Minggu kemarin adalah jadwalnya aku datang ke arisan keluarga (arisan sepupu satu embah). Rumah yang kali ini didatangi adalah rumah baru Mas Toni yang terletak di Sawangan. Acara ini sekalian dengan acara syukuran pindah rumah. Aku berangkat dari Pondok Pucung bareng sepupu-sepupuku, Daru dan Herdi dengan dua motor. Berangkat ke sana, rombongan nggak menemui hambatan, kecuali sedan rese yang nggak mau memberi jalan di jalan sempit. Ih, sebel banget ada sedan yang kebut-kebutan nggak jelas di daerah yang jalannya ancur. Mau nyelip dari kanan tapi jalannya banyak yang bolong, takut masuk ke lubang-lubang yang segede gaban itu. Akhirnya aku cuma bisa pasrah di belakang sedan sampai ketemu jalan besar sementara di depan sedan jalannya kosong melompong. Argh...
Pulangnya, rombongan dari Sawangan yang berangkat bersama ada enam motor. Yang di depan kayanya kepedean, maen belok-belok aja, ternyata malah nyasar, hihi... Akhirnya aku yang berada paling belakang langsung ke depan buat nyetop mereka dan menuntun kembali ke jalan yang benar (halah bahasanya, hehe...). Ternyata mereka sudah berhenti sebelum aku sampai karena mereka nggak yakin dengan jalan yang mereka tempuh. Dan pejalanan pun kembali normal.
Menjelang Ciputat, tiga motor di depan sejenak berhenti untuk mengecek rombongan di belakang. Satu motor sudah ketahuan mengambil jalur lain, sementara dua motor yang lain nggak kelihatan. Setelah sekitar dua puluh menit, kami akhirnya kembali melanjutkan perjalanan tanpa dua motor yang tertinggal. Sesampai di rumah, kami dikabari bahwa kedua motor yang 'tertinggal' itu ternyata juga mengambil jalur yang lain. Lah, kalau begitu ngapain pada ditungguin ya?
Showing posts with label Touring. Show all posts
Showing posts with label Touring. Show all posts
Monday, November 12, 2007
Monday, August 27, 2007
Capsa
Kemarin, gue, uyo, dan mamat berencana menculik abiep buat ngadain touring lagi. Tujuan kali ini adalah ke puncak. Nginep di sana sambil maen kartu sepuasnya. Tapi sampe berita ini diturunkan, gue belum menghubungi abiep buat ngasih tau rencana ini, hehehe... Dia kan 'cowo gampangan', pasti mau lah kalo diajak touring gitu. Tapi mungkin mamat atau uyo sudah menghubungi dia. Who knows? OK biep? Hari Sabtu, tanggal 8 Sept, abis subuh kita cabut ya. Malam Sabtunya kita nginep di kosan lay.
Monday, June 11, 2007
Tour de Bekesong
Tour kali ini bukan perjalanan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata baik itu wisata kuliner, wisata alam, atau wisata-wisata yang lainnya. Tour kali ini merupakan perjalanan pendek menuju Bekasi untuk melihat keponakan baru kami yang baru berumur beberapa hari dan baru sampai di rumahnya, Arsyada Daffa Erlangga, putra pertama dari Arya dan Ninis.
Kami berangkat dari Depok sekitar pukul sepuluh dan sampai ke rumah Arya sekitar jam satu. Depok - Bekasi tiga jam? Pasti pada heran. Tadinya kami mau mencari ATM dan kemudian mampir ke rumah kakaknya Abiep. Setelah muter-muter di daerah Bekasi, ternyata di tengah perjalanan Abiep berubah pikiran dan langsung menuju ke rumah Arya. Akibatnya kami malah muter-muter dulu di Bekasi.
Ih... lutu deh. Dedenya bobo telus, nggak mau kenalan sama om-omnya yang ndut-ndut dan kulus-kulus ini, hehehe. Selamat ya buat Arya dan Ninis yang sudah diberi kepercayaan oleh-Nya.
Kami berangkat dari Depok sekitar pukul sepuluh dan sampai ke rumah Arya sekitar jam satu. Depok - Bekasi tiga jam? Pasti pada heran. Tadinya kami mau mencari ATM dan kemudian mampir ke rumah kakaknya Abiep. Setelah muter-muter di daerah Bekasi, ternyata di tengah perjalanan Abiep berubah pikiran dan langsung menuju ke rumah Arya. Akibatnya kami malah muter-muter dulu di Bekasi.
Ih... lutu deh. Dedenya bobo telus, nggak mau kenalan sama om-omnya yang ndut-ndut dan kulus-kulus ini, hehehe. Selamat ya buat Arya dan Ninis yang sudah diberi kepercayaan oleh-Nya.
Wednesday, May 30, 2007
New Phase
Belakangan ini, aku seperti mendapat sebuah fase baru dimana aku tidak melulu ke Depok dan bermain bola setiap Sabtu :D
Tanpa sebuah rencana yang berbelit-belit, ajakan jalan-jalan ke Bandung awal Mei kemarin seolah membawa sebuah fase baru di mana aku jadi suka sekali menjelajah, menapaki tanah-tanah baru. Dua minggu setelah ke Bandung, seorang teman mengajak untuk menyebrang lautan dan sejenak bersantai di pantai Untung Jawa. Dua minggu berikutnya, muncul ajakan untuk menelusuri jalur pantura menuju Tegal (ini sih bukan tempat baru ya, tapi lebih tepatnya era baru untuk sebuah ritual mudik :D). Dua atau tiga minggu berikutnya lagi, seorang teman yang lain lagi mengajakku untuk menikmati sunrise di Anyer.
===
Mengapa raga ingin berlayar
ketika jiwa ingin berlabuh
Biarlah raga arungi lautan
tapi biarkan jiwa terdekam di dalamnya
Tanpa sebuah rencana yang berbelit-belit, ajakan jalan-jalan ke Bandung awal Mei kemarin seolah membawa sebuah fase baru di mana aku jadi suka sekali menjelajah, menapaki tanah-tanah baru. Dua minggu setelah ke Bandung, seorang teman mengajak untuk menyebrang lautan dan sejenak bersantai di pantai Untung Jawa. Dua minggu berikutnya, muncul ajakan untuk menelusuri jalur pantura menuju Tegal (ini sih bukan tempat baru ya, tapi lebih tepatnya era baru untuk sebuah ritual mudik :D). Dua atau tiga minggu berikutnya lagi, seorang teman yang lain lagi mengajakku untuk menikmati sunrise di Anyer.
