Wednesday, July 16, 2008
GSM yang baik?
gue seneng banget dapet ring back tone gratis dari salah satu provider GSM yang katanya baik banget.
Sekarang...
gue sebel banget karena tanpa konfirmasi apapun tau-tau gue dapet sms dari provider GSM yang katanya baik banget itu yang isinya kurang lebih, "Selamat atas perpanjangan ring back tone anda. Pulsa anda telah dipotong sebesar Rp. 5000" Dan ternyata, setelah gue cek pulsanya, emang pulsa gue berkurang lima ribu rupiah.
GSM yang baikkah?
Sunday, July 13, 2008
Kemunduran Relatif
Film ini merupakan film anak-anak 'paling berat' yang pernah saya tonton. Saya katakan berat karena banyak filosofi-filosofi kehidupan sepanjang adegan dalam film ini. Ini cukup langka untuk kalangan film anak-anak. Salah satu petuah yang diucapkan oleh sang guru ketika akan meninggalkan murid-muridnya adalah "Yesterday is history. Tomorrow is mistery. And Today is a gift. Thats why today is called present." Begitulah kira-kira ucapan sang guru sebelum meninggalkan perguruan.
Saya tidak sepenuhnya setuju bahwa tomorrow is mistery. Manusia memang hanya dapat merencanakan cita-citanya. Meskipun kita telah melakukan segala daya dan upaya, kita tidak akan dapat menebak dengan pasti hasil atas segala usaha kita. Hanya Tuhanlah yang menentukan segalanya. Wajar bila masa depan adalah sebuah misteri bagi kita, tapi tidak bagi Tuhan. Kita memang tidak dapat melihat di mana kita kita berada keesokan harinya. Namun, satu hal yang pasti. Ketika kita hanya terdiam di sini. Maka kita dapat menebak posisi kita di keesokan hari. Kita akan tetap di sini. Itulah salah satu kepastian yang dapat lihat dari masa depan kita.
Seringkali kita memiliki rencana besar dalam hidup kita. Kita sudah mem-break down rencana besar kita secara detail dan membagi-bagi menjadi rencana kecil yang dapat kita realisasikan. Beragam harapan dan ketakutan akan muncul seiring rencana baru ini. Namun yang sering terjadi adalah kita larut dalam analisa dan ketakutan itu sehingga kita tidak pernah memulai rencana itu. Salah satu penghalangnya adalah kenyamanan. Kenyamanan yang kita rasakan seringkali membuat kita enggan bergerak dan mencoba ranah baru dalam hidup kita. Akibatnya, kita tidak pernah memulai rencana besar kita. Dalam kondisi seperti ini, tomorrow is mysteri sudah tidak berlaku lagi. Esok, kita masih menjadi kita yang sekarang.
Mungkin terbesit dalam pikiran kita, "Asalkan kita bisa menjaga supaya kita dapat bertahan seperti sekarang, maka kita tidak akan mengalami kemunduran." Betul! Jika kita hidup dalam lingkungan yang statis. Tapi kita hidup dalam dunia yang dinamis. Dunia yang terus berkembang dan meningkat cepat. Bisa saja posisi absolut kita sekarang sama dengan posisi kemarin. Tapi tidak jika kita melihat dari sudut pandang sekitar. Dengan posisi yang sama, sebenarnya kita sedang mengalami kemunduran relatif terhadap kemajuan lingkungan.
Melihat fenomena di atas, saya lebih suka mengatakan, "Today is tomorrow. Today is my future."So, kalau tidak ingin tertinggal, lets move on...
Dan sebagai penutup tulisan ini, saya cantumkan sebuah lirik lagu dari Alter Bridge dalam albumnya, Blackbird.
===
"Before Tomorrow Comes"
I couldn't sleep I had to listen
To a conscience knowing so well
That nothing comes from indifference
I look inside of myself
Will I find some kind of conviction?
Will I bid the hero farewell?
Will I be defined by things that could have been?
I guess time will only tell
I guess time will only tell
[Chorus:]
So don't let it be
Before tomorrow comes
Before you turn away
Take the hand in need
Before tomorrow comes
You could change everything
I curse my worth and every comfort
That blinded me for way too long
Damn it all I'll make a difference from now on
Cause I'm wide awake to it all
Cause I'm wide awake to it all
[Chorus]
Does anyone care it ain't right what we're doing?
Does anyone care it ain't right where we're going?
Does anyone dare justify how we're living?
Does anyone here care at all?
[Chorus]
We could be so much more than we are
We could be so much more than we are
We could be so much more than we are
Oh this much I know
Wednesday, April 09, 2008
Tidur
Tak hanya media, orang-orang pun berkomentar mengenai tragedi ini. Salah satu yang turut berkomentar adalah Ketua DPR. Katanya, Bupati tertidur, tidak boleh itu. Tapi pak... ngemeng ngemeng... kalo anggota bapak tertidur di waktu sidang itu termasuk dispensasi atau job desc ya pak? Hehehe...
Monday, September 10, 2007
Kampung Kita
“Aneh ya kampung kita?”
“Apanya yang aneh?”
“Itu lho, di kampung sebelah, kalo bawa mobil, lewat gang yang bagus itu,
“Lho, bukannya di sini juga gitu?”
”Iya sih, tapi kok, di kampung sebelah jalannya makin bagus aja. Di kampung kita? Tunggu aja pas musim hujan nanti. Keliatan nggak, mana jalan mana selokan?”
”O gitu...”
”Trus kalo di kampung sebelah, biasanya standar sumbangannya makin lama tuh makin murah, akhirnya malah gratis. Tapi di kampung ini, makin hari kok makin mahal ya? Dewan Kampungnya pada kemana ya?”
”Masa sih?”
”Lho, emang bapak nggak tahu? Bukannya bapak sering pake mobil lewat gang itu juga?”
”Iya, tapi kalo petugasnya ngeliat stiker mobil saya, dia langsung mempersilakan saya lewat. Jadi mana saya tahu soal tarif-menarif sumbangan itu?”
”Wah... asik ya. Emang ada stiker apa di mobil bapak?”
”Itu lho, stiker 'Aku Anggota Dewan Kampung'.”
”Oalah... dasar kampret! Pantesan adem ayem. Dasar wong ora nduwe udel!”
Thursday, September 06, 2007
40 M
Umm... kalo dibeliin minyak tanah dapet berapa liter ya?
Kalo dijadiin meja, kursi, ruang kelas, jadi berapa banyak ya?
