Friday, August 10, 2007

Oleh-oleh dari Citarik [2]

Cerita sebelumnya

Pagi hari -mungkin sekitar pukul satu-, udara menjadi dingin sekali. Gue yang hanya memakai celana pendek dan kaos biasa, mengigil setengah mati. Mungkin inilah hawa dingin terparah yang pernah menusuk tulang rusuk. Gue hanya bisa meringkuk karena tidak adanya pelindung dingin yang menempel di badan. Kaki ditekuk, paha menempel pada tangan yang tertekuk di depan dada. Anjrit! Masih dingin. Gue nggak bawa jaket. Ada celana training panjang di tas. Tapi hawa dingin itu telah membunuh hasrat untuk keluar tenda menuju tempat tas berada.

Sekitar pukul empat -mungkin-, terdengar riuh suara monyet -di sini bukan ayam yang jadi petugas buat bangunin orang tidur-. Dan salah satu monyet -sepertinya- membuat suara aneh di sekitar tenda. Febri yang pertama mendengar.

"Pak, denger suara aneh gitu nggak? Takutnya monyet tuh, mo ambil barang-barang kita." Tanya dia sama gue.

"Nggak tau tuh," kilah gue yang masih terkantuk-kantuk dalam hawa dingin yang begitu dahsyat.

Akhirnya Febri keluar tenda dan menanyakan hal serupa pada Sulkhan. Dengan tegas Sulkhan juga menjawab nggak. Akhirnya Febri pun masuk lagi ke dalam tenda. Tiba-tiba Sulkhan mengikuti jejak Febri memasuki tenda. Hahaha... sepertinya Sulkhan tidak yakin dengan jawabannya sendiri barusan. Daripada tidur ditemani monyet, akhirnya dia memilih tidur di dalam tenda. Dia melepas sleeping bagnya. Kebetulan, sleeping bag itu gue pakai buat penangkal dingin. Lumayan, ada perubahan.

Sekitar pukul lima, ketika para ibu mulai memasak sarapan -nasi, mie, kornet, ikan sarden- gue bangun dari tidur dingin gue -bukan tidur pules-. Seumur-umur, baru kali ini lah -di hutan ini- gue solat tanpa wudhu, tapi dengan tayamum. Di sekitar sini tidak ada sumber air. Satu-satunya sumber air adalah air mineral beberapa botol yang kami bawa dari base camp -caldera-. Itupun untuk minum, masak, dan cuci peralatan makan.

Hal yang cukup merepotkan di pagi hari di tempat yang tidak ada air adalah -sebenernya mungkin terlalu 'vulgar' untuk menceritakan ini, tapi kayanya sayang kalo nggak diceritain, seru banget sih, hehehe- memenuhi panggilan alam. Gue sudah berusaha menahan diri. Tapi apa daya perut terlanjur protes. Akibatnya, gue langsung mengambil senter untuk mencari koordinat yang pas. Akhirnya, lega juga. Lain lagi cerita Febri, ketika melewati 'dapur', dia diminta untuk melakukan sesuatu. Tapi dengan tangkas dia langsung menepis request itu dan berlari mencari koordinat juga. Yang lainpun segera mengerti dengan apa yang barusan terjadi, hahaha. Di kelompok lain juga terjadi hal yang sama. Ada Nyanyo dan Pak Wahyu yang juga berlomba mencari koordinat di gelapnya pagi. Nyanyo mungkin menjadi salah satu peserta outbound terajin karena dia menggunakan golok untuk mengubur sisa-sisa kehidupannya. Dan goloknya... ah... sudah lah, terlalu dalam untuk dibahas, hahaha...

Sekitar pukul tujuh, setelah makan dan bebenah -tas, tenda, matras, dan sleeping bag- kami berkumpul semua -semua tim- untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini adalah pencarian azimut dengan kompas. Kami diberi dua puluh lima azimut untuk mencari target akhir. Sebuah saung di atas kolam yang dialiri air yang begitu menyegarkan. Setiap tim dibekali dua buah kompas dan secarik kertas dimana tersimpan kedua puluh lima azimut yang harus kami temukan.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak selama kurang lebih setengah jam. Akhirnya kami tiba di sebuah 'pasar air'. Pasar air adalah pasar kaget yang menjual air mineral -isi ulang- dengan harga empat ribu dolar caldera per botol ukuran satu setengah liter. Mahal! Tapi tak ada pilihan. Karena itu adalah sumber kehidupan kami. Di tempat ini, berkuran glagi salah satu Badakers, Mba Valy, karena ada keperluan di Jakarta. Perjalanan dilanjutkan dengan alat transportasi darat, mobil bak. Tapi itu tidak diperoleh secara gratis. Kami harus membayar dua puluh ribu dolar caldera. Tapi kami beruntung memiliki ibu-ibu yang pandai menawar, terutama Femmy. Perjuangannya untuk mendapatkan harga miring sungguh fantastis. Ketika kelompok lain tetap membayar dua puluh ribu, kami 'hanya' membayar lima belas ribu. Akhirnya kami pun menggunakan transportasi darat menuju titik awal pencarian jejak.

Pada pencarian titik A, Donny dan Febri bertugas sebagai explorer yang mencari target -kertas kotak kecil berwarna ungu yang menempel di sebuah pohon-. Setelah ditemukan, semua tim pun menyusul ke titik A. Pada pencarian titik B, terjadi kesalah pahaman. Donny melihat sebuah kertas di pohon. Semua tim pun beranjak dari titik A menuju titik B. Namun ternyata kertas yang dilihat Donny milik kelompok lain. Akhirnya gue dan Donny kembali mencari titik A untuk memulai lagi pencarian titik B. Sementara itu, yang lain masih mencoba mencari-cari di sekitar ditemukannya 'salah kertas' tadi. Dalam pencarian titik B ini, gue sempat jatuh terjerembab karena kaki gue masuk lubang yang tidak kelihatan di tanah miring. Untung lah tanah miring itu tidak terlalu tinggi sehingga tangan yang mencoba menahan dada ketika terjatuh tidak terlalu sakit. Tapi tetap saja sakit itu cukup menggangu perjalanan.

Mulai pencarian titik C, kemampuan Esti menggunakan ajian mata elang sangat membantu pencarian kertas ungu itu. Dalam jarak yang cukup jauh -mungkin lebih dari lima puluh meter, atau bahkan seratus meter lebih-, dia dapat melihat target. Luar biasa! Makan apa sih ini anak. Matanya kok bisa tajam banget. Puncaknya adalah menjelang akhir. Sebelum kompas mendekat ke mata gue, dia sudah teriak, "Woi... ketemu!!!" Gila ini anak. Gue belum 'nembak', dia sudah nemuin duluan. Wah... pokoke T-O-P-B-G-T deh si Esti.

Di bawah titik terakhir, ada kolam yang airnya sungguh menyegarkan. Kami beristirahat di kolam tersebut. Gue membasahi tangan, kaki, muka, dan kepala. Swueger!!! Ternyata pencarian jejak ini bukan game terakhir. Setelah menyegarkan diri, kami bermain spider web. Itu lagi-itu lagi. Sudah lebih dari tiga kali gue mengikuti game seperti ini. Sebenernya bosen juga sih. Tapi kalo berhasil melewati tantangan ini, kami diiming-imingi uang sebesar tujuh puluh lima ribu. Lumayan buat tabungan, hehehe.

Hari itu hari jumat. Masih ada setengah jam untuk menuju perkampungan terdekat yang ada masjidnya. Setengah jam kami berjalan, ternyata yang kami temukan bukan masjid, tapi sebuah madrasah. Dan untuk menuju masjid, kami masih harus berjalan setengah sampai satu jam. Kalaupun berangkat, mungkin solat jumat sudah selesai. Akhirnya, kami para lelaki muslim solat duhur dan asar bersama di madrasah itu sementara yang lain menyiapkan makan siang, nasi dan mie -lagi?-.

Perjalanan berikutnya, kami menggunakan transportasi darat kembali. dan seperti biasa, sang penawar dari tim Badak, Femmy, berhasil membayar lima belas ribu dari harga yang sudah dipatok, dua puluh ribu. Kami berangkat menuju 'pelabuhan', transportasi terakhir menuju base camp. Dan di sini, sang penawar juga berhasil menego harga lagi. Sebenernya, kalau air sungainya berlimpah, perjalanan ini dapat disebut sebagai rafting. Tapi sayang, sungai sedang kering. Kami lebih banyak mendayung daripada bertualang menaklukan jeram. Instruktur berkali-kali turun dari perahu karena perahu nyangkut di antara bebatuan.

Ternyata perahu bukanlah transportasi terakhir. Dari 'pelabuhan' kami masih harus menggunakan transportasi darat lagi menuju base camp yang sebenarnya. Kami merupakan tim pertama yang berangkat menuju base camp kembali. Kami turun di tengah jalan dan kemudian meneruskan perjalanan melewati jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Ketika sampai di base camp, ternyata ada kelompok lain yang sudah sampai di base camp. How Come? Kami berangkat duluan dari pelabuhan. Ternyata mereka diantar sampai depan base camp. Sementara kami diturunkan di pinggir jalan dan harus melewati jembatan gantung. Damn! Inikah penghargaan terhadap tim yang seharusnya sampai base camp duluan?

Lelah! Seru! Itulah rasanya. Untunglah malamnya tidak ada acara lagi. Hanya makan malam, kambing guling, kue putu, kelapa muda, dan jagung bakar -yang gagal keluar karena orangnya sudah pada tidur-. Biasanya gue kalo makan dikit. Tapi malam itu, adalah malam pembalasan. Gue beberapa kali bolak balik menuju meja hidangan mencoba semua menu yang disediakan. Ah... kenyang sekali!!!

Bersambung...

Thursday, August 09, 2007

Usang

Lembaran itu telah usang
menyisakan kisah indah
dan terselip goresan duka

Tidak...
bukan terselip
tapi menghantui

Entah mengapa begitu sulit
melipat lembaran usang itu

Perlahan mengusik
ketika membuka lembaran baru

Atau...
kubakar saja lembaran itu

Tapi...
terlalu indah untuk dibakar
meskipun harus dibayar dengan luka

Tuesday, August 07, 2007

Oleh-oleh dari Citarik [1]

Out bound = out of boundaries

Itulah asal kata outbound. Keluar dari lingkungan kebiasaan. Sebenernya outbound bisa dilakukan dimana saja. Tapi untuk sebagian orang sepertinya outbound sudah terlalu identik dengan bertualang ke alam bebas semacam pantai, gunung, bukit, ataupun alam bebas lainnya. Kemarin, selama tiga hari, dari Kamis sampai Sabtu, gue mengikuti acara outbound yang diadakan kantor. Acara ini merupakan salah satu sarana untuk team building sebelum menjalankan sebuah project.

Kamis pagi, rombongan berangkat menuju Citarik. Siangnya, rombongan sampai di tujuan. Acara pertama adalah makan siang (pasti dong). Setelah makan siang, kami dibagi menjadi tiga kelompok, Badak, Cheetah, dan Elang. Tiap kelompok diberikan uang sebesar lima ratus ribu dolar caldera. Uang itu digunakan untuk membelanjakan perlengkapan selama menginap di hutan. Perlengkapan yang dijual beraneka ragam dari mulai tenda, sleeping bag, sampai urusan logistic seperti mie instan, telor, beras, dan sebagainya. Perlengkapan yang dibeli para Badakers dapat dilihat di sini.


Ayo belanja...

Sore harinya, petualanganpun dimulai. Semua HP dan dompet diminta dikumpulkan oleh fasilitator. Sepertinya perjalanan kali ini akan menjadi perjalanan pertama gue tanpa alat komunikasi yang bernama HP itu. Ditambah lagi, gue akan menginap di hutan. Benar-benar jauh dari peradaban. Kami menelusuri jalan setapak yang berkelok-kelok dan menanjak menuju hutan tempat kami menginap. Hutan Balata. Itu nama hutannya. Perjalanan menuju hutan tersebut cukup memakan waktu. Kami tiba di sana setelah satu jam berjalan. Tentu saja bukan seperti satu jam jalan-jalan di mall, tapi satu jam yang dipenuhi dengan pendakian.


Mejeng dulu sebelum berangkat ke hutan

Sesampai di Balata, kami mendirikan tenda. Jarak antar kelompok mungkin sekitar seratus meter. Kelompok gue mendapat view paling bagus (menurut gue). Soalnya gue dapetnya di sebelah jurang, jadi pemandangannya seru abis. Apalagi suara monyetnya rame banget (monyet
beneran lho). Tidak ada acara besar di malam harinya. Setelah mendirikan tenda dan memasak mie instant + kornet dengan bumbu rahasia ala Kelompok Badak (katanya kembali ke alam, tapi makanannya kok ya instant semua ya, hehehe...), fasilitator hanya mengumpulkan kami untuk mereview perjalanan sore tadi menuju gunung dan mengambil insightnya.


Senja di Balata

Malam itu, Ketua Badak, Pak Setia, pulang ke Jakarta. Beliau meninggalkan anak-anaknya, gue, Febri, Donny, Sulkhan, Esti, Mba Valy, Femmy dan menunjuk Febri menggantikan posisinya. Acara malam hanya diisi obrolan malam para Badakers. Kehangatan dalam kebersamaan itu mengusir hawa dingin yang memang belum terlalu dingin itu (ceile... bahasanya...). Ketujuh Badakers itu tidur di tiga tempat. Para cewe tidur di tenda cewe. Sulkhan tidur dengan sleeping bag dengan alasan suka berlatih kungfu kalo lagi tiduran. Sementara sisanya tidur di tenda cowo. Eh, tunggu dulu deh. Emang tenda cewe sama tenda cowo itu beda ya? Pasti beda. Soalnya tenda cewe itu ditempatin cewe, tapi tenda cowo ditempatin cowo. Iya kan? Nggak penting banget sih :p

Bersambung...

Nulis cerita outbound

Pengen nulis cerita outbound kemarin, abisnya seru banget sih.
Tapi males...
Tunggu ya, sampe batas waktu yang tidak ditentukan

Golput

Besok gue ikutan liburnya aja ah... tapi nggak ikut nyoblos buat pilkada DKI. Mau tahu alasan gue kenapa mau liburnya aja dan memutuskan nggak ikut nyoblos? Itu karena gue warga Depok yang kerja di Jakarta coy, bukan warga DKI. Makanya gue nggak ikutan nyoblos, hahaha...