===
Mengapa raga ingin berlayar
ketika jiwa ingin berlabuh
Biarlah raga arungi lautan
tapi biarkan jiwa terdekam di dalamnya
Tuesday, May 29, 2007
Mudik Euy...
Jumat ini libur. Dan kebetulan, jumat ini juga merupakan awal bulan yang menjadi 'jadwal rutin' untuk pulang ke kampung halaman.
Awalnya, gue berencana pulang naik bis seperti biasanya. Tiba-tiba Abiep nanyain tentang rencana mudik gue karena berminat untuk menjajaki tanah Tegal. Akhirnya jadilah kami janjian di Kampung Rambutan Jumat pagi. Tapi, belum lama deal dengan keputusan itu, dia sudah menyuguhkan alternatif lain. Dengan mengajak Heheng, dia menawarkan sebuah pilihan yang sulit gue tolak. Ke Tegal naek motor (argh.... pengen...). Akhirnya, jadilah pilihan itu sebagai "Plan A"-nya.
Lihat saja nanti.
Awalnya, gue berencana pulang naik bis seperti biasanya. Tiba-tiba Abiep nanyain tentang rencana mudik gue karena berminat untuk menjajaki tanah Tegal. Akhirnya jadilah kami janjian di Kampung Rambutan Jumat pagi. Tapi, belum lama deal dengan keputusan itu, dia sudah menyuguhkan alternatif lain. Dengan mengajak Heheng, dia menawarkan sebuah pilihan yang sulit gue tolak. Ke Tegal naek motor (argh.... pengen...). Akhirnya, jadilah pilihan itu sebagai "Plan A"-nya.
Lihat saja nanti.
Monday, May 21, 2007
Tour de Javanese Luck Island
Maksa banget ya judulnya, hehehe. Maksudnya sih "Menjelajah ke Pulau Untung Jawa" di Kepulauan Seribu.
Awal long weekend lalu, tidak ada satupun rencana yang berhasil direalisasikan. Bali, Anyer, Dufan, Ancol, semua tinggal rencana yang tak pernah disentuh. Namun dibalik batalnya semua rencana itu, ternyata ada satu tempat yang tidak begitu dikenal yang sudah tercantum dalam "Master Plan". Jumat siang, salah satu teman kantor yang dulu pernah menjemput rombongan Tour de Parahyangan, Rais, menawarkan untuk melakukan sebuah perjalanan ke sebuah pulau di seberang Tanjung Pasir, Tangerang. Bak mendapat durian runtuh, aku pun langsung menerima tawaran itu. Total sudah empat orang yang bersedia melakukan tour tersebut. Aku, Rais beserta istri, dan Donny. Tiga kamar yang diusahakan Rais di pulau itu, menyisakan empat orang lagi. Satu kamar untuk Rais dan istri, sementara dua kamar lagi untuk enam orang. Aku langsung menghubungi seorang biker dari Fatmawati, Abiep, dan dua bersaudara dari Taxpro, Edi dan Maman. Tinggal satu personel lagi. Dari ketujuh orang yang sudah bergabung, tak ada satupun yang memiliki "kamera beneran" untuk mengabadikan perjalanan ini. Akhirnya pilihan orang terakhir jatuh pada Mamat atau Uyo. Berhubung Uyo sudah pernah bergabung dalam Tour de Parahyangan, akhirnya pilihan jatuh ke Mamat yang belum sekalipun bergabung dalam perjalanan-perjalanan ini. Sebenarnya aku ingin mengajak semua teman-temanku tapi berhubung tour yang diselenggarakan oleh Rais ini merupakan limited edition, jadi niat itupun aku urungkan. Mungkin setelah mengetahui tempat itu, aku bisa beramai-ramai mengajak teman-teman menapaki tanah-tanah baru di seberang sana.
Tujuh orang berkumpul di halte UI tanpa Donny Sabtu paginya. Ketujuh orang itu kemudian meluncur ke Pancoran untuk bertemu dengan Donny. Setelah bertemu, perjalanan pun dimulai. Melewati Gatsu, Slipi, dan Citraland, rombongan kemudian memutar kemudi menelusuri Daan Mogot. Di Daan Mogot, rombongan 'agak' berputar-putar karena sang pemandu lupa dengan jalan menuju pelabuhan. Melewati Cengkareng, rombongan menuju arah utara. Selama kurang lebih satu jam, akhirnya rombongan sampai di daerah pantai. Miat, teman Rais yang bertindak selaku tuan rumah, sudah berada di Tanjung Pasir untuk menjemput kami.
Setelah memarkir motor kami di sebuah tempat penitipan motor, kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan menggunakan perahu motor. Setiap kepala dikenai tujuh ribu sekali melaut. Inilah pertama kalinya aku naik perahu motor menuju ke suatu tempat tujuan. Tapi kalau naik perahu motor, ini adalah kali kedua. Dulu aku pernah sekali naik perahu motor hanya sekedar berputar-putar di sekitar pantai wisata di Tegal :D Waktu itu hanya tiga ribu per kepala.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sampai di dermaga Pulau Untung Jawa. Cukup sepi. Kesan pertamanya pun kurang begitu menarik karena pantainya cukup kotor. Banyak sampah yang berserakan di sekitar pantai. Sebenarnya itu bukan sampah penduduk setempat, tapi sampah kiriman dari ibukota. Hmm... jadi begini ya? Kita di Jakarta yang membuang sampah, tapi orang-orang di pulau seberang yang terkena dampaknya.
Sesampai di penginapan, kami mengisi perut yang dari pagi belum terisi bahkan oleh sesuap nasi. Teriknya matahari membuat kepalaku pusing. Kepalaku memang sensitif terhadap teriknya sang surya. Mungkinkah ini efek dari sensitifnya mata terhadap siar yang berlebih? Aku juga tidak tahu. Selesai makan, aku mengusir pusing dengan tidur sejenak. Apalagi dalam kondisi panas seperti itu, aku tidak mungkin melakukan aktifitas di sekitar pantai. Sekitar satu setengah jam aku tertidur. Sore harinya, kami hanya bermain-main di sekitar penginapan itu saja.
Malam harinya, aku menemani Miat, Rais, dan Novi memancing cumi. Pancingannya khusus. Tidak menggunakan umpan hidup, tapi menggunakan kayu yang dibentuk seperti udang dengan bagian ujung dipasang kait yang bentuk seperti jangkar berjari empat dan bertingkat dua. Jika ada cumi-cumi yang tersangkut, ketika pancingan itu ditarik tampak seperti motor bobrok. Dari ujungnya seperti knalpot yang mengeluarkan asap hitam. Itulah tinta yang disemprotkan oleh si cumi. Ketika sampai di darat, cumi itu juga masih berusaha menyemprot 'penyerangnya'. Semrotannya lucu, kaya orang lagi bersin, tapi yang keluar tinta hitam. Padahal badannya putih. Subhanallah... aneh, tapi nyata, tentu saja atas kehendakNya.