Kalo buat training kewirausahaan untuk para pengangguran bisa berapa orang ya?
Kalo dibeliin sembako bisa buat berapa keluarga miskin ya?
Kalo dibuatin rumah susun murah (apalagi gretong) untuk yang serig digusur bisa berapa tingkat ya?
Kalo dibeliin motor dapat berapa unit ya?
Kalo buat gue mau gue beliin apa aja ya? Jalan-jalan? Naik haji? Rumah? Mobil? Sekolah gratis? Rumah sakit gratis? Masjid gratis? Lho??? Ada usulan lain?
Monday, August 20, 2007
Generasi Anjing dan Kucing
Kuberi nama Heli
Heli, guk guk guk
Kemari, guk guk guk
Ayo lari lari...
Itulah sepenggal bait lagu Heli yang sering kita mainkan dulu waktu kecil.
Kelakuan si kucing garong
kalau lihat mangsa mengeong
Main sikat main embat
mangsa yang lewat
Kalo yang ini adalah sepenggal bait lagu Kucing Garong.
Generasi Anjing dan Kucing. Itulah kata yang pas menurutku. Dahulu, aku dan teman-teman suka menghafal dan melafalkan lagu anak-anak. Heli adalah salah satu lagu favorit yang dinyanyikan bersama. Sekarang juga demikian. Anak-anak kecil sekarang suka menyanyikan lagu-lagu 'anak-anak' dan bergoyang mengikuti irama lagunya. Namun, berbeda dengan dahulu, 'standar' lagu anak-anak jaman sekarang sudah berubah. Sekarang anak-anak lebih mudah menghapal lagu-lagu yang sedang trend, seperti lagu-lagu Ungu, dan lagu di atas, Kucing Garong. Rupanya anak-anak sekarang sudah cepat berkembang (?). Memang hal ini tidak terjadi pada semua anak. Namun telah terjadi kecenderungan yang dapat 'dimaafkan' oleh publik.
Lihatlah televisi jaman sekarang. Kalau melihat anak kecil dengan fasihnya menyanyikan lagu Kucing Garong, aku jadi rindu dengan masa kecilku, di mana masih banyak lagu anak-anak yang sebenarnya. Tariannya pun masih 'tarian anak-anak'. Tapi wajar saja. Mungkin lagu-lagu seperti bintang kecil, naik-naik ke puncak gunung, dan yang sejenisnya memang sudah tidak laku di pasaran. Karena itulah lagu-lagu seperti itu jarang sekali (atau bahkan tidak pernah) muncul di di televisi dalam acara musik anak-anak. Tapi, ternyata lagu-lagu itu sesekali masih muncul dalam iklan-iklan produk untuk perkembangan anak kecil atau bayi. Bahkan dengan improvisasi anak kecil (dalam iklan-iklan tersebut), lagu-lagu itu dijadikan sebagai salah satu simbol kecerdasan dalam perkembangan anak. Kenapa bukan lagu seperti kucing garong yang dijadikan lagu dalam iklan-iklan tersebut? (Tanya kenapa?)
Pola pikirku sebagai orang awam kemudian membuat kesimpulan tersendiri. Para pembuat iklan sadar bahwa lagu anak-anak dapat menjadi simbol kecerdasan emosional dan intelektual anak. Tapi para pembuat acara musik sadar bahwa lagu-lagu yang sedang trend saat ini dan kemudian disulap menjadi 'lagu anak-anak' lebih menjual daripada lagu anak-anak sebenarnya. Dari sini, sepertinya konsumsi lagu dapat menjadi salah satu faktor perkembangan anak yang dengan mudahnya menyerap apa yang dia lihat, dia suarakan, dan dia praktekan.
Entah kenapa sekarang aku merasa beruntung menjadi anak kecil di jaman dulu waktu aku masih kecil. Beruntung sekali anak-anak yang menjadi anak-anak di jaman dulu. Kasihan sekali anak-anak jaman sekarang. Umm... ternyata susah menjadi orang tua ya (halah... mikirnya kejauhan nih, hehe...)
Thursday, August 16, 2007
Tuesday, July 31, 2007
Berpasang-pasangan
Selain itu, sekarang gue juga tercatat sebagai salah satu panitia pernikahan sepupu gue bulan depan. Umm... kayanya banyak banget undangan yang gue dapet bulan ini. Dalam setiap undangan, hampir tertulis sebuah ayat dari Al Quran yaitu surat ArRum ayat 21 yang isinya tentang penciptaan manusia yang berpasang-pasangan. Terkadang gue setuju dengan isi ayat itu, tapi terkadang gue juga menolak.
Setiap manusia sudah diciptakan berpasangan, tapi kenapa masih ada yang dapat double, atau bahkan lebih? Apakah two in one, three in one, and four in one termasuk sepasang? Karena menurut gue yang namanya sepasang itu one by one. Jumlah dari sepasang adalah 2. Atau mungkin, four in one itu dianggap sebagai empat pasang meskipun secara fisik jumlahnya lebih kecil dari 2n. Jadi, pola pikir dudul seperti inilah yang membuat gue terkadang kurang bisa menerima konsep berpasang-pasangan.
Selain rumusan 2n untuk konsep sepasang, hal lain yang membuat gue kurang setuju dengan konsep berpasang-pasangan adalah pola berantai. Dalam kasus umum, jika a maka b dan jika b maka a, maka a identik dengan b. Dengan kata lain, a merupakan pasangan dari b. Namun dalam kehidupan sebenarnya, terutama untuk sebuah proses perjuangan, hukum tersebut tidak berlaku mutlak. Terkadang terjadi hubungan jika a maka b, jika b maka c, jika c maka d, dst... Dalam hal ini, tidak pernah tercipta sebuah hubungan dua objek yang saling berpasangan. Yang ada adalah hubungan yang bertepuk sebelah tangan ataupun hukum karma.
Hubungan yang bertepuk sebelah tangan terjadi pada hubungan yang positif sementara hukum karma terjadi pada hubungan yang negatif. Terkadang, ketika seseorang (a) menyukai orang lain (b), orang tersebut (b) tidak sama-sama menyukai. Tetapi orang tersebut (b) justru menyukai orang lain lagi (c). Hubungan seperti inilah yang biasa disebut dengan hubungan bertepuk sebelah tangan. Ketika seseorang (a) menyakiti orang lain (b) dan orang lain (b) tidak mampu untuk membalas menyakiti orang itu (a), terkadang akan ada orang lain (c) yang akan menyakiti orang itu (a). Inilah yang biasa disebut dengan hukum karma.
