Sekitar seminggu atau dua minggu sebelum lebaran, aku punya sebuah kebiasaan yang biasa aku lakukan ketika aku masih SMP-SMA. Kebiasaan itu adalah beres-beres rumah. Aku sering kebagian untuk nambal dan ngecet tembok. Bayangin aja bo! Masih seumur gitu sudah diberi kepercayaan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa (menurutku pada saat itu). Padahal, hasilnya mungkin cukup jauh dari memuaskan, hehe... Tapi dengan bimbingan ibu dan proses pembelajaran -melihat tukang-tukang bangunan yang sedang bekerja-, kian hari hasil kerjaku makin membaik (meskipun masih tetap jauh dari memuaskan, hehe...)
Dulu mungkin aku termasuk seorang anak yang suka penasaran. Bahkan ketika melihat tembok-tembok sudah mulai agak rusak atau catnya mulai kusam, aku juga penasaran ingin membuat tembok itu menjadi mengkilap kembali. Hingga akhirnya, ibu memberiku sebuah tantangan untuk menumpaskan rasa penasaranku itu. Dan akupun senang sekali dengan tantangan baru itu.
Sebuah tantangan. Sadar atau tidak sadar, itulah yang sering ibu berikan padaku untuk menempa diriku. Ibu sering memberikan tantangan untuk mengobati rasa penasaranku yang pada awalnya hanya sebuah mimpi buatku. Salah satu tantangan yang paling seru adalah ketika di depanku ada sebuah persimpangan. Diam atau hijrah ke Jakarta. Meskipun pada saat itu, hijrah ke Jakarta hanya sebuah mimpi buatku, namun dengan doa dan dukungan keluarga, akhirnya aku mengambil tantangan untuk mencoba menaklukan rimba Jakarta. Dengan tantangan-tantangan itulah aku bisa lebih merasakan hidup menjadi lebih hidup.
Mungkin sudah saatnya sekarang aku membuat tantangan-tantangan sendiri. Tantangan yang sekarang mungkin hanya sebuah mimpi buatku. Menyelami lautan untuk mencari mutiaraku yang hilang dalam sebuah kerang. Atau membelah awan malam supaya bintang kecilku dapat kembali bersinar indah.
Showing posts with label Nostalgia. Show all posts
Showing posts with label Nostalgia. Show all posts
Tuesday, October 02, 2007
Friday, August 10, 2007
Masa SD
Aku masuk SD ketika berumur enam tahun, yaitu tahun 1988. Tahun pertama di sekolah, tidak ada yang spesial. Menjelang akhir sekolah, aku tidak bertemu dengan seseorang yang ditakuti seperti you-know-who. Namun ada yang patut aku pertahankan. Prestasi alias peringkat kelas. Aku, Lola dan Untung, selalu mengisi peringkat tiga besar. Yang aku ingat, di kelas satu aku mendapatkan peringkat 2-3-3 untuk tiga catur wulan.
Memasuki tahun kedua, untuk pertama kalinya aku merasakan 'shift' dua. Aku berangkat siang. Karena ruang kelasku sedang direnovasi. Terpaksa aku sekolah menggunakan ruang kelas satu setelah siswa-siswa kelas satu pulang. Di tahun inipun aku hanya menjalani tahun yang biasa. Dalam petualanganku menelusuri ruang-ruang yang sedang direnovasi, aku tidak pernah menemukan buku harian maupun ruang rahasia yang dihuni oleh sesosok monster menyeramkan. Yang aku ingat, di kelas dua aku mendapatkan peringkat 3-2-2 untuk tiga catur wulan.
Tahun ketiga menjadi salah satu tahun yang tak terlupakan buatku. Untuk pertama kalinya, aku berhasil menjadi juara kelas. Peringkatku di tahun ketiga adalah 2-1-1. Tentu saja, dengan kebahagiaan seperti ini, tidak mungkin ada sesosok dementor pun yang mampu menyerap habis semua aura kebahagiaan menjadi kegelapan. Yang ada hanya euforia bahwa akhirnya aku bisa menjadi juara kelas. Di akhir tahun ini, salah satu temanku keluar dari sekolah karena mengikuti orang tuanya yang pindah ke luar kota, yaitu Beni. Kelak, aku bertemu kembali dengan Beni ketika aku duduk di bangkku SMP.
