanusiaan kita adalah ketika media mengekspos kepergian Wahyu Hidayat beberapa tahun yang lalu. Kecaman mengalir begitu deras ke kampus yang dulu bernama STPDN. Kekhawatiran tentu begitu menghujam dalam dada para orang tua yang anaknya sedang mengejar cita-cita di kampus pencetak pejabat negara tersebut. Hingga akhirnya dibuatlah sebuah janji yang menyatakan bahwa tidak ada lagi kekerasan di kampus yang akhirnya berubah menjadi IPDN tersebut. Tapi apa yang terjadi? Ternyata mereka benar-benar seperti keledai. Sepertinya mereka sengaja menjatuhkan diri ke lubang yang sama. Entah apa yang mereka cari. Kepuasan kah? Balas dendam kah? Sesempit itu kah hati mereka yang merupakan calon abdi bangsa. Atau mengajarkan disiplin? Bullshit! Yang paling memungkinkan dalam kondisi seperti itu hanyalah ketakutan dan kekhawatiran. Wahyu Hidayat bukanlah yang pertama. Tapi semua tentu berharap bahwa dialah yang terakhir. Tapi... kepergian Cliff Muntu meluluh lantakkan harapan besar itu.

Kepergian Wahyu Hidayat dan Cliff Muntu begitu membuka mata bangsa bahwa kampus yang seharusnya menciptakan calon abdi negara, ternyata justru lebih pantas dikatakan sebagai pencipta bangsa petarung. Masih bagus kalo bertarung memberantas preman-preman jalanan. Tapi yang mereka bantai justru adik-adik mereka sendiri yang seharusnya mereka asuh. Berdasarkan informasi dari seorang dosennya, ternyata Wahyu dan Cliff bagaikan puncak sebuah gunung es. Masih banyak Wahyu-Wahyu lain yang tertutup oleh kelihaian penghuni-penghuni kampus. Tiga puluh tujuh praja tewas (tujuh belas diantaranya tidak wajar) di kampus maut itu, begitulah kata seorang dosen (dan sekarang dosen tersebut dikenakan sangsi tidak boleh mengajar selama investigasi, entah untuk alasan apa, belum ada informasi yang jelas). Kalau yang meninggal saja sudah begitu banyak, bagaimana dengan yang 'hanya' luka-luka?

Pantaslah jika salah satu orang tua praja dalam sebuah wawancara di televisi meminta semua Pemda untuk sejenak memulangkan putra-putra daerahnya yang masih tingkat awal untuk diperiksa kondisi kesehatan mereka, terutama kesehatan organ-organ dalam. Bagaimana mungkin kekerasan-kekerasan yang sudah menjadi 'budaya' seperti itu tidak tercium oleh para petinggi kampus. Mungkin para petinggi itu perlu 'mengorbankan' salah satu anaknya untuk masuk ke kampus maut itu supaya mereka dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para orang tua praja.

Sekarang saya begitu merasa beruntung. Dulu ketika masih kelas tiga SMU, salah satu keinginan saya adalah masuk ke institusi pendidikan yang dikelola negara. Tentu saja dengan harapan supaya cepat mendapat perkerjaan. Saat itu saya hanya mengenal STAN dan STIS. Entah apa jadinya kalau saya tahu bahwa ada perguran bernama STPDN dan saya masuk ke dalam kampus itu. Tapi saya juga agak heran, setelah kasus wahyu Hidayat mencuat, ternyata masih banyak orang tua yang mau mengirim ke kampus maut tersebut. Mungkin mereka terlena oleh itikad baik mereka ketika berikrar bahwa tidak ada lagi kekerasan di kampus tersebut. Tapi ternyata? Kita semua tahu siapa mereka. Bagai keledai di puncak gunung es.

Kemunculan kasus-kasus kekerasan membuat orang-orang jadi berang, hingga ada yang berucap, "Sudah, bubarkan saja kampus itu!!!" Tapi apakah itu jalan terbaik? Salah satu Pemda di Indonesia ternyata masih memiliki ide yang cukup jitu (setidaknya menurut saya). Pemda tersebut akan membentuk 'sekolah sementara' yang bebas dari kultur perpremanan dan mencetak calon birokratnya sendiri. Namun jika kondisi IPDN sudah membaik, Pemda tersebut siap mengirim kembali putra-putra daerahnya ke IPDN. Tapi masalahnya apakah jajaran petinggi kampus dan petinggi negara memiliki itikad baik untuk menangani hal ini? Kalo tidak, mungkin 'sekolah sementara' pun bakal berubah menjadi 'sekolah beneran'. Kita lihat saja nanti.

Selamat Jalan Cliff Muntu. Semoga pengorbananmu melepaskan IPDN dari kekerasan di masa yang akan datang.

Thursday, April 05, 2007

Fokus Dong!

Aduh, nggak kaya biasanya. Biasanya biarpun banyak kerjaan gue masih bisa multitasking dan ngerjain kerjaan berurutan. Tapi hari ini gue cuma buka dari satu file ke file lain. Nggak ada yang kepegang. Semua cuma buka-bukaan. Hari ini bener-bener nggak bisa fokus. Inikah efek before long weekend syndrome? Hehehe...

Ayo! Fokus Dong! Kerjaan lagi numpuk

===
Bukannya fokus di kerjaan malah fokus di blog. Orang yang aneh.
Yah... mudah-mudahan fokus bloggingnya bisa menular ke fokus kerjaan :D

===
Mungkin pembuatan list dan prioritas bisa membantu kali ya...
1. Ini - Pending, orangnya lagi ada trouble
2. Itu - Ini kan prioritas utama! Senen mo dipake. Yang ini dulu deh
3. Anu - Hmm... no 2 dulu deh
4. Ono noh - Yang ini... setelah 3 aja deh

Kesimpulannya: Kerjain yang no 2 dulu deh sampe makan siang

Wednesday, April 04, 2007

Mendadak Blogging

Siang kemarin blog gue ketambahan beberapa link baru. Karena lumayan banyak (dan kayanya masih bakalan terus bertambah) akhirnya gue bikin group tersendiri, AHM.

Sepertinya, temen-temen di kantor lagi pada demam blog. Beberapa link baru yang ada di blog merupakan blog baru. Itupun sebenernya masih banyak yang belum gue masukin. Lagi males nyari-nyarinya :D Entah apa alasan mereka pada rame-rame bikin blog. Terserah masing-masing lah. Yang jelas... welcome to de Blog pren...

Tuesday, April 03, 2007

Saturday@April

Bulan ini kayanya gue bakalan absen dari aktifitas Saturday Futball Fever karena empat kali Sabtu di bulan April sudah di-booking oleh aktifitas lain. Berikut ini aktifitas yang sudah nge-booking Sabtu-Sabtu gue.

7 April
Pada hari ini gue (mudah-mudahan) sedang berada di rumah (bukan kos lho ya). Lumayan, tanggal 6 nya kan libur. Jadi mumpung lagi long weekend dan awal bulan, kesempatan buat mudik (asik....). Nuansa yang beda kayanya juga bakalan gue rasakan kalo rencana temen-temen buat melancong ke Tegal jadi terlaksana. Lihat saja nanti deh, mereka jadi maen nggak.
Mudik? Asik...

14 April
Tanggal 12-15 April, gue mendapat 'perintah' dari kantor untuk mengikuti sebuah workshop bertema 'User Requirement'. Biasanya workshop itu membosankan. Tapi kali ini workshopnya di luar alias outdoor. Udah gitu tempatnya di Citarik, Sukabumi. Katanya bakalan ada acara arung jeram segala. Terakhir kali gue maen arung jeram adalah Juni 2001. Itupun di Dufan, hehehe...
Arung Jeram? Asik...


21 April dan 28 April
Berhubung banyak hari kerja yang kepotong di bulan April, ditambah lagi banyaknya kerjaan yang tertunda karena banyak hal, akhirnya dua Sabtu dalam bulan April gue diminta masuk buat mengejar ketertinggalan. Dua Sabtu terakhir pun mau nggak mau harus gue ikhlaskan buat gue habiskan di kantor. Tenang pren, kalo maen bolanya diundur jadi jam 4 an, gue masih sempet kok dateng ke stadion BNI. Dengan peraturan 7 jam kerja (6 jam kerja + 1 jam istirahat) supaya dapat dihitung sebagai lembur, berarti gue bisa cabut jam 2 kalo gue dateng jam 7 pagi :D
Lembur? Siapa takut?
Bola? Asik...