Dua konsep tersebutlah yang terkadang menjegal masuknya konsep berpasang-pasangan dalam kehidupan ke dalam pemikiran gue. Tapi... kalo dipikir-pikir lagi, kedua konsep tersebut ternyata merupakan dua konsep yang saling melengkapi. Jadi nggak salah juga kalo gue sebut kedua konsep tersebut merupakan pasangan yang serasi. Jadi meskipun seseorang tidak / belum memiliki pasangan, pada hakikatnya bisa saja dia sudah dipasangkan dengan sepasang takdir yang saling melengkapi.
Argh... kenapa gue jadi merasa hidup ini nggak adil ya? Nggak boleh gitu kan? Akhirnya gue sendiri jadi bingung dengan pemikiran gue sendiri. Mungkin gue kebanyakan mikir. Tidur aja kali ya, biar nggak pusing mikirin pemikiran yang nggak perlu dipikirin.
===
Isi di luar tanggung jawab penulis. Jangan jadikan tulisan di atas sebagai pedoman hidup. Bila kebingungan berlanjut setelah membaca tulisan di atas, segera hubungi psikiater anda.
Wednesday, June 20, 2007
Bangga dan Prihatin
Namun ternyata dibalik kebanggaan itu, terselip sebuah keprihatinan. Sebagian besar siswa yang lulus itu, hampir enam puluh persen, ya, enam puluh persen, menggunakan cara yang tidak jujur dalam menjalankan ujian.
Mereka menggunakan fasilitas HP (handphone) untuk saling mengirim jawaban di saat ujian berlangsung. Begini cara kerjanya.............
Untuk setiap mata pelajaran yang diujikan, dipilih satu sampai 3 orang yang dijadikan server (pusat jawaban - siswa cerdas yang dianggap mahir dalam pelajaran itu). Seorang server dipinjami HP (bagi yang blom punya)+pulsa+sejumlah uang (jumlahnya yang terjadi bisa menembus angka Rp 500.000)
Pertama, server itu wajib mengirim sms jawaban ujian ke masing2 subserver yang ada di masing-masing ruang ujian, untuk kemudian disebarkan ke seluruh siswa (yang menghendaki sms jawaban). Bagi yang tidak menghendai mencontek, silakan diam, dan jangan bersuara, yang bisa berakibat fatal.
Kedua, server pergi minta izin untuk keluar menuju ke toilet, dan di sana sang server menuliskan jawaban di sehelai kertas yang ditempel di dinding toilet bagian dalam, untuk kemudian masing-masing subserver dari tiap ruangan juga minta izin ke toilet untuk menyalin kunci jawaban.
Dan yang menjadi tambah prihatin adalah jawaban itu tidak hanya diberikan untuk kalangan satu SMA, tapi menyebar ke SMA-SMA lain.
Strategi ini telah dirapatkan secara massal oleh 60% siswa tadi di aula yang dikoordinasikan oleh salah satu siswa yang dianggap sebagai Jenderal Koordinator. Kira-kira, hal itu dilakukan satu bulan sebelum Ujian Nasional, tapatnya dari mulai pra UAN Sekolah sampai pra UAN tingkat Kota.
Entah kenapa, strategi macam ini sukses besar dalam pra UAN tingkat Sekolah, sehingga strategi ini terus dilakukan dari Pra UAN tingkat kota hingga ujian Sekolah. Allahu A'lam, kenapa tak urung terbongkar.
Mendekati ujian nasional yang sebenarnya, kira-kira dua hari, diadakan rapat besar lagi untuk memantapkan strategi contek-mencontek ini. Setelah dikira sangat solid, mereka sepakat untuk melakukannya saaat ujian.
Memang,kata-kata yang terucap dari siswa-siswa yang ikut dalam "Cara Sukses Meluluskan Angkatan 2007 100%" terdengar sangat mulia. Mereka berkeinginan agar tidak ada satu orangpun dari temannnya satu angkatan yang tertinggal, dalam artian harus mengulang palajaran tahuan berikutnya.
Tapi, saya sempat bertanya kepada salah seorang subserver, tentang cara yang dilakukannya yang menyalahi aturan, terlebih lagi menggunakan cara-cara kotor seperti sms, ataupun yang lain. Jawabnya enak saja,"Yang penting lulus semua. Kamu pengin kalo kamu lulus tapi temanmu gak lulus?"
Astaghfirullaah.......
Speechless! Itulah respon saya sesaat setelah membaca berita tersebut di milis.
Luar biasa! Melihat keberhasilan siswa-siswa tersebut.
Prihatin! Melihat kondisi siswa-siswa dalam mencapai tujuan yang mulia itu.
Inikah pola pikir yang terbentuk ketika materi sudah menjajah dunia? Penjajahan itu telah menebarkan rasa takut di mana-mana. dan ketakutan itu tidak memandang bulu ketika akan menghinggapi korbannya.
Siswa mana yang tidak takut tidak lulus ujian. Malu, karena teman-temannya dapat berbangga-bangga ria, sementara dia harus meratapi nasibnya yang harus ditentukan melalui ujian kejar paket. Selain dibayar dengan malu, tentu ada waktu yang juga harus dikorbankan. Bagi siswa yang luluspun, tentu tidak akan rela jika temannya 'diperlakukan' seperti itu oleh takdir. Kalaupun satu-satunya cara yang ampuh untuk menolak kedatangan takdir itu tidak lazim, tak apalah. Yang penting kita lulus bersama. Bersama Kita Bisa!
Ketidaklulusan akan menjadi 'aib' bagi sekolah (tentu saja selain bagi siswa yang tidak lulus). Bagaimana tidak, tingkat kelulusan mungkin menjadi salah satu faktor yang 'menjual' sekolah itu. Apa jadinya jika setiap tahun ada yang tidak lulus dan jumlahnya juga bertambah. Orang tua mana yang tetap mempercayakan anak-anaknya untuk disekolahkan di tempat seperti itu. Tapi sungguh ironis jika sebuah lembaga pendidikan berdiam diri dengan kondisi yang sudah separah itu.
Wahai para siswa, guru, dan pengelola sekolah. Di manakah hati nurani itu? Ah... mungkin dengan pekerjaan yang bakalan mereka peroleh, dengan uang yang bakalan mereka dapat, mereka pikir bisa membeli hati nurani yang pernah mereka jual. Bahkan kalau perlu, lebih dari satu yang mereka beli. Supaya kalau dibutuhkan, masih ada hati nurani yang bisa dijual demi tujuan mereka.