Memasuki tahun keempat, masa-masa SD ku mulai kompleks. Untuk pertama kalinya aku mengikuti program Dokter Kecil. Sebuah program yang memperkenalkan tentang dunia dokter, atau dunia kesehatan pada umumnya kepada siswa SD. Setiap SD diwakili oleh dua orang. Aku lupa siapa yang menemaniku. Selain Dokter Kecil, program lain yang aku ikuti adalah Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni). Ini adalah perlombaan olah raga dan seni seperti sastra tingkat SD yang diawali tingkat kelurahan. Untuk mengikuti perlombaan ini, siswa tidak perlu meletakkan kertas yang bertuliskan namanya ke dalam Goblet of Fire. Justru kebanyakan, siswa dipilih oleh guru setelah dimintai keterangan apakah bisa bermain untuk olah raga yang bersangkutan atau tidak. Pertandingannya juga tidak memakan banyak energi. Yang jelas, tidak segarang Triwizard Tournament. Hanya pertandingan antar siswa SD tingkat kelurahan. Para pemenangnya kemudian akan diadu di tingkat kecamatan dan seterusnya. Saat itu, aku terpilih menjadi salah satu wakil untuk pertandingan catur.
Selain kegiatan-kegiatan, kehidupan tahun keempatku di SD juga diwarnai dengan datangnya teman-teman. Setelah kehilangan salah seorang teman di kelas tiga, di kelas empat ini aku kedatangan teman baru dari luar kota, Guntoro. Satu orang lagi yang datang dalam kehidupanku adalah Santi. Dia bukan pindah dari sekolah lain ke sekolahku. Tapi dia datang dalam kehidupanku yang sebenarnya. Ya! Dia masuk dalam kehidupanku karena di tahun keempat ini kami menjadi sepasang kekasih (cie...). Pencarian pasangan ini tidak didasari pencarian teman dansa seperti tradisi dansa sebelum Triwizard Tournament dimulai. Ini hanya sebuah proses kehidupan dimana cinta monyet tumbuh seumur jagung di dalam kehidupan anak-anak. O iya, di tahun keempat ini, aku mendapatkan peringkat 2-3-1.
Di tahun kelima, aku berpisah dengan Santi. Entah apa alasannya, aku lupa. Tapi yang pasti, aku tidak melewati tahun ini dengan Santi. Setelah berpisah dari Santi, tiba-tiba datang sesosok wanita lain yang sebenarnya sudah lama aku kenal. Tiba-tiba kami menjadi dekat (bukan secara fisik, tapi melalui surat). Akhirnya dia pun menggantikan sosok Santi yang sudah usang kisahnya. Dia adalah Lola, teman SD yang sudah bertahun-tahun satu kelas. Dialah salah satu pesaingku dalam menempati posisi tiga besar di kelas. Namun aku tidak terlalu sering berkumpul dengan Lola dan teman-teman seperti Dumbledore's Army. Kami hanya berkirim surat melalui seseorang, bukan melalui Hedwig.
Tahun terakhir tentu menjadi tahun tersibuk. Selain mempersiapkan EBTA dan EBTANAS, aku juga mengikuti dua lomba, yaitu lomba Matematika dan lomba paduan suara antar SD. Dalam lomba matematika itu, aku berhasil menduduki peringkat dua tingkat kecamatan. Namun setelah dilakukan seleksi ulang terhadap lima besar, aku tidak berhasil masuk ke posisi tiga besar untuk mengikuti lomba tingkat kotamadya. Sementara itu, 'horcrux' ku, Lola, berhasil menembus ke tingkat kotamadya dalam perlombaan mengarang. Semua kegiatanku di dua tahun terakhir ternyata tidak membuatku turun peringkat. Di dua tahun terakhirku, aku selalu mendapatkan peringkat 1.
===
In memorial:
Untung - Sekarang sudah menikah dan dikaruniai satu anak. Sekarang tinggal di Tegal.
Lola - Sekarang juga sudah menikah dan dikaruniai dua anak (kabar terakhir yang aku dengar). Sekarang tinggal di Tegal.
Beni - Sekarang tinggal di Tegal dan sedang menanti 'hari H'.
Santi - Sama seperti Untung.