Monday, April 02, 2007

Comfort Zone

Minggu kemarin, sempat beredar isu buat meningkatkan kualitas lapangan bola di kalangan Saturday Futbal Warrior. Seseorang dari mereka mengusulkan untuk mengganti Futbal (ato mungkin lebih tepatnya Fun-ball, hehehe...) menjadi Futsal khusus untuk Sabtu terakhir di bulan Maret. Setelah melalui proses pengumuman, promosi, penjaringan massa, dan pendaftaran, akhirnya diperoleh keputusan : "Sabtu ini kembali maen di stadion BNI"

Penyebab utamanya sudah jelas, tidak memenuhi kuota minimal. Seandainya satu lapangan menghabiskan 12 manusia, berarti dibutuhkan paling tidak dibutuhkan 15 manusia untuk bermain futsal(gue nggak tau kenapa gue milih tiga orang pemain pengganti, kenapa nggak empat, lima, atau enam? mungkin karena futsalnya berlangsung di bulan maret kali ya). Karena kalau nggak gantian, pasti bakalan cape benget kalo maen futsal full satu jam. Selain itu, biar biayanya juga lebih murah, hehehe...

Sebagai seorang IT analyst (busyet dah, ngomongin ginian aja sampe bawa kerjaan :D), gue tertarik untuk menganalisa salah satu penyebab kegagalan rencana itu. Kalo dari respon teman-teman, ada yang bilang malu, males, nggak enak, dan yang semacamnya. Menurut gue itu alasan yang wajar. Tapi kenapa itu bisa terjadi? (Tanya kenapa...) Mungkin karena dalam komunitas futbal warrior itu masih terdapat orang-orang yang tidak mau keluar dari comfort zone mereka masing-masing.

Untuk urusan gila, komunitas para warrior itu mungkin tidak diragukan lagi (bahkan terkadang gue malu mengakui mereka sebagai teman, hehehe... peace man). Tapi sayang, ketika sudah dipisah-pisahkan, atau di depan banyak orang, tiba-tiba mereka bisa menjadi orang yang terlihat jaim (meskipun tetap dengan tampang-tampang seremnya :D), mereka menjadi pemalu (padahal biasanya malu-maluin).

Mereka sudah terbiasa dengan stadion itu. Mereka sudah merasa nyaman dengan apa yang mereka dapatkan. Lapangan luas, rumput alami yang diselingi putri malu, jauh dari keramaian, gaya futbal yang antik (nggak bakalan lo temuin di EPL, Seri A, maupun La Liga). So, ngapain harus bersusah-susah booking tempat, maen di antara kerumunan massa. Apalagi dengan skill yang apa adanya. Makin lengkap sudah alasan untuk mempertahankan kenyamanan stadion BNI.

Ah... gue sendiri mungkin termasuk orang yang susah untuk mendobrak comfort zone gue. Kos gue sekarang, pekerjaan gue sekarang, teman-teman gue sekarang, rutinitas gue sekarang. Itu semua sudah gue rasakan nyaman. Jadi untuk apa gue harus repot-repot menyingkirkan semua itu demi sesuatu yang belum pasti. Meskipun begitu, sebenarnya keinginan (sebenernya kata ini ingin gue ganti dengan kata ambisi, tapi sepertinya belum mencerminkan kondisi sebenernya) untuk sejenak keluar dari comfort zone tetap ada. Kos? Biarin lah, pindahnya sekalian kalo sudah rumah sendiri (ato minimal kontrakan), amin... Pekerjaan? Yang ini sih masih OK lah. Teman? Asli! Bosen bo! Tapi mo gimana lagi, cuma mereka yang gue punya, dan untungnya lucu-lucu + gokil-gokil, hehehe... Pengen sih jalan-jalan, muter-muter, maen-maen biar dapet temen baru yang banyak. Tapi itu dia, males + sok sibuk + keasikan dengan temen yang itu-itu aja. Rutinitas? Kayaknya pulang kerja langsung ke kos, terus kalo weekend ke depok. Boring nggak sih? Tapi buat menciptakan suasana baru kok kayaknya susah banget ya. Abisnya gue dah ngerasa nyaman sih. Apalagi di depok banyak anak-anak lucu yang kalo maen bola juga lucu-lucu, hehehe... I Love U all (huek....)

Pengen.... banget. Bisa mendobrak dinding-dinding yang menghalangi gue keluar dari comfort zone gue. Mungkin ikutan audisi extravaganza bisa menjadi salah satu pilihan. Tapi masalahnya gue belum bisa mutusin urat malu gue, hahaha...

Thursday, March 29, 2007

Berita Duka

Kemaren sore, pulang dari kerja, seperti biasa gue langsung menyalakan TV. Nonton sisa-sisa komedi situasi Office Boy, dan kemudian muter DVD, V for Vendeta (dah lama banget ya filmnya :D).

Tapi apa yang terjadi sekitar 15 menit setelah TV menyala? Tiba tiba gambar di TV meredup. Gue pikir itu emang settingan filmnya yang lagi malam hari. Ah, biarin aja! pikir gue. Tapi kok, lama banget ilangnya, bahkan textnya juga ikutan meredup. Gue jadi curiga, akhirnya gue langsung pindah ke stasiun TV, gue coba ke stasiun TV yang paling jelas. Ternyata juga sama. Innalillahi wa innailihi rojiun. TV gue sekarat. Gue tunggu sampe 15 menitan. Ternyata masih sama.

Gue pun segera mencari surat wasiat, eh, kartu garansi maksudnya. Gue cari nomor telpon service center. Gue telpon service centernya supaya teknisi dateng ke kosan gue. Hmm... gue nggak nyangka ternyata prosesnya cepet juga. Begitu telpon, gue langsung ditanya batas garansi, alamat rumah, jenis produk, type dan no serinya. Semuanya ada di kartu garansi. Lancar! Besok atau lusa teknisinya datang, kata customer servicenya. Gue bener-bener nggak nyangka kalo penanganan klaim garansinya secepat itu. Gue puas dengan pelayanan produk ini (tapi gue lebih puas kalo nggak ada masalah dengan produk yang gue beli, iya kan?). Tapi... itu baru tahap pendaftarannya aja. Gimana dengan proses reparasinya? Selancar itukah? Liat saja nanti.

Ternyata belum saatnya bagi gue buat merasakan service gratis, hehehe... Sekitar jam 9 malam, setelah TV yang sekarat ini gue doakan supaya bereinkarnasi menjadi TV plasma, ternyata sehat kembali begitu gue hidupkan kembali. Sedih? Atau senang? Ah... yang penting gue nggak perlu ngerepotin ibu kos buat nungguin tukang service-nya kalo dia datang.

Wednesday, March 28, 2007

Isyarat

Pagi ini, aku satu berita di detik yang cukup membangkitkan sisi kemakhlukanku. Ini bukan berita baru. Berita-berita sejenis sudah sering muncul entah itu di media elektronik, media cetak, maupun media cyber seperti detik yang biasa aku baca. Beritanya tentang pohon yang batang / rantingnya membentuk kalimat Allah di bagian puncaknya (jelasnya liat di link berita). Bukan berita baru bukan? Sebelumnya sudah banyak sekali berita-berita seperti itu. Kambing yang ada tulisan Allah & Muhammad di sisi-sisi perutnya. Buah yang didalamnya terdapat kalimat Allah. Atau juga kebakaran pertamina yang apinya membentuk kuda laut (yang merupakan logo dari pertamina) dan kalimat Allah. Dan masih banyak kisah-kisah yang lainnya.

Sebagian orang mungkin langsung tersadar dengan isyarat-isyarat tersebut. Itulah bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Sudah terlalu banyak orang yang menuhankan selain Dia. Celakanya, mungkin ada juga orang yang menganggap dirinya Tuhan. Luar Biasa!!!

Sebagian lagi, yang sudah 'terdaftar' sebagai pemilik keajaiban-keajaiban itu, begitu mengagungkan, begitu terpanggil untuk memeliharanya. Orang yang memiliki 'kambing ajaib' itu, pasti bangga dengan peliharaannya. Apalagi banyak orang yang ingin membuktikan langsung keajaiban Ilahi tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Si kambing akan mendapat perhatian khusus dalam perawatannya.