Salut dan selamat kepada para siswa, praktisi pendidikan, yang senantiasa menjaga kejujuran dan berhasil lulus dan meluluskan dengan cara yang elegan.
===
Nulis kaya gini, gue lagaknya kaya orang yang punya hati nurani banget ya... :p
Emang sih gue pernah ngasih contekan waktu ujian, tapi itu kan untuk melatih skill gue dalam 'menjaga rahasia', supaya nggak ketauan guru pengawas, hehehe...
Tuesday, June 12, 2007
Minyak Jelantah
Dalam salah satu lagunya, sebuah band legendaris dari Indonesia, Koesplus, menuliskan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang makmur. Sawah dimana-mana, hutan berhektar-hektar, kekayaan alam melimpah. Kalau melihat alamnya, mungkin pendapat Koesplus itu benar. Tapi tidak kalo melihat sumber daya lainnya.
Pengeboran minyak ada di mana-mana, tapi harga bahan bakar terus melambung. Kelapa sawit ada di mana-mana, tapi harga minyak goreng terus meroket. Sawah ada di mana-mana, tapi harga beras terus melonjak. Tanya ken... apa...
Kabarnya sih minyak goreng jadi mahal gara-gara stok yang ada dijual ke luar. Alasannya? Pasti duit lah. Kalo jualan di luar lebih mahal ngapain jual di dalam. Kalaupun harga minyak goreng di dalam negeri jadi mahal, toh masih bisa terbeli dengan hasil jualan ke luar (ya nggak?). Terus yang nggak punya duit? Kalo nggak punya duit ya nggak usah nggoreng, rebus aja (gitu kali ya maksud para penjual sinting itu).
Berarti lirik lagu Koesplus masih kurang pas untuk kondisi seutuhnya di Indonesia. Sekarang gue jadi khawatir nih dengan harga garam. Bangsa kita adalah bangsa yang dikelilingi banyak lautan. Seiring dengan semakin memanasnya bumi ini, es di kutub semakin mengikis dan lautan semakin meluas. Laut memang meluas. Tapi itu berarti area daratan akan mengecil yang berakibat berkurangnya ladang untuk membuat garam. Lihat saja, minyak goreng yang stoknya banyak saja semakin mahal. Bagaimana dengan ladang garam yang menyempit? Bagaimana dengan produksi garam yang menurun? Bagaimana dengan kebutuhan garam yang menanjak? Apalagi efeknya kalau bukan naiknya harga garam. Kalau garam begitu berarti dan mahal di luar, kenapa harus dijual di dalam? Jadi... siap-siap saja kalau suatu saat harga garam akan meroket.
Thursday, June 07, 2007
Kebanggaan
Dalam salah satu adegan di film Love Actually (yang dvdnya gue pinjem dari om ndut), Hugh Grant yang berperan sebagai Perdana Menteri Inggris membanggakan negaranya di depan petinggi Amerika dengan mengucapkan : "Inggris. Kami memang negara kecil tapi hebat. Ini negara asalnya Shakespeare, Churchill, The Beatles, Sean Connery, Harry Potter dan kaki kanan Beckham"
Umm... buat orang inggris, banyak banget yang bisa dibanggakan dari negerinya . Tapi kalo gue... kenapa ya, yang ada di pikiran itu pencotekan film alias plagiat, pejabat yang suka makan duit rakyat, dangdut yang fenomenal, pahlawan yang terlantar, timnas sepakbola yang kalo pas gue nonton nggak pernah menang, dan masih banyak lagi yang lain. Rasanya aneh banget kalo gue lagi mengikuti sesi interview di Mister Universe dan mengatakan "Indonesia. Kami adalah negara besar tapi kecil. Ini negara asalnya Edi Tansil, Suharto, Sumanto, Inul, Trio Macan, dan kaki-kaki timnas sepakbola yang jarang manjaringkan gol". Aneh kan?
===
Rasanya gue telat banget deh membahas persoalan kaya gini, hahaha...
Atau malah sudah biasa?
Tanya ken...apa?
Tuesday, May 15, 2007
Harpitnas
"Masuk lah. Lha wong di production planning ada kok buat tanggal 18. Berarti ya kita masuk juga."
"Ih, kenapa sih kita masuk? Kan pemerintah libur! Kok nggak ngikutin pemerintah sih?"
"Lha kita kan lagi ngejar target pesenan, jadi produksi tetep jalan. Akibatnya kita juga ikutan masuk. Coba pemerintah ngejar target buat bayar utang negara, pasti pemerintah nggak libur."
Friday, April 27, 2007
Kapan Kawin
"Mmm... may. May be yes, may be no."
Itulah sepenggal dialog dalam sebuah iklan. Pasti kita sering melihatnya di stasiun-stasiun TV. Memang terdengar konyol, tapi menurut gue bener juga sih. Sapa yang menjamin bahwa kita bisa mencapai tahap perkawinan sebelum maut menjemput kita?
[konyol mode = on]
Orang bilang kawin itu enak soalnya membuat aliran keuangan menjadi lebih cermat.
Kalo gitu, sewa aja finance consultant, beres kan.
Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang masakin.
Banyak kok tukang masak yang bisa disewa, makanannya pasti enak-enak.
Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang nemenin kalo kita lagi sendirian ato mo jalan-jalan.
Telpon aja temen. Malah bisa ganti-ganti, nggak bosen kan?
Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang ngurusin kalo lagi sakit.
Gitu aja kok repot, panggil aja dokter dan perawat pribadi.
Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang bisa diajak berbagi suka dan duka.
Masa nggak punya temen sih? Kasian deh lo...
Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang merindukan dan menanti.
Ngutang aja yang banyak, pasti bakalan banyak yang merindukan dan menanti.
Orang bilang kawin itu enak soalnya ada yang dirindukan dan dinanti.
Makanya ngutangin orang lain yang banyak, biar ada yang kita rindukan dan kita tunggu.
Jadi... masih mikirin kawin?
[konyol mode = off]
Jadi... kapan kawin?
Ya tunggu nikah lah, hahaha... (berarti tulisan di atas banyak yang salah tulis tuh :p)
Monday, April 09, 2007
Keledai di Puncak Gunung Es
Keledai! Mungkin itulah simbol yang cukup pas untuk sebuah institusi pendidikan yang sekarang sedang ramai dibahas, IPDN. Bahkan mungkin lebih parah dari keledai. Mungkin keledai pun malu kalau harus dibandingkan dengannya.