Wednesday, August 01, 2007

Early Weekend

Yuhuu!!! Hari ini merupakan weekend buat gue. Soalnya besok nggak kerja. Besok sampe sabtu "jalan-jalan" ke citarik setelah dua setengah minggu training SAP-HR. Tapi Senennya ujian euy...

Work Hard!
Play Hard!
Sleep Hard!

Ganbatte!!!

Menghajar Fantasi

Entah kenapa hari ini hasrat untuk menghajar fantasi begitu dahsyat. Mungkin karena fantasi-fantasi itu begitu telaten menggodaku. Fantasi-fantasi itu terus menantangku untuk melakukan sesuatu yang dia tahu aku tidak mampu. Lambat laun, tantangan-tantangan itu mengikis habis benteng kesabaranku hingga kuingin menghajar fantasi-fantasi itu. Ya! Menghajar fantasi! Tapi aku tak tahu bagaimana melakukannnya.

Tuesday, July 31, 2007

Berpasang-pasangan

Bulan ini gue mendapat enam undangan pernikahan, Teddy, Kiki, Afifi, AA, Mba Vera, dan Selly. Dari keenam pernikahan itu, cuma pernikahan Teddy dan Mba Vera yang gue hadiri. Kiki berbarengan dengan Teddy. Afifi ngadain acara di luar Jakarta, yaitu di Padang. Begitu juga dengan AA, di Palembang. Sementara pada saat pernikahan Selly, gue sedang berada di RS International Bintaro menjenguk Obeng yang sedang dirawat karena operasi usus buntu.

Selain itu, sekarang gue juga tercatat sebagai salah satu panitia pernikahan sepupu gue bulan depan. Umm... kayanya banyak banget undangan yang gue dapet bulan ini. Dalam setiap undangan, hampir tertulis sebuah ayat dari Al Quran yaitu surat ArRum ayat 21 yang isinya tentang penciptaan manusia yang berpasang-pasangan. Terkadang gue setuju dengan isi ayat itu, tapi terkadang gue juga menolak.

Setiap manusia sudah diciptakan berpasangan, tapi kenapa masih ada yang dapat double, atau bahkan lebih? Apakah two in one, three in one, and four in one termasuk sepasang? Karena menurut gue yang namanya sepasang itu one by one. Jumlah dari sepasang adalah 2. Atau mungkin, four in one itu dianggap sebagai empat pasang meskipun secara fisik jumlahnya lebih kecil dari 2n. Jadi, pola pikir dudul seperti inilah yang membuat gue terkadang kurang bisa menerima konsep berpasang-pasangan.

Selain rumusan 2n untuk konsep sepasang, hal lain yang membuat gue kurang setuju dengan konsep berpasang-pasangan adalah pola berantai. Dalam kasus umum, jika a maka b dan jika b maka a, maka a identik dengan b. Dengan kata lain, a merupakan pasangan dari b. Namun dalam kehidupan sebenarnya, terutama untuk sebuah proses perjuangan, hukum tersebut tidak berlaku mutlak. Terkadang terjadi hubungan jika a maka b, jika b maka c, jika c maka d, dst... Dalam hal ini, tidak pernah tercipta sebuah hubungan dua objek yang saling berpasangan. Yang ada adalah hubungan yang bertepuk sebelah tangan ataupun hukum karma.

Hubungan yang bertepuk sebelah tangan terjadi pada hubungan yang positif sementara hukum karma terjadi pada hubungan yang negatif. Terkadang, ketika seseorang (a) menyukai orang lain (b), orang tersebut (b) tidak sama-sama menyukai. Tetapi orang tersebut (b) justru menyukai orang lain lagi (c). Hubungan seperti inilah yang biasa disebut dengan hubungan bertepuk sebelah tangan. Ketika seseorang (a) menyakiti orang lain (b) dan orang lain (b) tidak mampu untuk membalas menyakiti orang itu (a), terkadang akan ada orang lain (c) yang akan menyakiti orang itu (a). Inilah yang biasa disebut dengan hukum karma.

Dua konsep tersebutlah yang terkadang menjegal masuknya konsep berpasang-pasangan dalam kehidupan ke dalam pemikiran gue. Tapi... kalo dipikir-pikir lagi, kedua konsep tersebut ternyata merupakan dua konsep yang saling melengkapi. Jadi nggak salah juga kalo gue sebut kedua konsep tersebut merupakan pasangan yang serasi. Jadi meskipun seseorang tidak / belum memiliki pasangan, pada hakikatnya bisa saja dia sudah dipasangkan dengan sepasang takdir yang saling melengkapi.

Argh... kenapa gue jadi merasa hidup ini nggak adil ya? Nggak boleh gitu kan? Akhirnya gue sendiri jadi bingung dengan pemikiran gue sendiri. Mungkin gue kebanyakan mikir. Tidur aja kali ya, biar nggak pusing mikirin pemikiran yang nggak perlu dipikirin.


===
Isi di luar tanggung jawab penulis. Jangan jadikan tulisan di atas sebagai pedoman hidup. Bila kebingungan berlanjut setelah membaca tulisan di atas, segera hubungi psikiater anda.

Monday, July 30, 2007

Futsal vs Outbond

Pagi tadi, gue ngirim info ke milis mengenai jadwal futsal sabtu untuk nanti. Tidak lama kemudian, gue buka outlook dan dapat email yang isinya undangan outbond dari hari kamis sampai sabtu. So, untuk futsal sabtu depan gue cuma berpartisipasi ngirim undangannya aja, tapi nggak ikutan futsalnya, hehehe... Nitip gol yang banyak ya...

Monday, July 23, 2007

Futsal

Sudah beberapa minggu ini, gue mulai rutin bermain futsal di sabtu pagi / siang. Dampaknya, kalo pas hari sabtu belum booking lapangan dan gue ajak anak-anak maen di lapangan BNI, sekarang jadi nggak ada yang ngerespon. Sibuk apa belagu ya, hehehe... Mentang-mentang sudah kenal sama lapangan futsal jadi nggak mau lagi maen di lapangan bebas.

Tapi sayang selama ini hanya mencoba Metro Futsal di daerah Pondok Indah. Padahal dari hasil browsing, gue menemukan beberapa lapangan yang layak untuk dicoba. Berikut ini daftar lapangan futsal yang diambil dari Makara Futsal Club (di situs ini lengkap dengan fotonya)

Futsal City
Jl. Raden Inten II No. 46, Duren Sawit, Jakarta Timur 13440
021-8626087
4 Artificial grass
Rp. 100.000 - 200.000 (Mar ‘07)

Indo Futsal
Jl. Palmerah Barat No. 4, Jakarta Pusat
021-5483311 dan 021-68711653
2 Artificial grass
Rp. 110.000 - 250.000 (Mar ‘07)

The Planet Futsal
Klub Rasuna, Jl. HR Rasuna Said Cav C-22, Jakarta 12920
021-70995456
2 Artificial grass
Rp. 100.000 - 300.000 (Mar ‘07)

The Planet Futsal
Jl. Raya Serpong Km 7, Kompleks Multi Guna Blok B2 No. 8, Tangerang
021-5398234
4 Artificial grass
Rp. 125.000 - 300.000 (Mar ‘07)

The Planet Futsal
Jl. Danau Sunter Barat, Blok A4 No. 8-10, Jakarta Utara
021-65831072 dan 021-65831073
4 Artificial grass
Rp. 100.000 - 300.000 (Mar ‘07)

The Planet Futsal
Kompleks AXC Gd. E, Jl. Boulevard Raya No. 1, Kelapa Gading, Jakarta Utara
021-45842594
3 + 1mini Artificial grass
Rp. 60.000 - 300.000 (Mar ‘07)

Senayan Trade Center
Jl. Asia Afrika Pintu IX, Gelora Senayan, Jakarta Pusat 10270
021-57932008 ext-270
2 Rubber-Lokasi di Lt. 6
Rp. 160.000 - 285.000 (Mar ‘07) Malam khusus untuk reguler

GOR Pertamina Simprug
Jl. Teuku Nyak Arif, Simprug
021-7261830
1 Papan
Rp. 425.000/2 jam (Mar ‘07)

Hall Voli Senayan
Jl. Asia Afrika (samping hotel Mulia)
021-4734070 ext-258
1 Papan
Rp. 80.000 - 100.000 (Mar ‘07)

The Balls
Jl. Veteran 208A, Jakarta Selatan
021-7378000
3 Artificial grass
Rp. 110.000-220.000 (Apr ‘07)

Metro Futsal (Ini dia lapangan favorit selama ini)
Jl. Tanah Kusir IV No. 36
021-7293366
3 Rubber-(indoor-outdoor)
Rp. 100.000-200.000 (Apr ‘07)

de Futsal
Jl. Prof Dr Satrio No. 78 E, Casablanca
021-57851841 dan 57851842
2 Artificial grass
Rp. 125.000-325.000 (Apr ‘07)

Cosmo Futsal
Jl. Pelepah Raya 31-32 Komplek Gudang Bulog, Kelapa Gading
021-4516124
4 Artificial grass
Rp. 130.000-250.000 (Apr ‘07)

La Futsal
Jl. Cinere Raya F1 No.10B, Cinere, Limo, Depok
021-7548080
2 Artificial grass
Rp. 100.000-200.000 (Mei ‘07)

Monday, July 16, 2007

Training Lagi

Hari ini hari pertama gue mengikuti training. Kali ini gue mengikuti training Functional SAP-HR. Setelah mengikuti training ini, gue langsung dicemplungin ke sebuah Sort Term Project, HR Project. So, kemungkinan gue bakalan jarang ngupdate blog lagi nih. Mau sok sibuk dulu, hehehe...

Thursday, July 05, 2007

PRJ dan Kerak Telor

Semalem, untuk pertama kalinya, akhirnya gue mendatangi PRJ, hehehe... Gue datang bareng Donny, Irma, dan Rahma. Kesan pertama, "Kok PRJ kaya mall berbayar ya". Ternyata emang gue masih berada di mallnya, hehehe.... ndeso... katro... Begitu keluar dari mallnya, baru gue tahu kalo event PRj tahunan itu ada di luar. Ya, ini baru seperti bayangan gue. Stand-stand berjejeran di ruang terbuka.

Makanan yang gue coba untuk pertama kali adalah Kerak Telor. Kesan pertama "Kaya makan beras". Sampai sekarang kesannya juga masih nggak berubah. Pokoke kapok deh makan kerak telor. Udah gitu abis makan kerak telor pake mules segala lagi. Argh... pokoke kapok deh makan kerak telor.

Wednesday, June 27, 2007

Futsal oh Futsal...

Sabtu kemarin, merupakan Sabtu kedua para Saturday Futsal Warrior bermain futsal di Metro Futsal. Dengan semangat yang membara, mereka juga tidak keberatan kalau sekalian membooking lapangan untuk Sabtu depannya. Akhirnya gue pun membooking lapangan tersebut untuk Sabtu depannya.

Tapi ternyata... hari ini gue diminta masuk pada hari Sabtu buat setting layout ruang project. Katanya cuma jadi mandor para OB sih, tapi tetep aja masuk. Hiks... gimana nasib lapangan itu. Gue serahkan sama kalian semua ya... Ayo, siap-siap ganti EO ya, hehehe

Monday, June 25, 2007

27

Salah satu usia penting dalam kehidupan manusia adalah 27. Pada saat itu, manusia akan mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Lihat saja Jimmy Hendrik, Kurt Cobain, Sukarno.

Sukarno memutuskan untuk melanjutkan hidup untuk memperjuangkan kemerdekaan negaranya dengan membentuk partai. Cobain memutuskan untuk mengakhiri drama kehidupannya setelah apa yang dia lewati dan dia dapatkan. Hendrik? Gue nggak tau, soalnya kemarin Yusuf nggak ngasih bocorannya sih, hehe...


===
Diambil dari film "3 Hari Untuk Selamanya"
Yusuf adalah salah satu pemeran utama dalam film tersebut

Friday, June 22, 2007

Mengapa Donor Darah

Kemarin adalah kali ketiga aku melakukan donor darah. Ketika sedang menunggu antrian, aku berbincang-bincang dengan salah satu calon pendonor. Salah satu obrolan yang dia layangkan adalah:
"Enak ya PMI, darahnya ambil gratis dari kita. Tapi nanti dia jual ke orang yang butuh. Untung gede banget kan? Pantesan aja di sana PMI punya rumah sakit sendiri."

Kalau dilihat sepintas mungkin memang benar. Tapi apa iya sih bener-bener gratis? Setidaknya ada beberapa kebutuhan-kebutuhan pendukung untuk mengumpulkan darah itu.
1. Perlalatan donor seperti misalnya kantong darah, alat suntik, dan alat-alat donor yang lain.
2. Transportasi
3. Sarana penyimpan darah. Kayanya nggak mungkin kalau darah-darah yang sudah dikumpulkan itu disimpan di box seperti yang digunakan orang di pinggir jalan buat jualan minuman dingin. Tinggal beli es batu buat mendinginkan darah. Takutnya ntar banyak drakula yang haus datang dan membeli minuman dingin itu.

Masalah berapa biaya yang dihabiskan PMI buat mengumpulkan dan menyimpan darah, berapa biaya administrasi yang dihasilkan PMI untuk mendistribusikan darah, aku nggak peduli. Lalu, apa alasan aku mau mendonorkan darahku? Aku mau mendonorkan darahku supaya keluarnya darah yang aku donorkan dapat memancing regenerasi sel-sel darahku. Dengan begitu, regenerasi dan sirkulasi darahku menjadi lebih baik lagi. Bukankah itu bagus buat kesehatanku?

Lihat kan? Pendonor darah itu tidak selalu orang yang peduli pada sesama, tapi ada juga pendonor yang egois, hehehe...

Wednesday, June 20, 2007

Pekan Raya Jakarta

Hampir tujuh tahun gue tinggal di Jakarta. Sudah tujuh kali PRJ diadakan sejak gue tinggal di Jakarta. Tapi belum sekalipun gue datang ke acara tersebut. Apalagi, dua tahun ke belakang, gue tinggal di Sumur Batu, Kemayoran, yang merupakan tetangga dekat tempat digelarnya PRJ.