Berbeda lagi dengan Pak Amri, selaku penemu 'pohon Allah' tersebut. Dari awal dia memang sudah mendapatkan beberapa firasat. Mulai bermimpi bertemu dengan anak kecil tiga hari berturut-turut, sampai kemalasan yang tiba-tiba muncul sesaat sebelum membantai pohon Allah. Dan sejak penemuan pohon tersebut, Pak Amri terus begadang untuk menjaga pohon tersebut. Takut terjadi apa-apa katanya.

Sepertinya bangsa kita memang masih banyak yang suka maen fisik (umm...wajar saja kalo pemenang kontes kecantikan adalah orang-orang yang bening, apalagi kalo menyandang gelar 'indo'). Padahal, bisa jadi, itulah isyarat dari-Nya supaya kita senantiasa melihat-Nya (kalaupun tidak bisa, yakinlah bahwa Dia pasti melihat kita). Dia tidak meminta kita hanya melihat kambing itu. Atau mengunjungi pohon yang membawa nama-Nya. Tapi lebih dari itu, dia ingin kita kembali. Kembali pada aturan-Nya. Dia ingin kita mengunjungi rumah-Nya. Baik rumah yang ada di tanah suci (Soale banyak juga orang yang begitu mudah bolak-balik berlibur ke belahan bumi yang lain. Tapi rasanya susah sekali untuk berlabuh sejenak ke tanah suci sekali dalam hidupnya), maupun rumah yang ada di hati suci (Aneh juga. Banyak orang bertualang ke seantero dunia untuk mencari jalan menuju Tuhan. Padahal, Dia punya rumah di dalam dirinya. Tinggal ketok pintu aja kan? Nyampe dah)
"Tiap malam saya jaga pohon ini. Sebab, dalam mimpi saya itu, anak kecil meminta untuk perlindungan. Ya mungkin saja anak kecil dalam mimpi saya itu pohon tersebut," katanya sembari tersenyum.

Lantas sampai kapan dia akan menjaga pohon itu? "Saya belum bisa pastikan sampai kapan berhenti menjaganya. Kalau malam, kalimat Allah di atas pucuk pohon itu semakin indah. Tak percaya, datanglah nanti malam," kata dia. (Dikutip dari detik. Link ada di atas)
Tanpa bermaksud menampik keindahan pohon itu, mungkin akan terdengar lebih indah kalau kalimat terakhir dari apa yang diucapkan Pak Amri diganti menjadi
"Kalau malam, kalimat Allah di lidah dan hati itu semakin indah. Tak percaya, cobalah nanti malam,"


===
Argh... jadi malu nulis ginian. Suwer deh...
Tapi bahan buat nulis blog siang ini cuma ini yang terpikir. Mo gimana lagi? hehehe...

Kembali ke Laptop

Kemarin ada berita bagus (entah menurut siapa?). Berita itu datang dari gedung yang terhormat. Rencana pemberian laptop senilai 21 juta kepada para anggota dewan yang terhormat resmi dibatalkan. Hmm... akhirnya ada juga berita menggembirakan untuk semua dari senayan. Biasanya yang muncul dari gedung tersebut adalah berita gembira untuk para penghuninya. Tapi kali ini berbeda. Acungan jempol pun patut diberikan pada mereka (mereka pasti lagi senyum-senyum biarpun ada yang sedih juga karena nggak jadi dapet laptop gratis).

Katanya (gue belum baca berita resminya), rencana pemberian laptop gretong itu sudah dianggarkan. Lalu, kemana ya larinya anggaran Laptop itu? Mungkin nggak ya, anggaran yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktifitas anggota dewan tersebut, dialihkan untuk meningkatkan pendidikan rakyat jelata atau mengurangi kemiskinan di tanah air ini? Ah... mungkin berita seperti itu hanya akan muncul di acara "Mimpi Kali Ye...".

Sekarang gue jadi punya ide lho. Dewan yang terhormat itu kan sering mendapat cibiran dengan kebijakan-kebijakannya itu. Nah, untuk menaikkan citra anggota yang terhormat tersebut, gimana kalo Gedung Terhormat itu mengeluarkan kebijakan yang bakal jadi kontroversi, tapi akhirnya tidak jadi dilakukan. Kaya kasus Laptop ini, setelah jadi kontroversi akhirnya kebijakan tersebut dibatalkan. Acungan jempol pun mengalir ke senayan. Kalo dewan bisa membuat kebijakan semacam itu kan jadi sering dapet acungan jempol, hehehe.... (Pikiran yang aneh. Anggota dewan yang terhormat, jangan dengerin usulan saya. Kalo mau ditampung, silakan. Tapi jangan direalisasikan. Lagian rakyat sudah semakin pandai, kalo dewan yang terhormat sering melakukan hal-hal yang saya usulkan, pasti rakyat akan bosan dengan tingkah polah dewan yang mencla-mencle itu. Melempar isu terus menariknya lagi. Jadi jangan lakukan usulan itu ya. Bukankah mendengar dan membuang usulan itu bukan hal susah buat Anda-anda semua?)

Mending sekarang Bapak-Ibu mikirin gimana mindahin anggaran laptop itu. Jangan kasih ke Tukul atau Unyil. Mereka sudah punya Laptop sendiri. Mendingan buat biaya belajar anak-anak yang di jalanan itu. Nggak perlu Laptop, cukup sekolah lengkap dengan guru dan perpusnya, hehehe...


===
Pagi gini, mikirin tingkah polah mereka, jadi pengen belajar yang rajin. Khususnya belajar matematika
50 + 50 = cepe deh...

Pagi...

Entah kesurupan apa gue pagi ini. Jam 6.12 sudah ada di parkiran. Dan gue ngeprik jam 6.16. Rekor terpagi sepanjang sejarah.

Tuesday, March 27, 2007

Saturday Futball Fever

Sudah beberapa minggu ini, Saturday Futball Fever (SFF) kembali aktif. Bahkan, khusus untuk Sabtu ini, muncul satu ide untuk mendobrak kebiasaan berkubang di terik matahari. Saturday Futsal Fever! Itulah acara gaya baru yang belum terealisasi oleh para futball warrior. Mungkinkah? Liat saja nanti. Gue juga belum 100% yakin. Biasalah... pasti ribut-ribut dulu dan akhirnya... mudah-mudahan sih kali ini berhasil. Sukses ya bro!!!

Tapi, sebenernya bukan cuma maen bolanya yang membuat gue jadi betah ke Depok tiap sabtu pagi atau jumat malam (apalagi gue juga bukan pemain bola beneran, just for fun lah). Tapi silaturahimnya, ngumpul-ngumpulnya, cela-celaannya. Itu yang bikin gue betah ke Depok (lagian ngapain gue nongkrong sendirian di kosan). Setidaknya bisa sekedar berbincang-bincang dengan rencana masing-masing. Ternyata begitu bervariasi. Itulah kehidupan. Kalau sama semua, apa serunya kita hidup. Mending ke kuburan aja (mo ngapain?!@#$)

Ada yang masih sibuk dengan perjalanan (mungkin kata pencarian lebih tepat) cintanya, ada yang sibuk nyari pekerjaan baru yang lebih nempel di hati, ada yang nyiapin "hari H". Macam-macam deh. Yah... di usia seperti ini emang sedang seru-serunya.

Mungkin saat-saat seperti ini akan menjadi saat yang dirindukan di masa depan. Terbukti! Peserta SFF sekarang sudah mulai berkurang. Keluarga dan aktifitas masing-masing merupakan penghalang yang lazim. Wajarlah kalo yang sudah berkeluarga jadi susah untuk mengunjungi Depok lagi. Lagian udah punya 'teman' di rumah, ngapain ngumpul-ngumpul sama jomblo-jomblo yang kalo ngobrol nggak jelas juntrungannya, hahaha...

Makanya pren... selagi masih banyak yang bisa ngumpul, sabtu ini futsal yuk, apalagi tanggal merah, masa lembur sih? Ntar kalo dah pada punya anak-istri susah lho...