Guntoro - Nasibnya sama seperti aku, merantau, demi sesuap nasi dan segepok berlian. Sekarang tinggal di Jogjakarta. Dan aku yakin, kamu pasti baca blog ini. Karena nama kamu sudah ada di shoutbox blog ini. Semangat untuk skripsinya ya Gun.
Memasuki tahun kedua, untuk pertama kalinya aku merasakan 'shift' dua. Aku berangkat siang. Karena ruang kelasku sedang direnovasi. Terpaksa aku sekolah menggunakan ruang kelas satu setelah siswa-siswa kelas satu pulang. Di tahun inipun aku hanya menjalani tahun yang biasa. Dalam petualanganku menelusuri ruang-ruang yang sedang direnovasi, aku tidak pernah menemukan buku harian maupun ruang rahasia yang dihuni oleh sesosok monster menyeramkan. Yang aku ingat, di kelas dua aku mendapatkan peringkat 3-2-2 untuk tiga catur wulan.
Tahun ketiga menjadi salah satu tahun yang tak terlupakan buatku. Untuk pertama kalinya, aku berhasil menjadi juara kelas. Peringkatku di tahun ketiga adalah 2-1-1. Tentu saja, dengan kebahagiaan seperti ini, tidak mungkin ada sesosok dementor pun yang mampu menyerap habis semua aura kebahagiaan menjadi kegelapan. Yang ada hanya euforia bahwa akhirnya aku bisa menjadi juara kelas. Di akhir tahun ini, salah satu temanku keluar dari sekolah karena mengikuti orang tuanya yang pindah ke luar kota, yaitu Beni. Kelak, aku bertemu kembali dengan Beni ketika aku duduk di bangkku SMP.
Memasuki tahun keempat, masa-masa SD ku mulai kompleks. Untuk pertama kalinya aku mengikuti program Dokter Kecil. Sebuah program yang memperkenalkan tentang dunia dokter, atau dunia kesehatan pada umumnya kepada siswa SD. Setiap SD diwakili oleh dua orang. Aku lupa siapa yang menemaniku. Selain Dokter Kecil, program lain yang aku ikuti adalah Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni). Ini adalah perlombaan olah raga dan seni seperti sastra tingkat SD yang diawali tingkat kelurahan. Untuk mengikuti perlombaan ini, siswa tidak perlu meletakkan kertas yang bertuliskan namanya ke dalam Goblet of Fire. Justru kebanyakan, siswa dipilih oleh guru setelah dimintai keterangan apakah bisa bermain untuk olah raga yang bersangkutan atau tidak. Pertandingannya juga tidak memakan banyak energi. Yang jelas, tidak segarang Triwizard Tournament. Hanya pertandingan antar siswa SD tingkat kelurahan. Para pemenangnya kemudian akan diadu di tingkat kecamatan dan seterusnya. Saat itu, aku terpilih menjadi salah satu wakil untuk pertandingan catur.
Selain kegiatan-kegiatan, kehidupan tahun keempatku di SD juga diwarnai dengan datangnya teman-teman. Setelah kehilangan salah seorang teman di kelas tiga, di kelas empat ini aku kedatangan teman baru dari luar kota, Guntoro. Satu orang lagi yang datang dalam kehidupanku adalah Santi. Dia bukan pindah dari sekolah lain ke sekolahku. Tapi dia datang dalam kehidupanku yang sebenarnya. Ya! Dia masuk dalam kehidupanku karena di tahun keempat ini kami menjadi sepasang kekasih (cie...). Pencarian pasangan ini tidak didasari pencarian teman dansa seperti tradisi dansa sebelum Triwizard Tournament dimulai. Ini hanya sebuah proses kehidupan dimana cinta monyet tumbuh seumur jagung di dalam kehidupan anak-anak. O iya, di tahun keempat ini, aku mendapatkan peringkat 2-3-1.
Di tahun kelima, aku berpisah dengan Santi. Entah apa alasannya, aku lupa. Tapi yang pasti, aku tidak melewati tahun ini dengan Santi. Setelah berpisah dari Santi, tiba-tiba datang sesosok wanita lain yang sebenarnya sudah lama aku kenal. Tiba-tiba kami menjadi dekat (bukan secara fisik, tapi melalui surat). Akhirnya dia pun menggantikan sosok Santi yang sudah usang kisahnya. Dia adalah Lola, teman SD yang sudah bertahun-tahun satu kelas. Dialah salah satu pesaingku dalam menempati posisi tiga besar di kelas. Namun aku tidak terlalu sering berkumpul dengan Lola dan teman-teman seperti Dumbledore's Army. Kami hanya berkirim surat melalui seseorang, bukan melalui Hedwig.