PRJ itu kaya apa sih? Tempatnya di mana sih? Ada apa aja sih? Penasaran! Pokoke PRJ kali ini gue harus datang!

===
Di sekitar asrama UI itu ada tulisan kalo ini wilayah Jakarta Selatan lho. Berarti selama satu setengah tahun itu, gue dihitung tinggal di daerah Jakarta kan?
~nggak penting banget :p

Bangga dan Prihatin

Sebuah berita bahagia datang setelah masa pengumuman kelulusan siswa SMU. Sekitar 350-an siswa SMU di sekolah itu lolos dari maut. Mereka mendapatkan predikat "lulusan SMU". Tidak ada satupun siswa yang tidak mendapatkan predikat itu. Luar biasa! Sungguh prestasi yang sangat pantas dibanggakan.

Namun ternyata dibalik kebanggaan itu, terselip sebuah keprihatinan. Sebagian besar siswa yang lulus itu, hampir enam puluh persen, ya, enam puluh persen, menggunakan cara yang tidak jujur dalam menjalankan ujian.

Mereka menggunakan fasilitas HP (handphone) untuk saling mengirim jawaban di saat ujian berlangsung. Begini cara kerjanya.............

Untuk setiap mata pelajaran yang diujikan, dipilih satu sampai 3 orang yang dijadikan server (pusat jawaban - siswa cerdas yang dianggap mahir dalam pelajaran itu). Seorang server dipinjami HP (bagi yang blom punya)+pulsa+sejumlah uang (jumlahnya yang terjadi bisa menembus angka Rp 500.000)

Pertama, server itu wajib mengirim sms jawaban ujian ke masing2 subserver yang ada di masing-masing ruang ujian, untuk kemudian disebarkan ke seluruh siswa (yang menghendaki sms jawaban). Bagi yang tidak menghendai mencontek, silakan diam, dan jangan bersuara, yang bisa berakibat fatal.

Kedua, server pergi minta izin untuk keluar menuju ke toilet, dan di sana sang server menuliskan jawaban di sehelai kertas yang ditempel di dinding toilet bagian dalam, untuk kemudian masing-masing subserver dari tiap ruangan juga minta izin ke toilet untuk menyalin kunci jawaban.

Dan yang menjadi tambah prihatin adalah jawaban itu tidak hanya diberikan untuk kalangan satu SMA, tapi menyebar ke SMA-SMA lain.

Strategi ini telah dirapatkan secara massal oleh 60% siswa tadi di aula yang dikoordinasikan oleh salah satu siswa yang dianggap sebagai Jenderal Koordinator. Kira-kira, hal itu dilakukan satu bulan sebelum Ujian Nasional, tapatnya dari mulai pra UAN Sekolah sampai pra UAN tingkat Kota.

Entah kenapa, strategi macam ini sukses besar dalam pra UAN tingkat Sekolah, sehingga strategi ini terus dilakukan dari Pra UAN tingkat kota hingga ujian Sekolah. Allahu A'lam, kenapa tak urung terbongkar.

Mendekati ujian nasional yang sebenarnya, kira-kira dua hari, diadakan rapat besar lagi untuk memantapkan strategi contek-mencontek ini. Setelah dikira sangat solid, mereka sepakat untuk melakukannya saaat ujian.

Memang,kata-kata yang terucap dari siswa-siswa yang ikut dalam "Cara Sukses Meluluskan Angkatan 2007 100%" terdengar sangat mulia. Mereka berkeinginan agar tidak ada satu orangpun dari temannnya satu angkatan yang tertinggal, dalam artian harus mengulang palajaran tahuan berikutnya.

Tapi, saya sempat bertanya kepada salah seorang subserver, tentang cara yang dilakukannya yang menyalahi aturan, terlebih lagi menggunakan cara-cara kotor seperti sms, ataupun yang lain. Jawabnya enak saja,"Yang penting lulus semua. Kamu pengin kalo kamu lulus tapi temanmu gak lulus?"
Astaghfirullaah.......

Speechless! Itulah respon saya sesaat setelah membaca berita tersebut di milis.
Luar biasa! Melihat keberhasilan siswa-siswa tersebut.
Prihatin! Melihat kondisi siswa-siswa dalam mencapai tujuan yang mulia itu.

Inikah pola pikir yang terbentuk ketika materi sudah menjajah dunia? Penjajahan itu telah menebarkan rasa takut di mana-mana. dan ketakutan itu tidak memandang bulu ketika akan menghinggapi korbannya.

Siswa mana yang tidak takut tidak lulus ujian. Malu, karena teman-temannya dapat berbangga-bangga ria, sementara dia harus meratapi nasibnya yang harus ditentukan melalui ujian kejar paket. Selain dibayar dengan malu, tentu ada waktu yang juga harus dikorbankan. Bagi siswa yang luluspun, tentu tidak akan rela jika temannya 'diperlakukan' seperti itu oleh takdir. Kalaupun satu-satunya cara yang ampuh untuk menolak kedatangan takdir itu tidak lazim, tak apalah. Yang penting kita lulus bersama. Bersama Kita Bisa!

Ketidaklulusan akan menjadi 'aib' bagi sekolah (tentu saja selain bagi siswa yang tidak lulus). Bagaimana tidak, tingkat kelulusan mungkin menjadi salah satu faktor yang 'menjual' sekolah itu. Apa jadinya jika setiap tahun ada yang tidak lulus dan jumlahnya juga bertambah. Orang tua mana yang tetap mempercayakan anak-anaknya untuk disekolahkan di tempat seperti itu. Tapi sungguh ironis jika sebuah lembaga pendidikan berdiam diri dengan kondisi yang sudah separah itu.

Wahai para siswa, guru, dan pengelola sekolah. Di manakah hati nurani itu? Ah... mungkin dengan pekerjaan yang bakalan mereka peroleh, dengan uang yang bakalan mereka dapat, mereka pikir bisa membeli hati nurani yang pernah mereka jual. Bahkan kalau perlu, lebih dari satu yang mereka beli. Supaya kalau dibutuhkan, masih ada hati nurani yang bisa dijual demi tujuan mereka.

Salut dan selamat kepada para siswa, praktisi pendidikan, yang senantiasa menjaga kejujuran dan berhasil lulus dan meluluskan dengan cara yang elegan.

===
Nulis kaya gini, gue lagaknya kaya orang yang punya hati nurani banget ya... :p
Emang sih gue pernah ngasih contekan waktu ujian, tapi itu kan untuk melatih skill gue dalam 'menjaga rahasia', supaya nggak ketauan guru pengawas, hehehe...

Tuesday, June 19, 2007

Futsal vs Funbal

Sabtu kemarin adalah kejadian pertama kali dalam sejarah para Saturday Futsal Warrior bermain bola di lapangan futsal beneran. Biasanya susah banget kalo diajak maen di lapangan beneran. Tapi minggu kemarin beda. Bukan sekedar lapangan rumput dengan sandal-sandal sebagai gawang, hahaha... Dan futsal kemarin juga bukan sekedar olah raga, tapi juga merupakan olah jiwa. Olah jiwa, karena kami para pemain futsal juga turut berpartisipasi dalam penggalangan dana bersama untuk sesama. Hebat! Coba saja setiap futsal ada kegiatan seperti itu. Kalaupun tidak langsung digunakan, dapat dijadikan sebagai kas. Ya kan?

Sebenernya lapangan futsalnya lebih kecil dari lapangan BNI ataupun lapangan rektorat. Harusnya badan sudah terbiasa. Tapi besok paginya badan jadi pegel-pegel. Sekarang juga masih terasa. Kurang pemanasan kali ya. Biasanya kan maen jam dua-an, futsal kemarin maen jam sebelas-an. Jadi mungkin kurang 'panas', hahaha...

Monday, June 18, 2007

Katak Dalam Blender

...

"Kadang-kadang, jika anak-anak datang ke unit ini, mereka pikir pasti mereka telah melakukan kesalahan dan meninggalkan keluarga untuk datang ke rumah sakit adalah hukuman bagi mereka. Penting untuk memahami bahwa ini tidak benar. Kamu tidak datang kemari karena kamu telah melakukan suatu kesalahan..."

"Ya, aku pernah," ia berseru dengan suara yang biasa, nyaris tanpa malu-malu. Ia tidak memandangku.

"Jadi menurutmu, kamu datang kemari karena kamu pernah melakukan suatu kesalahan?"

"Aku memasukkan katak ke dalam blender! Wrrr!" Ia mengulurkan tangannya dan dengan jarinya menekan tombol khayalan. "Seperti yang akan kulakukan sekarang dengan boneka ini. Ini blender," katanya, menunjuk pada ruang kosong di atas meja. Ia memegang boneka itu dengan terbalik pada kakinya dan merendahkannya agar masuk ke dalam blender khayalan. "Wrrr! Ini memotong-motongnya. Lihat darahnya. Semuanya berlumuran darah. Wrrr!"

Ia memandangku dengan riang. "Dan sekarang aku akan membuka tutupnya. Wrrr! Darah memercik padamu! Sekarang kamu bersimbah darah. Ha-ha-ha-ha!"

Ooo. Aku duduk bersandar. Aku kini lebih memahami apa yang dimaksud Earlene Baker dengan perilaku Cassandra yang "menyeramkan".

"Kubuka lagi tutupnya. Blender masih berputar. Wrrr! Darah dan isi perutnya berhamburan ke mana-mana. Ke seluruh tubuhmu. Byur!" Cassandra melemparkan boneka itu ke udara dan membuat gerakan-gerakan serabutan dengan tangannya untuk menunjukkan semburan.

....

===
Diambil dari novel "Cassandra, Amarah Anak-Anak Sunyi", halaman 92-94.

Thursday, June 14, 2007

Demam Berdarah

Seumur-umur, aku baru pertama kali dirawat inap di rumah sakit. Itu terjadi ketika aku masih TK. Aku terkena Demam Berdarah (DB).

Aku sedih banget. Harus masuk rumah sakit. Tidak bisa main bersama teman. Hanya tiduran di rumah sakit. Apalagi, pada saat itu sekolah sedang mengadakan acara piknik. Aku sedih banget. Tidak bisa ikut teman-teman sekolah berpiknik ria. Aku cuma bisa berbaring lemas, ditemani oleh ibu.

Sepulang dari rumah sakit, aku senang sekali. Bukan hanya karena dapat menghirup kebebasan lagi. Tapi juga karena orang-orang berdatangan menjengukku dan membawa oleh-oleh yang sebagian besar adalah jajanan favoritku. Kapan lagi jajan menumpuk di rumah. Tapi tetap saja aku belum dapat langsung menikmati jajan-jajan itu karena masih belum ada mood buat memakannya.

Saat itu, aku belum tahu, berapa harga yang harus dibayar untuk jajan-jajan itu. Mungkin sekarang aku baru sadar. Ibu harus membayarnya dengan perhatian yang luar biasa. Menjagaku sepanjang waktu di rumah sakit. Lelah, gelisah, harus ibu rasakan untuk menjagaku.

Terima kasih ibu.

Wednesday, June 13, 2007

Ketabrak motor

Pitak-pitak yang menghiasi kepalaku mungkin tidak terlihat sekarang. Selain sudah lama, sekarang aku juga rajin memelihara rambut sehingga pitak-pitak itu tak terlihat (jadi kalian tahu kan kenapa aku suka nggondrongin rambut, hahaha...). Tapi dulu pitak-pitak itu cukup terlihat. Kalau tidak salah, di kepalaku ada tiga pitak. Semua itu sama penyebabnya, ketabrak motor. Meskipun ada tiga, namun kejadian yang aku ingat cuma dua. Keduanya terjadi ketika aku masih sekolah di TK.

Kejadian pertama adalah sewaktu aku pulang dari sekolah. Ketika sedang berjalan di pinggir jalan, tiba-tiba ada motor yang nyerempet dan aku terjatuh. Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu aku masuk rumah sakit dan mendapat jahitan di kepala.

Kejadian yang kedua adalah sewaktu aku sedang bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Ketika aku sedang bermain, tiba-tiba ada pengendara motor yang membawa motornya 'melompat' dan mengenai badanku. Ternyata itu adalah tetangga yang sedang belajar motor. Akibatnya, aku harus menerima jahitan lagi di kepalaku. Bekas-bekas jahitan itulah yang akhirnya menjadi pitak di kepalaku. Tapi... yang satunya karena apa ya? Benar-benar lupa euy. Masa dijitak setan sih?

===
Aku menulis ini sambil meraba-raba kepala untuk menemukan peninggalan sejarah itu. Sekarang cuma nemu satu. Yang lain kemana ya?

Soulmate

Hari Minggu yang lalu (minggu apa senen ya?), gue nonton film di Indosiar. Judulnya Soulmate alias Belahan Jiwa. Menurut gue filmnya bagus. Layak tonton lah. Bintang-bintangnya juga ok. Dian Sastro, Marcella Zalianty, Rachel, Dinna Olivia, dan satu lagi lupa, hehe...

Membawa tema persahabatan yang intim, ceritanya nggak membosankan. Tapi... di akhir cerita, pas Dian meninggal, gue jadi ill feel. Bukan karena matinya Dian. Tapi karena ceritanya itu mirip dengan buku yang pernah gue baca, Sybill. Bedanya kalo Sybill happy ending, Soulmate sad ending. Yah... kok 'nyontek' sih. Entah kenapa meskipun gue seneng aja nonton filmnya, tapi tetep ada rasa sebelnya.

Emang beda nyontek sama terinspirasi itu seberapa tipis sih?

Tuesday, June 12, 2007

Minyak Jelantah

Beberapa hari ini Minyak Jelantah lagi jadi biang obrolan. Yup, gara-gara harga minyak goreng yang melambung tinggi, para pedagang kecil-kecilan dari mulai penjual gorengan, sampai penjual nasi seperti warteg, membuat terobosan untuk memperkecil biaya produksi dengan mendaur ulang minyak goreng yang sudah dipakai. Berita-berita seperti ini sering kita jumpai dalam acara-acara berita di televisi maupun di radio.

