Showing posts with label Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Spiritual. Show all posts

Wednesday, December 05, 2007

Menyambut Idul Adha

Diambil dari sebuah milis. Mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, terutama untuk saya sendiri.

===

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama

" Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri.

Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput" kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah" katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek. " kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

" Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan " bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)

Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas. " katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan

" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagangyangcukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)

"Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu). "

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang disandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat. Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.

Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing. Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus. Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana.

Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya. Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu

Wednesday, September 19, 2007

Jilbab

Membaca tulisan Amir tentang jilbab (ini dan ini), aku jadi teringat salah satu obrolanku dengan seorang teman cewe (berjilbab) via telepon. Dalam obrolan itu, kami tiba pada salah satu tema, yaitu kriteria pilihan hidup.

...

”Mas, pasangan yang mas cari itu kriterianya seperti apa?”


”Muslim, pasti. Terus berjilab.”


”Jilbab? Emang kenapa mas?”


”Pengen aja, hehe...”


”Masa pengen aja? Pasti ada alasannya lah.”


”Ya... Menurutku sih, jilbab itu membuat cewe keliatan lebih feminim, lebih anggun. Dan jilbab itu nggak menghilangkan kecantikan kok.”


”Gitu doang? Masa gitu doang sih? Pasti ada alasan agama. Ya kan? Ngaku deh! Tapi mas, jilbab itu kan tidak menjamin kelakuan si pemakainya? Sebaliknya banyak orang baik yang tidak memakai jilbab. Ya kan? Jadi kenapa harus berjilbab?”


”Hmm... jadi serius nih. Sekarang gini deh. Gantian aku yang nanya. Kalau kamu cari pasangan, pasti yang muslim kan?”


”Iya.”


”Pake jilbab kan? Eh, pasti nggak lah, hehe... Seandainya ada orang muslim bener-bener tipe kamu deh, terus baiiikkkk banget sama kamu, kamu mau nggak?”


”Pasti mau lah.”


”Tapi kalo dia tidak pernah solat, atau paling nggak jarang solat deh, masih mau nggak?”


”Nggak.”


”Lho kenapa nggak? Dia itu tipe orang yang kamu banget lho. Terus baik banget sama kamu. Perhatian banget sama kamu. Masa nggak mau sih? Lagian, orang yang rajin solat juga belum tentu berkelakuan baik kan? Solat itu bukan jaminan kan? Lalu kenapa kamu masih ngotot pengen sama orang yang solat.”


”Ya nggak semudah itu dong mas. Gimanapun juga solat itu kan wajib. Dan solat itu kan bisa membuat seseorang jadi lebih baik kelakuannya.”


”Kalo gitu, kalo emang kita masih sering ’urakan’, itu justru cuma menodai solat itu sendiri. Jadi mendingan kita nggak usah solat dong. Tunggu sampai kita sudah merasa ’baik’, baru kita solat. Iya kan?”


”Ya nggak gitu dong mas. Solat itu kan bukan cuma untuk orang baik aja. Tapi untuk semua muslim. Dan kalau solat kita benar, itu akan memperbaiki kelakuan kita. Jadi, pokoknya aku maunya sama orang yang rajin solat. Kalaupun tidak pernah atau jarang solat, paling nggak, kalau aku memang suka sama dia, aku mau bujuk dulu sampai dia jadi lengkap solatnya. Gitu mas.”


”Hmm... jadi gitu...”


”Iya. Dan sekarang, giliran mas dong jawab pertanyaanku tadi, kenapa harus milih yang berjilbab.”


”Lho, kamu kan barusan jawab pertanyaanmu sendiri.”


”Maksudnya???”

...

Tuesday, September 18, 2007

Mencari Tuhan

Bila mendengar kata mencari, yang muncul di pikiran adalah tentang dua hal yaitu menemukan kembali sesuatu yang hilang atau menemukan sesuatu yang belum pasti keberadaanya.
Mencari Tuhan! Itu adalah salah satu kalimat yang sering digunakan oleh para petualang spiritual. Tapi aku merasa kurang pas dengan istilah itu.


Mencari Tuhan? Memangnya tuhan pernah hilang? Tuhan itu maha besar. Dia yang menciptakan ruang dan waktu. Dia tidak mungkin terselip di antara ruang yang Dia ciptakan. Dia tidak mungkin tertinggal oleh waktu yang Dia ciptakan. Rasanya terlalu bodoh untuk mengatakan kalau Tuhan hilang.