Tahun terakhir tentu menjadi tahun tersibuk. Selain mempersiapkan EBTA dan EBTANAS, aku juga mengikuti dua lomba, yaitu lomba Matematika dan lomba paduan suara antar SD. Dalam lomba matematika itu, aku berhasil menduduki peringkat dua tingkat kecamatan. Namun setelah dilakukan seleksi ulang terhadap lima besar, aku tidak berhasil masuk ke posisi tiga besar untuk mengikuti lomba tingkat kotamadya. Sementara itu, 'horcrux' ku, Lola, berhasil menembus ke tingkat kotamadya dalam perlombaan mengarang. Semua kegiatanku di dua tahun terakhir ternyata tidak membuatku turun peringkat. Di dua tahun terakhirku, aku selalu mendapatkan peringkat 1.
===
In memorial:
Untung - Sekarang sudah menikah dan dikaruniai satu anak. Sekarang tinggal di Tegal.
Lola - Sekarang juga sudah menikah dan dikaruniai dua anak (kabar terakhir yang aku dengar). Sekarang tinggal di Tegal.
Beni - Sekarang tinggal di Tegal dan sedang menanti 'hari H'.
Santi - Sama seperti Untung.
Guntoro - Nasibnya sama seperti aku, merantau, demi sesuap nasi dan segepok berlian. Sekarang tinggal di Jogjakarta. Dan aku yakin, kamu pasti baca blog ini. Karena nama kamu sudah ada di shoutbox blog ini. Semangat untuk skripsinya ya Gun.
Karangan Bebas
Sekarang aku jadi merasa muda lagi, seperti anak SD lagi. Biasanya setelah liburan, begitu masuk sekolah, aku diminta untuk membuat essay atau karangan tentang liburan itu. Sama seperti sekarang. Hampir setiap kali jalan-jalan entah kemana (Bandung, Kepulauan Seribu, Citarik, atau lainnnya), aku membuat karangan tentang perjalanan itu. Bedanya, kalau dulu dikumpulkan ke Ibu / Bapak Guru dan mungkin hanya dibaca oleh beliau. Tapi sekarang, karangan itu dikumpulkan dalam salah satu media online (blog) dan dapat dibaca siapa saja.
Jadi kangen dengan masa SD. Terakhir mengadakan reuni tiga tahun setelah lulus SD, yaitu tahun 1997. Sudah sepuluh tahun tidak berkumpul bersama. Tiga tahun aku di Tegal, dan sisanya aku habiskan untuk merantau mencari kehidupan yang lebih baik, di Jakarta. Empat setengah tahun menuntut ilmu dan dua setengah tahun menuntut penghasilan.
Kemana wahai teman-teman lamaku?
Jadi kangen dengan masa SD. Terakhir mengadakan reuni tiga tahun setelah lulus SD, yaitu tahun 1997. Sudah sepuluh tahun tidak berkumpul bersama. Tiga tahun aku di Tegal, dan sisanya aku habiskan untuk merantau mencari kehidupan yang lebih baik, di Jakarta. Empat setengah tahun menuntut ilmu dan dua setengah tahun menuntut penghasilan.
Kemana wahai teman-teman lamaku?
Thursday, June 14, 2007
Demam Berdarah
Seumur-umur, aku baru pertama kali dirawat inap di rumah sakit. Itu terjadi ketika aku masih TK. Aku terkena Demam Berdarah (DB).
Aku sedih banget. Harus masuk rumah sakit. Tidak bisa main bersama teman. Hanya tiduran di rumah sakit. Apalagi, pada saat itu sekolah sedang mengadakan acara piknik. Aku sedih banget. Tidak bisa ikut teman-teman sekolah berpiknik ria. Aku cuma bisa berbaring lemas, ditemani oleh ibu.
Sepulang dari rumah sakit, aku senang sekali. Bukan hanya karena dapat menghirup kebebasan lagi. Tapi juga karena orang-orang berdatangan menjengukku dan membawa oleh-oleh yang sebagian besar adalah jajanan favoritku. Kapan lagi jajan menumpuk di rumah. Tapi tetap saja aku belum dapat langsung menikmati jajan-jajan itu karena masih belum ada mood buat memakannya.