Hanya keledai yang jatuh dua kali ke lobang sama. Pepatah semacam itu tentu pernah kita dengar. Namun apa yang terjadi di IPDN? Menurut pengakuan seorang dosennya, sudah terlalu sering praja yang meninggal akibat kekerasan. Dan kasus yang cukup menghentakkan sisi kemanusiaan kita adalah ketika media mengekspos kepergian Wahyu Hidayat beberapa tahun yang lalu. Kecaman mengalir begitu deras ke kampus yang dulu bernama STPDN. Kekhawatiran tentu begitu menghujam dalam dada para orang tua yang anaknya sedang mengejar cita-cita di kampus pencetak pejabat negara tersebut. Hingga akhirnya dibuatlah sebuah janji yang menyatakan bahwa tidak ada lagi kekerasan di kampus yang akhirnya berubah menjadi IPDN tersebut. Tapi apa yang terjadi? Ternyata mereka benar-benar seperti keledai. Sepertinya mereka sengaja menjatuhkan diri ke lubang yang sama. Entah apa yang mereka cari. Kepuasan kah? Balas dendam kah? Sesempit itu kah hati mereka yang merupakan calon abdi bangsa. Atau mengajarkan disiplin? Bullshit! Yang paling memungkinkan dalam kondisi seperti itu hanyalah ketakutan dan kekhawatiran. Wahyu Hidayat bukanlah yang pertama. Tapi semua tentu berharap bahwa dialah yang terakhir. Tapi... kepergian Cliff Muntu meluluh lantakkan harapan besar itu.
Kepergian Wahyu Hidayat dan Cliff Muntu begitu membuka mata bangsa bahwa kampus yang seharusnya menciptakan calon abdi negara, ternyata justru lebih pantas dikatakan sebagai pencipta bangsa petarung. Masih bagus kalo bertarung memberantas preman-preman jalanan. Tapi yang mereka bantai justru adik-adik mereka sendiri yang seharusnya mereka asuh. Berdasarkan informasi dari seorang dosennya, ternyata Wahyu dan Cliff bagaikan puncak sebuah gunung es. Masih banyak Wahyu-Wahyu lain yang tertutup oleh kelihaian penghuni-penghuni kampus. Tiga puluh tujuh praja tewas (tujuh belas diantaranya tidak wajar) di kampus maut itu, begitulah kata seorang dosen (dan sekarang dosen tersebut dikenakan sangsi tidak boleh mengajar selama investigasi, entah untuk alasan apa, belum ada informasi yang jelas). Kalau yang meninggal saja sudah begitu banyak, bagaimana dengan yang 'hanya' luka-luka?
Pantaslah jika salah satu orang tua praja dalam sebuah wawancara di televisi meminta semua Pemda untuk sejenak memulangkan putra-putra daerahnya yang masih tingkat awal untuk diperiksa kondisi kesehatan mereka, terutama kesehatan organ-organ dalam. Bagaimana mungkin kekerasan-kekerasan yang sudah menjadi 'budaya' seperti itu tidak tercium oleh para petinggi kampus. Mungkin para petinggi itu perlu 'mengorbankan' salah satu anaknya untuk masuk ke kampus maut itu supaya mereka dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para orang tua praja.
Sekarang saya begitu merasa beruntung. Dulu ketika masih kelas tiga SMU, salah satu keinginan saya adalah masuk ke institusi pendidikan yang dikelola negara. Tentu saja dengan harapan supaya cepat mendapat perkerjaan. Saat itu saya hanya mengenal STAN dan STIS. Entah apa jadinya kalau saya tahu bahwa ada perguran bernama STPDN dan saya masuk ke dalam kampus itu. Tapi saya juga agak heran, setelah kasus wahyu Hidayat mencuat, ternyata masih banyak orang tua yang mau mengirim ke kampus maut tersebut. Mungkin mereka terlena oleh itikad baik mereka ketika berikrar bahwa tidak ada lagi kekerasan di kampus tersebut. Tapi ternyata? Kita semua tahu siapa mereka. Bagai keledai di puncak gunung es.
Kemunculan kasus-kasus kekerasan membuat orang-orang jadi berang, hingga ada yang berucap, "Sudah, bubarkan saja kampus itu!!!" Tapi apakah itu jalan terbaik? Salah satu Pemda di Indonesia ternyata masih memiliki ide yang cukup jitu (setidaknya menurut saya). Pemda tersebut akan membentuk 'sekolah sementara' yang bebas dari kultur perpremanan dan mencetak calon birokratnya sendiri. Namun jika kondisi IPDN sudah membaik, Pemda tersebut siap mengirim kembali putra-putra daerahnya ke IPDN. Tapi masalahnya apakah jajaran petinggi kampus dan petinggi negara memiliki itikad baik untuk menangani hal ini? Kalo tidak, mungkin 'sekolah sementara' pun bakal berubah menjadi 'sekolah beneran'. Kita lihat saja nanti.
Selamat Jalan Cliff Muntu. Semoga pengorbananmu melepaskan IPDN dari kekerasan di masa yang akan datang.
Monday, April 02, 2007
Comfort Zone
Penyebab utamanya sudah jelas, tidak memenuhi kuota minimal. Seandainya satu lapangan menghabiskan 12 manusia, berarti dibutuhkan paling tidak dibutuhkan 15 manusia untuk bermain futsal(gue nggak tau kenapa gue milih tiga orang pemain pengganti, kenapa nggak empat, lima, atau enam? mungkin karena futsalnya berlangsung di bulan maret kali ya). Karena kalau nggak gantian, pasti bakalan cape benget kalo maen futsal full satu jam. Selain itu, biar biayanya juga lebih murah, hehehe...
Sebagai seorang IT analyst (busyet dah, ngomongin ginian aja sampe bawa kerjaan :D), gue tertarik untuk menganalisa salah satu penyebab kegagalan rencana itu. Kalo dari respon teman-teman, ada yang bilang malu, males, nggak enak, dan yang semacamnya. Menurut gue itu alasan yang wajar. Tapi kenapa itu bisa terjadi? (Tanya kenapa...) Mungkin karena dalam komunitas futbal warrior itu masih terdapat orang-orang yang tidak mau keluar dari comfort zone mereka masing-masing.
