Wednesday, April 09, 2008

Tidur

Tidur adalah salah satu kebutuhan manusia. Namun apa jadinya kalau tidur tidak pada waktu dan tempat yang tepat? Media massa gencar memberitakan mengenai otrang yang tidur itu. Bagaimana tidak, lha wong yang tertidur itu peserta forum dimana orang nomor satu di Indonesia sedang berpidato. Sontak tampang kemurkaan pun muncul, disertai bogem yang melayang di podium.

Tak hanya media, orang-orang pun berkomentar mengenai tragedi ini. Salah satu yang turut berkomentar adalah Ketua DPR. Katanya, Bupati tertidur, tidak boleh itu. Tapi pak... ngemeng ngemeng... kalo anggota bapak tertidur di waktu sidang itu termasuk dispensasi atau job desc ya pak? Hehehe...

Wednesday, February 20, 2008

Balikin Duit

Hari ini ada yang balikin duit rame-rame. Mudah-mudahan itu tulus dan diikuti yang lain. Dan mudah-mudahan, di antara setumpukan duit itu nggak ada daftar rekening, hihihi...

Tuesday, February 19, 2008

Periksa Rumah

Om-om dan tante-tante yang terhormat...

Kalo abis periksa rumah orang, jangan lupa periksa rumah sendiri dan keluarga ya... :D

Friday, February 01, 2008

Skenario dan Skenario

Tadi abis baca berita detik tentang skenario latihan penanganan kebakaran. Ada fotonya juga nih. Skenario dan simulasi bagus juga sih. Tapi... asal jangan sampai skenario berikut kejadian nih:

Pengelola Gedung : "Halo, dengan pemadam kebakaran? Tolong di sini ada kebakaran di gedung A"
Pemadam Kebakaran : "Posisi dimana Pak?"
Pengelola Gedung : "Di Jalan Sudirman"
Pemadam Kebakaran : "OK, kami segera mengirimkan personel kami ke sana secepatnya"

1 jam kemudian... tim pemadam belum datang juga

2 jam kemudian... tim pemadam masih belum datang juga

3 jam kemudian...

beberapa jam kemudian...

Pengelola Gedung : "Kok baru sampai Pak? Apinya sudah mati"
Pemadam Kebakaran : "Tadi di sana ada pembangunan jalur dan halte bus way, macet"
Pengelola Gedung : "Nggak ada jalan lain apa?"
Pemadam Kebakaran : "Tadi juga lewat jalur lain, tapi di lampu merah berikutnya macet lagi. Kendaraan pada ngelock karena lampu lalulintasnya mati. Semua kendaraan nggak bisa bergerak. Maju nggak bisa, mundur susah"
Pengelola Gedung : "Masa selama ini?"
Pemadam Kebakaran : "Pas mau sampai sini, di situ banjir, kan abis hujan deres Pak. Jalan jadi satu jalur, jadi kena macet lagi"
Mobil bawa air masa takut air, gumam si pengelola gedung.
Pengelola Gedung : "Tapi... kayanya sekarang kami lebih butuh developer baru deh buat benerin gedung. Apinya sudah mati tuh sama hujan."
Yah... sia-sia dong kemarin latihan evakuasi korban kebakaran, pemadam kebakaran balas menggumam.

Tuesday, January 22, 2008

Go Live

Bulan januari ini project yang sedang aku tangani sejak bulan Juli mulai live. Menyambut live-nya aplikasi ini, jadwal kerjaku jadi semakin padat dan semakin berantakan. Lima hari liburpun sudah berubah menjadi hari lembur. Tapi itu sepertinya baru awal, hahaha...

Tanggal sepuluh kemarin (tanggal merah), setelah aku mengundang teman-teman untuk bermain sepak bola di lapangan BNI, aku dipanggil dari kantor untuk menyelesaikan masalah yang muncul (sori ya guys, yang ngundang maen bola nggak ikutan maen, hihihi...). Akhirnya jam setengah dua aku sampai kantor dan pulang setengah sembilan.