Esok paginya, pukul enam aku, Mamat, dan Abiep berjalan di air mengitari pulau. Butuh waktu sekita dua jam untuk mengelilingi pulau. Tapi itu juga termasuk foto-foto, melihat-lihat aneka penghuni laut, dan menikmati keindahan pantai yang jernih airnya. Setelah selesai berputar-putar, ditambah Donny yang bergabung kemudian, kami berendam di pantai. Kami menyewa empat ban untuk mengapung di pantai. Sementara kami berempat berendam, Maman hanya bermain-main di tepi pantai karena tidak membawa baju ganti.
Akhirnya waktu jualah yang memisahkan kami dari pulau itu. Sekitar jam dua belas, kami pamit ke keluarga Miat dan kembali ke Tanjung Pasir. Dari Tanjung Pasir, kami melewati jalur yang sama dengan jalur keberangkatan. Kami mulai berpisah setelah mendekati Cengkareng. Kami langsung ke tujuan kami masing-masing tanpa berkonvoi seperti waktu berangkat.
Thanks to Miat yang sudah menjadi tuan rumah untuk kami.
Terima kasih ya Allah yang sekali lagi telah membiarkan makhluk ini menikmati keindahan pantai dan lautMu. Sekali lagi, di tengah luasnya samudra, aku merasakan betapa kecilnya aku.
Awal long weekend lalu, tidak ada satupun rencana yang berhasil direalisasikan. Bali, Anyer, Dufan, Ancol, semua tinggal rencana yang tak pernah disentuh. Namun dibalik batalnya semua rencana itu, ternyata ada satu tempat yang tidak begitu dikenal yang sudah tercantum dalam "Master Plan". Jumat siang, salah satu teman kantor yang dulu pernah menjemput rombongan Tour de Parahyangan, Rais, menawarkan untuk melakukan sebuah perjalanan ke sebuah pulau di seberang Tanjung Pasir, Tangerang. Bak mendapat durian runtuh, aku pun langsung menerima tawaran itu. Total sudah empat orang yang bersedia melakukan tour tersebut. Aku, Rais beserta istri, dan Donny. Tiga kamar yang diusahakan Rais di pulau itu, menyisakan empat orang lagi. Satu kamar untuk Rais dan istri, sementara dua kamar lagi untuk enam orang. Aku langsung menghubungi seorang biker dari Fatmawati, Abiep, dan dua bersaudara dari Taxpro, Edi dan Maman. Tinggal satu personel lagi. Dari ketujuh orang yang sudah bergabung, tak ada satupun yang memiliki "kamera beneran" untuk mengabadikan perjalanan ini. Akhirnya pilihan orang terakhir jatuh pada Mamat atau Uyo. Berhubung Uyo sudah pernah bergabung dalam Tour de Parahyangan, akhirnya pilihan jatuh ke Mamat yang belum sekalipun bergabung dalam perjalanan-perjalanan ini. Sebenarnya aku ingin mengajak semua teman-temanku tapi berhubung tour yang diselenggarakan oleh Rais ini merupakan limited edition, jadi niat itupun aku urungkan. Mungkin setelah mengetahui tempat itu, aku bisa beramai-ramai mengajak teman-teman menapaki tanah-tanah baru di seberang sana.
Tujuh orang berkumpul di halte UI tanpa Donny Sabtu paginya. Ketujuh orang itu kemudian meluncur ke Pancoran untuk bertemu dengan Donny. Setelah bertemu, perjalanan pun dimulai. Melewati Gatsu, Slipi, dan Citraland, rombongan kemudian memutar kemudi menelusuri Daan Mogot. Di Daan Mogot, rombongan 'agak' berputar-putar karena sang pemandu lupa dengan jalan menuju pelabuhan. Melewati Cengkareng, rombongan menuju arah utara. Selama kurang lebih satu jam, akhirnya rombongan sampai di daerah pantai. Miat, teman Rais yang bertindak selaku tuan rumah, sudah berada di Tanjung Pasir untuk menjemput kami.
Setelah memarkir motor kami di sebuah tempat penitipan motor, kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan menggunakan perahu motor. Setiap kepala dikenai tujuh ribu sekali melaut. Inilah pertama kalinya aku naik perahu motor menuju ke suatu tempat tujuan. Tapi kalau naik perahu motor, ini adalah kali kedua. Dulu aku pernah sekali naik perahu motor hanya sekedar berputar-putar di sekitar pantai wisata di Tegal :D Waktu itu hanya tiga ribu per kepala.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sampai di dermaga Pulau Untung Jawa. Cukup sepi. Kesan pertamanya pun kurang begitu menarik karena pantainya cukup kotor. Banyak sampah yang berserakan di sekitar pantai. Sebenarnya itu bukan sampah penduduk setempat, tapi sampah kiriman dari ibukota. Hmm... jadi begini ya? Kita di Jakarta yang membuang sampah, tapi orang-orang di pulau seberang yang terkena dampaknya.
Sesampai di penginapan, kami mengisi perut yang dari pagi belum terisi bahkan oleh sesuap nasi. Teriknya matahari membuat kepalaku pusing. Kepalaku memang sensitif terhadap teriknya sang surya. Mungkinkah ini efek dari sensitifnya mata terhadap siar yang berlebih? Aku juga tidak tahu. Selesai makan, aku mengusir pusing dengan tidur sejenak. Apalagi dalam kondisi panas seperti itu, aku tidak mungkin melakukan aktifitas di sekitar pantai. Sekitar satu setengah jam aku tertidur. Sore harinya, kami hanya bermain-main di sekitar penginapan itu saja.
Malam harinya, aku menemani Miat, Rais, dan Novi memancing cumi. Pancingannya khusus. Tidak menggunakan umpan hidup, tapi menggunakan kayu yang dibentuk seperti udang dengan bagian ujung dipasang kait yang bentuk seperti jangkar berjari empat dan bertingkat dua. Jika ada cumi-cumi yang tersangkut, ketika pancingan itu ditarik tampak seperti motor bobrok. Dari ujungnya seperti knalpot yang mengeluarkan asap hitam. Itulah tinta yang disemprotkan oleh si cumi. Ketika sampai di darat, cumi itu juga masih berusaha menyemprot 'penyerangnya'. Semrotannya lucu, kaya orang lagi bersin, tapi yang keluar tinta hitam. Padahal badannya putih. Subhanallah... aneh, tapi nyata, tentu saja atas kehendakNya.