Untuk urusan gila, komunitas para warrior itu mungkin tidak diragukan lagi (bahkan terkadang gue malu mengakui mereka sebagai teman, hehehe... peace man). Tapi sayang, ketika sudah dipisah-pisahkan, atau di depan banyak orang, tiba-tiba mereka bisa menjadi orang yang terlihat jaim (meskipun tetap dengan tampang-tampang seremnya :D), mereka menjadi pemalu (padahal biasanya malu-maluin).
Mereka sudah terbiasa dengan stadion itu. Mereka sudah merasa nyaman dengan apa yang mereka dapatkan. Lapangan luas, rumput alami yang diselingi putri malu, jauh dari keramaian, gaya futbal yang antik (nggak bakalan lo temuin di EPL, Seri A, maupun La Liga). So, ngapain harus bersusah-susah booking tempat, maen di antara kerumunan massa. Apalagi dengan skill yang apa adanya. Makin lengkap sudah alasan untuk mempertahankan kenyamanan stadion BNI.
Ah... gue sendiri mungkin termasuk orang yang susah untuk mendobrak comfort zone gue. Kos gue sekarang, pekerjaan gue sekarang, teman-teman gue sekarang, rutinitas gue sekarang. Itu semua sudah gue rasakan nyaman. Jadi untuk apa gue harus repot-repot menyingkirkan semua itu demi sesuatu yang belum pasti. Meskipun begitu, sebenarnya keinginan (sebenernya kata ini ingin gue ganti dengan kata ambisi, tapi sepertinya belum mencerminkan kondisi sebenernya) untuk sejenak keluar dari comfort zone tetap ada. Kos? Biarin lah, pindahnya sekalian kalo sudah rumah sendiri (ato minimal kontrakan), amin... Pekerjaan? Yang ini sih masih OK lah. Teman? Asli! Bosen bo! Tapi mo gimana lagi, cuma mereka yang gue punya, dan untungnya lucu-lucu + gokil-gokil, hehehe... Pengen sih jalan-jalan, muter-muter, maen-maen biar dapet temen baru yang banyak. Tapi itu dia, males + sok sibuk + keasikan dengan temen yang itu-itu aja. Rutinitas? Kayaknya pulang kerja langsung ke kos, terus kalo weekend ke depok. Boring nggak sih? Tapi buat menciptakan suasana baru kok kayaknya susah banget ya. Abisnya gue dah ngerasa nyaman sih. Apalagi di depok banyak anak-anak lucu yang kalo maen bola juga lucu-lucu, hehehe... I Love U all (huek....)
Pengen.... banget. Bisa mendobrak dinding-dinding yang menghalangi gue keluar dari comfort zone gue. Mungkin ikutan audisi extravaganza bisa menjadi salah satu pilihan. Tapi masalahnya gue belum bisa mutusin urat malu gue, hahaha...
Wednesday, March 28, 2007
Isyarat
Sebagian orang mungkin langsung tersadar dengan isyarat-isyarat tersebut. Itulah bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Sudah terlalu banyak orang yang menuhankan selain Dia. Celakanya, mungkin ada juga orang yang menganggap dirinya Tuhan. Luar Biasa!!!
Sebagian lagi, yang sudah 'terdaftar' sebagai pemilik keajaiban-keajaiban itu, begitu mengagungkan, begitu terpanggil untuk memeliharanya. Orang yang memiliki 'kambing ajaib' itu, pasti bangga dengan peliharaannya. Apalagi banyak orang yang ingin membuktikan langsung keajaiban Ilahi tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Si kambing akan mendapat perhatian khusus dalam perawatannya.
Berbeda lagi dengan Pak Amri, selaku penemu 'pohon Allah' tersebut. Dari awal dia memang sudah mendapatkan beberapa firasat. Mulai bermimpi bertemu dengan anak kecil tiga hari berturut-turut, sampai kemalasan yang tiba-tiba muncul sesaat sebelum membantai pohon Allah. Dan sejak penemuan pohon tersebut, Pak Amri terus begadang untuk menjaga pohon tersebut. Takut terjadi apa-apa katanya.
Sepertinya bangsa kita memang masih banyak yang suka maen fisik (umm...wajar saja kalo pemenang kontes kecantikan adalah orang-orang yang bening, apalagi kalo menyandang gelar 'indo'). Padahal, bisa jadi, itulah isyarat dari-Nya supaya kita senantiasa melihat-Nya (kalaupun tidak bisa, yakinlah bahwa Dia pasti melihat kita). Dia tidak meminta kita hanya melihat kambing itu. Atau mengunjungi pohon yang membawa nama-Nya. Tapi lebih dari itu, dia ingin kita kembali. Kembali pada aturan-Nya. Dia ingin kita mengunjungi rumah-Nya. Baik rumah yang ada di tanah suci (Soale banyak juga orang yang begitu mudah bolak-balik berlibur ke belahan bumi yang lain. Tapi rasanya susah sekali untuk berlabuh sejenak ke tanah suci sekali dalam hidupnya), maupun rumah yang ada di hati suci (Aneh juga. Banyak orang bertualang ke seantero dunia untuk mencari jalan menuju Tuhan. Padahal, Dia punya rumah di dalam dirinya. Tinggal ketok pintu aja kan? Nyampe dah)
"Tiap malam saya jaga pohon ini. Sebab, dalam mimpi saya itu, anak kecil meminta untuk perlindungan. Ya mungkin saja anak kecil dalam mimpi saya itu pohon tersebut," katanya sembari tersenyum.Tanpa bermaksud menampik keindahan pohon itu, mungkin akan terdengar lebih indah kalau kalimat terakhir dari apa yang diucapkan Pak Amri diganti menjadi
Lantas sampai kapan dia akan menjaga pohon itu? "Saya belum bisa pastikan sampai kapan berhenti menjaganya. Kalau malam, kalimat Allah di atas pucuk pohon itu semakin indah. Tak percaya, datanglah nanti malam," kata dia. (Dikutip dari detik. Link ada di atas)
"Kalau malam, kalimat Allah di lidah dan hati itu semakin indah. Tak percaya, cobalah nanti malam,"
===
Argh... jadi malu nulis ginian. Suwer deh...
Tapi bahan buat nulis blog siang ini cuma ini yang terpikir. Mo gimana lagi? hehehe...
Kembali ke Laptop
Katanya (gue belum baca berita resminya), rencana pemberian laptop gretong itu sudah dianggarkan. Lalu, kemana ya larinya anggaran Laptop itu? Mungkin nggak ya, anggaran yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktifitas anggota dewan tersebut, dialihkan untuk meningkatkan pendidikan rakyat jelata atau mengurangi kemiskinan di tanah air ini? Ah... mungkin berita seperti itu hanya akan muncul di acara "Mimpi Kali Ye...".