===
Gue belum bisa ngebayangin kalo maman sama ndut menikah. Mungkin nggak kalo mereka masih mau maen ke depok? Ya jelas nggak mungkin lah. Kalo mereka menikah ntar M-boy bisa bubar dong, hahaha...
Asli, sekarang gue lagi bingung mo nulis apaan? Biasanya jam segini gue lagi ngegame. Tapi karena posisi tempat duduk sekarang yang kurang mengijinkan, jadinya gue cuma bisa nulis blog. Masalahnya, gue nggak tau mo nulis apaan. Hingga tiba-tiba gue inget maman ma ndut. Biar nggak keliatan mo bahas mereka, jadinya gue kasih intro soal SFF, wakakaka...
~no offence
~just kidding
~just writing :D

Kebangkitan, Trend, Pasar, dan Budaya

Beberapa hari yang lalu, gue nonton salah satu film horor Indonesia, Lewat Tengah Malam (LTM - Joanna Alexandra, maap kalo tulisannya salah). Seandainya gue belum nonton film luar yang berjudul The Others (TO - Nicole Kidman), pasti gue memberikan acungan jempol (four thumbs up) buat film LTM ini. Ceritanya bagus (menurut gue). Tapi di akhir film ini, gue jadi langsung inget sama TO karena adanya kemiripan cerita. Gue pun cuma berkomentar, "Ah, ternyata cuma 'contekan'"

Nggak lama kemudian, secara 'nggak sengaja' gue nonton sinetron (ketauan deh hobinya, hehehe) di RCTI, judulnya Olivia. Sekitar lima belas menit setelah nonton, gue langsung inget sama film She Is The Man (SITM). Olivia mengisahkan tentang seorang cewe yang nggak boleh bergabung dengan tim sepakbola sekolah karena alasan gender (makanya maen di lap BNI aja kalo sabtu siang jam 2an, pasti boleh deh). Berbekal balas dendam dan rasa ingin unjuk gigi, dia bertekad untuk dapat bermain di tim sepakbola pria. Setelah melakukan penyamaran (jadi cowo bo), akhirnya dia berhasil bergabung dengan tim sepakbola sekolah lain (sebelum sinetron ini kelar, gue sudah keburu cabut ke Depok). Kisah-kisah nya juga mirip banget. Tinggal satu kamar dengan cowo, menyukai cowo (inget lho, dia sekarang lagi jadi cowo), disukai cewe (inget lho, dia aslinya cewe), dan sederet masalah-masalah lain yang membumbui alur cerita tampak tidak ada bedanya dengan film SITM. "Ah, lagi-lagi contekan" pikir gue

Selain dua film dan sinetron di atas, tentu banyak sekali film-film atau sinetron-sinetron di Indonesia yang memimiliki kemiripan dengan banyak alasan. Lihatlah bagaimana ketika Dunia Lain sukses muncul di salah satu stasiun TV, tidak lama kemudian sederet judul-judul dengan tema serupa menghiasi stasiun TV yang lain. Atau ketika Rahasia Ilahi mulai menuai rating, stasiun TV lain pun mulai memasang ancang-ancang supaya sinetron itu tidak melenggang sendirian. Sinetron-sinetron lainpun bermunculan yang merupakan buah dari strategi. Mau contoh lagi? Dulu bioskop kita hanya menyajikan film-film Hollywod. Mau tidak mau, itulah pilihan yang bisa kita santap. Hingga tiba masanya film Indonesia beranjak tampil menghiasi papan-papan Twenty One. Daun Di Atas Bantal, Ada Apa Dengan Cinta, merupakan contoh-contoh film yang mulai membangunkan film Indonesia dari tidur panjangnya. Setelah film Indonesia mulai meramaikan jagad perfilman Indonesia, trend-trend dengan sendirinya muncul ke permukaan. Ketika film-film romantis laris di pasaran, Production House berlomba-lomba membuat film-film romantis (tapi kalo tema romantis alias cinta sih kayaknya emang nggak pernah abis). Ketika film-film hantu disukai dan mendapat respon positif dari masyarakat perfilman, para hantu pun bergentayangan di baliho-baliho, poster-poster, maupun papan-papan iklan. Bahkan area bioskop pun tidak cukup untuk menampung hantu-hantu yang siap menghibur dan menakut-nakuti penontonnya. Jalan raya pun turut menjadi korban pelampiasan para hantu dalam memperkenalkan diri mereka.

Sialnya, tidak semua trend, kemiripan, atau apapun itu namanya, dapat diterima oleh masyarakat perfilman. Dunia perfilman kita sempat heboh dengan munculnya film kontroversial yang menjadi pemenang dalam ajang paling bergengsi di Indonesia, Festival Film Indonesia. Masyarakat yang peduli dengan perfilman Indonesia pun melakukan aksi demo dengan cara mengembalikan piala-piala yang pernah mereka terima melalui ajang bergengsi tersebut. Apa jadinya jika film yang dianggap tidak memiliki orisinalitas itu maju ke pentas festival tingkat dunia? Ah, peduli setan, gue mah yang penting bisa nonton film-film dari hasil 'kemiripan' CD/DVD (dengan yang ori) yang sekarang sepertinya sudah menjadi trend karena pasar juga tidak menolaknya, hehehe... Weitz... tunggu dulu, gue cuma melakukan itu sama film2 luar. Kalo film indo, pasti gue nonton dari CD ori atau langsung di bioskop. Biar karya anak negeri terus berkembang, ceile...

Kemunculan film-film Indonesia di saat-saat yang sepi dulu, bolehlah kalo kita sebut sebagai kebangkitan perfilman nasional (Tapi sampai sekarang gue belum menemukan momen-momen apa yang menjadi kebangkitan persinetronan nasional. Apakah sinetron-sinetron kita sudah berdiri dari dulu, atau... jangan-jangan... sampai sekarang emang belum pernah berdiri tapi hanya berhalusinasi bahwa mereka sudah berdiri? Mikirin gituan, jadi pengen makan tape sama cabe. Tape deh... cabe deh...). Tapi setelah itu, mungkin yang muncul hanya trend dan permintaan pasar. Atau bahkan... sudah menjadi budaya. Ngekor, njiplak, or whatever lah, pokoke yang kaya gitu. Trend, pasar, dan budaya, sepertinya sudah tipis sekali perbedaannya. Tidak heran kalau sekarang kita disodorkan dengan film-film yang biasanya mirip-mirip, apalagi sinetron. Parah. Kalau sinetron aslinya dari luar (biasanya sih dari korea dan sekitarnya) habis dalam 60 episode, versi Indonya bisa nyampe 2 kalinya. Ternyata kita jago ya dalam mencari masalah, maksudnya masalah buat manjang-manjangin durasi sinetron. Apakah ini karena trend, permintaan pasar, atau sekedar ngekor-ngekoran? Tau ah, emang gue pikirin? Gue nggak pernah nonton sinetron gituan.

Komentar terakhir, tulisan-tulisan di atas bukan harapan-harapan optimis maupun pesimis untuk dunia entertainment Indonesia (Buat gue yang penting kalo lagi nganggur ada film yang bisa ditonton). Bukan juga merupakan kritikan (Gue bukan pemerhati dunia perfilman dan persinetronan, apalagi praktisi. Gue cuma penikmat film dan sinetron yang menurut gue bagus, itu aja). Tapi, tulisan di atas hanya cuap-cuap alias celotehan anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia entertaintment. Dan yang pasti, gue menulis karena gue punya waktu buat blogging sebelum jam 7.30. Setelah jam 7.30, gue sudah mulai kerja (Boong ding, pasti browsing dulu, nggak mungkin langsung kerja. Buka gmail, detik, kompas, republika, blog orang...dst).

Friday, March 23, 2007

From Heaven To Hell

Yup, itulah pepatah yang pas buat menggambarkan kondisi gue saat ini.

Hari ini adalah hari terakhir gue bekerja di sini (Ruang Abaper - Sunter). Tempat yang merupakan surga bagi para staff IT yang 'kurang ajar' dan 'bandel-bandel'. Browsing, ngegame, kayanya jadi aktifitas yang biasa di tempat ini, hehehe... asal nggak ada boz aza. Kalo pas makan siang nggak ada boz juga bisa jadi nambah extra time, berangkat duluan 1/2 jam, pulang telat 1/2 jam, hehehe lagi.

Tapi, di pegangsaan nanti, di tempat baru (eh, tempat asli ding) semuanya jadi susah. Apalagi posisi gue. Tinggal berdiri dan nengok kiri ato belakang, para petinggi sudah kliatan. Hmm... jadi 'kliatan' rajin kerja deh. So... kalo hari jumat gue ngga bisa bebas cuap-cuap lagi di konferens, harap maklum ya...