Saat itu, aku belum tahu, berapa harga yang harus dibayar untuk jajan-jajan itu. Mungkin sekarang aku baru sadar. Ibu harus membayarnya dengan perhatian yang luar biasa. Menjagaku sepanjang waktu di rumah sakit. Lelah, gelisah, harus ibu rasakan untuk menjagaku.
Terima kasih ibu.
Aku sedih banget. Harus masuk rumah sakit. Tidak bisa main bersama teman. Hanya tiduran di rumah sakit. Apalagi, pada saat itu sekolah sedang mengadakan acara piknik. Aku sedih banget. Tidak bisa ikut teman-teman sekolah berpiknik ria. Aku cuma bisa berbaring lemas, ditemani oleh ibu.
Sepulang dari rumah sakit, aku senang sekali. Bukan hanya karena dapat menghirup kebebasan lagi. Tapi juga karena orang-orang berdatangan menjengukku dan membawa oleh-oleh yang sebagian besar adalah jajanan favoritku. Kapan lagi jajan menumpuk di rumah. Tapi tetap saja aku belum dapat langsung menikmati jajan-jajan itu karena masih belum ada mood buat memakannya.
Saat itu, aku belum tahu, berapa harga yang harus dibayar untuk jajan-jajan itu. Mungkin sekarang aku baru sadar. Ibu harus membayarnya dengan perhatian yang luar biasa. Menjagaku sepanjang waktu di rumah sakit. Lelah, gelisah, harus ibu rasakan untuk menjagaku.
Terima kasih ibu.
Wednesday, June 13, 2007
Ketabrak motor
Pitak-pitak yang menghiasi kepalaku mungkin tidak terlihat sekarang. Selain sudah lama, sekarang aku juga rajin memelihara rambut sehingga pitak-pitak itu tak terlihat (jadi kalian tahu kan kenapa aku suka nggondrongin rambut, hahaha...). Tapi dulu pitak-pitak itu cukup terlihat. Kalau tidak salah, di kepalaku ada tiga pitak. Semua itu sama penyebabnya, ketabrak motor. Meskipun ada tiga, namun kejadian yang aku ingat cuma dua. Keduanya terjadi ketika aku masih sekolah di TK.
Kejadian pertama adalah sewaktu aku pulang dari sekolah. Ketika sedang berjalan di pinggir jalan, tiba-tiba ada motor yang nyerempet dan aku terjatuh. Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu aku masuk rumah sakit dan mendapat jahitan di kepala.
Kejadian yang kedua adalah sewaktu aku sedang bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Ketika aku sedang bermain, tiba-tiba ada pengendara motor yang membawa motornya 'melompat' dan mengenai badanku. Ternyata itu adalah tetangga yang sedang belajar motor. Akibatnya, aku harus menerima jahitan lagi di kepalaku. Bekas-bekas jahitan itulah yang akhirnya menjadi pitak di kepalaku. Tapi... yang satunya karena apa ya? Benar-benar lupa euy. Masa dijitak setan sih?
===
Aku menulis ini sambil meraba-raba kepala untuk menemukan peninggalan sejarah itu. Sekarang cuma nemu satu. Yang lain kemana ya?
Kejadian pertama adalah sewaktu aku pulang dari sekolah. Ketika sedang berjalan di pinggir jalan, tiba-tiba ada motor yang nyerempet dan aku terjatuh. Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu aku masuk rumah sakit dan mendapat jahitan di kepala.
Kejadian yang kedua adalah sewaktu aku sedang bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Ketika aku sedang bermain, tiba-tiba ada pengendara motor yang membawa motornya 'melompat' dan mengenai badanku. Ternyata itu adalah tetangga yang sedang belajar motor. Akibatnya, aku harus menerima jahitan lagi di kepalaku. Bekas-bekas jahitan itulah yang akhirnya menjadi pitak di kepalaku. Tapi... yang satunya karena apa ya? Benar-benar lupa euy. Masa dijitak setan sih?
===
Aku menulis ini sambil meraba-raba kepala untuk menemukan peninggalan sejarah itu. Sekarang cuma nemu satu. Yang lain kemana ya?
Subscribe to:
Posts (Atom)