Sekarang gue jadi punya ide lho. Dewan yang terhormat itu kan sering mendapat cibiran dengan kebijakan-kebijakannya itu. Nah, untuk menaikkan citra anggota yang terhormat tersebut, gimana kalo Gedung Terhormat itu mengeluarkan kebijakan yang bakal jadi kontroversi, tapi akhirnya tidak jadi dilakukan. Kaya kasus Laptop ini, setelah jadi kontroversi akhirnya kebijakan tersebut dibatalkan. Acungan jempol pun mengalir ke senayan. Kalo dewan bisa membuat kebijakan semacam itu kan jadi sering dapet acungan jempol, hehehe.... (Pikiran yang aneh. Anggota dewan yang terhormat, jangan dengerin usulan saya. Kalo mau ditampung, silakan. Tapi jangan direalisasikan. Lagian rakyat sudah semakin pandai, kalo dewan yang terhormat sering melakukan hal-hal yang saya usulkan, pasti rakyat akan bosan dengan tingkah polah dewan yang mencla-mencle itu. Melempar isu terus menariknya lagi. Jadi jangan lakukan usulan itu ya. Bukankah mendengar dan membuang usulan itu bukan hal susah buat Anda-anda semua?)
Mending sekarang Bapak-Ibu mikirin gimana mindahin anggaran laptop itu. Jangan kasih ke Tukul atau Unyil. Mereka sudah punya Laptop sendiri. Mendingan buat biaya belajar anak-anak yang di jalanan itu. Nggak perlu Laptop, cukup sekolah lengkap dengan guru dan perpusnya, hehehe...
===
Pagi gini, mikirin tingkah polah mereka, jadi pengen belajar yang rajin. Khususnya belajar matematika
50 + 50 = cepe deh...
Tuesday, March 27, 2007
Kebangkitan, Trend, Pasar, dan Budaya
Nggak lama kemudian, secara 'nggak sengaja' gue nonton sinetron (ketauan deh hobinya, hehehe) di RCTI, judulnya Olivia. Sekitar lima belas menit setelah nonton, gue langsung inget sama film She Is The Man (SITM). Olivia mengisahkan tentang seorang cewe yang nggak boleh bergabung dengan tim sepakbola sekolah karena alasan gender (makanya maen di lap BNI aja kalo sabtu siang jam 2an, pasti boleh deh). Berbekal balas dendam dan rasa ingin unjuk gigi, dia bertekad untuk dapat bermain di tim sepakbola pria. Setelah melakukan penyamaran (jadi cowo bo), akhirnya dia berhasil bergabung dengan tim sepakbola sekolah lain (sebelum sinetron ini kelar, gue sudah keburu cabut ke Depok). Kisah-kisah nya juga mirip banget. Tinggal satu kamar dengan cowo, menyukai cowo (inget lho, dia sekarang lagi jadi cowo), disukai cewe (inget lho, dia aslinya cewe), dan sederet masalah-masalah lain yang membumbui alur cerita tampak tidak ada bedanya dengan film SITM. "Ah, lagi-lagi contekan" pikir gue
Selain dua film dan sinetron di atas, tentu banyak sekali film-film atau sinetron-sinetron di Indonesia yang memimiliki kemiripan dengan banyak alasan. Lihatlah bagaimana ketika Dunia Lain sukses muncul di salah satu stasiun TV, tidak lama kemudian sederet judul-judul dengan tema serupa menghiasi stasiun TV yang lain. Atau ketika Rahasia Ilahi mulai menuai rating, stasiun TV lain pun mulai memasang ancang-ancang supaya sinetron itu tidak melenggang sendirian. Sinetron-sinetron lainpun bermunculan yang merupakan buah dari strategi. Mau contoh lagi? Dulu bioskop kita hanya menyajikan film-film Hollywod. Mau tidak mau, itulah pilihan yang bisa kita santap. Hingga tiba masanya film Indonesia beranjak tampil menghiasi papan-papan Twenty One. Daun Di Atas Bantal, Ada Apa Dengan Cinta, merupakan contoh-contoh film yang mulai membangunkan film Indonesia dari tidur panjangnya. Setelah film Indonesia mulai meramaikan jagad perfilman Indonesia, trend-trend dengan sendirinya muncul ke permukaan. Ketika film-film romantis laris di pasaran, Production House berlomba-lomba membuat film-film romantis (tapi kalo tema romantis alias cinta sih kayaknya emang nggak pernah abis). Ketika film-film hantu disukai dan mendapat respon positif dari masyarakat perfilman, para hantu pun bergentayangan di baliho-baliho, poster-poster, maupun papan-papan iklan. Bahkan area bioskop pun tidak cukup untuk menampung hantu-hantu yang siap menghibur dan menakut-nakuti penontonnya. Jalan raya pun turut menjadi korban pelampiasan para hantu dalam memperkenalkan diri mereka.
Sialnya, tidak semua trend, kemiripan, atau apapun itu namanya, dapat diterima oleh masyarakat perfilman. Dunia perfilman kita sempat heboh dengan munculnya film kontroversial yang menjadi pemenang dalam ajang paling bergengsi di Indonesia, Festival Film Indonesia. Masyarakat yang peduli dengan perfilman Indonesia pun melakukan aksi demo dengan cara mengembalikan piala-piala yang pernah mereka terima melalui ajang bergengsi tersebut. Apa jadinya jika film yang dianggap tidak memiliki orisinalitas itu maju ke pentas festival tingkat dunia? Ah, peduli setan, gue mah yang penting bisa nonton film-film dari hasil 'kemiripan' CD/DVD (dengan yang ori) yang sekarang sepertinya sudah menjadi trend karena pasar juga tidak menolaknya, hehehe... Weitz... tunggu dulu, gue cuma melakukan itu sama film2 luar. Kalo film indo, pasti gue nonton dari CD ori atau langsung di bioskop. Biar karya anak negeri terus berkembang, ceile...