Dalam salah satu lagunya, sebuah band legendaris dari Indonesia, Koesplus, menuliskan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang makmur. Sawah dimana-mana, hutan berhektar-hektar, kekayaan alam melimpah. Kalau melihat alamnya, mungkin pendapat Koesplus itu benar. Tapi tidak kalo melihat sumber daya lainnya.

Pengeboran minyak ada di mana-mana, tapi harga bahan bakar terus melambung. Kelapa sawit ada di mana-mana, tapi harga minyak goreng terus meroket. Sawah ada di mana-mana, tapi harga beras terus melonjak. Tanya ken... apa...

Kabarnya sih minyak goreng jadi mahal gara-gara stok yang ada dijual ke luar. Alasannya? Pasti duit lah. Kalo jualan di luar lebih mahal ngapain jual di dalam. Kalaupun harga minyak goreng di dalam negeri jadi mahal, toh masih bisa terbeli dengan hasil jualan ke luar (ya nggak?). Terus yang nggak punya duit? Kalo nggak punya duit ya nggak usah nggoreng, rebus aja (gitu kali ya maksud para penjual sinting itu).

Berarti lirik lagu Koesplus masih kurang pas untuk kondisi seutuhnya di Indonesia. Sekarang gue jadi khawatir nih dengan harga garam. Bangsa kita adalah bangsa yang dikelilingi banyak lautan. Seiring dengan semakin memanasnya bumi ini, es di kutub semakin mengikis dan lautan semakin meluas. Laut memang meluas. Tapi itu berarti area daratan akan mengecil yang berakibat berkurangnya ladang untuk membuat garam. Lihat saja, minyak goreng yang stoknya banyak saja semakin mahal. Bagaimana dengan ladang garam yang menyempit? Bagaimana dengan produksi garam yang menurun? Bagaimana dengan kebutuhan garam yang menanjak? Apalagi efeknya kalau bukan naiknya harga garam. Kalau garam begitu berarti dan mahal di luar, kenapa harus dijual di dalam? Jadi... siap-siap saja kalau suatu saat harga garam akan meroket.

Monday, June 11, 2007

Pembantaian

Ujian lisan TCA Jumat kemarin bener-bener jadi ajang pembantaian. Gue bener-bener nggak nyangka kalo bakalan ditanyain definisi dan teori sedetail itu. Gue kan praktisi (ta-e-la-...), jadi ya wajar kan kalo nggak tau banyak soal definisi. Tapi si penguji bilang, orang yang bisa praktek secara langsung, pasti bisa menjelaskan pekerjaannya secara teori. Argh... jadi males ngomongin ini. Seperti gue bilang sebelumnya, kerjaan gue sekarang kan praktisi. Kalo ditanya soal teori, dulu gue nggak ngerti, sekarang dah lupa :))

Tour de Bekesong

Tour kali ini bukan perjalanan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata baik itu wisata kuliner, wisata alam, atau wisata-wisata yang lainnya. Tour kali ini merupakan perjalanan pendek menuju Bekasi untuk melihat keponakan baru kami yang baru berumur beberapa hari dan baru sampai di rumahnya, Arsyada Daffa Erlangga, putra pertama dari Arya dan Ninis.

Kami berangkat dari Depok sekitar pukul sepuluh dan sampai ke rumah Arya sekitar jam satu. Depok - Bekasi tiga jam? Pasti pada heran. Tadinya kami mau mencari ATM dan kemudian mampir ke rumah kakaknya Abiep. Setelah muter-muter di daerah Bekasi, ternyata di tengah perjalanan Abiep berubah pikiran dan langsung menuju ke rumah Arya. Akibatnya kami malah muter-muter dulu di Bekasi.

Ih... lutu deh. Dedenya bobo telus, nggak mau kenalan sama om-omnya yang ndut-ndut dan kulus-kulus ini, hehehe. Selamat ya buat Arya dan Ninis yang sudah diberi kepercayaan oleh-Nya.

Friday, June 08, 2007

Lagi Ujian

Sebuah perusahaan pemesanan dapat menyediakan barang untuk blablabla...

Itulah kira-kira soal ujian sekarang. Pas pertama kali liat soalnya, jadi inget kuliah database waktu semester tiga deh. Nggak jauh-jauh amatlah bedanya. Bikin ini bikin itu terus kumpulin. Mudah-mudahan bisa kelar cepet biar bisa siap-siap jumatan.

Test dan Interview

Wadaw... jangan salah sangka dulu ya. Gue bukan mau test dan interview di perusahaan lain, tapi masih di perusahaan yang sekarang :D

Jadi ceritanya menurut jadwal ntar jam 8 gue ada TCA sampai jam 12 di Pegangsaan. Padahal ini kan hari jumat. Berarti kepotong dong buat Jumatan. Yah sudahlah. Mudah-mudahan bisa kelar sebelum setengah dua belas. Setelah makan siang, sekitar setengah jam gue ada interview untuk mereview TCA yang tadi. Yah... semacam tes lisannya lah. Interview itu mulai jam satu.

Gue masih punya waktu satu jam untuk 'terbang' ke AHTC. Di sana para psikolog sudah menanti gue untuk interview. Kali ini untuk keperluan yang berbeda. Kali ini gue diinterview sebagai 'senior' yang sudah membantu 'mengawal' perjalanan orang-orang training yang sedang berjuang untuk mendapatkan kursi di AHM. Gue diminta untuk menceritakan perkembangan orang-orang training itu ke para psikolog.

Abis itu... masih ada bug report SAP yang masih harus diurus. Tapi... ini kan weekend, nggak baik pulang telat :p

Thursday, June 07, 2007

Kebanggaan

Melihat perkembangan Beckham di timnas Inggris, gue jadi inget sama salah satu film.

Dalam salah satu adegan di film Love Actually (yang dvdnya gue pinjem dari om ndut), Hugh Grant yang berperan sebagai Perdana Menteri Inggris membanggakan negaranya di depan petinggi Amerika dengan mengucapkan : "Inggris. Kami memang negara kecil tapi hebat. Ini negara asalnya Shakespeare, Churchill, The Beatles, Sean Connery, Harry Potter dan kaki kanan Beckham"

Umm... buat orang inggris, banyak banget yang bisa dibanggakan dari negerinya . Tapi kalo gue... kenapa ya, yang ada di pikiran itu pencotekan film alias plagiat, pejabat yang suka makan duit rakyat, dangdut yang fenomenal, pahlawan yang terlantar, timnas sepakbola yang kalo pas gue nonton nggak pernah menang, dan masih banyak lagi yang lain. Rasanya aneh banget kalo gue lagi mengikuti sesi interview di Mister Universe dan mengatakan "Indonesia. Kami adalah negara besar tapi kecil. Ini negara asalnya Edi Tansil, Suharto, Sumanto, Inul, Trio Macan, dan kaki-kaki timnas sepakbola yang jarang manjaringkan gol". Aneh kan?

===
Rasanya gue telat banget deh membahas persoalan kaya gini, hahaha...
Atau malah sudah biasa?
Tanya ken...apa?

Wednesday, June 06, 2007

TCA

Hampir dua tahun gue bekerja di tempat sekarang, baru sekarang ini gue mengikuti TCA (Technical Competency Assessment). Katanya sih TCA ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi para karyawannya. Dan kebetulan sekarang manajemen juga lagi menggodok (atau sudah ya?) mengenai Job Title dan syarat-syarat kompetensinya. Seharusnya sih, masuknya karyawan baru atau pindahnya orang IT dari satu bagian ke bagian lain dalam internal IT diawali dengan TCA. Tapi karena belum memungkinkan, makanya selama ini penempatan hanya berdasarkan 'insting' atasan. Emang nggak nyasar-nyasar amat sih hasilnya.

Tapi ada yang menarik dari TCA ini. Secara struktural, gue ada di Bussiness Monitoring System. Tapi gue dipekerjakan sebagai ERP analyst. Dan sekarang gue mengikuti TCA untuk kompetensi Database Design (bukannya mengenai BI ataupun SW design). Bingung gue...

Nganggur

Sudah sekitar seminggu ini, gue jadi pengangguran. Weitz... tunggu dulu. Gue bukan nganggur beneran. Tapi 'nganggur' karena work load gue sekarang sudah jauh menurun.

Sekitar seminggu yang lalu, gue lepas dari project gue yang sekarang. Praktis sekarang gue 'cuma' pegang SAP-FICO (yang jarang ada kerjaan) dan ngurusin anak-anak yang lagi training (itupun juga sama jarangnya). Untunglah, masih ada kerjaan-kerjaan itu, jadi gue nggak nganggur banget deh :D Hmm... enak banget deh sekarang pulang tenggo terus, hehehe...

Thursday, May 31, 2007

Plan C

Sudah ada dua rencana untuk mudik weekend ini. Plan A adalah menggunakan motor bareng Abiep dan Heheng. Sedangkan Plan B adalah menggunakan bis bareng Abiep. Tapi ternyata, Heheng mendadak mengkonfirmasi kalau dia berhalangan untuk menikuti perjalanan ini karena ada acara di Jakarta pada hari Minggunya. Akhirnya batallah Plan A-nya. Berarti kemungkinan yang ada adalah dengan Plan B. Tapi ternyata, kalau Heheng tidak bisa ikut, Abiep juga tidak bisa ikut (hayoo... mo ngapain nih berduaan... :p). Plan B pun juga gagal.

Mau tidak mau, memang harus ada Plan C. Berangkat sendirian nanti malam menggunakan bus. Ya! Seperti ritual biasanya. Pulang sendiri!

===
Kayaknya ini untuk yang ke sekian kalinya ada temen mau ikut ke Tegal tapi pada akhirnya gue pulang sendirian juga.

Wednesday, May 30, 2007

The True Power of Water

Judul : The True Power of Water
Pengarang : Masaru Emoto
Penerbit : MQ Publishing
Tebal halaman : 192
Tahun : 2006


Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto terhadap air membawa suatu pengetahuan yang dapat merasionalkan anggapan-anggapan yang tadinya hanya dapat dikenal melalui sisi spiritual. Masaru Emoto dan timnya melakukan penelitian bentuk unsur-unsur terkecil air jika dilihat secara detail dengan mikroskop. Hasilnya menunjukkan bahwa air memiliki aneka ragam bentuk. Ada yang acak, ada yang tampak biasa, dan ada yang berbentuk kristal. Kristal yang terbentuk pun bermacam-macam pula.

Percobaan dilanjutkan dengan memberikan perilaku-perilaku yang berbeda terhadap air yang sama. Air yang ditempatkan di gelas dan diberi label "Cinta" akan memberikan bentuk yang berbeda dengan air yang ditempatkan di gelas berlabel "Bodoh". Air yang berlabel "Cinta" akan membentuk kristal yang indah. Sementara air yang lain tidak akan membentuk kristal. Bahkan tidak memiliki bentuk sama sekali alias berantakan. Percobaan tidak hanya dengan kata-kata itu. Kata-kata lain pun dicoba dan memberikan hasil yang serupa. Kata-kata yang baik akan mempengaruhi pola air dalam membentuk kristal. Sementara kata-kata yang tidak baik akan merusak bentuk air.

Selain kata, obyek yang diuji cobakan adalah lagu. Air yang diletakkan dalam ruangan yang diiringi musik classic akan jauh berbeda bentuknya dengan air yang diletakkan dalam ruangan yang dipenuhi nuansa metal dengan lirik-lirik yang keras. Dari percobaan-percobaan ini dapat disimpulkan bahwa air ternyata dapat 'berinteraksi' dengan lingkungan sekitarnya.

Dulu, sewaktu kecil, saya pernah dinasihati oleh orang-orang tua, bahwa sebelum makan, hendaknya kita berdoa dulu supaya makanan kita tidak diambil oleh setan. Pada saat itu, saya tentu saja tidak dapat membantah karena takut makanan saya diambil setan. Seiring perkembangan akal, akhirnya saya mengetahui bahwa dari sisi spiritual hal tersebut memang dianjurkan. Senantiasa berdoa sebelum melakukan sesuatu supaya mendapat kemudahan dari-Nya.

Majunya teknologi akhirnya dapat menjelaskan secara logis mengapa hal-hal tersebut dianjurkan. Kita, manusia, terdiri dari sebagian besar air. Sesuai percobaan-percobaan di atas, kondisi sekitar kita tentu akan mempengaruhi air-air yang menyusun tubuh kita. Respon air pun akan merepresentasikan ke dalam perasaan kita.

Mungkinkah ketika kita mengumpat akan merasakan kedamaian? Umpatan-umpatan yang kita lontarkan akan mempengaruhi air di tubuh kita. Air akan memberikan respon negatif dan meneruskan ke dalam jiwa kita. Aura negatif tersebut lah yang akan kita rasakan. Sebaliknya, jika kita sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran yang penuh dengan kalimat-kalimat indah, mungkin kah kita merasakan kegelisahan? Mungkin saja, jika apa yang kita pikirkan lebih kuat dari yang kita lantunkan. Maka perasaan pun akan terpengaruh dengan apa yang kita pikirkan, bukan kita lantunkan.

Penelitian-penelitian itu tidak hanya membuktikan bahwa air dapat menyentuh perasaan saja. Unsur air dalam tubuh kita ternyata juga dapat memberikan respon yang bagus untuk kesehatan. Dengan menggunakan prinsip air yang 'berakal', muncullah sebuah alternatif pengobatan dalam dunia kesehatan.

Wallahualam.

New Phase

Belakangan ini, aku seperti mendapat sebuah fase baru dimana aku tidak melulu ke Depok dan bermain bola setiap Sabtu :D

Tanpa sebuah rencana yang berbelit-belit, ajakan jalan-jalan ke Bandung awal Mei kemarin seolah membawa sebuah fase baru di mana aku jadi suka sekali menjelajah, menapaki tanah-tanah baru. Dua minggu setelah ke Bandung, seorang teman mengajak untuk menyebrang lautan dan sejenak bersantai di pantai Untung Jawa. Dua minggu berikutnya, muncul ajakan untuk menelusuri jalur pantura menuju Tegal (ini sih bukan tempat baru ya, tapi lebih tepatnya era baru untuk sebuah ritual mudik :D). Dua atau tiga minggu berikutnya lagi, seorang teman yang lain lagi mengajakku untuk menikmati sunrise di Anyer.