Esok paginya, pukul enam aku, Mamat, dan Abiep berjalan di air mengitari pulau. Butuh waktu sekita dua jam untuk mengelilingi pulau. Tapi itu juga termasuk foto-foto, melihat-lihat aneka penghuni laut, dan menikmati keindahan pantai yang jernih airnya. Setelah selesai berputar-putar, ditambah Donny yang bergabung kemudian, kami berendam di pantai. Kami menyewa empat ban untuk mengapung di pantai. Sementara kami berempat berendam, Maman hanya bermain-main di tepi pantai karena tidak membawa baju ganti.
Akhirnya waktu jualah yang memisahkan kami dari pulau itu. Sekitar jam dua belas, kami pamit ke keluarga Miat dan kembali ke Tanjung Pasir. Dari Tanjung Pasir, kami melewati jalur yang sama dengan jalur keberangkatan. Kami mulai berpisah setelah mendekati Cengkareng. Kami langsung ke tujuan kami masing-masing tanpa berkonvoi seperti waktu berangkat.
Thanks to Miat yang sudah menjadi tuan rumah untuk kami.
Terima kasih ya Allah yang sekali lagi telah membiarkan makhluk ini menikmati keindahan pantai dan lautMu. Sekali lagi, di tengah luasnya samudra, aku merasakan betapa kecilnya aku.
Friday, May 18, 2007
Jakarta Lengang
Jakarta lengang! Kalo gue nggak liat matahari yang bersinar, mungkin gue berpikir kalo hari ini adalah sabtu atau minggu di pagi hari. Jalanan begitu sepi. Para penghuni Jakarta yang biasanya berebutan jalan raya, sekarang lagi berhempitan juga, tapi bukan di Jakarta, melainkan di Bandung, pantura, terminal-terminal, stasiun-statiun, tempat-tempat wisata, dan berbagai tempat yang lain.
Hari cuti bersama kemarin (catet ya! hari cuti bersama, bukan hari libur! :p), akhirnya cuma gue habiskan bersama rekan-rekan senasib untuk bermaen bola di tempat biasa setelah semua rencana yang dibuat jauh-jauh hari nggak ada yang kesampaian. Tapi hari ini ada ajakan (lagi?) untuk touring ke salah satu dari bagian kepulauan seribu. Ah... jangan diceritain detailnya dulu. Lihat saja besok! Tapi kayanya sih hampir pasti berhasil. Soalnya temen gue sudah pesen 3 kamar di sebuah penginapan di pulau sono. OK, I'll be right there!!! (Amin...)
Hari cuti bersama kemarin (catet ya! hari cuti bersama, bukan hari libur! :p), akhirnya cuma gue habiskan bersama rekan-rekan senasib untuk bermaen bola di tempat biasa setelah semua rencana yang dibuat jauh-jauh hari nggak ada yang kesampaian. Tapi hari ini ada ajakan (lagi?) untuk touring ke salah satu dari bagian kepulauan seribu. Ah... jangan diceritain detailnya dulu. Lihat saja besok! Tapi kayanya sih hampir pasti berhasil. Soalnya temen gue sudah pesen 3 kamar di sebuah penginapan di pulau sono. OK, I'll be right there!!! (Amin...)
Tuesday, May 08, 2007
Tour de Parahyangan
Jumat, 4 Mei
Pukul 9 malam gue meluncur ke arah depok untuk ngumpul di kosan Lay. Sesampai di sana, Abiep sudah dateng duluan dan lagi nonton tv ama lay.
Sabtu, 5 Mei
Gue dan Abiep bersiap-siap untuk memulai perjalanan jauh. Setelah nungguin Uyo di pertigaan Jalan Juanda, sekitar pukul 7 lewat kami bertiga berangkat menuju Bandung. Abiep sendirian dengan Megapro-nya, sedangkan gue ama Uyo dengan Supra125-nya. Kami mengambil jalan raya Bogor sebagai permulaan perjalanan setelah menembus jalan Juanda.
Selepas jalan Raya Bogor, memasuki kota Bogor, petualangan di mulai. Di pertigaan pertama, tidak ada papan penunjuk sementara ada dua jalur di depan, kiri dan lurus. Akhirnya kami mengambil jalur kiri. Setelah beberapa (puluh?) kilo meter, Uyo seperti merasakan nuansa dejavu. Uyo seperti agak familiar dengan jalan yang kami lewati. Ditambah lagi dengan adanya bis-bis besar dengan jurusan Priuk - Cibinong, UKI Cibinong. Setelah berdikusi bertiga, akhirnya kami pun putar balik dan mengambil jalur lurus yang tadi kami cuekin. Sampai menuju puncakpun kami tidak menemui hambatan yang berarti. Semua papan penunjuk yang mengarahkan ke puncak dapat kami interpretasikan dengan benar hingga akhirnya kami berhenti di Puncak Pas. Satu-satunya masalah adalah jalan menanjak yang membuat motor kami ngos-ngosan. Apalagi sempat mati meskipun dapat di atasi dengan baik. Ketika sedang menikmati bandrek dan mie rebus, gue menghubungi Rais selaku penyambut rombongan yang akan menjemput kami di cimahi. Dia pula yang mencarikan penginapan buat kami bertiga.
Ketika turun dari puncak dan melalui jalan Raya Cianjur, kami juga dengan lancar mengendarai motor kami masing-masing hingga akhirnya kami berhenti di jalan Raya Padalarang. Sesuai instruksi Rais, kami harus berhenti di dekat sebuah Dealer Honda. Kami berhenti tepat di depan Delar Honda, tapi gue ngerasa namanya sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan yang disebutkan Rais. Akhirnya gue menghubungi Rais dan Rais melanjutkan perjalanan dan meminta supaya gue berhenti di dekat masjid yang dekat dengan alun-alun Cimahi. Setelah melanjutkan perjalanan yang cukup jauh, alun-alun yang kami cari tidak kunjung kami lihat. Kami takut kalo kami salah jalan. Akhirnya kami berhenti di sebuah pertigaan. Gue mencoba menghubungi Rais kembali tapi tidak ada respon. Gue pun menanyakan pada orang di sekitar situ dan kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat dengan alun-alun, katanya sih dekat. Namun setelah beberapa puluh meter, masjid itu tidak pernah terlihat, dan Uyo tiba-tiba bilang, "Yip, tadi di sebelah alun-alun persis itu kayanya ada masjid deh." Dan akhirnya kamipun berhenti dan gue menghubungi Rais kembali. Gue menginformasikan posisi kami bertiga dan Rais bilang dalam waktu kurang lebih 20 menit dia akan ke tempat gue.