Sabtu kemarin, setelah nganterin Lay bertransaksi, aku berencana untuk sekedar jalan-jalan dan nonton bioskop. Tapi ternyata, sekitar jam lima, aku kembali ditelpon untuk datang ke kantor. Akhirnya jam jam tujuh aku kembali berada di kantor sampai jam dua hari minggunya. Malamnya, sekitar pukul tujuh hari minggu, aku kembali dipanggil untuk datang ke kantor. Aku baru pulang jam enam hari Seninnya. Satu setengah jam kemudian, aku sudah berada di kantor lagi untuk bekerja seperti biasa. Itu artinya dari minggu sore sampai memasuki jam kantor keesokan harinya, aku belum tidur. Akhirnya, menjelang siang, seperti ada kingkong yang bergelantungan di kelopak mataku. Susah sekali untuk membuka mata (halah, kaya nggak biasanya aja :p). Aku hanya sempat tidur di masjid kurang dari setengah jam setelah solat duhur. Dan setelah itu, aku mulai bekerja seperti biasa (termasuk 'masa-masa kritis'nya, hahaha...). Malam harinya, aku masih diminta untuk terus mengerjakan tugas-tugas yang lain. Tapi berhubung mata sudah terasa begitu perih (melototin komputer sekitar 20 jam bo...), akhirnya aku menolak dengan alasan itu. Syukurlah, akhirnya aku diijinkan pulang. Di kosan, aku meneparkan diri dengan mulus tanpa hambatan berarti.

Hmm... sepertinya masa-masa ini belum akan berakhir. Yah... nikmati aja lah, masih banyak orang di luar sana yang begitu mendambakan sebuah pekerjaan. Apalagi ada embel-embel Astra, hehe...

OOT:
"Kerja dimana sekarang Rif?"
"AHM"
"Apaan tuh?"
"Astra Honda Motor"
"Oh... Astra ya? Kenal si Anu nggak? Dia kan kerja di Astra juga. Enak ya kerja di Astra, gajinya gede."
Dalam hatiku "Hmm... gaji gede? Padahal kalo ngomongin gaji pasti aku sudah pengen pindah kerja, hehehe... Tapi nikmati dulu aja lah. Seperti kata orang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau."

Monday, January 07, 2008

Awal Tahun

Awal tahun mungkin sudah cukup lama berlalu. Tapi berhubung postingan terakhir berjudul "Akhir Tahun", jadi sepertinya tidak afdol kalau postingan berikutnya bukan "Awal Tahun" (emang ngaruh ya... :p)

Hmm... seperti yang sudah diceritakan di "Akhir Tahun", tanggal 29 Des - 2 Jan sebenarnya saya libur akhir tahun. Tapi...

29 Des: Saya masuk seperti biasa, bahkan pulang lebih malam dari biasanya
30 Des: Masih masuk seperti biasa, pulangnya masih sempat mampir ke MKG untuk memotong rambut. Yah... sekedar suasana baru di tahun baru, hehe....
31 Des: Pulang lebih awal karena pekerjaan selesai lebih awal dari yang diperkirakan. Beruntung, rencana berakhir tahun dengan seseorang akhirnya bisa terwujud setelah berkali-kali terancam gagal
1 Jan: Masih harus bekerja, meskipun tidak di kantor, tapi sedikit lebih "bergaya" (akhirnya orang pabrik ini bisa sedikit bergaya, hehe....), dalam menyambut tahun baru. Saya mengerjakan pekerjaan kantor di resto "Thai Express" MKG
2 Jan: Masuk jam delapan pagi, pulang jam 6 pagi keesokan harinya. Rekor terpanjang di dalam kantor. Dan pagi harinya, di hari pertama bekerja di tahun 2008, saya masuk jam sembilan siang (soalnya pulang langsung tepar, hehe....). Rekor tersiang masuk kantor sepanjang sejarah.

Sekian laporan awal tahun 2008.

Mudah-mudahan di tahun ini bisa kembali ke rutinitas futsal dan fitnes seperti sedia kala.

Salam olahraga 2008!

Friday, December 28, 2007

Akhir Tahun

Akhir tahun, seperti layaknya umumnya perusahaan, selalu ada libur / cuti bersama. Begitu juga dengan di sini. Kebetulan liburan ini juga dekat dengan liburan idul adha dan natal. Kemarin perusahaan meliburkan dari tanggal 20 sampai 25. Dan nanti, tanggal 29 sampai tanggal 2, perusahaan juga meliburkan.

Tapi... setelah mengatur jadwal persiapan go live project, ternyata 'jatah' libur untukku hanya tanggal 1. Itu pun bukan karena tanggal merah atau tahun baru, tapi karena servernya mati, hehehe... Entah apa yang harus kurasakan. Senang? Sedih? Hmm... keduanya juga boleh sih.

Sepertinya harus menyiapkan kembang api supaya kalau tanggal 31 masuk sampai malam, bisa ikutan menyalakan kembang api di atas gedung ketika tahun berganti, hehe....