Ya udahlah, emang tempat gue di situ kok.

Wednesday, March 21, 2007

Masih Tentang Telpon

Setelah dua kisah tentang telpon (callback dan sok tau), masih ada lagi beberapa cerita tentang 'permusuhan' gue sama telpon di kantor.

Salah Angkat
Telpon : Tut...tut...
Gue : "Halo..."
Telpon : Tut... tut...
Orang-orang di ruangan : "Huahaha..." (Tau kan kenapa pada ketawa, yang bunyi telpon satu yang gue angkat telpon dua)
Gue : "Sialan, kenapa telponnya di gue semua sih"

Salah Taro
Gue sama teman sebelah, Cheryl, sedang sama-sama menelpon orang. Gue pake telpon satu, Cheryl pake telpon dua. Setelah beberapa lama...

Gue : "OK pak, makasih" (kemudian dengan santainya gue naro gagang telpon ke telpon terdekat dan kembali ke laptop, eh, ke komputer ding)
Cheryl : "Ayip!!! Gue lagi telpon, kenapa lo tutup telpon gue?
Orang-orang di ruangan : "Huahaha..."
Cheryl : "Liat tuh" (Ternyata orang-orang lebih ngeh dari pada gue sehingga mereka sudah ketawa duluan sebelum gue sadar dengan apa yang barusan gue lakukan)
Gue : "Ho... kebalik ya? Ya udah gue balikin lagi. Nih. Beres kan?"

Dan kemudian gue balik lagi ke kompi (dengan maksud kabur dari tanggung jawab, hehehe)

Tuesday, March 20, 2007

Kerja Lagi

Long Weekend sudah habis. Meski tidak ada yang spesial dari weekend kemarin, tapi nuansanya masih terasa. Males masuk kerja. Apalagi bangun tidur badan terasa nggak fit, pilek, sesekali masih batuk. Tapi hari ini ada meeting 3 x. Kaya minum obat aja, hehehe. Pertama transfer knowledge untuk area tax (Padahal tax bukan bagian gue). Kedua meeting DRP (tau deh mau bahas apaan, padahal gue kayanya nggak ikutan deh). Dan terakhir sosialisasi change request (kalo yang ini emang relevant dengan posisi gue sebagai analist).

Aduh... males deh...


apdetan sore hari:
Ternyata gue nggak perlu ikut transfer knowledge untuk Tax karena itu memang bukan bagian gue :)
Ternyata gue merupakan salah satu "kontributor" dalam DRP meski bukan pelaku utama
Ternyata gue telah mengerjakan banyak pekerjaan dalam pembuatan CR yang sebenernya bukan porsi gue sebagai IT Analyst :(

Thursday, March 15, 2007

Donor Tiga Jarum

Pagi ini jam 9 ada donor darah yang diadakan perusahaan di Ruang Karisma Sunter. Terakhir kali saya mendonorkan darah adalah sekitar setahun yang lalu, yaitu 27 Maret 2006 di Pegangsaan. Momen ini tentu saja menjadi kesempatan yang bagus untuk melakukan donor darah kembali. Dan sepuluh menit menjelang jam 9 pun saya bergerak menuju Ruang Karisma.

Saya : "Bu, daftarnya dimana ya?"
Petugas pendaftaran : "Isi formulir yang ada di meja itu terus taro di sini ya."
Saya : "Makasih Bu."

Sayapun mengambil formulir yang berserakan di meja yang ditunjuk tadi dan mengisinya. Setelah mengisi, saya menyerahkan ke petugas pendaftaran dan menunggu untuk dipanggil.

Petugas cek darah : "Bapak Arif!!!"
Saya : "Arif Irawan Pak?"
Petugas cek darah : "Iya betul, silakan duduk Pak. Saya cek dulu ya"
Cek...cek...cek...
Petugas cek darah : "OK, silakan langsung ke situ Pak." (sambil menunjuk tempat pengambilan darah)
Saya : "Terima kasih pak."

Dan sayapun bergegas ke tempat pengambilan darah.

Pengambil darah (bukan drakula lho) : "Silakan tiduran dulu pak."
Pengambil darah : "Mau diambil dari sebelah mana pak?"
Saya : "Dari leher kiri bisa Mba? Tapi jarumnya yang bercabang dua. Biar bekasnya kaya abis digigit drakula."
Pengambil darah : "Ih, bisa aja Bapak. Kalo yang bercabang dua nggak ada Pak. Adanya yang bercabang tiga. Mau?"
Saya : "Tiga?"
Pengambil darah : "Iya, biar kaya Sasuke yang abis digigit Orochimaru. Sapa tau nanti pas bulan purnama bisa keluar seal-nya terus Bapak bisa berubah."
Saya : "Hah??? Serius Mba?"
Pengambil darah : "Iya, ini jarumnya."
Saya : "Oh... ya udah deh Mba, kalo gitu ambil darah dari tangan kiri aja biar gampang."


ps:
Scene terakhir asli bo'ongannya. Kecuali bagian menyuruh tiduran dulu sama bagian permintaan ambil darah dari tangan kiri. Itu pun sebenernya cuma request dalam hati.

Monday, March 05, 2007

4883

Telpon (4843) : "Tuut... tuut..."
Saya : "Halo, pagi."
Dino : "Eh Yip, ada apa?"
Saya : "BMA gimana? Ada yang bisa gw kerjain lagi nggak? Sekalian generate tabelnya ya."
Dino : "Oh, ok. Tapi ntar ya, kompi gw lagi restart. Ntar gw telp lagi."
Saya : "OK"

Beberapa saat kemudian.
Telpon (4883) : "Tuut... tuut..."
Saya : "Halo Din."
Someone di telp : "Halo, bisa bicara dengan Nidya?"
Saya (dalam hati) : "Lha, Dino ngapain nyari Nidya. Ups, ternyata 4883, bukan 4843. Malu gue. Tadi dia sadar nggak ya tadi gue panggil Din, hehehe."
Saya : "Mm... Nidyanya belum datang Pak."
Someone di telpon : "O... makasih."

Behind the scene.
Saya : "Argh.... kenapa sih telpon di sini bermasalah terus."
Telpon : "Lha, wong situ yang nggak konsen kok malah eke yang disalahin."

Bank

Di suatu hari, tiga orang sahabat melakukan perbincangan yang seru. Sebut saja mereka si Putih, si Abu-abu, dan si Hitam. Mereka bertukar pikiran mengenai suatu lembaga yang sudah menjadi 'barang wajib' di jaman sekarang.