Kami memarkirkan motor di pinggir jalan dan kamipun berteduh di emperan toko. Ketika kami sedang menunggu Rais, tiba-tiba ada ibu-ibu yang berpakaian lusuh (dan maaf, kayanya 'agak-agak' gitu deh) nyerocos ke Uyo dengan bahasa Sunda. Nggak tau apa yang dirasakan Uyo, tapi gue ma Abiep saling melempar pandang sambil tersenyum.
"Nggak tau plat B apa?" gumam Abiep. Hahaha... namanya juga orang 'agak-agak' Bip.
Setelah sekitar 1 jam, Rais tidak menampakkan batang hidungnya. Gue curiga kalo bangunan tadi tuh bukan alun alun. Gue coba untuk hubungi Rais, ternyata tadi kami salah pengertian dan dia sekarang ada beberapa ratus meter di depan rombongan. Kami pun melanjutkan perjalanan dan akhirnya bertemu dengan Rais. Rais menuntun kami ke arah penginapan. Kami sampai di penginapan sekitar jam 2.30 dan akhirnya kami pun dapat beristirahat.
Jam tigaan, kami keluar dari penginapan untuk mengisi perut yang dari siang belum diisi. Kami melewati beberapa penjual makanan di belakang gedung Sate, tapi kami memutuskan untuk makan di depan gedung Sate (Gazebo) karena yang di belakang gedung Sate tidak menarik. Kami berjalan melalui pintu belakang gedung Sate. Ternyata di gedung Sate sedang ada 'acara pejabat', kampanye nasional "Cuci Tangan Pakai Sabun". Boro-boro pakai sabun, cuci tangan aja nggak :p Sesampai di pintu gerbang depan, kami menemui kesulitan, pintu-pintu tertutup sehingga kami tidak dapat keluar menuju Gazebo yang sudah terlihat di depan mata. Akhirnya kami berjalan lewat belakang kembali dan Abiep menghubungi Komala untuk dijadikan sebagai guide.
Sekitar lima menit kemudian, Komala datang dengan motornya. Dialah yang akhirnya menunjukkan tempat makan siang kami yang kesorean. Usai makan siang, kami melanjutkan acara jalan-jalan ke BABE di jalan Martadinata. Sekitar jam 5 lewat, kami pulang ke penginapan.
Hp menunjukkan pukul 7 lewat. Gue nyalain TV dan nonton MU vs MC sambil nungguin berangkat untuk makan malam dan jalan-jalan. Score sudah 1-0 untuk kemenangan MU. Setelah kami siap, kami meluncur ke BIP untuk makan malam. Interpretasi yang kurang tepat dari instruksi yang diberikan Komala selaku guide menyebabkan kami sedikit nyasar. Namun banyaknya papan penunjuk di setiap perempatan jalan cukup membantu kami untuk kembali ke jalan yang benar. Di BIP, Komala sudah menunggu dengan temannya di food court.
Setelah makan malam, kami berpindah tempat ke Dago. Di sana kami hanya berdiri di depan Plasa Dago sambil memperhatikan keramaian yang jarang gue dapatkan setiap malam minggu (secara malam minggu biasanya cuma nonton TV di kos Lay :D). Entah apa yang gue dapetin. Kata Abiep sih suasana baru. Emang beda sih. Kalo di Jakarta namanya keramaian Jakarta, tapi kalo di Bandung namanya keramaian Bandung, hehehe... Bosan dengan keramaian Dago, kami mencoba suasana baru lagi dengan mencicipi soerabi di jalan Setiabudi. Setelah satu jam lebih, beberapa menit menjelang pergantian hari, kami beranjak dari warung soerabi itu dan pulang ke penginapan.
Minggu, 6 Mei
Keesokan paginya, setelah nonton Sport7, sekitar jam setengah tujuh pagi kami keluar untuk sarapan dan menikmati keramaian Gazebo. Kami berkeliling menyusuri celah-celah Gazebo yang dipenuhi oleh penjual dan pembeli. Di sini, hampir terjadi aksi pencopetan yang melibatkan gue sebagai calon korban. Selama jalan di Gazebo, gue jalan di depan sementara Uyo dan Abiep ada di belakang gue. Uyo seperti merasakan ada seseorang yang sedang 'mengintai' dan membuntuti kami. Dia pun langsung memindahkan barang-barang berharga ke depan, ke tempat yang lebih aman. Ketika posisi kami berubah, gue di belakang sementara Abiep dan Uyo di depan gue, tiba-tiba ada seorang pengemis (?) menarik-narik celana gue dari belakang dengan posisi jongkok sambil menengadahkan tangannya untuk meminta sesuatu. Otomatis perhatian gue langsung tertuju ke belakang, ke pengemis itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba tangan kanan gue juga reflek mendarat di saku kanan celana gue yang berisi HP gue. Ketika tangan gue sudah mendarat di saku kanan dan merasakan HP, sesaat kemudian ada tangan lain yang mendarat di atas tangan gue. Sepertinya prosesor gue lagi lambat (atau emang lambat ya :D), gue tidak langsung menyadari apa yang terjadi. "Tangan siapa ya?" pikir gue. Setelah itu gue baru sadar bahwa itu mungkin salah satu modus pencopetan. Ketika gue mengalihkan muka ke sebelah kanan, tangan itu tentu saja sudah melepaskan diri dan gue lihat ada beberapa orang yang ada di sebelah kanan. Masa mau gue tanyain satu-satu sih? (lagian cowo semua, buat apa :p kalo ada yang minta lagi gimana? ih.... serem...). Setali tiga uang, Uyo ternyata juga tidak langsung menyadari apa yang sebenarnya terjadi. "Kok ada orang yang pegangin saku celana Ayip ya?" mungkin itu pikir Uyo. Setelah ngeh, baru dia bertanya, "Yip, dompet lo aman?" gue juga nggak ngeh dengan dompet gue. Tapi untungnya pas gue cek kantong belakang celana gue masih utuh. "Aman Yo. Tadi ada yang ngincer HP gue nih. Tangan gue sampai dipegang-pegang. Hi..."
Kami melanjutkan perjalanan untuk mencari sarapan sambil membahas insiden itu. Ketika melewati sebuah 'pos' sebuah yayasan untuk mencari sumbangan, seorang bapak dari yayasan tersebut berteriak memperingatkan seisi pengunjung yang melewatinya. "Bapak-bapak, Ibu-ibu. Hati-hati dengan barang bawaan anda selama ada di tengah-tengah Gazebo. Banyak pencopet yang beraksi untuk mendapatkan dompet. Apalagi HP. Lindungi barang bawaan anda selama di tengah Gazebo. Berhati-hatilah" Yah... telat Pak, gumam gue. Tadi hampir jadi korban nih.
