Kemarin adalah kali ketiga aku melakukan donor darah. Ketika sedang menunggu antrian, aku berbincang-bincang dengan salah satu calon pendonor. Salah satu obrolan yang dia layangkan adalah:
"Enak ya PMI, darahnya ambil gratis dari kita. Tapi nanti dia jual ke orang yang butuh. Untung gede banget kan? Pantesan aja di sana PMI punya rumah sakit sendiri."
Kalau dilihat sepintas mungkin memang benar. Tapi apa iya sih bener-bener gratis? Setidaknya ada beberapa kebutuhan-kebutuhan pendukung untuk mengumpulkan darah itu.
1. Perlalatan donor seperti misalnya kantong darah, alat suntik, dan alat-alat donor yang lain.
2. Transportasi
3. Sarana penyimpan darah. Kayanya nggak mungkin kalau darah-darah yang sudah dikumpulkan itu disimpan di box seperti yang digunakan orang di pinggir jalan buat jualan minuman dingin. Tinggal beli es batu buat mendinginkan darah. Takutnya ntar banyak drakula yang haus datang dan membeli minuman dingin itu.
Masalah berapa biaya yang dihabiskan PMI buat mengumpulkan dan menyimpan darah, berapa biaya administrasi yang dihasilkan PMI untuk mendistribusikan darah, aku nggak peduli. Lalu, apa alasan aku mau mendonorkan darahku? Aku mau mendonorkan darahku supaya keluarnya darah yang aku donorkan dapat memancing regenerasi sel-sel darahku. Dengan begitu, regenerasi dan sirkulasi darahku menjadi lebih baik lagi. Bukankah itu bagus buat kesehatanku?
Lihat kan? Pendonor darah itu tidak selalu orang yang peduli pada sesama, tapi ada juga pendonor yang egois, hehehe...
Showing posts with label Donor Darah. Show all posts
Showing posts with label Donor Darah. Show all posts
Friday, June 22, 2007
Thursday, March 15, 2007
Donor Tiga Jarum
Pagi ini jam 9 ada donor darah yang diadakan perusahaan di Ruang Karisma Sunter. Terakhir kali saya mendonorkan darah adalah sekitar setahun yang lalu, yaitu 27 Maret 2006 di Pegangsaan. Momen ini tentu saja menjadi kesempatan yang bagus untuk melakukan donor darah kembali. Dan sepuluh menit menjelang jam 9 pun saya bergerak menuju Ruang Karisma.
Saya : "Bu, daftarnya dimana ya?"
Petugas pendaftaran : "Isi formulir yang ada di meja itu terus taro di sini ya."
Saya : "Makasih Bu."
Sayapun mengambil formulir yang berserakan di meja yang ditunjuk tadi dan mengisinya. Setelah mengisi, saya menyerahkan ke petugas pendaftaran dan menunggu untuk dipanggil.
Petugas cek darah : "Bapak Arif!!!"
Saya : "Arif Irawan Pak?"
Petugas cek darah : "Iya betul, silakan duduk Pak. Saya cek dulu ya"
Cek...cek...cek...
Petugas cek darah : "OK, silakan langsung ke situ Pak." (sambil menunjuk tempat pengambilan darah)
Saya : "Terima kasih pak."
Dan sayapun bergegas ke tempat pengambilan darah.
Pengambil darah (bukan drakula lho) : "Silakan tiduran dulu pak."
Pengambil darah : "Mau diambil dari sebelah mana pak?"
Saya : "Dari leher kiri bisa Mba? Tapi jarumnya yang bercabang dua. Biar bekasnya kaya abis digigit drakula."
Pengambil darah : "Ih, bisa aja Bapak. Kalo yang bercabang dua nggak ada Pak. Adanya yang bercabang tiga. Mau?"
Saya : "Tiga?"
Pengambil darah : "Iya, biar kaya Sasuke yang abis digigit Orochimaru. Sapa tau nanti pas bulan purnama bisa keluar seal-nya terus Bapak bisa berubah."
Saya : "Hah??? Serius Mba?"
Pengambil darah : "Iya, ini jarumnya."
Saya : "Oh... ya udah deh Mba, kalo gitu ambil darah dari tangan kiri aja biar gampang."
ps:
Scene terakhir asli bo'ongannya. Kecuali bagian menyuruh tiduran dulu sama bagian permintaan ambil darah dari tangan kiri. Itu pun sebenernya cuma request dalam hati.
Saya : "Bu, daftarnya dimana ya?"
Petugas pendaftaran : "Isi formulir yang ada di meja itu terus taro di sini ya."
Saya : "Makasih Bu."
Sayapun mengambil formulir yang berserakan di meja yang ditunjuk tadi dan mengisinya. Setelah mengisi, saya menyerahkan ke petugas pendaftaran dan menunggu untuk dipanggil.
Petugas cek darah : "Bapak Arif!!!"
Saya : "Arif Irawan Pak?"
Petugas cek darah : "Iya betul, silakan duduk Pak. Saya cek dulu ya"
Cek...cek...cek...