H : "Bu, pinjem duit dong, ce..."
A : "Sory dory mory... ane lagi bokek coy."
H : "Halah... Eh Tih, ada nggak? Cepe ceng. Ntar ane balikin lewat bank deh. Ntar ane transfer ke rekening ente."
P : "Tam, kalo pinjem duit sih ok-ok aja. Tapi cara balikinnya yang kaga ok, cash aje ye. Ane kaga punya rekening di bank."
A : "Busyet... Hare gene kaga punya rekening? Emang ente tinggal di mana coy?"
A + H : "Di Hutan? Hahaha...."
P : "Kaga mungkin lah, sekarang di taneh kite nih, hutannya udeh jadi danau cing. Danau musiman alias danau lima taonan."
A + P + H : "Hahaha..."
A : "Bener juga ape kate ente. Tapi bai de wei temennya bas wei nih, emang beneran ente kaga punye rekening. Kenape? Riba?".
P : "Iye nih. Ane takut ame ribanye. Riba itu haram. Dan barang yang membawa riba bisa membawa kita ke nerake. Kate Pa Ustad sih gitu."
A : "Aduh... kemane aje nih orang? Ente pan tau. Sekarang jamannye serba canggih. Dan kecanggihan itu juga sudah merambah ke dunia perekonomian."
H : "Lagak lo tuh. Kaye pakar ekonomi aje. Duit aja kaga gablek."
A : "Hehehe..."
H : "Nyengir aje bisa lo."
A : "Eh, bentar nih, ane belum kelar ngomongnya tadi. Jadi sekarang udah jamannya transaksi-transaksi itu serba otomatis cing. Jadi mau nggak mau pasti melibatkan bank. Emang sih, ane tau, bank itu erat kaitannya ama riba. Tapi sekarang kan udah bejibun tuh bank-bank yang nyediain paket-paket syariah yang berbasis sistem syariah. So, sapa takut berhubungan sama bank?"
H : "Udah deh, ngapain pusing-pusing. Pokoke sekarang kita tuh nggak bisa hidup tanpa bank. Gajian pake bank. Transfer pake bank. Nabung pake bank. Bayar pake bank. Jadi ya udahlah. Terima aja. Jangan bikin susah sendiri."
P : "Nggak ah. Memang sih sekarang dah banyak bank-bank syariah, tapi kan tetep aja tuh bank pasti berhubungan dengan bank-bank konvensional. Abis gimana lagi, orang kita berada di satu sistem besar, ya pasti nggak bisa lepas dari yang konvensional meskipun yang kita pegang sudah menganut syariah."
A : "Busyet dah. Kalo dah ngomongin satu kesatuan sistem kaya gitu ya susah coy. Lha emang sekarang kita hidup di jaman yang kaya gitu. Yang penting kan niat kita coy, trus kaga ikut-ikutan yang lain. Yang penting niat kita emang cuma buat nyimpen duit dan memanfaatkan fasilitas bank selama tidak melibatkan riba. Udah gitu, pan bank yang kita pake bank syariah. Jadi ya... mudah-mudahan sih aman dunia akhirat."
H : "Sekarang gue jadi penasaran. Emang lo nyimpen duit lo dimana? Di celengan ayam? Hehehe..."
P : "Selama ini sih gue nyimpen duit di rumah, bentuknya bisa duit atau emas. Ya... perhiasan gitu deh. Kalo pas ada banyak duit ya gue beliin tanah aja. Pokoknya gue kelola sendiri deh. Lebih adem hati aye."
A + H : "Hah..."
A : "Segitunya banget lo coy. Argh... susah deh ngomong ama nih orang."
H : "Hidup udah susah, malah makin dibikin susah. Orang yang aneh. Eh Tih, gimana jadi minjemin duit nggak? Ntar aye balikin pake tanah deh."
A + P + H : "Hahaha..."

Thursday, March 01, 2007

Callback

Callback adalah salah satu fasilitas telepon kantor yang berguna untuk memberitahu bahwa orang yang akan kita hubungi dan sedang online, telah selesai bicara atau sudah offline. Buat pembaca yang masih ndeso, berikut ini saya ceritakan proses callback:

  1. Hubungi nomor yang dimaksud, jika terdengar nada sibuk, tekan tombol callback dan tutup telepon.
  2. Setelah terdengar nada callback, berarti orang yang tadi kita hubungi sudah offline dan dapat kita hubungi kembali.
  3. Angkat telepon dan telepon yang kita tuju akan berdering.
  4. Selanjutnya seperti proses menelpon biasa.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari, terkadang ketika pikiran kita sedang katro dapat terjadi hal-hal yang cukup menggelikan. Berikut ini dua 'percakapan yang tidak biasa' yang pernah saya alami.

***


Telpon : "tet tot tet tot" (saya menekan nomor ekstensi)
Telpon : "tut..." (nada sibuk, kemudian saya menekan callback)
Selang beberapa menit...
Telpon : "Tuuut....."
Saya : "Halo, Selamat pagi. Bisa bicara dengan Pak Feri?"
Bu Susi : "Hei Rif. Ini saya, Bu Susi. Lha orang saya yang nelpon kamu kok malah kamu yang cari orang? Pasti abis callback ya?"
Saya : "Eh, maaf bu. Saya nggak ngeh. Saya pikir tadi callback. Ada apa Bu?"
Dan percakapan pun berlanjut. Setelah saya ceritakan kejadian barusan ke teman sebelah, dia tertawa terbahak-bahak.

***


Telpon : "Tut tut tut tut"
Saya : "Halo."
Someone di telpon : "Halo."
Saya : "Selamat siang."
Someone di telpon : "Selamat siang."
Saya : "Halo."
Someone di telpon : "Halo."
Saya (berteriak pada orang-orang di ruangan) : "Hei, tadi ada yang callback ya?"
Someone di ruangan : "Iya, tadi gue callback."
Saya (sambil menutup telpon) : "Sialan, pantesan."
Setelah saya ceritakan ke teman-teman, merekapun tertawa terbahak-bahak.

***


ps:
Bunyi nada dering : Tuuut.....Tuuut.....Tuuut.....
Bunyi nada sibuk : Tuuut.....
Bunyi nada callback :TutTutTutTut.....TutTutTutTut.....

Wednesday, February 21, 2007

Ketakutan

Ketakutan merupakan salah satu bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam setiap masa-masa kehidupan, ketakutan itu akan muncul dalam format yang berbeda-beda. Anak-anak, remaja, orang tua, tentunya memiliki ketakutannya masing-masing. Namun sisi manusiawi kita seringkali membuat kita takut terhadap suatu hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Lihatlah bagaimana anak-anak ketakutan dengan imajinasi yang mereka buat sendiri. Cerita-cerita yang dia dengar, film-film yang dia lihat, membuat anak-anak menjadi kreatif dalam berimajinasi. Namun tidak jarang pula kreatifitas itu justru menakuti mereka sendiri. Tap itulah dunia anak. Tanpa imajinasi, tentu hidup mereka akan hambar.

Tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan segala aktifitas dan kehidupannya, ketakutan-ketakutan akan muncul kembali dengan bentuk yang berbeda. Ketatnya persaingan mendapatkan tiket ke perguruan tinggi negeri yang bagus, dapat menjadi salah satu obor ketakutan tersendiri. Meskipun kegagalan belum menjadi harga mati, namun auranya sudah menebarkan ketakutan. Berbagai usaha pun dilakukan untuk memupuskan ketakutan itu. Mengikuti beberapa bimbel sekaligus pun tidak masalah. Waktu yang tersita mungkin akan sebanding dengan hasil yang diperolehnya nanti. Bahkan jika kita dapat sedikit membuang nurani, kita dapat saja 'menyingkirkan' peluang orang lain dengan melewati 'jalan belakang'. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa kita masih bisa merasakan hari dimana masa kuliah dimulai? Siapa yang akan menjamin bahwa pengorbanan kita tidak akan sia-sia

Kasus lain yang menjadi menu wajib bagi kaum muda, tentu saja urusan berumah tangga. Terlebih jika di usia yang yang memasuki area krisis (twenty-x syndrome?). Desakan orang tua, candaan teman-teman, akan menambah kepanikan jomblowan-jomblowati. Pencarian cinta akan dilakukan entah melalui media teman, keluarga, maupun internet. Tidak hanya media yang konvensional, bahkan segala media pun dapat menjadi pilihan. Biro jodoh, paranormal, dukun dan sebagainya merupakan alternatif lain. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa kita masih bisa merasakan hari dimana kita bersanding dengan pasangan kita? Bahkan untuk yang sudah berpasangan pun, tidak ada yang menjamin bahwa itu akan berakhir di pelaminan. Perlukah kita setakut itu? Mengapa kita begitu takut dengan apa yang belum tentu kita alami?

Orang tua mana yang tidak peduli dengan masa depan anak-anaknya? Di kehidupan yang keras ini, orang tua pasti akan menyiapkan segala sesuatu untuk anak-anaknya. Termasuk masa depannya. Dan orang-orang pun akan membungkus ketakutan akan masa dapan anak-anaknya dengan kata-kata indah seperti rencana masa depan, tabungan pendidikan, maupun asuransi. Kata-kata tersebut memang sudah lazim dalam kehidupan sekarang. Sehingga ketakutan-ketakutan tersebut akan menjadi kabur. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa anak-anak kita masih bisa merasakan hari dimana mereka mengenyam indahnya masa sekolah? Siapa yang dapat menjamin bahwa sang masa tidak akan merampas semua cita-citanya? Perlukah kita setakut itu? Mengapa kita begitu takut dengan apa yang belum tentu kita alami?