Setelah sarapan di sebelah gedung Sate, kami kembali ke penginapan. Tapi di tengah perjalanan, kami melihat acara kampanye di gedung sate mau dimulai. Abiep begitu antusias utuk melihatnya. Akhirnya kami memasuki gedung sate melalui salah satu pintu gerbang. Untuk menuju ke tempat berlangsungnya acara, kami harus melewati salah satu pos satpam. Kami 'diusir' karena ini acara tertutup. Kami tidak menyerah. Keluar dari pintu yang sama sewaktu kami masuk, kami 'tawaf', mengitari gedung sate. Namun jalan itu tak kunjung ditemukan. Akhirnya kami menyerah dan kembali ke penginapan.
Sekitar pukul sebelas, kami check out dari penginapan. Tujuan terakhir kami di Bandung adalah Kartika Sari di Dago dan Level FO karena di situlah bis penjaja brownies berada. Setelah belanja oleh-oleh, kami makan siang di sekitar gedung sate lagi dan kembali ke Jakarta.
Hujan menghiasi perjalanan kami ketika kami sudah setengah jalan menuruni puncak. Laju kendaraan mulai melambat. Namun kami masih beruntung karena menggunakan motor. Kami masih bisa mencari celah di antara antrean mobil yang memenuhi jalan raya puncak. Ketika hujan turun, gue sama Uyo mulai terpisah dengan Abiep. Gue sama Uyo berhenti dan mengenakan jas hujan, sementara Abiep menerabas derasnya hujan. Sejak saat itu, kami mulai terpisah jauh.
Memasuki kota bogor, gue dan Uyo mulai 'bergerilya' lagi. Setelah melewati sebuah jalan yang memberlakukan satu jalur, kami mulai merasakan sensasi yang aneh. Sepertinya ini jalan menuju ke ketersesatan. Ternyata benar, kami berputar-putar di kota bogor sekitar satu jam. Ketika kami menemukan perempatan yang ada papan penunjuk yang menginformasikan kalan ke Depok dan Jakarta, maka selamatlah kami. Ya, mengikuti petunjuk itu, akhirnya kami bisa kembali ke Depok.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena telah memberikan kami kesempatan untuk menikmati indahnya puncak. Megahnya puncak membuat kami merasakan betapa kecilnya kami. Apalagi bila dibandingkan dengan kemegahan diriMu, kami bukanlah apa-apa. Terima kasih juga telah memberikan kami keselamatan sehingga kami dapat kembali ke rumah masing-masing dalam keadaaan tak kurang sesuatu apapun.
===
Nextime => Ciater? Anyer? ???
Pukul 9 malam gue meluncur ke arah depok untuk ngumpul di kosan Lay. Sesampai di sana, Abiep sudah dateng duluan dan lagi nonton tv ama lay.
Sabtu, 5 Mei
Gue dan Abiep bersiap-siap untuk memulai perjalanan jauh. Setelah nungguin Uyo di pertigaan Jalan Juanda, sekitar pukul 7 lewat kami bertiga berangkat menuju Bandung. Abiep sendirian dengan Megapro-nya, sedangkan gue ama Uyo dengan Supra125-nya. Kami mengambil jalan raya Bogor sebagai permulaan perjalanan setelah menembus jalan Juanda.
Selepas jalan Raya Bogor, memasuki kota Bogor, petualangan di mulai. Di pertigaan pertama, tidak ada papan penunjuk sementara ada dua jalur di depan, kiri dan lurus. Akhirnya kami mengambil jalur kiri. Setelah beberapa (puluh?) kilo meter, Uyo seperti merasakan nuansa dejavu. Uyo seperti agak familiar dengan jalan yang kami lewati. Ditambah lagi dengan adanya bis-bis besar dengan jurusan Priuk - Cibinong, UKI Cibinong. Setelah berdikusi bertiga, akhirnya kami pun putar balik dan mengambil jalur lurus yang tadi kami cuekin. Sampai menuju puncakpun kami tidak menemui hambatan yang berarti. Semua papan penunjuk yang mengarahkan ke puncak dapat kami interpretasikan dengan benar hingga akhirnya kami berhenti di Puncak Pas. Satu-satunya masalah adalah jalan menanjak yang membuat motor kami ngos-ngosan. Apalagi sempat mati meskipun dapat di atasi dengan baik. Ketika sedang menikmati bandrek dan mie rebus, gue menghubungi Rais selaku penyambut rombongan yang akan menjemput kami di cimahi. Dia pula yang mencarikan penginapan buat kami bertiga.
Ketika turun dari puncak dan melalui jalan Raya Cianjur, kami juga dengan lancar mengendarai motor kami masing-masing hingga akhirnya kami berhenti di jalan Raya Padalarang. Sesuai instruksi Rais, kami harus berhenti di dekat sebuah Dealer Honda. Kami berhenti tepat di depan Delar Honda, tapi gue ngerasa namanya sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan yang disebutkan Rais. Akhirnya gue menghubungi Rais dan Rais melanjutkan perjalanan dan meminta supaya gue berhenti di dekat masjid yang dekat dengan alun-alun Cimahi. Setelah melanjutkan perjalanan yang cukup jauh, alun-alun yang kami cari tidak kunjung kami lihat. Kami takut kalo kami salah jalan. Akhirnya kami berhenti di sebuah pertigaan. Gue mencoba menghubungi Rais kembali tapi tidak ada respon. Gue pun menanyakan pada orang di sekitar situ dan kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat dengan alun-alun, katanya sih dekat. Namun setelah beberapa puluh meter, masjid itu tidak pernah terlihat, dan Uyo tiba-tiba bilang, "Yip, tadi di sebelah alun-alun persis itu kayanya ada masjid deh." Dan akhirnya kamipun berhenti dan gue menghubungi Rais kembali. Gue menginformasikan posisi kami bertiga dan Rais bilang dalam waktu kurang lebih 20 menit dia akan ke tempat gue.
Kami memarkirkan motor di pinggir jalan dan kamipun berteduh di emperan toko. Ketika kami sedang menunggu Rais, tiba-tiba ada ibu-ibu yang berpakaian lusuh (dan maaf, kayanya 'agak-agak' gitu deh) nyerocos ke Uyo dengan bahasa Sunda. Nggak tau apa yang dirasakan Uyo, tapi gue ma Abiep saling melempar pandang sambil tersenyum.
"Nggak tau plat B apa?" gumam Abiep. Hahaha... namanya juga orang 'agak-agak' Bip.