===
Mengapa raga ingin berlayar
ketika jiwa ingin berlabuh
Biarlah raga arungi lautan
tapi biarkan jiwa terdekam di dalamnya

Tuesday, May 29, 2007

Mudik Euy...

Jumat ini libur. Dan kebetulan, jumat ini juga merupakan awal bulan yang menjadi 'jadwal rutin' untuk pulang ke kampung halaman.

Awalnya, gue berencana pulang naik bis seperti biasanya. Tiba-tiba Abiep nanyain tentang rencana mudik gue karena berminat untuk menjajaki tanah Tegal. Akhirnya jadilah kami janjian di Kampung Rambutan Jumat pagi. Tapi, belum lama deal dengan keputusan itu, dia sudah menyuguhkan alternatif lain. Dengan mengajak Heheng, dia menawarkan sebuah pilihan yang sulit gue tolak. Ke Tegal naek motor (argh.... pengen...). Akhirnya, jadilah pilihan itu sebagai "Plan A"-nya.

Lihat saja nanti.

Monday, May 21, 2007

Tour de Javanese Luck Island

Maksa banget ya judulnya, hehehe. Maksudnya sih "Menjelajah ke Pulau Untung Jawa" di Kepulauan Seribu.

Awal long weekend lalu, tidak ada satupun rencana yang berhasil direalisasikan. Bali, Anyer, Dufan, Ancol, semua tinggal rencana yang tak pernah disentuh. Namun dibalik batalnya semua rencana itu, ternyata ada satu tempat yang tidak begitu dikenal yang sudah tercantum dalam "Master Plan". Jumat siang, salah satu teman kantor yang dulu pernah menjemput rombongan Tour de Parahyangan, Rais, menawarkan untuk melakukan sebuah perjalanan ke sebuah pulau di seberang Tanjung Pasir, Tangerang. Bak mendapat durian runtuh, aku pun langsung menerima tawaran itu. Total sudah empat orang yang bersedia melakukan tour tersebut. Aku, Rais beserta istri, dan Donny. Tiga kamar yang diusahakan Rais di pulau itu, menyisakan empat orang lagi. Satu kamar untuk Rais dan istri, sementara dua kamar lagi untuk enam orang. Aku langsung menghubungi seorang biker dari Fatmawati, Abiep, dan dua bersaudara dari Taxpro, Edi dan Maman. Tinggal satu personel lagi. Dari ketujuh orang yang sudah bergabung, tak ada satupun yang memiliki "kamera beneran" untuk mengabadikan perjalanan ini. Akhirnya pilihan orang terakhir jatuh pada Mamat atau Uyo. Berhubung Uyo sudah pernah bergabung dalam Tour de Parahyangan, akhirnya pilihan jatuh ke Mamat yang belum sekalipun bergabung dalam perjalanan-perjalanan ini. Sebenarnya aku ingin mengajak semua teman-temanku tapi berhubung tour yang diselenggarakan oleh Rais ini merupakan limited edition, jadi niat itupun aku urungkan. Mungkin setelah mengetahui tempat itu, aku bisa beramai-ramai mengajak teman-teman menapaki tanah-tanah baru di seberang sana.

Tujuh orang berkumpul di halte UI tanpa Donny Sabtu paginya. Ketujuh orang itu kemudian meluncur ke Pancoran untuk bertemu dengan Donny. Setelah bertemu, perjalanan pun dimulai. Melewati Gatsu, Slipi, dan Citraland, rombongan kemudian memutar kemudi menelusuri Daan Mogot. Di Daan Mogot, rombongan 'agak' berputar-putar karena sang pemandu lupa dengan jalan menuju pelabuhan. Melewati Cengkareng, rombongan menuju arah utara. Selama kurang lebih satu jam, akhirnya rombongan sampai di daerah pantai. Miat, teman Rais yang bertindak selaku tuan rumah, sudah berada di Tanjung Pasir untuk menjemput kami.

Setelah memarkir motor kami di sebuah tempat penitipan motor, kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan menggunakan perahu motor. Setiap kepala dikenai tujuh ribu sekali melaut. Inilah pertama kalinya aku naik perahu motor menuju ke suatu tempat tujuan. Tapi kalau naik perahu motor, ini adalah kali kedua. Dulu aku pernah sekali naik perahu motor hanya sekedar berputar-putar di sekitar pantai wisata di Tegal :D Waktu itu hanya tiga ribu per kepala.

Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sampai di dermaga Pulau Untung Jawa. Cukup sepi. Kesan pertamanya pun kurang begitu menarik karena pantainya cukup kotor. Banyak sampah yang berserakan di sekitar pantai. Sebenarnya itu bukan sampah penduduk setempat, tapi sampah kiriman dari ibukota. Hmm... jadi begini ya? Kita di Jakarta yang membuang sampah, tapi orang-orang di pulau seberang yang terkena dampaknya.

Sesampai di penginapan, kami mengisi perut yang dari pagi belum terisi bahkan oleh sesuap nasi. Teriknya matahari membuat kepalaku pusing. Kepalaku memang sensitif terhadap teriknya sang surya. Mungkinkah ini efek dari sensitifnya mata terhadap siar yang berlebih? Aku juga tidak tahu. Selesai makan, aku mengusir pusing dengan tidur sejenak. Apalagi dalam kondisi panas seperti itu, aku tidak mungkin melakukan aktifitas di sekitar pantai. Sekitar satu setengah jam aku tertidur. Sore harinya, kami hanya bermain-main di sekitar penginapan itu saja.

Malam harinya, aku menemani Miat, Rais, dan Novi memancing cumi. Pancingannya khusus. Tidak menggunakan umpan hidup, tapi menggunakan kayu yang dibentuk seperti udang dengan bagian ujung dipasang kait yang bentuk seperti jangkar berjari empat dan bertingkat dua. Jika ada cumi-cumi yang tersangkut, ketika pancingan itu ditarik tampak seperti motor bobrok. Dari ujungnya seperti knalpot yang mengeluarkan asap hitam. Itulah tinta yang disemprotkan oleh si cumi. Ketika sampai di darat, cumi itu juga masih berusaha menyemprot 'penyerangnya'. Semrotannya lucu, kaya orang lagi bersin, tapi yang keluar tinta hitam. Padahal badannya putih. Subhanallah... aneh, tapi nyata, tentu saja atas kehendakNya.

Esok paginya, pukul enam aku, Mamat, dan Abiep berjalan di air mengitari pulau. Butuh waktu sekita dua jam untuk mengelilingi pulau. Tapi itu juga termasuk foto-foto, melihat-lihat aneka penghuni laut, dan menikmati keindahan pantai yang jernih airnya. Setelah selesai berputar-putar, ditambah Donny yang bergabung kemudian, kami berendam di pantai. Kami menyewa empat ban untuk mengapung di pantai. Sementara kami berempat berendam, Maman hanya bermain-main di tepi pantai karena tidak membawa baju ganti.

Akhirnya waktu jualah yang memisahkan kami dari pulau itu. Sekitar jam dua belas, kami pamit ke keluarga Miat dan kembali ke Tanjung Pasir. Dari Tanjung Pasir, kami melewati jalur yang sama dengan jalur keberangkatan. Kami mulai berpisah setelah mendekati Cengkareng. Kami langsung ke tujuan kami masing-masing tanpa berkonvoi seperti waktu berangkat.

Thanks to Miat yang sudah menjadi tuan rumah untuk kami.
Terima kasih ya Allah yang sekali lagi telah membiarkan makhluk ini menikmati keindahan pantai dan lautMu. Sekali lagi, di tengah luasnya samudra, aku merasakan betapa kecilnya aku.

Friday, May 18, 2007

Jakarta Lengang

Jakarta lengang! Kalo gue nggak liat matahari yang bersinar, mungkin gue berpikir kalo hari ini adalah sabtu atau minggu di pagi hari. Jalanan begitu sepi. Para penghuni Jakarta yang biasanya berebutan jalan raya, sekarang lagi berhempitan juga, tapi bukan di Jakarta, melainkan di Bandung, pantura, terminal-terminal, stasiun-statiun, tempat-tempat wisata, dan berbagai tempat yang lain.

Hari cuti bersama kemarin (catet ya! hari cuti bersama, bukan hari libur! :p), akhirnya cuma gue habiskan bersama rekan-rekan senasib untuk bermaen bola di tempat biasa setelah semua rencana yang dibuat jauh-jauh hari nggak ada yang kesampaian. Tapi hari ini ada ajakan (lagi?) untuk touring ke salah satu dari bagian kepulauan seribu. Ah... jangan diceritain detailnya dulu. Lihat saja besok! Tapi kayanya sih hampir pasti berhasil. Soalnya temen gue sudah pesen 3 kamar di sebuah penginapan di pulau sono. OK, I'll be right there!!! (Amin...)

Tuesday, May 15, 2007

Berubah

Lagi pengen ganti suasana nih. Isi-isinya belum dimasukin lagi. Shout box, jam, link, masih belum keupdate. Kapan-kapan aja lah.

Harpitnas

"Tanggal 18 masuk nggak sih?"

"Masuk lah. Lha wong di production planning ada kok buat tanggal 18. Berarti ya kita masuk juga."

"Ih, kenapa sih kita masuk? Kan pemerintah libur! Kok nggak ngikutin pemerintah sih?"

"Lha kita kan lagi ngejar target pesenan, jadi produksi tetep jalan. Akibatnya kita juga ikutan masuk. Coba pemerintah ngejar target buat bayar utang negara, pasti pemerintah nggak libur."

Friday, May 11, 2007

Meeting, Meeting, dan Meeting

Huh... meeting terus kerjaannya. Hari ini adalah bener-bener hari meeting. Pagi ini ada dua meeting, yang satu jam 7.30 - 11.30, yang lainnya jam 9.00 - 11.00. Siangnya ada dua meeting lagi, yang satu 14.00 - 16.00 dan satunya lagi 14.00 - 16.30. After office, ternyata masih ada meeting lagi dari jam 16.30 - 19.00. Nggak tau deh, buat meeting-meeting yang bentrok mau ikut yang mana.

Kalau seharian meeting terus, kapan ngerjain hasil meetingnya? Bingung gue!@~#$!^&? Akibatnya, besok malah di suruh masuk. Disgh!!!

Thursday, May 10, 2007

Long Weekend

Baru kali ini gue sebingung ini menghadapi long weekend. Gara-garanya rencana yang masuk masih tentative semua. Masih pada belum pasti. Pertama, sodara gue ada yang ngajakin nginep di Ancol sambil maen-maen di Dufan. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Terus, tiba-tiba di milis DOA ada yang ngajakin ke Dufan. Sama aja dengan yang sebelumnya, yang ini juga nggak jelas juntrungannya. Masih pada belum pasti. Eh, tau-tau si Abiep ngajakin ke Bali. Busyet, jauh bener. Jadinya malah gue tawarin aja ke anyer, yang deketan, kan sama-sama pantai :D Ternyata dia tertarik. Jadilah gue makin bingung sekarang.

Gue pengennya ikut yang jelas aja ah. Ayo, sapa yang bisa meyakinkan gue buat ikut, gue ikut. Tapi tetep... gue lebih prefer ke dufan sih :D

Tuesday, May 08, 2007

Tour de Parahyangan

Jumat, 4 Mei
Pukul 9 malam gue meluncur ke arah depok untuk ngumpul di kosan Lay. Sesampai di sana, Abiep sudah dateng duluan dan lagi nonton tv ama lay.

Sabtu, 5 Mei
Gue dan Abiep bersiap-siap untuk memulai perjalanan jauh. Setelah nungguin Uyo di pertigaan Jalan Juanda, sekitar pukul 7 lewat kami bertiga berangkat menuju Bandung. Abiep sendirian dengan Megapro-nya, sedangkan gue ama Uyo dengan Supra125-nya. Kami mengambil jalan raya Bogor sebagai permulaan perjalanan setelah menembus jalan Juanda.

Selepas jalan Raya Bogor, memasuki kota Bogor, petualangan di mulai. Di pertigaan pertama, tidak ada papan penunjuk sementara ada dua jalur di depan, kiri dan lurus. Akhirnya kami mengambil jalur kiri. Setelah beberapa (puluh?) kilo meter, Uyo seperti merasakan nuansa dejavu. Uyo seperti agak familiar dengan jalan yang kami lewati. Ditambah lagi dengan adanya bis-bis besar dengan jurusan Priuk - Cibinong, UKI Cibinong. Setelah berdikusi bertiga, akhirnya kami pun putar balik dan mengambil jalur lurus yang tadi kami cuekin. Sampai menuju puncakpun kami tidak menemui hambatan yang berarti. Semua papan penunjuk yang mengarahkan ke puncak dapat kami interpretasikan dengan benar hingga akhirnya kami berhenti di Puncak Pas. Satu-satunya masalah adalah jalan menanjak yang membuat motor kami ngos-ngosan. Apalagi sempat mati meskipun dapat di atasi dengan baik. Ketika sedang menikmati bandrek dan mie rebus, gue menghubungi Rais selaku penyambut rombongan yang akan menjemput kami di cimahi. Dia pula yang mencarikan penginapan buat kami bertiga.

Ketika turun dari puncak dan melalui jalan Raya Cianjur, kami juga dengan lancar mengendarai motor kami masing-masing hingga akhirnya kami berhenti di jalan Raya Padalarang. Sesuai instruksi Rais, kami harus berhenti di dekat sebuah Dealer Honda. Kami berhenti tepat di depan Delar Honda, tapi gue ngerasa namanya sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan yang disebutkan Rais. Akhirnya gue menghubungi Rais dan Rais melanjutkan perjalanan dan meminta supaya gue berhenti di dekat masjid yang dekat dengan alun-alun Cimahi. Setelah melanjutkan perjalanan yang cukup jauh, alun-alun yang kami cari tidak kunjung kami lihat. Kami takut kalo kami salah jalan. Akhirnya kami berhenti di sebuah pertigaan. Gue mencoba menghubungi Rais kembali tapi tidak ada respon. Gue pun menanyakan pada orang di sekitar situ dan kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat dengan alun-alun, katanya sih dekat. Namun setelah beberapa puluh meter, masjid itu tidak pernah terlihat, dan Uyo tiba-tiba bilang, "Yip, tadi di sebelah alun-alun persis itu kayanya ada masjid deh." Dan akhirnya kamipun berhenti dan gue menghubungi Rais kembali. Gue menginformasikan posisi kami bertiga dan Rais bilang dalam waktu kurang lebih 20 menit dia akan ke tempat gue.