Wednesday, December 26, 2007

Counting Down

Enam bulan dilalui sejak Juli 2005, setelah melalui masa penjajakan, akhirnya saya harus mengakhiri hubungan itu. Bukan berakhir total. Tapi berakhir justru dengan sebuah hubungan baru. Sejak saat itu, saya harus menjalani hidup dalam sebuah ikatan.

Tidak terasa, waktu terus berjalan. Hampir dua tahun sejak ikatan itu di deklarasikan, sudah saatnya ikatan itu diputuskan. Membuat saya merasa bebas, hidup tanpa ikatan lagi. Ah... ternyata ikatan itu sirna juga. Sungguh tak terasa. Tapi... setelah melihat masa lalu lagi, ternyata masih ada satu ikatan lagi yang masih membelenggu. Ikatan itu belum benar-benar lepas. Tapi setidaknya, perlahan, ikatan itu mulai lepas satu persatu.

Hidup Kebebasan!!!

Wednesday, December 05, 2007

Menyambut Idul Adha

Diambil dari sebuah milis. Mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, terutama untuk saya sendiri.

===

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama

" Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri.

Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput" kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah" katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek. " kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

" Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan " bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)

Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas. " katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan

" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagangyangcukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)

"Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu). "

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang disandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat. Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.

Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing. Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus. Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana.

Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya. Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu

Tuesday, December 04, 2007

Tour (yang gagal)

Setelah mendiskusikan lewat ym sama sang pencetus dan melempar isu ke milis, ternyata malah gue sendiri yang akhirnya nggak bisa ikutan, hihihi...

Alasan pertama sih tadinya karena cuaca yang mulai nggak asik lagi. Secara sudah beberapa hari ini hujan mulu dan sebagian jalan juga mulai banjir sejenak. Males aja kalo lagi asik-asik touring tau-tau hujan di jalan, kaya touring yang pertama dulu. Gak asik deh bro pokoknya. Kalo touringnya naik bis sih boleh aja. Tapi masa touring pake bis, nggak seru banget, hehehe... Sedangkan alasan kedua, ternyata pada tanggal yang sudah ditentukan, ada temen gue yang menikah. So, kayanya touringnya emang harus diundur.

Monday, December 03, 2007

Liburan

Umm... moodnya sudah mulai nggak asik nih. Sudah mulai kecium hawa liburan, hehe... Padahal masih lama. Dan kemarin pun, gue juga baru balik ke rumah.

Ada temen yang ngajakin jalan. Entah sekedar ke ragunan, taman safari, atau ke Bandung. Ada juga yang ngajakin tour ke Bandung. Tapi melihat kemarin-kemarin yang sudah mulai hujan, jadi agak mikir-mikir lagi. Secara touring pertama ke Bandung dari puncak sampai kota Bogor terus diguyur hujan. Mana pake nyasar lagi, hihi...

Tapi yang jelas, liburan lebaran haji nanti, kayanya giliran jalan-jalan sama orang tua. Salah satu sepupu di Wonosobo menikah. Dan gue pengen banget nganterin mereka jalan. Gue lupa kapan terakhir jalan-jalan sama beliau-beliau. Mungkin ketika masih kelas tiga SMU. Kami bertiga menghadiri acara 'nyewu' mbah di tanah kelahiran, Sumpyuh, sekalian maen ke rumah bude di daerah Gombong dan sekitarnya. Atau... kalo masih dalam lingkup dalam kota, terakhir gue jalan bareng beliau-beliau itu ketika gue wisuda (Feb 2005) dan ketika sepupu gue menikah (Nov 2005).

Tapi yang paling deket, mungkin sekedar 'jalan-jalan' seputar TIM, Djakarta Theater atau Blitz Megaplex. Tentu saja, buat nonton bareng film-film Jiffest. Tapi sampai sekarang kok belum ada yang resmi ngajakin nonton ya?

Jiffest 2007

Untuk kesekian kali, rencana nonton Jiffest kayanya bakalan mendapat hambatan lagi. Dan lagi, sesuatu yang menghambat itu datang dari kantor dengan judul yang sama seperti tahun lalu, 'masa-masa menjelang go live'. Argh...

Sebenernya, dari Jiffest ini, yang paling penting buat gue bukan filmnya sih. Tapi kebersamaannya. Karena gue tidak pernah nonton Jiffest sendirian. Beda dengan nonton film-film yang biasa diputar di bioskop reguler. Selalu ada teman, entah teman yang biasa ketemu atau teman yang sudah cukup lama nggak ketemu. Jiffest mampu menyatukan kami kembali, nggak kaya film-film Amrik yang biasa diputar di bioskop reguler.