Setelah sekitar 1 jam, Rais tidak menampakkan batang hidungnya. Gue curiga kalo bangunan tadi tuh bukan alun alun. Gue coba untuk hubungi Rais, ternyata tadi kami salah pengertian dan dia sekarang ada beberapa ratus meter di depan rombongan. Kami pun melanjutkan perjalanan dan akhirnya bertemu dengan Rais. Rais menuntun kami ke arah penginapan. Kami sampai di penginapan sekitar jam 2.30 dan akhirnya kami pun dapat beristirahat.
Jam tigaan, kami keluar dari penginapan untuk mengisi perut yang dari siang belum diisi. Kami melewati beberapa penjual makanan di belakang gedung Sate, tapi kami memutuskan untuk makan di depan gedung Sate (Gazebo) karena yang di belakang gedung Sate tidak menarik. Kami berjalan melalui pintu belakang gedung Sate. Ternyata di gedung Sate sedang ada 'acara pejabat', kampanye nasional "Cuci Tangan Pakai Sabun". Boro-boro pakai sabun, cuci tangan aja nggak :p Sesampai di pintu gerbang depan, kami menemui kesulitan, pintu-pintu tertutup sehingga kami tidak dapat keluar menuju Gazebo yang sudah terlihat di depan mata. Akhirnya kami berjalan lewat belakang kembali dan Abiep menghubungi Komala untuk dijadikan sebagai guide.
Sekitar lima menit kemudian, Komala datang dengan motornya. Dialah yang akhirnya menunjukkan tempat makan siang kami yang kesorean. Usai makan siang, kami melanjutkan acara jalan-jalan ke BABE di jalan Martadinata. Sekitar jam 5 lewat, kami pulang ke penginapan.
Hp menunjukkan pukul 7 lewat. Gue nyalain TV dan nonton MU vs MC sambil nungguin berangkat untuk makan malam dan jalan-jalan. Score sudah 1-0 untuk kemenangan MU. Setelah kami siap, kami meluncur ke BIP untuk makan malam. Interpretasi yang kurang tepat dari instruksi yang diberikan Komala selaku guide menyebabkan kami sedikit nyasar. Namun banyaknya papan penunjuk di setiap perempatan jalan cukup membantu kami untuk kembali ke jalan yang benar. Di BIP, Komala sudah menunggu dengan temannya di food court.
Setelah makan malam, kami berpindah tempat ke Dago. Di sana kami hanya berdiri di depan Plasa Dago sambil memperhatikan keramaian yang jarang gue dapatkan setiap malam minggu (secara malam minggu biasanya cuma nonton TV di kos Lay :D). Entah apa yang gue dapetin. Kata Abiep sih suasana baru. Emang beda sih. Kalo di Jakarta namanya keramaian Jakarta, tapi kalo di Bandung namanya keramaian Bandung, hehehe... Bosan dengan keramaian Dago, kami mencoba suasana baru lagi dengan mencicipi soerabi di jalan Setiabudi. Setelah satu jam lebih, beberapa menit menjelang pergantian hari, kami beranjak dari warung soerabi itu dan pulang ke penginapan.
Minggu, 6 Mei
Keesokan paginya, setelah nonton Sport7, sekitar jam setengah tujuh pagi kami keluar untuk sarapan dan menikmati keramaian Gazebo. Kami berkeliling menyusuri celah-celah Gazebo yang dipenuhi oleh penjual dan pembeli. Di sini, hampir terjadi aksi pencopetan yang melibatkan gue sebagai calon korban. Selama jalan di Gazebo, gue jalan di depan sementara Uyo dan Abiep ada di belakang gue. Uyo seperti merasakan ada seseorang yang sedang 'mengintai' dan membuntuti kami. Dia pun langsung memindahkan barang-barang berharga ke depan, ke tempat yang lebih aman. Ketika posisi kami berubah, gue di belakang sementara Abiep dan Uyo di depan gue, tiba-tiba ada seorang pengemis (?) menarik-narik celana gue dari belakang dengan posisi jongkok sambil menengadahkan tangannya untuk meminta sesuatu. Otomatis perhatian gue langsung tertuju ke belakang, ke pengemis itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba tangan kanan gue juga reflek mendarat di saku kanan celana gue yang berisi HP gue. Ketika tangan gue sudah mendarat di saku kanan dan merasakan HP, sesaat kemudian ada tangan lain yang mendarat di atas tangan gue. Sepertinya prosesor gue lagi lambat (atau emang lambat ya :D), gue tidak langsung menyadari apa yang terjadi. "Tangan siapa ya?" pikir gue. Setelah itu gue baru sadar bahwa itu mungkin salah satu modus pencopetan. Ketika gue mengalihkan muka ke sebelah kanan, tangan itu tentu saja sudah melepaskan diri dan gue lihat ada beberapa orang yang ada di sebelah kanan. Masa mau gue tanyain satu-satu sih? (lagian cowo semua, buat apa :p kalo ada yang minta lagi gimana? ih.... serem...). Setali tiga uang, Uyo ternyata juga tidak langsung menyadari apa yang sebenarnya terjadi. "Kok ada orang yang pegangin saku celana Ayip ya?" mungkin itu pikir Uyo. Setelah ngeh, baru dia bertanya, "Yip, dompet lo aman?" gue juga nggak ngeh dengan dompet gue. Tapi untungnya pas gue cek kantong belakang celana gue masih utuh. "Aman Yo. Tadi ada yang ngincer HP gue nih. Tangan gue sampai dipegang-pegang. Hi..."
Kami melanjutkan perjalanan untuk mencari sarapan sambil membahas insiden itu. Ketika melewati sebuah 'pos' sebuah yayasan untuk mencari sumbangan, seorang bapak dari yayasan tersebut berteriak memperingatkan seisi pengunjung yang melewatinya. "Bapak-bapak, Ibu-ibu. Hati-hati dengan barang bawaan anda selama ada di tengah-tengah Gazebo. Banyak pencopet yang beraksi untuk mendapatkan dompet. Apalagi HP. Lindungi barang bawaan anda selama di tengah Gazebo. Berhati-hatilah" Yah... telat Pak, gumam gue. Tadi hampir jadi korban nih.
Setelah sarapan di sebelah gedung Sate, kami kembali ke penginapan. Tapi di tengah perjalanan, kami melihat acara kampanye di gedung sate mau dimulai. Abiep begitu antusias utuk melihatnya. Akhirnya kami memasuki gedung sate melalui salah satu pintu gerbang. Untuk menuju ke tempat berlangsungnya acara, kami harus melewati salah satu pos satpam. Kami 'diusir' karena ini acara tertutup. Kami tidak menyerah. Keluar dari pintu yang sama sewaktu kami masuk, kami 'tawaf', mengitari gedung sate. Namun jalan itu tak kunjung ditemukan. Akhirnya kami menyerah dan kembali ke penginapan.