Kami memarkirkan motor di pinggir jalan dan kamipun berteduh di emperan toko. Ketika kami sedang menunggu Rais, tiba-tiba ada ibu-ibu yang berpakaian lusuh (dan maaf, kayanya 'agak-agak' gitu deh) nyerocos ke Uyo dengan bahasa Sunda. Nggak tau apa yang dirasakan Uyo, tapi gue ma Abiep saling melempar pandang sambil tersenyum.
"Nggak tau plat B apa?" gumam Abiep. Hahaha... namanya juga orang 'agak-agak' Bip.

Setelah sekitar 1 jam, Rais tidak menampakkan batang hidungnya. Gue curiga kalo bangunan tadi tuh bukan alun alun. Gue coba untuk hubungi Rais, ternyata tadi kami salah pengertian dan dia sekarang ada beberapa ratus meter di depan rombongan. Kami pun melanjutkan perjalanan dan akhirnya bertemu dengan Rais. Rais menuntun kami ke arah penginapan. Kami sampai di penginapan sekitar jam 2.30 dan akhirnya kami pun dapat beristirahat.

Jam tigaan, kami keluar dari penginapan untuk mengisi perut yang dari siang belum diisi. Kami melewati beberapa penjual makanan di belakang gedung Sate, tapi kami memutuskan untuk makan di depan gedung Sate (Gazebo) karena yang di belakang gedung Sate tidak menarik. Kami berjalan melalui pintu belakang gedung Sate. Ternyata di gedung Sate sedang ada 'acara pejabat', kampanye nasional "Cuci Tangan Pakai Sabun". Boro-boro pakai sabun, cuci tangan aja nggak :p Sesampai di pintu gerbang depan, kami menemui kesulitan, pintu-pintu tertutup sehingga kami tidak dapat keluar menuju Gazebo yang sudah terlihat di depan mata. Akhirnya kami berjalan lewat belakang kembali dan Abiep menghubungi Komala untuk dijadikan sebagai guide.

Sekitar lima menit kemudian, Komala datang dengan motornya. Dialah yang akhirnya menunjukkan tempat makan siang kami yang kesorean. Usai makan siang, kami melanjutkan acara jalan-jalan ke BABE di jalan Martadinata. Sekitar jam 5 lewat, kami pulang ke penginapan.

Hp menunjukkan pukul 7 lewat. Gue nyalain TV dan nonton MU vs MC sambil nungguin berangkat untuk makan malam dan jalan-jalan. Score sudah 1-0 untuk kemenangan MU. Setelah kami siap, kami meluncur ke BIP untuk makan malam. Interpretasi yang kurang tepat dari instruksi yang diberikan Komala selaku guide menyebabkan kami sedikit nyasar. Namun banyaknya papan penunjuk di setiap perempatan jalan cukup membantu kami untuk kembali ke jalan yang benar. Di BIP, Komala sudah menunggu dengan temannya di food court.

Setelah makan malam, kami berpindah tempat ke Dago. Di sana kami hanya berdiri di depan Plasa Dago sambil memperhatikan keramaian yang jarang gue dapatkan setiap malam minggu (secara malam minggu biasanya cuma nonton TV di kos Lay :D). Entah apa yang gue dapetin. Kata Abiep sih suasana baru. Emang beda sih. Kalo di Jakarta namanya keramaian Jakarta, tapi kalo di Bandung namanya keramaian Bandung, hehehe... Bosan dengan keramaian Dago, kami mencoba suasana baru lagi dengan mencicipi soerabi di jalan Setiabudi. Setelah satu jam lebih, beberapa menit menjelang pergantian hari, kami beranjak dari warung soerabi itu dan pulang ke penginapan.

Minggu, 6 Mei
Keesokan paginya, setelah nonton Sport7, sekitar jam setengah tujuh pagi kami keluar untuk sarapan dan menikmati keramaian Gazebo. Kami berkeliling menyusuri celah-celah Gazebo yang dipenuhi oleh penjual dan pembeli. Di sini, hampir terjadi aksi pencopetan yang melibatkan gue sebagai calon korban. Selama jalan di Gazebo, gue jalan di depan sementara Uyo dan Abiep ada di belakang gue. Uyo seperti merasakan ada seseorang yang sedang 'mengintai' dan membuntuti kami. Dia pun langsung memindahkan barang-barang berharga ke depan, ke tempat yang lebih aman. Ketika posisi kami berubah, gue di belakang sementara Abiep dan Uyo di depan gue, tiba-tiba ada seorang pengemis (?) menarik-narik celana gue dari belakang dengan posisi jongkok sambil menengadahkan tangannya untuk meminta sesuatu. Otomatis perhatian gue langsung tertuju ke belakang, ke pengemis itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba tangan kanan gue juga reflek mendarat di saku kanan celana gue yang berisi HP gue. Ketika tangan gue sudah mendarat di saku kanan dan merasakan HP, sesaat kemudian ada tangan lain yang mendarat di atas tangan gue. Sepertinya prosesor gue lagi lambat (atau emang lambat ya :D), gue tidak langsung menyadari apa yang terjadi. "Tangan siapa ya?" pikir gue. Setelah itu gue baru sadar bahwa itu mungkin salah satu modus pencopetan. Ketika gue mengalihkan muka ke sebelah kanan, tangan itu tentu saja sudah melepaskan diri dan gue lihat ada beberapa orang yang ada di sebelah kanan. Masa mau gue tanyain satu-satu sih? (lagian cowo semua, buat apa :p kalo ada yang minta lagi gimana? ih.... serem...). Setali tiga uang, Uyo ternyata juga tidak langsung menyadari apa yang sebenarnya terjadi. "Kok ada orang yang pegangin saku celana Ayip ya?" mungkin itu pikir Uyo. Setelah ngeh, baru dia bertanya, "Yip, dompet lo aman?" gue juga nggak ngeh dengan dompet gue. Tapi untungnya pas gue cek kantong belakang celana gue masih utuh. "Aman Yo. Tadi ada yang ngincer HP gue nih. Tangan gue sampai dipegang-pegang. Hi..."

Kami melanjutkan perjalanan untuk mencari sarapan sambil membahas insiden itu. Ketika melewati sebuah 'pos' sebuah yayasan untuk mencari sumbangan, seorang bapak dari yayasan tersebut berteriak memperingatkan seisi pengunjung yang melewatinya. "Bapak-bapak, Ibu-ibu. Hati-hati dengan barang bawaan anda selama ada di tengah-tengah Gazebo. Banyak pencopet yang beraksi untuk mendapatkan dompet. Apalagi HP. Lindungi barang bawaan anda selama di tengah Gazebo. Berhati-hatilah" Yah... telat Pak, gumam gue. Tadi hampir jadi korban nih.

Setelah sarapan di sebelah gedung Sate, kami kembali ke penginapan. Tapi di tengah perjalanan, kami melihat acara kampanye di gedung sate mau dimulai. Abiep begitu antusias utuk melihatnya. Akhirnya kami memasuki gedung sate melalui salah satu pintu gerbang. Untuk menuju ke tempat berlangsungnya acara, kami harus melewati salah satu pos satpam. Kami 'diusir' karena ini acara tertutup. Kami tidak menyerah. Keluar dari pintu yang sama sewaktu kami masuk, kami 'tawaf', mengitari gedung sate. Namun jalan itu tak kunjung ditemukan. Akhirnya kami menyerah dan kembali ke penginapan.

Sekitar pukul sebelas, kami check out dari penginapan. Tujuan terakhir kami di Bandung adalah Kartika Sari di Dago dan Level FO karena di situlah bis penjaja brownies berada. Setelah belanja oleh-oleh, kami makan siang di sekitar gedung sate lagi dan kembali ke Jakarta.

Hujan menghiasi perjalanan kami ketika kami sudah setengah jalan menuruni puncak. Laju kendaraan mulai melambat. Namun kami masih beruntung karena menggunakan motor. Kami masih bisa mencari celah di antara antrean mobil yang memenuhi jalan raya puncak. Ketika hujan turun, gue sama Uyo mulai terpisah dengan Abiep. Gue sama Uyo berhenti dan mengenakan jas hujan, sementara Abiep menerabas derasnya hujan. Sejak saat itu, kami mulai terpisah jauh.

Memasuki kota bogor, gue dan Uyo mulai 'bergerilya' lagi. Setelah melewati sebuah jalan yang memberlakukan satu jalur, kami mulai merasakan sensasi yang aneh. Sepertinya ini jalan menuju ke ketersesatan. Ternyata benar, kami berputar-putar di kota bogor sekitar satu jam. Ketika kami menemukan perempatan yang ada papan penunjuk yang menginformasikan kalan ke Depok dan Jakarta, maka selamatlah kami. Ya, mengikuti petunjuk itu, akhirnya kami bisa kembali ke Depok.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena telah memberikan kami kesempatan untuk menikmati indahnya puncak. Megahnya puncak membuat kami merasakan betapa kecilnya kami. Apalagi bila dibandingkan dengan kemegahan diriMu, kami bukanlah apa-apa. Terima kasih juga telah memberikan kami keselamatan sehingga kami dapat kembali ke rumah masing-masing dalam keadaaan tak kurang sesuatu apapun.


===
Nextime => Ciater? Anyer? ???

Monday, May 07, 2007

Colorful Weekend

Fantastis! Itulah kesan weekend kemarin. Mulai dari salah jalan dan hampir ke rumah galuh atau hampir nganterin Uyo ke kantor (lembur dong Yo :p). Untung 'ditolong' oleh rute angkot dan bis. Motor yang ngeden sepanjang tanjakan di puncak. 'Diocehin' pake bahasa sunda sama orang yang kayanya 'agak-agak' (emang nggak liat plat B-nya apa ya? ya... namanya juga orang 'agak-agak', maklum lah). Sedikit nyasar di rimba raya Bandung (wajarlah, secara orang baru gitu loh :p). Insting dan reflek luar biasa yang menyelamatkan dari percobaan pencopetan di Gazebo (tulisannya bener nggak sih). Informasi yang telat tentang pencopetan. Ambisi nonton acara pejabat dengan 'tawaf' mengitari gedung sate sampe 'diusir' bapak-bapak satpam (ada yang baik tapi ada yang jutek juga). Motor mogok yang 'dicium' mobil. 'Kepedean' yang berakibat salah jalan di fly over, tapi ternyata malah justru nemu 'jalan sendiri'. Hujan di daerah puncak yang menyebabkan jarak pandang berkurang dan otomatis kecepatan juga menurun. Dan terakhir, muter-muter (lagi?) di daerah Bogor.

Hahaha... its so wonderful. OK guys, nextime : Anyer? Ciater? Tangkuban Perahu? Atau Sekedar Dufan?

===
Thx to:
Rais yang udah njemput di Cimahi dan mencarikan tempat penginapan yang lumayan murah.
Komala yang udah jadi guide selama ngiterin Bandung.

Friday, May 04, 2007

Touring (2)

Ini bukan kisah tentang touring yang kedua. Tapi ini kisah kedua tentang rencana touring pertama.

Setelah melewati masa-masa krisis untuk mencetak hattrick, akhirnya sekarang saatnya melaju ke masa-masa kemerdekaan (halah bahasanya...). Yup, sampe detik ini gue menulis kisah ini, belum ada hambatan yang dapat menggagalkan rencana touring. Berarti gue ada kesempatan untuk tidak mencetak hattrick, hehehe...

Sampai saat ini, baru tiga orang yang dinyatakan positif (kaya kena penyakit aja hehehe...). Doakan kami selamat dan nggak kebanyakan nyasar ya, hehehe... (kebanyakan hehehe nih, hehehe...)

Thursday, May 03, 2007

Spiderman 3

Baru kali ini gue nonton rame-rame sebanyak ini. Kemaren gue abis nonton Spiderman 3 di Gading XXI bareng temen-temen kantor sebanyak 21 orang. Yang ndaftar sih 22 orang, tapi yang satu berhalangan. Tapi entah kenapa tiba-tiba, di dalam bioskop gue merasa pusing banget. Nontonnya jadi nggak nikmat. Untung masih bisa ngikutin filmnya. Gue pikir itu cuma pusing sesaat. Paling bentaran juga ilang. Ternyata sampe kosan pun masih pusing. Gue pikir, ditinggal tidur juga paling ilang. Biasanya emang gitu. Tapi ternyata, sewaktu gue bangun buat nonton setan merah vs setan merah (forza milan!!!) pusingnya belum ilang juga. Gue pikir (kebanyakan mikir tapi nggak ada eksyennya nih :p) ntar pagi juga ilang kalo dah ditinggal tidur. Tapi ternyata (lagi...), setelah bangun pagi juga masih pusing. Gawat kalo terus-terusan gini. Akhirnya gue coba makan apel dan minum obat. Abisnya nggak ada stok makanan, yang ada cuma buah, ya udahlah, mules ya mules, yang penting pusingnya ilang , hehehe...

Eh, kok gue jadi banyakan cerita pusing daripada spiderman yang jadi judul. Ah... biarin lah, namanya juga baru sembuh dari pusing, jadi wajar kalo tulisannya kurang nyambung dari judulnya, hehehe...

Mudah-mudahan ntar ada nobar lagi buat POC3 :D

Wednesday, May 02, 2007

Busway

Jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat 10. Dari Salemba, dengan tunggangan merah hitam, gue menyusuri jalan raya salemba menuju arah Senen. Menjelang perempatan Atrium, di sebelah fly over, gue mengambil jalur busway. Hari sudah malam dan biasanya memang di sekitar situ juga nggak ada polisi. Tapi setelah setengah jalan di jalur busway, gue seperti melihat bayang-bayang seseorang yang sedang berdiri di kegelapan lampu merah. Bayang-bayang tersebut seperti memegang sesuatu seperti tongkat. Perasaan nggak enak pun mulai muncul.