Kalo setiap sabtu ada Futsal atau 'bola rumput' yang mempertemukan gue sama teman-teman. Mungkin dalam skala tahunan, Jiffest memiliki peran yang sama. Sebagai ajang rame-rame, nonton bareng. So guys, pada mo nonton apa nih?

Monday, November 26, 2007

Server Baik Hati

Hmm... server di kantor 'baik banget' deh. Sabtu kemarin harusnya gue masuk. Ternyata servernya nggak bisa dipake seharian karena ada keperluan lain. Jadinya gue nggak perlu masuk dan bisa menghabiskan weekend dengan bebas, hehe... Tadinya mau maen bola rumput, tapi ternyata malah 'terjebak' di 21 cineplex dan nggak bisa keluar, hehe... Umm... Sabtu yang paling berkesan selama bekerja di sini... Dan sekarang, server mati lagi, jadinya malah ngisi blog ini,hihihi...

Sunday, November 25, 2007

Keindahan Malam

Malam ini begitu indah. Bintang kecil yang telah lama kutunggu perlahan menampakkan dirinya. Sinar lentiknya menghiasi langit-langit malam. Entah kekuatan apa yang membuatnya memberanikan diri untuk bersanding dalam hamparan angkasa. Atau, luluhkah dia dengan wajah-wajah kesepian yang berbalut lelah menantinya. Entahlah.

Langit terasa begitu cerah. Secerah sinar purnama yang menaungi bumi ini. Anginpun mendesahkan hembusan kelembutan dan kemesraan, seraya membelai jiwa-jiwa lemah yang ingin meronta. Mungkinkah yang kurasa saat ini? Entahlah.Yang kutahu, aku hanya ingin menikmati malam ini. Andai sang waktu bisa kuhentikan, biar kurasakan keindahan malam ini. Sekarang... dan selamanya... bersama bintang kecilku

===
Bisakah aku singgah di hatimu
Berharap sebentuk tempat yang tulus
Sesuatu yang kupercaya
Ada tersimpan di sana

Terlalu lama aku harus terdiam
Atau mungkin ku tak percaya sungguh
Akan kesempatan dan kemungkinan
Yang terjadi nanti

Karena kuyakin ada pintu terbuka
Di antara hatimu dan hatiku

Its been years since we ve met
And days had gone by
Now its time to make up my mind
And I hope that we can make it to the end

Bila firasat ini memang benar
memilikimu adalah maksud
dari sebuah rencana besar
merubah hidupku

Jika aku harus berhitung benar
akan kemungkinan yang bisa ada

Bila kubisa memilikimu bahagialah aku

Perkenankan aku singgah di hatimu
Berharap sebentuk tempat yang tulus
Sesuatu yang kupercaya ada tersimpan di sana


*Padi - Rencana Besar*

Monday, November 19, 2007

Korban vs Warga

"Pak Polisi, saya ini kan korban. Saya kan yang jadi korban pemukulan. Kenapa saya yang ditahan di dalam sel, bukan warga yang yang mukulin saya?"

"Kamu ini bego atau apa ya? Kalau seluruh warga itu yang dimasukkan, mana selnya cukup?"

(Huakakaka.... gue ketawa abis dengan adegan yang satu ini)

===
Dikutip dari salah satu adegan Get Married (maaf kalau kata-katanya nggak pas, tapi intinya sekitar itu lah)

Monday, November 12, 2007

Tour de Sawangan

Minggu kemarin adalah jadwalnya aku datang ke arisan keluarga (arisan sepupu satu embah). Rumah yang kali ini didatangi adalah rumah baru Mas Toni yang terletak di Sawangan. Acara ini sekalian dengan acara syukuran pindah rumah. Aku berangkat dari Pondok Pucung bareng sepupu-sepupuku, Daru dan Herdi dengan dua motor. Berangkat ke sana, rombongan nggak menemui hambatan, kecuali sedan rese yang nggak mau memberi jalan di jalan sempit. Ih, sebel banget ada sedan yang kebut-kebutan nggak jelas di daerah yang jalannya ancur. Mau nyelip dari kanan tapi jalannya banyak yang bolong, takut masuk ke lubang-lubang yang segede gaban itu. Akhirnya aku cuma bisa pasrah di belakang sedan sampai ketemu jalan besar sementara di depan sedan jalannya kosong melompong. Argh...

Pulangnya, rombongan dari Sawangan yang berangkat bersama ada enam motor. Yang di depan kayanya kepedean, maen belok-belok aja, ternyata malah nyasar, hihi... Akhirnya aku yang berada paling belakang langsung ke depan buat nyetop mereka dan menuntun kembali ke jalan yang benar (halah bahasanya, hehe...). Ternyata mereka sudah berhenti sebelum aku sampai karena mereka nggak yakin dengan jalan yang mereka tempuh. Dan pejalanan pun kembali normal.