Kemunculan film-film Indonesia di saat-saat yang sepi dulu, bolehlah kalo kita sebut sebagai kebangkitan perfilman nasional (Tapi sampai sekarang gue belum menemukan momen-momen apa yang menjadi kebangkitan persinetronan nasional. Apakah sinetron-sinetron kita sudah berdiri dari dulu, atau... jangan-jangan... sampai sekarang emang belum pernah berdiri tapi hanya berhalusinasi bahwa mereka sudah berdiri? Mikirin gituan, jadi pengen makan tape sama cabe. Tape deh... cabe deh...). Tapi setelah itu, mungkin yang muncul hanya trend dan permintaan pasar. Atau bahkan... sudah menjadi budaya. Ngekor, njiplak, or whatever lah, pokoke yang kaya gitu. Trend, pasar, dan budaya, sepertinya sudah tipis sekali perbedaannya. Tidak heran kalau sekarang kita disodorkan dengan film-film yang biasanya mirip-mirip, apalagi sinetron. Parah. Kalau sinetron aslinya dari luar (biasanya sih dari korea dan sekitarnya) habis dalam 60 episode, versi Indonya bisa nyampe 2 kalinya. Ternyata kita jago ya dalam mencari masalah, maksudnya masalah buat manjang-manjangin durasi sinetron. Apakah ini karena trend, permintaan pasar, atau sekedar ngekor-ngekoran? Tau ah, emang gue pikirin? Gue nggak pernah nonton sinetron gituan.
Komentar terakhir, tulisan-tulisan di atas bukan harapan-harapan optimis maupun pesimis untuk dunia entertainment Indonesia (Buat gue yang penting kalo lagi nganggur ada film yang bisa ditonton). Bukan juga merupakan kritikan (Gue bukan pemerhati dunia perfilman dan persinetronan, apalagi praktisi. Gue cuma penikmat film dan sinetron yang menurut gue bagus, itu aja). Tapi, tulisan di atas hanya cuap-cuap alias celotehan anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia entertaintment. Dan yang pasti, gue menulis karena gue punya waktu buat blogging sebelum jam 7.30. Setelah jam 7.30, gue sudah mulai kerja (Boong ding, pasti browsing dulu, nggak mungkin langsung kerja. Buka gmail, detik, kompas, republika, blog orang...dst).
Wednesday, February 21, 2007
Ketakutan
Lihatlah bagaimana anak-anak ketakutan dengan imajinasi yang mereka buat sendiri. Cerita-cerita yang dia dengar, film-film yang dia lihat, membuat anak-anak menjadi kreatif dalam berimajinasi. Namun tidak jarang pula kreatifitas itu justru menakuti mereka sendiri. Tap itulah dunia anak. Tanpa imajinasi, tentu hidup mereka akan hambar.
Tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan segala aktifitas dan kehidupannya, ketakutan-ketakutan akan muncul kembali dengan bentuk yang berbeda. Ketatnya persaingan mendapatkan tiket ke perguruan tinggi negeri yang bagus, dapat menjadi salah satu obor ketakutan tersendiri. Meskipun kegagalan belum menjadi harga mati, namun auranya sudah menebarkan ketakutan. Berbagai usaha pun dilakukan untuk memupuskan ketakutan itu. Mengikuti beberapa bimbel sekaligus pun tidak masalah. Waktu yang tersita mungkin akan sebanding dengan hasil yang diperolehnya nanti. Bahkan jika kita dapat sedikit membuang nurani, kita dapat saja 'menyingkirkan' peluang orang lain dengan melewati 'jalan belakang'. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa kita masih bisa merasakan hari dimana masa kuliah dimulai? Siapa yang akan menjamin bahwa pengorbanan kita tidak akan sia-sia
Kasus lain yang menjadi menu wajib bagi kaum muda, tentu saja urusan berumah tangga. Terlebih jika di usia yang yang memasuki area krisis (twenty-x syndrome?). Desakan orang tua, candaan teman-teman, akan menambah kepanikan jomblowan-jomblowati. Pencarian cinta akan dilakukan entah melalui media teman, keluarga, maupun internet. Tidak hanya media yang konvensional, bahkan segala media pun dapat menjadi pilihan. Biro jodoh, paranormal, dukun dan sebagainya merupakan alternatif lain. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa kita masih bisa merasakan hari dimana kita bersanding dengan pasangan kita? Bahkan untuk yang sudah berpasangan pun, tidak ada yang menjamin bahwa itu akan berakhir di pelaminan. Perlukah kita setakut itu? Mengapa kita begitu takut dengan apa yang belum tentu kita alami?
Orang tua mana yang tidak peduli dengan masa depan anak-anaknya? Di kehidupan yang keras ini, orang tua pasti akan menyiapkan segala sesuatu untuk anak-anaknya. Termasuk masa depannya. Dan orang-orang pun akan membungkus ketakutan akan masa dapan anak-anaknya dengan kata-kata indah seperti rencana masa depan, tabungan pendidikan, maupun asuransi. Kata-kata tersebut memang sudah lazim dalam kehidupan sekarang. Sehingga ketakutan-ketakutan tersebut akan menjadi kabur. Tapi, siapa yang akan menjamin bahwa anak-anak kita masih bisa merasakan hari dimana mereka mengenyam indahnya masa sekolah? Siapa yang dapat menjamin bahwa sang masa tidak akan merampas semua cita-citanya? Perlukah kita setakut itu? Mengapa kita begitu takut dengan apa yang belum tentu kita alami?
Sebaliknya, ada sebuah moment yang sudah pasti akan kita alami. Tidak ada satupun makhluk yang bernyawa yang dapat menghindari moment ini, apalagi menolak. Moment itu bisa datang kapan saja dia mau. Namun sedikit sekali orang yang mempersiapkan, sedikit sekali orang yang mau menyambut masa-masa itu. Moment itu hanya dianggap angin lalu. Pengorbanan yang hakiki hanya akan dianggap sebagai pengorbanan sia-sia saja. Nanti sajalah! Mungkin begitu orang pikir. Tidak sedikitpun ketakutan yang menghantui. Kalaupun ada, mungkin mereka akan berkata "Ah, masih lama." Padahal moment itu bisa menghampiri tiba-tiba. Mengapa kita begitu ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi, hingga bersemangat melakukan apa saja. Tapi... mengapa kita begitu acuh tak acuh terhadap kematian, sesuatu yang pasti terjadi. Kemana semangat itu? Mungkinkah karena kita belum pernah mati? Kalau begitu, mungkin ada baiknya kalau kita belajar mati sebelum mati.
Seorang atlit akan dapat memenangkan pertandingan jika dia sering berlatih.
Seorang penyanyi akan dapat menyanyi dengan suara indah jika dia sering berlatih.
Dan seseorang akan dapat 'memenangkan' pertarungannya dengan ajal jika dia sering berlatih.
-someone-