Bayang-bayang itu terlihat semakin jelas. Bayang-bayang itu mulai maju dan menunjukkan tongkatnya ke sebuah titik.
"Selamat malam." Suara bayang-bayang tersebut menyambut merah hitam gue. Ternyata bayang-bayang itu berseragam formal seperti yang ada di pos-pos.
"Bisa lihat surat-suratnya Pak?" Gubrax! Pasti gara-gara masuk busway nih.
"Ini pak." Jawab gue seraya menyerahkan sepucuk surat berwarna kuning itu.
"Bapak tau kan kalo motor nggak boleh lewat jalur busway. Silakan menuju ke tempat itu." Kata dia sambil menunjuk ke suatu tempat.
Sesampai di sana, gue melihat orang-orang yang senasib dengan gue. Tapi gue nggak tau apa 'kekhilafan' mereka. Di dalam pos pun 'dialog' yang sebenarnya dimulai. Petugas itu, gue dan seseorang yang senasib dengan gue, 'berbincang' di dalam sebuah pos yang cukup 'terpencil'. Setelah beberapa menit, gue dan orang yang senasib seperjuangan itu keluar dari pos dan melanjutkan perjalanan masing-masing.

Tidak ada surat merah atau biru yang keluar. Sebenarnya pengen ngerasain mendapatkan 'kertas merah / biru' itu, tapi males ngurusnya, repot. Jadi, pake jalur cepat aja deh :D

Tuesday, May 01, 2007

Hattrick

Setelah berandai-andai untuk melakukan touring, tiba-tiba kemarin ada seorang brother (halah, bahasanya rek...) ngajakin jalan-jalan ke bandung naek motor. Rencana kali ini sengaja nggak gue masukin ke milis 2k untuk mencegah terjadinya hattrick. Sudah dua kali gue melempar 'isu' tapi tidak ada yang berhasil satupun. Takutnya kalo mencetak hattrick, ntar giliran ngirim 'undangan beneran' jadi dicuekin deh, hehehe...

Yah... kita lihat saja nanti laporan touringnya (kalo jadi).

Friday, April 27, 2007

Touring

Tiap hari, jelajah motor gue hanya berkisar 20 km per hari kerja dan 100 km per weekend. Jarak tempuh terjauh sekali touring adalah Sunter - Depok - Bintaro - Cikokol - Sunter. Itupun di tempuh pada hari sabtu dan minggu, hehehe...

Melihat semakin banyaknya motor yang parkir ketika maen bola sabtuan, muncul keinginan untuk melakukan touring bersama. Tapi kayanya kok susah ya ngajak dan bikin rencana. Kapan ya orang-orang itu bisa touring bareng? Jadi makin pengen touring aja nih. Ayo dong... touring yuk.

Kapan Kawin

"Ringgo, kapan kawin?"
"Mmm... may. May be yes, may be no."

Itulah sepenggal dialog dalam sebuah iklan. Pasti kita sering melihatnya di stasiun-stasiun TV. Memang terdengar konyol, tapi menurut gue bener juga sih. Sapa yang menjamin bahwa kita bisa mencapai tahap perkawinan sebelum maut menjemput kita?

[konyol mode = on]

Orang bilang kawin itu enak soalnya membuat aliran keuangan menjadi lebih cermat.
Kalo gitu, sewa aja finance consultant, beres kan.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang masakin.
Banyak kok tukang masak yang bisa disewa, makanannya pasti enak-enak.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang nemenin kalo kita lagi sendirian ato mo jalan-jalan.
Telpon aja temen. Malah bisa ganti-ganti, nggak bosen kan?

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang ngurusin kalo lagi sakit.
Gitu aja kok repot, panggil aja dokter dan perawat pribadi.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang bisa diajak berbagi suka dan duka.
Masa nggak punya temen sih? Kasian deh lo...

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang merindukan dan menanti.
Ngutang aja yang banyak, pasti bakalan banyak yang merindukan dan menanti.

Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang dirindukan dan dinanti.
Makanya ngutangin orang lain yang banyak, biar ada yang kita rindukan dan kita tunggu.

Jadi... masih mikirin kawin?

[konyol mode = off]

Jadi... kapan kawin?
Ya tunggu nikah lah, hahaha... (berarti tulisan di atas banyak yang salah tulis tuh :p)

Wednesday, April 25, 2007

Bapak Logika

Beberapa hari yang lalu, gue terlibat dalam sebuah percakapan dengan teman (cewe) di telp. Awalnya, gue hanya berbicara dengan dia saja. Sampai pada satu moment, gue menjawab sebuah pertanyaannya (gue lupa pertanyaannya) dengan jawaban "Perasaan adalah bagian dari logika. Tidak ada perasaan yang mutlak. Semua dapat berubah dan dapat dijelaskan dengan logika".

Seketika itu juga, dia memberi tahu ke temen-temen kosnya (cewe semua) yang kebetulan sedang berada satu ruangan di kosnya, tepatnya di ruang tamu. Hasilnya, gue langsung dikeroyok oleh segerombolan makhluk yang cenderung mengandalkan perasaan itu (padahal gue nggak kenal sama mereka :( ). Debatpun dimulai. Gue dianggap sebagai manusia tidak berperasaan. Hanya mikir untung rugi doang. Manusia seperti gue lah yang menyebabkan perasaan orang lain sakit karena tidak menggunakan perasaan. Saat itu, gue benar-benar diserang habis-habisan. Baru kali itu, gue hampir babak belur dihajar kaum hawa.

Untunglah, gue masih bisa bermain-main dengan berbagai logika sehingga gue dapat mempertahankan diri dari serangan bertubi-tubi itu. Gue terus mengelak dan bermanufer. Manufer-manufer itu akhirnya berhasil membawa gue ke atas angin. Mereka kebingungan dengan penjelasan-penjelasan gue. Di situlah akhirnya gue bisa mengendalikan 'permainan' dan akhirnya mengakhirinya sebelum semakin menjadi panjang (sebenernya sih karena takut dikeroyok terus, hehehe...). Sejak saat itu, karena berhasil membingungkan mereka dengan logika-logika, gue dikabarkan oleh temen gue bahwa gue mendapat gelar kehormatan dari kosan temen gue itu sebagai "Bapak Logika" (nggak penting banget ya, hehehe...).

Untungnya gue nggak sempet salah kata ataupun salah logika. Salah-salah, gue bisa-bisa malah menyingung perasaan mereka. Tapi karena gue tetap bermain di area logika, akhirnya mereka pun hanya bingung, bukan sakit perasaannya, hahaha...

Hmm... ini bisa jadi pelajaran buat gue, supaya berhati-hati bermain di area perasaan dengan kaum hawa. Kalo gitu, emang benerlah apa kata Ari Lasso, "Sentuhlah dia tepat di hatinya. Dia akan menjadi milikmu selamanya". Tapi apa jadinya kalo menyentuh dia tepat di otaknya? Mungkin dia akan menjadi bingung selamanya, hahaha... nggak segitunya kali... (peace girls...)

Separah itukah logika gue melihat halusnya perasaan? Terserah lah apa kata sampeyan... Gue hanya mengikuti logika bahwa seorang laki-laki lebih dominan logikanya dibanding perasaannya.

Tuesday, April 24, 2007

Dunia Psikologi

Belakangan ini gue baru menyadari kalo dunia psikologi itu ternyata menarik juga. Sepertinya ketertarikan itu mulai terpancing ketika gue mulai berkenalan dengan orang-orang yang kuliah di psikologi. Layaknya mahasiswa psikologi, topik-topik yang mereka bahas tentunya nggak jauh-jauh dari dunia perjiwaan. Selain itu, koleksi buku-bukunya juga dihiasi dengan novel-novel kejiwaan macam sybil, billy, cassandra de-el-el. Salah satu buku yang sudah gue pinjam (dan sudah gue baca lho... bangga banget ya bisa baca buku :D) adalah Sybil. Dan nantinya akan menyusul : Cassandra, kisah seseorang yang tidak mau bicara karena trauma (tar resensinya gue tulis juga deh kaya Sybil).

Selain buku-bukunya, salah satu hal yang bisa gue dapatkan dari para calon psikolog itu adalah konsultasi gratis (gretong bo... hari gini? hahaha...). Jadinya gue sekarang bisa 'melihat' diri sendiri maupun 'orang lain' dalam diri gue (bahasanya mulai berat nih :p). Memang! Beberapa temen seperti melihat 'orang lain' dalam diri gue. "Ini beneran arif ya?" Itulah kata-kata yang sering terlontar dalam canda temen-temen. Dalam satu kondisi (bukan karena moody lho), gue bisa berbeda dengan gue yang biasanya. Topeng? Double personality? Whatever you say lah. Pokoke itulah gue. Mau yang ribut, yang ancur, yang gokil, yang diem, itu semua sama kok. Gue nggak separah Sybill. Dan gue yakin setiap orang juga punya sisi-sisi lain dalam dirinya. Tinggal apakah mereka mau dan mampu menampilkannya?

Meskipun cuma buat fun aja, ternyata dunia psikologi mengasikkan juga ya. Apalagi kalo bisa ngerjain orang dengan berpura-pura menjadi orang lain, hahaha...

Friday, April 20, 2007

Training (lagi...)

Sudah lebih dari seminggu gue nggak update blog ini. Semenjak ikut training lagi, gue emang jadi nggak sempet ngisiblog. Soalnya hampir seminggu ini gue berangkat siang mulu, jadi nggak sempet ngeblog langsung training. Sementara setelah training, gue masih harus mengerjakan kerjaan rutin gue.

Oh iya, gue belum cerita tentang trainingnya ya. Gue tuh sekarang lagi training SAP BW. LUmayan lah dapat bekal sebelum berperang :D Soalnya dalam salah satu action plan di kantor, gue dilibatkan dalam Data Warehouse Project. Kalo gue ga tau apa-apa kan repot juga, harus belajar sana belajar sini. Enakan kalo ada yang ngajarin. Ya nggak? (hehehe... dasar males)

Thursday, April 12, 2007

Setan

Dua minggu lagi para penggemar bola akan disuguhi pertandingan yang makin seru. Yaitu semi final antara calon-calon jawara Champion dari eropa. Tiga dari Inggris dan satu lagi dari Itali.

Salah satu pertandingannya adalah antara 'Setan Merah' dengan 'Setan Merah'. Siapa pemenangnya? Gue yakin yang menang pasti setan. Gimana nggak? Kalo buat ibadah, solat, ato semacamnya, susah banget buat bangun tengah malam (lebih tepatnya dini hari). Tapi kalo buat nonton Setan-setan Merah, kok kayanya lebih gampang ya. Mungkin ini ada pengaruhnya dengan para setan yang menggoda supaya mau menonton mereka. Sementara kalo buat yang baik-baik, para setan itu terus menyanyikan godaan yang meninabobokan (kasian banget jadi setan, selalu disalahkan oleh para hambanya sendiri).

===
Aneh... pembuka sama penutupnya kok nggak ada hubungannya. Eh, ada ding, coba liat judulnya. Pembuka dan penutupnya sama-sama berhubungan sama judulnya. Jadi kesimpulannya pembuka dan penutup itu masih berhubungan (lewat judul, hehehe...)

Workshop User Requirement

Sore ini gue dapet 'tugas luar' ngikutin sebuah workshop, "Workshop User Requirement". Workshopnya di Sukabumi, katanya sih di Citarik (asik... long weekend, refreshing di alam bebas :D) Acaranya berlangsung hari Kamis sampai Minggu ini. Empat hari! Bawaannya pasti merepotkan. Berikut bawaan yang harus disiapkan berdasarkan instruksi dari bagian training:
  • Perlalatan Mandi (tiap minggu juga dah biasa bawa)
  • Baju ganti minimal 5 set (ini yang bikin bawaan repot)
  • Baju tidur (biasa lah)
  • Sepatu olah raga (ke kantor juga pake ginian, berarti dah built-up :D)
  • Sweater (gue ga punya, adanya jaket yang biasa gue pake)
  • Obat-obatan & perlengkapan pribadi (paling cuma obat pusing + obat luka ringan)
  • Sun block (ga punya, kalo punya mungkin bisa sekalian buat saturday futbal :D)
  • Lampu Senter (sekarang lupa bawa)
  • Sandal jepit (ada di kantor, tinggal bungkus aja)
  • Topi (ga punya, biarin dah, panas ya panas)
Hmm... benar-benar bawaan yang merepotkan, tapi mudah-mudahan acaranya menyenangkan :D


Sybil

Judul : Sybil (Kisah nyata seorang gadis dengan 16 kepribadian)
Pengarang : Flora Rheta Schreiber
Penerjemah : Sarlito W. Sarwono
Penerbit : Pustaka Sinar harapan
Tebal halaman : 496
Tahun : 1973

Buku ini mengisahkan seorang wanita bernama Sybil yang tinggal di Willow Corner dengan 16 kepribadiannya. Sybil dibesarkan oleh seorang Ibu yang mengasuh dengan penuh kekerasan. Sementara itu, Bapaknya seolah 'tidak tahu apa-apa' dengan pola asuh istrinya terhadap anaknya itu. Kondisi ini membuat kepribadian Sybil terpecah. Perpecahan ini terjadi karena 'dia sendiri' tidak sanggup menghadapi segala kondisi yang dia alami. Dalam kondisi seperti ini, dia bisa menjadi seseorang yang lain. Sementara dalam kondisi yang berbeda lagi dia bisa menjadi seseorang yang berbeda lagi. Namun, pribadi-pribadi yang hidup dalam diri satu orang tersebut bahkan tidak dapat saling berkomunikasi.

Selama bertahun-tahun Sybil hidup dalam kepribadian majemuk tanpa tahu yang sebenarnya. Banyak sekali konflik-konflik yang muncul karena kepribadian majemuk tersebut. Pertemuannya dengan Dokter Wilbur memberikan warna baru dalam hidupnya. Bertahun-tahun dia berkonsultasi dengan Dokter itu. Perjalannya pun tidak mudah. Namun, semangat Sybil untuk bisa 'sembuh', dukungan Dokter Wilbur, dan 'persetujuan' individu-individu yang lain dalam dirinya, berhasil membuat Sybil bertahan dalam proses penyembuhan tersebut hingga akhirnya Sybil dapat hidup tenang.

Buat yang suka bacaan psikologi, buku ini bisa menjadi salah satu buku yang wajib baca. Buku ini dipenuhi konfilk-konfilk kepribadian dalam diri seseorang. Apalagi buat yang ingin mencoba untuk 'menciptakan' pribadi-pribadi baru, buku ini bisa menjadi salah satu referensi. Tapi buat kamu-kamu yang mau pinjam buku ini, maaf ya, saya juga pinjam sama orang lain, hehehe...