Sekitar pukul sebelas, kami check out dari penginapan. Tujuan terakhir kami di Bandung adalah Kartika Sari di Dago dan Level FO karena di situlah bis penjaja brownies berada. Setelah belanja oleh-oleh, kami makan siang di sekitar gedung sate lagi dan kembali ke Jakarta.
Hujan menghiasi perjalanan kami ketika kami sudah setengah jalan menuruni puncak. Laju kendaraan mulai melambat. Namun kami masih beruntung karena menggunakan motor. Kami masih bisa mencari celah di antara antrean mobil yang memenuhi jalan raya puncak. Ketika hujan turun, gue sama Uyo mulai terpisah dengan Abiep. Gue sama Uyo berhenti dan mengenakan jas hujan, sementara Abiep menerabas derasnya hujan. Sejak saat itu, kami mulai terpisah jauh.
Memasuki kota bogor, gue dan Uyo mulai 'bergerilya' lagi. Setelah melewati sebuah jalan yang memberlakukan satu jalur, kami mulai merasakan sensasi yang aneh. Sepertinya ini jalan menuju ke ketersesatan. Ternyata benar, kami berputar-putar di kota bogor sekitar satu jam. Ketika kami menemukan perempatan yang ada papan penunjuk yang menginformasikan kalan ke Depok dan Jakarta, maka selamatlah kami. Ya, mengikuti petunjuk itu, akhirnya kami bisa kembali ke Depok.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena telah memberikan kami kesempatan untuk menikmati indahnya puncak. Megahnya puncak membuat kami merasakan betapa kecilnya kami. Apalagi bila dibandingkan dengan kemegahan diriMu, kami bukanlah apa-apa. Terima kasih juga telah memberikan kami keselamatan sehingga kami dapat kembali ke rumah masing-masing dalam keadaaan tak kurang sesuatu apapun.
===
Nextime => Ciater? Anyer? ???
Monday, May 07, 2007
Colorful Weekend
Fantastis! Itulah kesan weekend kemarin. Mulai dari salah jalan dan hampir ke rumah galuh atau hampir nganterin Uyo ke kantor (lembur dong Yo :p). Untung 'ditolong' oleh rute angkot dan bis. Motor yang ngeden sepanjang tanjakan di puncak. 'Diocehin' pake bahasa sunda sama orang yang kayanya 'agak-agak' (emang nggak liat plat B-nya apa ya? ya... namanya juga orang 'agak-agak', maklum lah). Sedikit nyasar di rimba raya Bandung (wajarlah, secara orang baru gitu loh :p). Insting dan reflek luar biasa yang menyelamatkan dari percobaan pencopetan di Gazebo (tulisannya bener nggak sih). Informasi yang telat tentang pencopetan. Ambisi nonton acara pejabat dengan 'tawaf' mengitari gedung sate sampe 'diusir' bapak-bapak satpam (ada yang baik tapi ada yang jutek juga). Motor mogok yang 'dicium' mobil. 'Kepedean' yang berakibat salah jalan di fly over, tapi ternyata malah justru nemu 'jalan sendiri'. Hujan di daerah puncak yang menyebabkan jarak pandang berkurang dan otomatis kecepatan juga menurun. Dan terakhir, muter-muter (lagi?) di daerah Bogor.
Hahaha... its so wonderful. OK guys, nextime : Anyer? Ciater? Tangkuban Perahu? Atau Sekedar Dufan?
===
Thx to:
Rais yang udah njemput di Cimahi dan mencarikan tempat penginapan yang lumayan murah.
Komala yang udah jadi guide selama ngiterin Bandung.
Hahaha... its so wonderful. OK guys, nextime : Anyer? Ciater? Tangkuban Perahu? Atau Sekedar Dufan?
===
Thx to:
Rais yang udah njemput di Cimahi dan mencarikan tempat penginapan yang lumayan murah.
Komala yang udah jadi guide selama ngiterin Bandung.
Friday, May 04, 2007
Touring (2)
Ini bukan kisah tentang touring yang kedua. Tapi ini kisah kedua tentang rencana touring pertama.
Setelah melewati masa-masa krisis untuk mencetak hattrick, akhirnya sekarang saatnya melaju ke masa-masa kemerdekaan (halah bahasanya...). Yup, sampe detik ini gue menulis kisah ini, belum ada hambatan yang dapat menggagalkan rencana touring. Berarti gue ada kesempatan untuk tidak mencetak hattrick, hehehe...
Sampai saat ini, baru tiga orang yang dinyatakan positif (kaya kena penyakit aja hehehe...). Doakan kami selamat dan nggak kebanyakan nyasar ya, hehehe... (kebanyakan hehehe nih, hehehe...)
Setelah melewati masa-masa krisis untuk mencetak hattrick, akhirnya sekarang saatnya melaju ke masa-masa kemerdekaan (halah bahasanya...). Yup, sampe detik ini gue menulis kisah ini, belum ada hambatan yang dapat menggagalkan rencana touring. Berarti gue ada kesempatan untuk tidak mencetak hattrick, hehehe...
Sampai saat ini, baru tiga orang yang dinyatakan positif (kaya kena penyakit aja hehehe...). Doakan kami selamat dan nggak kebanyakan nyasar ya, hehehe... (kebanyakan hehehe nih, hehehe...)
Friday, April 27, 2007
Touring
Tiap hari, jelajah motor gue hanya berkisar 20 km per hari kerja dan 100 km per weekend. Jarak tempuh terjauh sekali touring adalah Sunter - Depok - Bintaro - Cikokol - Sunter. Itupun di tempuh pada hari sabtu dan minggu, hehehe...
Melihat semakin banyaknya motor yang parkir ketika maen bola sabtuan, muncul keinginan untuk melakukan touring bersama. Tapi kayanya kok susah ya ngajak dan bikin rencana. Kapan ya orang-orang itu bisa touring bareng? Jadi makin pengen touring aja nih. Ayo dong... touring yuk.
Melihat semakin banyaknya motor yang parkir ketika maen bola sabtuan, muncul keinginan untuk melakukan touring bersama. Tapi kayanya kok susah ya ngajak dan bikin rencana. Kapan ya orang-orang itu bisa touring bareng? Jadi makin pengen touring aja nih. Ayo dong... touring yuk.
Subscribe to:
Posts (Atom)