Sebaliknya, ada sebuah moment yang sudah pasti akan kita alami. Tidak ada satupun makhluk yang bernyawa yang dapat menghindari moment ini, apalagi menolak. Moment itu bisa datang kapan saja dia mau. Namun sedikit sekali orang yang mempersiapkan, sedikit sekali orang yang mau menyambut masa-masa itu. Moment itu hanya dianggap angin lalu. Pengorbanan yang hakiki hanya akan dianggap sebagai pengorbanan sia-sia saja. Nanti sajalah! Mungkin begitu orang pikir. Tidak sedikitpun ketakutan yang menghantui. Kalaupun ada, mungkin mereka akan berkata "Ah, masih lama." Padahal moment itu bisa menghampiri tiba-tiba. Mengapa kita begitu ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi, hingga bersemangat melakukan apa saja. Tapi... mengapa kita begitu acuh tak acuh terhadap kematian, sesuatu yang pasti terjadi. Kemana semangat itu? Mungkinkah karena kita belum pernah mati? Kalau begitu, mungkin ada baiknya kalau kita belajar mati sebelum mati.

Seorang atlit akan dapat memenangkan pertandingan jika dia sering berlatih.
Seorang penyanyi akan dapat menyanyi dengan suara indah jika dia sering berlatih.
Dan seseorang akan dapat 'memenangkan' pertarungannya dengan ajal jika dia sering berlatih.
-someone-

Friday, February 09, 2007

Balada Seorang Pengungsi

Hari Jumat Jakarta diterjang banjir. Perjalanan ke kantor yang biasanya cuma 10 menit, pada hari jumat dibutuhkan lebih dari satu jam untuk sampai ke kantor. Bukan masalah macet, tapi karena muter-muter mencari akses ke kantor. Naik bajai hanya sampai sebelah kantor. Lewat samping tidak mungkin karena kedalaman air mencapai kira-kira perut orang dewasa (lagi berdiri, bukan tiduran). Lewat Cempaka Mas juga tidak bisa, menurut informasi orang AHM yang kebetulan naik motor dan sudah mencoba berbagai alternatif akses ke kantor. Akhirnya jalan menuju kantorpun ditemukan, lewat belakang (toyota). Di kantor hanya setengah hari karena sekitar pukul setengah dua ada instruksi dari atasan untuk pulang karena khawatir banjir semakin menggila dan karyawan tidak dapat pulang.

Sabtu pagi sekitar pukul setengah enam listik di kos mati. Sementara air sudah menggenangi jalan di depan kos, hampir menyentuh pagar depan. Akhirnya diputuskan untuk mengungsi karena tidak mungkin tetap tinggal di kos dalam keadaan tanpa listrik. Tempat pertama yang dituju adalah kos Lay di Depok. Di sana listrik masih normal dan airpun berlimpah. Selama di tempat pengungsian, kegiatan yang saya lakukan adalah main we di kompi nura, nonton D'Bijis di Detos bareng Edi, dan nonton berita-berita di televisi. Tidak ada yang spesial.

Saya baru pulang ke kos minggu siangnya dengan harapan listrik sudah menyala kembali. Tapi sesampai di kos, ternyata listrik masih padam. Akhirnya saya menyiapkan pakaian kembali, packing, dan berangkat ke Depok lagi. Kali ini tujuannya adalah rumah saudara. Meskipun air pam mati, setidaknya listriknya tidak mati. Untuk suplai air, di rumah saudara memang hanya mengandalkan air pam. Beruntung ada tetangga yang menggunakan jetpump dan baik hati. Tetangga-tetangganya yang kekurangan air, dipersilakan mengambil air dengan menggunakan selang panjang sehingga bisa digunakan untuk rumah yang jaraknya cukup jauh.

Hari Senin saya meliburkan diri. Bosan berdiam diri di rumah saudara, tempat yang menjadi pelampiasannya adalah Gramedia dan plasa Depok. Pakaian di kos masih pada belum kering. Kalaupun kering pasti belum disetrika karena setrika tidak dapat digunakan. Sepertinya selain menyediakan lilin untuk penerangan, harus ada juga setrika tradisional yang menggunakan arang, hehehe... Jadi kunjungan ke plasa sekaligus untuk menambah stock pakaian selama mengungsi.

Saya kembali ke kos membawa harapan kembalinya pasokan listrik di daerah kos. Tapi ternyata harapan tinggal harapan. Listrik masih padam. Datangnya pesan SMS dari atasan bahwa Selasa masih libur, membuat saya untuk kesekian kalinya mengepak pakaian dan kembali ke Depok, kos Lay. Tapi sore hari kos masih sepi. Penghuninya masih di kantor. Jadi sekalian menunggu penghuninya pulang, saya mampir dulu ke Blok M 21 untuk nonton Primeval. Setelah nomat, saya meneruskan perjalanan ke Depok.

Hari Selasanya saya habiskan di kos Lay dan di Detos. Sekali lagi, untuk membeli pakaian selama mengungsi. Selain membeli pakaian, saya juga mampir ke Detos 21 untuk sekedar menghabiskan siang. Malamnya saya diajak ke Detos sama Edi ke Detos 21 lagi untuk sekedar menghabiskan malam, hehehe...

Keesokan paginya, saya kembali ke kos untuk siap-siap ke kantor. Kali ini jalan sudah dapat dilalui motor sehingga saya ke kantor naik motor dengan Firman. Lumayan, jalan sudah mulai bebas banjir. Air di dalam pabrik juga sudah mulai surut. Hanya saja akses ke AHM Sunter baru dapat dilalui dengan bebas lewat samping karena kalau lewat depan masih banjir di daerah Kelapa Gading dan perempatan Cempaka Mas atau yang sering disebut perempatan Coca Cola.

Daerah Sunter masih bebas listrik, AC dan lampu di kantor tidak menyala. Panas! di kos juga masih belum menyala. Entahalah apakah setelah pulang akan mengungsi lagi atau tidak. Tapi setelah sampai kos sore harinya, ternyata listrik sudah kembali normal sehingga saya tidak perlu mengungsi lagi.

Friday, February 02, 2007

Februari MOP

Kemarin, saat sedang bermilad-ria, saya dikerjain teman-teman saya. Dua kali. Dua-duanya teman waktu freelance di P3M.

Rabu siang, saya chat dengan Puput. Seperti biasa, yang diminta dari yang mau berulang tahun pasti traktiran. Karena hari Kamis saya ada rencana sendiri, jadi saya tawarkan Rabu malam aja di Cempaka Mas. Maksudnya biar terlalu jauh dari tempatnya bekerja, jadi kemungkinan besar pasti BATAL, hehehe. Di tengah-tengah chat, tiba-tiba dia ada urusan dan menghentikan chat.

Sore harinya, sepulang kerja, karena saya pikir acara traktirannya tidak jadi, saya memutuskan untuk pergi ke Atrium karena memang ada keperluan. Ketika saya sedang di supermarket, tiba-tiba Puput mengirim SMS katanya dia sedang di Cempaka Mas sendirian. Gubrak!!! Saya pikir tidak jadi. Saya merasa bersalah kalau dia harus menunggu lama karena tawaran yang sudah saya buat. Akhirnya saya kembalikan sebagian barang-barang yang sudah saya pilih supaya lebih gampang bawanya dan cepat bayar di kasirnya. Sambil menuju tempat parkir, saya telepon dia tapi tidak diangkat. Tiba-tiba datang SMS dari dia dengan isi "31 Jan mop!! Huahahahaa...!!" Sialan! Batin saya. Saya cuma tersenyum dengan ulah iseng teman yang satu itu. Kalo bukan 31 Jan sudah saya sobek-sobek mulutnya. Ndeso!!! Katro!!! Puas??? Puas???

Keesokan harinya, tanggal 1 Februari, banyak SMS dan telepon ucapan selamat Ulang tahun. Salah satunya adalah Miss X dengan nomor 0818 sekian sekian. Karena nomornya tidak tersimpan di phone book, saya tidak tahu siapa dia. Suaranya juga tidak begitu saya kenal (dengan orang yang sudah saya kenal pun juga belum tentu dapat saya kenali dari suara di telepon :D). Dia mengaku sebagai teman saya dan dia meminta saya menebak siapa dia (emangnya kuis siapa dia? hehehe). Setelah berSMSria dengan Miss X, akhirnya dia mengajak untuk ketemu di Gading. Tapi ternyata dia juga tidak tahu seperti apa saya ini. Nah lho.. katanya temen? Jadi curiga deh, jangan-jangan dia cuma melihat saya di Friendster atau blog. Jadi saya tolak ajakannya. Karena saya memang ada rencana ke Carrefour, jadi saya iseng-iseng mengajak bertemu di Cempaka Mas. Ternyata dia mau saja dan malah menunjuk satu tempat. Wah, jangan-jangan orang ini tinggal atau kerja di sekitar Sunter. Soalnya tahu banget sekitar Gading-Cempaka Putih.