Mencari Tuhan? Memangnya tuhan tidak ketahuan keberadaannya? Tuhan ada di mana-mana. Dia ada dalam bumi yang bertasbih. Dia ada dalam langit yang bertahmid. Dia ada dalam semesta yang bertakbir. Dia dekat dengan manusia, lebih dekat daripada aliran darahnya sendiri. Bahkan Dia juga punya ’rumah’ di tanah suci. Keberadaan tuhan terlalu jelas untuk dipertanyakan.


Lalu, untuk apa Dia dicari?

Thursday, September 13, 2007

Hari Ini Adalah Puasa

Hari ini adalah puasa. Kata-kata ini selayaknya terucap dari seorang muslim di setiap lembaran baru hidupnya. Bukan hanya setelah merasakan nikmatnya kebersamaan sahur. Menuntut ilmu dan bekerja, tidak ada yang berbeda antara hari ini dan hari esok. Setiap hari kita diwajibkan untuk menuntut ilmu. Kita juga diwajibkan untuk mengejar dunia seolah-olah kita hidup di dunia untuk selamanya. Namun dalam setiap aktifitas apapun yang kita lakukan hendaknya kita tetap memegang teguh semangat kejujuran dan kebersamaan dalam berpuasa. Kalau begitu, apa bedanya belajar dan bekerja di hari ramadhan dan di luar hari ramadhan?


Dalam kehidupan sesama, salah dan khilaf menjadi salah satu kodrat yang tak bisa lepas dari manusia. Namun tidak seharusnya rasa dendam tersimpan dalam hati, apalagi sampai mengakar ke relung hati. Kesabaran untuk menjaga hawa nafsu, mengendalikan aura kemarahan dan menanamkan bibit-bibit rasa saling memaafkanlah yang seharusnya menghiasi hati. Kalau begitu, apa bedanya hidup dalam kebersamaan di hari ramadhan dan di luar hari ramadhan?


Ketika bertemu dengan si fakir dan si miskin, entah di jalan, entah di sekitar rumah, entah di mana saja, apa yang kita rasakan. Tentu kita berempati dengan bagaimana perjuangan mereka untuk bertahan hidup. Bekerja demi sesuap nasi dengan perut yang lapar. Kita beruntung, meskipun bekerja di siang hari dengan diliputi kelaparan, kita masih bisa merasakan nikmatnya kenyang di malam hari. Sementara mereka, tidak ada yang menjamin bahwa kelaparan akan terusir oleh datangnya senja. Rasa ingin berbagi dengan sesama tentu akan muncul ke permukaan. Kalau begitu, apa bedanya berbagi di hari ramadhan dan di luar hari ramadhan?


Setiap hari dalam hidup kita, senantiasa diisi dengan ibadah. Tidak ada yang berbeda dengan ibadah kita, entah di bulan ramadhan atau bukan. Semua dilakukan karena Allah semata. Namun, seringkali kita terpesona dengan imbalan yang begitu dahsyat di bulan ramadhan hingga kita begitu giat mengumpulkan pundi-pundi amal. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Tapi hendaknya kita juga mengaca pada diri sendiri. Sudah pantaskah kita menerima imbalan atas apa yang yang kita lakukan. Sudah sempurnakah apa yang kita persembahkan padaNya. Seandainya Allah hanya menggunakan keadilanNya, mungkin kita hanya mendapatkan sebutir pasir dari dari alam semesta yang dimilikiNya. Tapi Dia maha penyayang dan pengasih. Segalanya dapat Dia berikan pada hamba-hambaNya meskipun mereka sering mengkhianatiNya. Ramadhan atau bukan, mungkin hanya suasana dan reward yang membedakan. Pada hakikatnya, kapanpun kita menyembahNya, Dialah tujuan kita, bukan mendapatkan pahala, bukan mendapatkan surga, bukan menhindari dosa, bukan menghindari neraka. Kalau begitu, apa bedanya beribadah di hari ramadhan dan di luar ramadhan?


Semua hari adalah milik Allah. Sudah selayaknya, di setiap hari-hari yang diberikan olehNya, dalam setiap permulaannya, kita berucap, ”Hari ini adalah puasa!”



===

Ya Allah, berilah hambaMu kekuatan untuk menjadikan hari-hariMu puasa bagiku.