Sunday, December 10, 2006

Jenuh

Setiap orang pasti pernah merasa jenuh. Dan setiap orang pasti memiliki cara yang berbeda untuk mengusir rasa itu. Begitu juga dengan saya.

Akhir-akhir ini, dengan semakin padatnya jadwal pekerjaan, rasa jenuh juga semakin mudah muncul. Ada banyak cara yang saya lakukan untuk mengusir rasa jenuh itu. Tapi saya bukanlah seorang yang harus memiliki tempat khusus untuk melepas kejenuhan. Di manapun, alhamdulilah saya bisa mengusir rasa jenuh. Kalo sudah bosan dengan pekerjaan di kantor, saya bisa bermain pes4 (bola). Kalo sudah bosan juga atau masih banyak orang, biasanya saya menghabiskan waktu dengan browsing atau menulis blog. Seperti sekarang ini.

Bila waktu kerja telah usai, semakin banyak pilihan untuk menyegarkan diri sebelum menginjakkan kaki di rumah. Bioskop, mall, food court, bisa menjadi salah satu alternatif. Toko buku? Sepertinya ini tidak akan mengembalikan kesegaran, tapi justru menguras energi kehidupan.

Ada dua hal yang membuat saya memutuskan untuk ke bioskop. Pertama, ada teman yang mau diajak atau mengajak, apalagi mentraktir, hehehe. Kalau begini, biasanya saya tidak mempedulikan film yang mau saya tonton. Pokoknya nonton bareng. Yang kedua adalah ada film yang memang ingin saya tonton. Kalau yang ini, saya tidak mempedulikan ada teman atau tidak yang mau diajak atau mengajak. Pokoknya saya bisa menonton film tersebut.

Cara lain untuk menghapus kepenatan adalah dengan jalan-jalan ke mall. Tapi saya tidak pernah ke mall tanpa tujuan. Kalau ke mall, saya pasti sudah punya tujuan. Entah mau bertemu dengan teman, ataupun membeli sesuatu. Paling tidak, saya bisa ke food courtnya. Satu hal yang merepotkan adalah jika alasan saya membeli sesuatu ataupun keperluan sehari-hari. Jika otak sudah butek dan akut, akal sehat bisa mengabur. Pertimbangan tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tapi merambah ke keinginan. Ini yang gawat. Kalau keinginan sudah muai mendominasi, begitu lihat 'barang bagus', daftar belanja pun bisa membengkak otomatis dan akibatnya over budget. Dulu pernah, hari minggu masuk untuk cek transfer data. Sepulang dari kantor, saya mampir ke carefour karena memang ada kebutuhan kipas angin baru. Kipas angin di kamar (build in bareng kos) sudah layak ganti. Ketika melihat-lihat kipas, saya juga melihat rak buku dan rak TV 'bagus'. Akibatnya keinginan yang masih terpendam, muncul begitu saja. Dan budget pun membengkak. Untunglah, meskipun keinginan mendominasi, tapi masih ada pertimbangan fungsionalitas sehingga tidak sia-sia.

Lain lagi kalo sudah sampai di rumah. Untuk sekedar mengusir kebetean, saya bisa melakukan banyak cara. Tergantung mood juga sih. Kalau mood-nya lagi bener (sayangnya ini jarang terjadi :D), biasanya saya membaca buku-buku spiritual ataupun melanjutkan tafsir Fi Zilalil Quran (beli Desember tahun kemarin tapi setengah pun belum habis sampai sekarang :D). Tapi kalau lagi kacau (ini yang sering terjadi), saya akan mendengarkan radio, mendengarkan lagu dari CD, ataupun nonton DVD. Tentu saja dengan suara di atas batas maksimum etika bertetangga, hehehe... Ya, sepertinya kalo sudah jenuh dan berada di rumah, saya suka sekali sejenak melepas topeng-topeng kerisihan, ketegaan, dan mengenakan topeng-topeng kecuekan dan keegoisan yang sebenarnya tabu bagi saya sejak dulu. Tapi tidak untuk sekarang. Kebetulan empat kamar di kos, dua masih kosong dan yang satu jarang di kos. Sementara keluarga Ibu Kos yang berada di bawah juga cukup jauh untuk merasakan kegaduhan kamar saya. Untunglah, sampai sekarang belum ada komplain dari orang lain, hehehe... Atau... mungkin saya yang tidak tahu diri, hahaha... Ah, biarkan saja.

Tapi... selama masih ada di Jakarta, apalagi masih dekat dengan kantor, nuansa kejenuhan itu sepertinya tidak bisa hilang sama sekali. Berbeda bila saya keluar kota. Selama ini, kota yang telah menjadi pelarian adalah kota halaman, alias kampung halaman, Tegal. Mudik sehari pun saya jalanin. Demi mendapatkan kesegaran. Bertemu orang tua, keluarga, teman-teman. Apalagi ketika bareng teman-teman makan kupat blengong dengan pemandangan alam yang menyejukkan. Di sekitar sawah, di sore hari, sambil mengantarkan kepulangan sang mentari. Hangatnya mentari sorepun seakan merontokkan beban-beban yang ada. Yah... meskipun keesokan harinya harus berjibaku lagi dengan job-job yang sudah menunggu.

Ah... sepertinya sore ini bisa ke Djakarta Theater. Jangan tanya film apa yang mau saya tonton. Tapi tanyalah jam berapa saya mau nonton. Itu pasti bisa saya jawab setelah keluar dari ruangan tempat menulis ini.

2 comments:

Amir said...

Ternyata Dunia itu ada "koma"-nya kan Yip. Kalau gak ada "koma", orang pasti mati kebosanan. Nah kalau mati kebosanan itu berarti udah ketemu "titik".

arifi said...

Aku cuma sedang berimajinasi seandainya bisa bertemu titik.

Titik yang aku impikan adalah sebuah ruang di mana waktu terhenti, dan aku bisa menikmati indahnya hidup selama aku mau.

Mimpi kali ye... :p