Sepulang kerja, saya langsung menuju ke Carrefour. Di depan pintu masuk Carrefour, Miss X menelpon kembali untuk memastikan apakah jadi atau tidak. Saya jawab terserah dia karena sekarang saya sudah sampai di Carrefour. Berikutnya dia bilang akan menuju ke tempat yang dia tunjuk dalam waktu sekitar 15 menit. Nah lho... kok cepat banget ya? Dari kantor saya ke Cempaka Mas memang sekitar 15 menit jalan kaki. Kalau memang dia teman kantor yang mau ngerjain saya, tapi sapa? Apa teman-teman lagi pada ngerjain saya. Tapi dia bilang juga sendirian. Ah, sudahlah.

Keluar dari Carrefour, saya iseng-iseng liat-liat DVD sambil menunggu SMS dari Miss X kalau dia sudah sampai. Begitu SMS dari dia sampai, saya langsung menuju tempat dia berada. Di sana, saya dipanggil oleh seorang cewe dan saya pun menghampiri dia. Dia memang Miss X (dari ciri-ciri pakaian yang dia ceritakan), tapi saya merasa tidak mengealnya. Anehnya, dia malah minta maaf duluan dan dia bilang sebenernya punya misi. Sesaat dia ambil sepucuk kertas dan memberikan ke saya. Gubrak!!! (lagi). Untuk kedua kalinya saya dikerjain oleh teman saya. Ternyata Miss X yang bernama Niken itu adalah agen rahasianya April yang bertugas untuk ngerjain saya. Seumur-umur, baru kali ini saya dikerjain di hari ulang tahun. Apalagi sampai dua kali!!!

Btw, terima kasih buat teman-teman yang sudah mengirim ucapan Selamat Tahun baik melalui SMS, telepon, YM, secara langsung maupun cuma dalam hati :D

-Puput (SMS): Ayiiip..!! Sori gw dah dg TEGAnya ngebokisin bin ngerjain lo td. Sorrii buanget... (dst)
-Rahma (Telp)
-Aprill (SMS): I wish 4 U. Love like a new comfortable house... (dst)
-Catur (SMS): Slamat Ulang tahun. Semoga kamu selalu dalam lindunganNya... (dst)
-Someone 08180843xxxx (SMS): Yip, met ulang tahun.. makin sukses di tiap langkah... (dst)
-Mba Rini (SMS): Happy b'day.. Semoga yang dicita-citakan dapat dicapai... (dst)
-Anita (SMS): Happy birthday. Kapan traktirannya? :p
-Christian (YM)
-Penghuni ABAPER (langsung)
-Nico (Friendster)
-Wuri (Telp)
-Niah (Shoutbox@blog)
-Miss X aka Niken (Telp)
-Mba Siti (SMS): Rif slamat ultah, moga sehat selalu tambah sukses... (dst)
-Apotik Century (Telp)
-Dan semua yang mengucapkan dalam hati saja. Saya bisa merasakan itu kok :p

Banjir... Banjir... Banjir...

Hari ini pertama kalinya gue ke kantor naek bajai. Abisnya, naek motor takut pulangnya banjir. Hujan sudah mengguyur Jakarta dari tadi malam. Ditambah hujan sepagian ini dan sesiang nanti (kalo masih), Jakarta pasti banjir dan motor gue pasti mblebek kalo gue paksain jalan. Akhirnya gue putusin naik angkot aja. Ternyata pagi ini angkot juga jarang banget. Jadinya naik bajai deh.

Bajainya nggak nyampe depan kantor. Cuma sampe sebelah aja. Tapi masalahnya gimana caranya sampe ke kantor. Akses jalan ke kantor banjir semua. Sempet ketemu orang-orang AHM yang senasib juga. Dan gara-gara ada yang ngusulin lewat toyota, akhirnya sampe juga ke kantor. Coba kalo nggak ada yang ngusulin, lengkap sudah alasan untuk kembali ke rumah. Hiks... gapapa deh, setidaknya bisa ngebrowse di kantor, hehehe...

Di kantor sepi. Gue dateng jam 8 cuma ada Yoko. Padahal biasanya ada sekitar 10 orangan. Budi sama kaya gue, dah sampe samping tapi nggak bisa masuk, akhirnya balik. Dino telp dari rumah nggak masuk kantor. Kumoro diajak bokapnya naik mobil nggak mau. Dia milih naik motor dan akibatnya sampe sekarang belum nyampe. Puter balik kali.

Thursday, February 01, 2007

Tahun Perak

Hari ini, seperempat abad yang lalu, adalah waktu ketika saya diturunkan ke bumi ini.

Masa yang lewat...
Banyak sudah masalah yang saya buat. Semoga membuat saya semakin berpikir.
Banyak sudah kesalahan yang saya ciptakan. Semoga tidak terulang untuk kesekian kalinya.
Banyak sudah musibah yang saya alami. Semoga membuat saya semakin kuat.

Terlalu sedikit prestasi yang saya raih. Semoga masih ada kekuatan untuk mencapai bintang.
Terlalu sedikit amal yang saya lakukan. Semoga masih ada umur untuk menjadi ladang yang subur.
Terlalu sedikit cita-cita yang saya idamkan. Semoga masih ada mimpi yang bisa saya bangun.

Ya Robbi...
Sematkanlah kesabaran dalam setiap musibah yang Kau berikan.
Tanamkanlah kearifan dalam setiap ujian yang Kau turunkan.
Siramkanlah kesejukan dalam panasnya hidup.
Taburkanlah kelembutan dalam kerasnya hati.

Amin...

ps.
Sebenernya pengen nulis banyak tapi males nulisnya :D
Lagi pula saya harus kerja kan?

Tuesday, January 30, 2007

Ketinggalan dompet

Kemarin ngantor nggak bawa dompet. Emang sih, kalo ngantor nggak butuh duit, cuma buat jaga-jaga kalo ketilang, hehehe... Tapi yang penting ya itulah. Surat-surat mulai dari KTP, SIM, STNK, sampe kartu-kartu lainnya kaya ATM de-el-el. Akhirnya rencana buat ke cempaka mas batal deh. Soalnya kalo keluar parkiran kan biasanya nunjukin STNK. Dan untungnya, kemarin ngantornya di sunter, nggak jauh dari kos.

Friday, January 19, 2007

Kacau

Siang-siang makan cincau,
Kacauuu...

Beberapa minggu yang lalu, gw sudah ada rencana buat naek gunung tanggal 20 nanti, mumpung tanggal merah jadi temen-temen di Tegal pada libur. Bukan hiking, tapi naek motor ke Guci, daerah pemandian air panas di Tegal. Tapi, gara-gara persiapan MRP yang nggak kelar-kelar, tekan tombol MRP akhirnya diundur dan hari Sabtu gw harus masuk untuk finalisasi data-data buat MRP. Damn!

Sebenernya ada acara pengganti buat acara naek gunung itu. Temen-temen kampus pada ngajakain ke Bandung hari Sabtu. Tapi... kalo hari Sabtu gw pulangnya sore (apalagi malam) maka acara nyusul ke Bandung pun mungkin akan jadi berantakan. Damn!

Terlalu banyak moment-moment yang sudah gw lewatkan selama gw ditugaskan jadi dataprep officer. Beruntunglah mulai Senin depan gw sudah ngungsi ke ruang ABAPER, bukan di ruang PRIME lagi. Gw sudah diaktifkan kembali buat proyek yang pernah berhenti karena orang-orangnya pada ditugaskan buat support golive-nya SAP. Yes!

Berarti hari-hari gw mulai normal lagi nih (mudah-mudahan :D). Senen-Jumat tenggo, Sabtu minggu libur. Amin!!!

Ngirit

Minggu kemarin gw ngisi bensin sampai full alias sampe 6 bar. Sudah dipake 5 hari (senen-jumat) buat kerja masih 6 bar juga. Gile coy... ngirit banget ya motor gw (promosi :D)

Lah, gimana nggak ngirit? Selama 5 hari motor cuma keluar 5 km / hari, hehehe...