Menjelang Ciputat, tiga motor di depan sejenak berhenti untuk mengecek rombongan di belakang. Satu motor sudah ketahuan mengambil jalur lain, sementara dua motor yang lain nggak kelihatan. Setelah sekitar dua puluh menit, kami akhirnya kembali melanjutkan perjalanan tanpa dua motor yang tertinggal. Sesampai di rumah, kami dikabari bahwa kedua motor yang 'tertinggal' itu ternyata juga mengambil jalur yang lain. Lah, kalau begitu ngapain pada ditungguin ya?

Monday, October 22, 2007

Mawar Berduri

Mawar yang kutunggu tak pernah tumbuh. Dia takut akan durinya. Duri yang bisa melukai orang yang menikmatinya. Tapi entah dia sadari atau tidak, ketiadaannya justru menimbulkan sepi yang menyayat hati.

Duhai mawarku, jangan pernah takut untuk bersemi. Wangi dan indahmu akan obati semua luka dari durimu. Seandainya air mata ini bisa membuatmu bangkit, akan kuteteskan air mata ini sebelum cahaya membangunkanmu, hingga kau berseri. Hiasilah taman ini dengan rona merahmu. Dan biarkan kunikmati indahnya membelai, mencium, dan mendekapmu...

===

malam ini kusendiri
tak ada yang menemani
seperti malam-malam
yang sudah-sudah

hati ini selalu sepi
tak ada yang menghiasi
seperti cinta ini
yang selalu pupus

tuhan kirimkanlah aku
kekasih yang baik hati
yang mencintai aku
apa adanya

mawar ini semakin layu
tak ada yang memiliki
seperti aku ini
semakin pupus

tuhan kirimkanlah aku
kekasih yang baik hati
yang mencintai aku
apa adanya

*The Rock - Munajat Cinta*

Wednesday, October 10, 2007

Mudik

Hore... akhirnya saat itu tiba juga. Nanti siang, dengan beberapa teman sekaligus, kami minta ijin untuk pulang cepat. Biar bisa berangkat sebelum orang lain berangkat. Secara hari ini hari terakhir kerja, pasti banyak orang yang mulai mudik malam nanti atau pagi besok. Makanya rombongan dari kantor pada berangkat sebelum orang pulang kerja. Mudah-mudahan nggak kena macet banget. Doakan kami...

====

Semoga Allah menerima amalan Romadhon kita semua.
Selamat hari raya Idul Fitri.
Mohon Maaf lahir dan bathin

Monday, October 08, 2007

Hawa Mudik

Hari ini rasanya sudah mulai males. Males kerja, males ngeblog, males sahur. Pikirannya udah packing aja, buat siap-siap mudik, hihi... Stok darurat mi instant juga masih dua dan sarden masih satu. Berarti sekalian diabisin biar nggak repot keluar kalo mau sahur. Satu mi dan sarden buat Senin, satu mi buat Selasa. Rabunya? Lihat nanti deh... Cari jalan tengah, win-win solution. Mungkin buka dan sahur dirapel jadi satu jam 12 malam, kekeke...

Umm... hal yang paling ngerepotin kalo mudik itu bawa titipan dari sodara. Bawaan gue sendiri sih mungkin nggak banyak-banyak amat. Tapi sodara-sodara di sini pada nitipin sesuatu buat orang tua di rumah. Jadi ya mo gimana lagi. Untung kali ini gue mudik nebeng temen naek mobil, jadi mungkin nggak gitu repot naro barangnya. Kalo naek kereta, repot bawa-bawa sama naro-naronya.

My sweet home... im coming...

Thursday, October 04, 2007

Buka Bersama (Lagi)

Dalam tiga hari ini, gue ada undangan untuk berbuka bersama, hari Rabu dan Jumat. Dan uniknya, dua acara itu sebenernya masih dalam komunitas yang sama. Apa nggak bosen ya, hehe... Tapi nggak apa-apa lah. Kan perbaikan gizi buat anak kos, hihi...

Kayanya gara-gara kebanyakan barbeque di acara buka bersama semalam, gue jadi pules banget tidurnya tadi malam. Biarpun sudah dibangunin (ditelpon) sekitar pukul tiga, tetep aja bangunnya jam empat seperempat. Soalnya waktu ditelpon gue pikir masih jam dua-an. Jadi masih santai-santai aja, hehe... Umm... nggak sahur untuk kedua kalinya nih...