Petugas cek darah : "OK, silakan langsung ke situ Pak." (sambil menunjuk tempat pengambilan darah)
Saya : "Terima kasih pak."
Dan sayapun bergegas ke tempat pengambilan darah.
Pengambil darah (bukan drakula lho) : "Silakan tiduran dulu pak."
Pengambil darah : "Mau diambil dari sebelah mana pak?"
Saya : "Dari leher kiri bisa Mba? Tapi jarumnya yang bercabang dua. Biar bekasnya kaya abis digigit drakula."
Pengambil darah : "Ih, bisa aja Bapak. Kalo yang bercabang dua nggak ada Pak. Adanya yang bercabang tiga. Mau?"
Saya : "Tiga?"
Pengambil darah : "Iya, biar kaya Sasuke yang abis digigit Orochimaru. Sapa tau nanti pas bulan purnama bisa keluar seal-nya terus Bapak bisa berubah."
Saya : "Hah??? Serius Mba?"
Pengambil darah : "Iya, ini jarumnya."
Saya : "Oh... ya udah deh Mba, kalo gitu ambil darah dari tangan kiri aja biar gampang."
ps:
Scene terakhir asli bo'ongannya. Kecuali bagian menyuruh tiduran dulu sama bagian permintaan ambil darah dari tangan kiri. Itu pun sebenernya cuma request dalam hati.
Tuesday, March 28, 2006
Donor darah
Kemarin gw abis 'setor darah' alias donor darah. Sebelumnya gw belum pernah sekalipun mendonorkan darah gw. Sebenernya pengen juga sih merasakan sensasi di saat jarum (yang katanya gede) menusuk lengan gw dan di saat darah pertama mengalir ke bungkusan plastik penampung darah. Beruntung, kantor gw (katanya) rutin mengadakan acara donor darah. Dan kemarin senin, 27 Maret 2006, di kantor pegangsaan ada donor darah di ruang melati-melur. Akhirnya setelah mengikuti meeting mingguan jam 8 sampe jam 10an, gw bergegas menuju ruang melati-melur untuk mendaftarkan diri sebaga pendonor. Setelah mendaftar, beberapa saat kemudian gw dipanggil untuk diperiksa. Gw ditanya golongannya apa, tidur jam berapa semalam, dan sudah makan belum. Beruntung hari minggu sebelumnya ketika gw mengabarkan ke seorang (calon) perawat bahwa gw akan donor darah, gw disarankan untuk tidak tidur terlalu malam dan makan pagi sebelum donor. Keesokan harinya, gw nggak ada masalah waktu diperiksa. Sebenernya sih kalo soal tidur cepet itu gampang. Tapi kalo ga bangun malam harinya itu yang susah. Kan ada jadwal sendiri :p
Karena yang mau donor lumayan banyak akhirnya gw balik dulu ke ruang kerja. Setengah jam kemudian baru kembali ke tempat donor. Sesampai di ruang donor, nggak lebih dari 10 menit gw dipanggil untuk diambil darahnya. Saat itu pun tiba. Gw merebahkan badan di atas sederetan meja yang telah diberi tempat tidur. Petugas menyiapkan plastik penampung dan jarumnya yang emang terlihat lumayan besar. Jarum pun merobek jaringan-jaringan kulitku dan menusuk ke dalam daging. Darah pun mengucur melalui selang. Sayang gw ga sempet ngeliat. Gagal deh ngeliat darah pertama yang keluar. Tapi beberapa saat kemudian ketika orang di sebelah gw baru mulai proses pengambilan darah, gw sempet ngeliat darah orang itu yang pertama kali keluar. Syuuuurrrrr... darah merah mengalir melewati selang menuju tempatnya. Sekitar 15 menit (kayaknya, soalnya gw ga ngitung sih) akhirnya petugas menghentikan darah yang keluar dari tangan gw dan proses pengambilan darah pun selesai.
Sampai jumpa lagi para petugas PMI...
Karena yang mau donor lumayan banyak akhirnya gw balik dulu ke ruang kerja. Setengah jam kemudian baru kembali ke tempat donor. Sesampai di ruang donor, nggak lebih dari 10 menit gw dipanggil untuk diambil darahnya. Saat itu pun tiba. Gw merebahkan badan di atas sederetan meja yang telah diberi tempat tidur. Petugas menyiapkan plastik penampung dan jarumnya yang emang terlihat lumayan besar. Jarum pun merobek jaringan-jaringan kulitku dan menusuk ke dalam daging. Darah pun mengucur melalui selang. Sayang gw ga sempet ngeliat. Gagal deh ngeliat darah pertama yang keluar. Tapi beberapa saat kemudian ketika orang di sebelah gw baru mulai proses pengambilan darah, gw sempet ngeliat darah orang itu yang pertama kali keluar. Syuuuurrrrr... darah merah mengalir melewati selang menuju tempatnya. Sekitar 15 menit (kayaknya, soalnya gw ga ngitung sih) akhirnya petugas menghentikan darah yang keluar dari tangan gw dan proses pengambilan darah pun selesai.
Sampai jumpa lagi para petugas PMI...
Subscribe to:
Posts (Atom)