Wednesday, April 11, 2007

Gara-gara MU...

gue jadi kepagian ngantor. Jam 6.12, gue sudah ngeprik. Rekor terbaru lagi nih, hehehe...

Nggak rugi pagi tadi bangun jam 4 lewat, soale tadi disuguhi bermacam-macam gol (8 gol bo!!!). Luar biasa!!!

Monday, April 09, 2007

Keledai di Puncak Gunung Es

Ini bukanlah sebuah dongeng pengantar tidur. Tapi ini hanyalah rangkaian kata seorang blogger yang muak setelah mendengar dan melihat berita tentang para jagoan di kampus maut.

Keledai! Mungkin itulah simbol yang cukup pas untuk sebuah institusi pendidikan yang sekarang sedang ramai dibahas, IPDN. Bahkan mungkin lebih parah dari keledai. Mungkin keledai pun malu kalau harus dibandingkan dengannya.

Hanya keledai yang jatuh dua kali ke lobang sama. Pepatah semacam itu tentu pernah kita dengar. Namun apa yang terjadi di IPDN? Menurut pengakuan seorang dosennya, sudah terlalu sering praja yang meninggal akibat kekerasan. Dan kasus yang cukup menghentakkan sisi kemanusiaan kita adalah ketika media mengekspos kepergian Wahyu Hidayat beberapa tahun yang lalu. Kecaman mengalir begitu deras ke kampus yang dulu bernama STPDN. Kekhawatiran tentu begitu menghujam dalam dada para orang tua yang anaknya sedang mengejar cita-cita di kampus pencetak pejabat negara tersebut. Hingga akhirnya dibuatlah sebuah janji yang menyatakan bahwa tidak ada lagi kekerasan di kampus yang akhirnya berubah menjadi IPDN tersebut. Tapi apa yang terjadi? Ternyata mereka benar-benar seperti keledai. Sepertinya mereka sengaja menjatuhkan diri ke lubang yang sama. Entah apa yang mereka cari. Kepuasan kah? Balas dendam kah? Sesempit itu kah hati mereka yang merupakan calon abdi bangsa. Atau mengajarkan disiplin? Bullshit! Yang paling memungkinkan dalam kondisi seperti itu hanyalah ketakutan dan kekhawatiran. Wahyu Hidayat bukanlah yang pertama. Tapi semua tentu berharap bahwa dialah yang terakhir. Tapi... kepergian Cliff Muntu meluluh lantakkan harapan besar itu.

Kepergian Wahyu Hidayat dan Cliff Muntu begitu membuka mata bangsa bahwa kampus yang seharusnya menciptakan calon abdi negara, ternyata justru lebih pantas dikatakan sebagai pencipta bangsa petarung. Masih bagus kalo bertarung memberantas preman-preman jalanan. Tapi yang mereka bantai justru adik-adik mereka sendiri yang seharusnya mereka asuh. Berdasarkan informasi dari seorang dosennya, ternyata Wahyu dan Cliff bagaikan puncak sebuah gunung es. Masih banyak Wahyu-Wahyu lain yang tertutup oleh kelihaian penghuni-penghuni kampus. Tiga puluh tujuh praja tewas (tujuh belas diantaranya tidak wajar) di kampus maut itu, begitulah kata seorang dosen (dan sekarang dosen tersebut dikenakan sangsi tidak boleh mengajar selama investigasi, entah untuk alasan apa, belum ada informasi yang jelas). Kalau yang meninggal saja sudah begitu banyak, bagaimana dengan yang 'hanya' luka-luka?

Pantaslah jika salah satu orang tua praja dalam sebuah wawancara di televisi meminta semua Pemda untuk sejenak memulangkan putra-putra daerahnya yang masih tingkat awal untuk diperiksa kondisi kesehatan mereka, terutama kesehatan organ-organ dalam. Bagaimana mungkin kekerasan-kekerasan yang sudah menjadi 'budaya' seperti itu tidak tercium oleh para petinggi kampus. Mungkin para petinggi itu perlu 'mengorbankan' salah satu anaknya untuk masuk ke kampus maut itu supaya mereka dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para orang tua praja.

Sekarang saya begitu merasa beruntung. Dulu ketika masih kelas tiga SMU, salah satu keinginan saya adalah masuk ke institusi pendidikan yang dikelola negara. Tentu saja dengan harapan supaya cepat mendapat perkerjaan. Saat itu saya hanya mengenal STAN dan STIS. Entah apa jadinya kalau saya tahu bahwa ada perguran bernama STPDN dan saya masuk ke dalam kampus itu. Tapi saya juga agak heran, setelah kasus wahyu Hidayat mencuat, ternyata masih banyak orang tua yang mau mengirim ke kampus maut tersebut. Mungkin mereka terlena oleh itikad baik mereka ketika berikrar bahwa tidak ada lagi kekerasan di kampus tersebut. Tapi ternyata? Kita semua tahu siapa mereka. Bagai keledai di puncak gunung es.

Kemunculan kasus-kasus kekerasan membuat orang-orang jadi berang, hingga ada yang berucap, "Sudah, bubarkan saja kampus itu!!!" Tapi apakah itu jalan terbaik? Salah satu Pemda di Indonesia ternyata masih memiliki ide yang cukup jitu (setidaknya menurut saya). Pemda tersebut akan membentuk 'sekolah sementara' yang bebas dari kultur perpremanan dan mencetak calon birokratnya sendiri. Namun jika kondisi IPDN sudah membaik, Pemda tersebut siap mengirim kembali putra-putra daerahnya ke IPDN. Tapi masalahnya apakah jajaran petinggi kampus dan petinggi negara memiliki itikad baik untuk menangani hal ini? Kalo tidak, mungkin 'sekolah sementara' pun bakal berubah menjadi 'sekolah beneran'. Kita lihat saja nanti.

Selamat Jalan Cliff Muntu. Semoga pengorbananmu melepaskan IPDN dari kekerasan di masa yang akan datang.

Thursday, April 05, 2007

Fokus Dong!

Aduh, nggak kaya biasanya. Biasanya biarpun banyak kerjaan gue masih bisa multitasking dan ngerjain kerjaan berurutan. Tapi hari ini gue cuma buka dari satu file ke file lain. Nggak ada yang kepegang. Semua cuma buka-bukaan. Hari ini bener-bener nggak bisa fokus. Inikah efek before long weekend syndrome? Hehehe...

Ayo! Fokus Dong! Kerjaan lagi numpuk

===
Bukannya fokus di kerjaan malah fokus di blog. Orang yang aneh.
Yah... mudah-mudahan fokus bloggingnya bisa menular ke fokus kerjaan :D

===
Mungkin pembuatan list dan prioritas bisa membantu kali ya...
1. Ini - Pending, orangnya lagi ada trouble
2. Itu - Ini kan prioritas utama! Senen mo dipake. Yang ini dulu deh
3. Anu - Hmm... no 2 dulu deh
4. Ono noh - Yang ini... setelah 3 aja deh

Kesimpulannya: Kerjain yang no 2 dulu deh sampe makan siang

Wednesday, April 04, 2007

Mendadak Blogging

Siang kemarin blog gue ketambahan beberapa link baru. Karena lumayan banyak (dan kayanya masih bakalan terus bertambah) akhirnya gue bikin group tersendiri, AHM.

Sepertinya, temen-temen di kantor lagi pada demam blog. Beberapa link baru yang ada di blog merupakan blog baru. Itupun sebenernya masih banyak yang belum gue masukin. Lagi males nyari-nyarinya :D Entah apa alasan mereka pada rame-rame bikin blog. Terserah masing-masing lah. Yang jelas... welcome to de Blog pren...

Tuesday, April 03, 2007

Saturday@April

Bulan ini kayanya gue bakalan absen dari aktifitas Saturday Futball Fever karena empat kali Sabtu di bulan April sudah di-booking oleh aktifitas lain. Berikut ini aktifitas yang sudah nge-booking Sabtu-Sabtu gue.

7 April
Pada hari ini gue (mudah-mudahan) sedang berada di rumah (bukan kos lho ya). Lumayan, tanggal 6 nya kan libur. Jadi mumpung lagi long weekend dan awal bulan, kesempatan buat mudik (asik....). Nuansa yang beda kayanya juga bakalan gue rasakan kalo rencana temen-temen buat melancong ke Tegal jadi terlaksana. Lihat saja nanti deh, mereka jadi maen nggak.
Mudik? Asik...

14 April
Tanggal 12-15 April, gue mendapat 'perintah' dari kantor untuk mengikuti sebuah workshop bertema 'User Requirement'. Biasanya workshop itu membosankan. Tapi kali ini workshopnya di luar alias outdoor. Udah gitu tempatnya di Citarik, Sukabumi. Katanya bakalan ada acara arung jeram segala. Terakhir kali gue maen arung jeram adalah Juni 2001. Itupun di Dufan, hehehe...
Arung Jeram? Asik...


21 April dan 28 April
Berhubung banyak hari kerja yang kepotong di bulan April, ditambah lagi banyaknya kerjaan yang tertunda karena banyak hal, akhirnya dua Sabtu dalam bulan April gue diminta masuk buat mengejar ketertinggalan. Dua Sabtu terakhir pun mau nggak mau harus gue ikhlaskan buat gue habiskan di kantor. Tenang pren, kalo maen bolanya diundur jadi jam 4 an, gue masih sempet kok dateng ke stadion BNI. Dengan peraturan 7 jam kerja (6 jam kerja + 1 jam istirahat) supaya dapat dihitung sebagai lembur, berarti gue bisa cabut jam 2 kalo gue dateng jam 7 pagi :D
Lembur? Siapa takut?
Bola? Asik...

Monday, April 02, 2007

Comfort Zone

Minggu kemarin, sempat beredar isu buat meningkatkan kualitas lapangan bola di kalangan Saturday Futbal Warrior. Seseorang dari mereka mengusulkan untuk mengganti Futbal (ato mungkin lebih tepatnya Fun-ball, hehehe...) menjadi Futsal khusus untuk Sabtu terakhir di bulan Maret. Setelah melalui proses pengumuman, promosi, penjaringan massa, dan pendaftaran, akhirnya diperoleh keputusan : "Sabtu ini kembali maen di stadion BNI"

Penyebab utamanya sudah jelas, tidak memenuhi kuota minimal. Seandainya satu lapangan menghabiskan 12 manusia, berarti dibutuhkan paling tidak dibutuhkan 15 manusia untuk bermain futsal(gue nggak tau kenapa gue milih tiga orang pemain pengganti, kenapa nggak empat, lima, atau enam? mungkin karena futsalnya berlangsung di bulan maret kali ya). Karena kalau nggak gantian, pasti bakalan cape benget kalo maen futsal full satu jam. Selain itu, biar biayanya juga lebih murah, hehehe...

Sebagai seorang IT analyst (busyet dah, ngomongin ginian aja sampe bawa kerjaan :D), gue tertarik untuk menganalisa salah satu penyebab kegagalan rencana itu. Kalo dari respon teman-teman, ada yang bilang malu, males, nggak enak, dan yang semacamnya. Menurut gue itu alasan yang wajar. Tapi kenapa itu bisa terjadi? (Tanya kenapa...) Mungkin karena dalam komunitas futbal warrior itu masih terdapat orang-orang yang tidak mau keluar dari comfort zone mereka masing-masing.

Untuk urusan gila, komunitas para warrior itu mungkin tidak diragukan lagi (bahkan terkadang gue malu mengakui mereka sebagai teman, hehehe... peace man). Tapi sayang, ketika sudah dipisah-pisahkan, atau di depan banyak orang, tiba-tiba mereka bisa menjadi orang yang terlihat jaim (meskipun tetap dengan tampang-tampang seremnya :D), mereka menjadi pemalu (padahal biasanya malu-maluin).

Mereka sudah terbiasa dengan stadion itu. Mereka sudah merasa nyaman dengan apa yang mereka dapatkan. Lapangan luas, rumput alami yang diselingi putri malu, jauh dari keramaian, gaya futbal yang antik (nggak bakalan lo temuin di EPL, Seri A, maupun La Liga). So, ngapain harus bersusah-susah booking tempat, maen di antara kerumunan massa. Apalagi dengan skill yang apa adanya. Makin lengkap sudah alasan untuk mempertahankan kenyamanan stadion BNI.

Ah... gue sendiri mungkin termasuk orang yang susah untuk mendobrak comfort zone gue. Kos gue sekarang, pekerjaan gue sekarang, teman-teman gue sekarang, rutinitas gue sekarang. Itu semua sudah gue rasakan nyaman. Jadi untuk apa gue harus repot-repot menyingkirkan semua itu demi sesuatu yang belum pasti. Meskipun begitu, sebenarnya keinginan (sebenernya kata ini ingin gue ganti dengan kata ambisi, tapi sepertinya belum mencerminkan kondisi sebenernya) untuk sejenak keluar dari comfort zone tetap ada. Kos? Biarin lah, pindahnya sekalian kalo sudah rumah sendiri (ato minimal kontrakan), amin... Pekerjaan? Yang ini sih masih OK lah. Teman? Asli! Bosen bo! Tapi mo gimana lagi, cuma mereka yang gue punya, dan untungnya lucu-lucu + gokil-gokil, hehehe... Pengen sih jalan-jalan, muter-muter, maen-maen biar dapet temen baru yang banyak. Tapi itu dia, males + sok sibuk + keasikan dengan temen yang itu-itu aja. Rutinitas? Kayaknya pulang kerja langsung ke kos, terus kalo weekend ke depok. Boring nggak sih? Tapi buat menciptakan suasana baru kok kayaknya susah banget ya. Abisnya gue dah ngerasa nyaman sih. Apalagi di depok banyak anak-anak lucu yang kalo maen bola juga lucu-lucu, hehehe... I Love U all (huek....)

Pengen.... banget. Bisa mendobrak dinding-dinding yang menghalangi gue keluar dari comfort zone gue. Mungkin ikutan audisi extravaganza bisa menjadi salah satu pilihan. Tapi masalahnya gue belum bisa mutusin urat malu gue, hahaha...